Home / Historical / Bayang Pedang Cahaya Bulan / Bab 100: Gestur Simbolis

Share

Bab 100: Gestur Simbolis

Author: Stoner 27
last update publish date: 2026-08-23 12:31:54

Beiming Wuji berdiri di ambang gerbang sekte saat matahari baru saja terbit sepenuhnya, cahaya jingga menyapu lembah dari timur, menerangi barisan tenda tiga belas fraksi yang masih basah oleh embun semalam. Ia sudah bangun sejak sebelum fajar, duduk sendirian di puncak bukit kecil tempat ia biasa mengamati pergerakan sekte, menyusun kembali kekuatan yang tersisa dalam dirinya setelah retakan domain yang belum sepenuhnya pulih.

Hari ini adalah hari yang akan menentukan segalanya.

Ia baru saja h
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   Bab 100: Gestur Simbolis

    Beiming Wuji berdiri di ambang gerbang sekte saat matahari baru saja terbit sepenuhnya, cahaya jingga menyapu lembah dari timur, menerangi barisan tenda tiga belas fraksi yang masih basah oleh embun semalam. Ia sudah bangun sejak sebelum fajar, duduk sendirian di puncak bukit kecil tempat ia biasa mengamati pergerakan sekte, menyusun kembali kekuatan yang tersisa dalam dirinya setelah retakan domain yang belum sepenuhnya pulih.Hari ini adalah hari yang akan menentukan segalanya.Ia baru saja hendak berbalik menuju perkemahannya sendiri ketika sesosok bayangan muncul dari arah gerbang sekte, langkahnya tenang namun membawa sesuatu yang berat di kedua tangannya, dibungkus kain sutra putih yang berkibar pelan tertiup angin pagi.Su Meiyin.Ia berhenti beberapa langkah di depan Beiming Wuji, membungkuk sedikit, lalu meletakkan bungkusan itu di atas sebuah alas kayu yang sudah disiapkan sebelumnya di tanah, membuka kainnya perlahan dengan gerakan yang penuh penghormatan.Cahaya pagi jatuh

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   Bab 99: Gudang yang Terlupakan

    Su Meiyin melangkah menuruni anak tangga batu yang basah, obor di tangannya berkedip-kedip diterpa angin lembap yang menerobos dari celah-celah dinding gudang tua di bawah tanah Paviliun Awan Sutra. Sudah bertahun-tahun sejak ia terakhir kali turun ke tempat ini, sejak masa ketika ia masih dipanggil dengan nama lain oleh orang yang kini dikenal dunia sebagai Bai Muchen.Di belakangnya, Lei Hong mengikuti dalam diam, langkahnya nyaris tanpa suara meski tangga batu itu licin oleh lumut yang tumbuh diam-diam selama bertahun-tahun tanpa disentuh siapa pun."Kau yakin masih ada di sini?" tanya Lei Hong akhirnya, suaranya menggema pelan di lorong sempit yang mereka lalui."Aku yang menyimpannya sendiri," jawab Su Meiyin, tanpa menoleh. "Empat puluh tahun lalu, atas perintahnya."Mereka berjalan lebih jauh ke dalam kegelapan, melewati rak-rak kayu yang sudah lapuk dimakan waktu, berisi guci-guci obat yang tutupnya sudah retak, gulungan-gulungan kain yang warnanya memudar hingga tidak bisa la

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   Bab 98: Tiga Belas Wajah Baru

    Lan Feiyan berdiri di ujung lapangan yang kini sudah berubah menjadi arena, mengamati satu per satu wajah yang berjejer di hadapannya. Tiga belas pemimpin fraksi, masing-masing dengan gaya berbeda, masing-masing membawa sejarah yang tidak sepenuhnya ia pahami, tapi semuanya memancarkan satu hal yang sama: kewaspadaan yang tidak bisa disembunyikan meski wajah mereka berusaha tampak tenang.Ia mulai dari kiri, mencatat dalam kepalanya seperti yang biasa ia lakukan setiap kali menghadapi tamu asing.Pemimpin pertama, seorang pria tua bertubuh kurus dengan janggut putih panjang terkepang rapi, membawa pedang tipis yang tergantung longgar di pinggangnya, matanya menyipit menilai setiap sudut arena seolah sudah menghitung jarak tempur sebelum pertarungan dimulai. Di sebelahnya, seorang wanita muda dengan rantai berduri melilit di kedua lengan berdiri dengan bahu tegak, wajahnya datar tanpa emosi, tapi jari-jarinya sesekali bergerak halus seperti sedang menghitu

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   Bab 97: Audiensi Terbuka

    Beiming Wuji berdiri di puncak bukit kecil sebelah utara sekte, menatap ke bawah lembah tempat perkemahannya sendiri telah berdiri selama berhari-hari, membesar setiap malam seperti akar yang merambat diam-diam. Tongkat kayunya tertancap di tanah di sampingnya, ujungnya masih menyisakan getaran halus, sisa dari pertarungan yang belum sepenuhnya pulih dalam dirinya.Ia mengusap dadanya sekali, tempat di mana retakan domain itu terjadi beberapa hari lalu, sepersekian detik yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Seratus sepuluh tahun ia berjalan di dunia persilatan, dan baru sekali ini ia merasakan sesuatu menembus pertahanan yang selama ini ia kira mustahil ditembus.Di belakangnya, tiga belas bendera berkibar pelan diterpa angin pagi, masing-masing membawa lambang sekte yang berbeda, masing-masing membawa pemimpin yang menuntut jawaban yang sama: apakah cerita yang beredar tentang Shen Wuyou itu nyata, atau hanya bualan yang dibesar-besarkan ol

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   Bab 96: Bukan Lagi Meminta Dilindungi

    Latihan malam itu berakhir lebih lama dari biasanya.Yue Chen berdiri di tengah taman kecil dekat Bilik Timur, napasnya masih tersengal meski keringat di dahinya sudah mulai mengering ditiup angin malam. Di depannya, Bai Muchen berdiri dengan tangan terlipat di belakang punggung, mengamati gerakan terakhir yang baru saja diperagakan gadis itu, sebuah rangkaian yang menggabungkan kuda-kuda dasar Tujuh Langit Awan dengan bentuk lanjutan yang baru diberikan dua hari lalu."Sekali lagi," kata Bai Muchen, suaranya tenang seperti biasa, tapi ada sesuatu di matanya yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar perhatian seorang guru pada muridnya.Yue Chen mengangguk. Ia mengatur napas, menyusun ulang kudanya, lalu bergerak.Kali ini tidak ada keraguan di setiap langkahnya. Tubuhnya berputar mengikuti arah angin yang seolah sengaja melambat untuk memberinya ruang, tangannya membentuk Penjepit Giok di puncak gerak

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   Bab 95: Cemburu dan Lega

    Su Meiyin sudah berdiri di antara bebatuan tinggi di tepi lembah barat sejak sebelum fajar, tempat yang cukup jauh untuk tidak terlihat oleh siapa pun di sekte, tapi cukup dekat untuk menyaksikan setiap gerakan yang terjadi di taman kecil di belakang Bilik Timur. Jubah abu kebiruannya menyatu sempurna dengan bayangan pagi, dan ia sudah lama menguasai seni untuk tidak terlihat, bahkan oleh mereka yang memiliki indra paling tajam sekalipun.Ia melihat semuanya. Gerakan pembuka yang diperagakan Bai Muchen, pola yang begitu familiar baginya meski hanya pernah ia lihat sekilas puluhan tahun lalu, ketika ia sendiri masih cukup muda untuk memohon diajarkan bentuk lanjutan itu dan ditolak dengan lembut oleh gurunya. Ia melihat Yue Chen menirukan gerakan itu, canggung pada awalnya, lalu semakin lancar, semakin mengalir, seolah tubuh gadis itu sudah lama menunggu untuk menemukan jalur qi yang baru saja terbuka.Dadanya sesak menyaksikan itu semua.---

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status