LOGINKabut malam menebal, mengitari batang pohon seperti asap yang berusaha melarikan diri. Tiga Pemburu Tingkat Emas berdiri tegak di dahan tertinggi, tubuh mereka tegang, tetapi bukan ketakutan, mereka adalah profesional.
Kael menatap mereka dari bawah, jubah malamnya berkibar tanpa angin. Bayangan menyatu di belakangnya, membentuk pola seperti sayap patah yang merunduk dan membuka kembali, siap melahap apa pun yang bergerak.
“Aku tidak punya waktu banyak,” katanya pelan. Suara itu tidak keras, tetapi memecah udara sampai daun-daun di sekitarnya bergetar halus.
Tiga pemburu itu saling bertukar pandang, sebelum pemimpin mereka mengangkat tangan, memberi kode.
“Bola jarring, sekarang!”
Dua pemburu menggerakkan jari mereka cepat. Formasi segel muncul di udara, membentuk jaring tak terlihat yang menutup dari atas, seperti kubah cahaya tipis.
“Ada banyak monster yang keluar dari lembah,” gumam salah satunya. “Kita tahu cara menahan mereka.”
Kael tidak menatap jaring itu, ia hanya melangkah sepersekian detik, kemudian jaring itu pecah, pecah tanpa menyentuh Kael dan pecah tanpa suara. Seolah-olah cahaya itu takut menyentuh dirinya.
Pria bertubuh besar dari kelompok itu terhuyung, tak percaya. “Itu … itu segel tingkat empat! Bagaimana—”
Kael menjawab tanpa emosi, “Karena itu hanya cahaya.”
Bayangan melonjak dari kakinya seperti makhluk hidup, menggulung dahan atau akar mana pun yang berani mendekat. Pemburu kurus yang paling waspada langsung menendang tanah, melompat ke belakang untuk menciptakan jarak.
Namun Kael tidak mengejar, tidak perlu, tapi bayangan mengejar untuknya.
Gelombang hitam tipis menyambar seperti cambuk. Pemburu kurus itu menangkis dengan pedangnya, tetapi pedang itu retak.
“Tidak mungkin…” Suaranya memecah, antara kagum dan takut.
Sementara itu, pemimpin kelompok itu tetap berdiri tegap. Matanya menyipit, menganalisis Kael seperti membaca ancaman yang harus ditelan, bukan dihindari.
“Kau bukan monster.” Nada suaranya tegas. “Kau … sesuatu yang dibentuk dengan tujuan.”
Kael menatapnya, tatapan itu membuat pemimpin itu merasa seperti bayangannya sendiri ingin melarikan diri.
“Benar,” jawab Kael. “Tujuan itu sedang mendekat ke kalian.”
Ia mengangkat jari sedikit, bayangan mulai naik dari akar pohon, membungkus batang seperti ular.
Namun sesuatu berubah, Kael berhenti. Bukan karena pemburu, bukan karena ancaman. Namun karena wangi samar bunga darah, bercampur dengan aroma feminitas halus yang tidak seharusnya ada di wilayah pemburu.
Kael menoleh sedikit.
Di balik semak gelap, seseorang berbaring menyandar pada pohon besar. Tubuhnya lemah, bahunya terluka dalam, pakaian compang-camping. Rambut hitam panjangnya lengket oleh hujan. Napasnya tidak stabil.
Seorang perempuan.
Namun bukan perempuan biasa, Kael bisa merasakan energi tersembunyi, halus, terselubung. Aura yang bukan milik pemburu, bukan murid sekte.
Aura tersegel, kekuatan tidur.
Pantas ia bisa bertahan sejauh ini meski terluka.
Kael mengangkat wajah sedikit. Matanya yang hitam pekat bertemu dengan mata perempuan itu, mata berwarna merah gelap, seperti bara kecil.
Sesaat, dunia berhenti bergerak.
Perempuan itu tampak ketakutan, tetapi bukan takut pada Kael. Lebih tepatnya takut Kael melihat apa pun yang ia sembunyikan.
Dan Kael melihat. Ia melihat luka, melihat kekuatan yang terpasung. Ia melihat seseorang yang tidak seharusnya berada di sini.
Dan untuk pertama kalinya sejak keluar dari lembah, Kael merasakan sesuatu yang bukan amarah, bukan dingin, bukan rasa menghakimi. Melainkan rasa penasaran.
“Dia bukan target,” gumam pemimpin pemburu. “Dia hanya saksi, abaikan!”
Kael menurunkan tangannya pelan.
“Aku tidak menyuruhmu bicara tentangnya,” ujarnya dingin.
Ketegangan di udara berubah.
Bayangan Kael menggulung, dan pemburu-pemburu itu langsung tahu, Kael berubah prioritas.
Salah satu pemburu reflek memindah posisi, melindungi perempuan itu. “Kael! Jika kau menyentuhnya, Persekutuan Pemburu akan—”
Kael menatapnya.
“Salah langkah.”
Bayangan naik dari tanah seperti puluhan tangan hitam menarik pemburu itu ke udara. Membungkusnya melemparkannya ke sisi lain hutan dengan suara pohon patah.
Perempuan itu tersentak kecil.
Kael tidak menatap pemburu yang terlempar, ia hanya menoleh pada perempuan itu, menghampiri satu langkah.
Semak di sekitarnya layu saat ia mendekat.
Perempuan itu menggenggam dadanya. Ketakutan dan lemah, tetapi pandangan matanya tetap kuat.
“Jangan mendekat,” bisiknya, suaranya hampir hilang. “Aku … membawa masalah.”
Kael berhenti setengah langkah darinya, bayangan melingkari kakinya seperti hewan penasaran.
“Mereka yang membawa masalah,” jawab Kael pelan, “Biasanya lebih menarik daripada mereka yang membawakan pemakaman.”
Mata perempuan itu membesar sedikit, terkejut bahwa seseorang sekejam ini bisa berbicara semanusia itu.
Kael memiringkan kepala, “Siapa namamu?”
Perempuan itu membuka mulutnya, namun sebelum ia menjawab, pemimpin pemburu berteriak, “JANGAN BICARA PADANYA!”
Kael mengalihkan tatapan, hanya sedikit. Dan tanah bergetar.
Bayangan membentuk garis seperti sabit hitam di udara, menghantam pohon tempat pemburu berdiri.
Pertempuran besar dimulai.
Dan perempuan misterius itu sebagai saksi pertama Kael, mungkin satu-satunya orang yang mampu menatap kegelapannya tanpa runtuh.
Bayangan Kael mencondong ke depan seperti kawanan binatang buas yang baru saja dilepas dari rantai panjang. Tanah di bawahnya meretak kecil, bukan karena tekanan fisik, melainkan karena udara di sekitar Kael berubah menjadi lebih padat, lebih berat, lebih tertekan, seperti gravitasi yang marah.
Di atas dahan, tiga Pemburu Tingkat Emas itu menelan ludah hampir bersamaan. Aura Kael terasa berbeda dari laporan apa pun yang pernah diterima Persekutuan Pemburu. Bukan hanya kuat, tetapi terlalu sunyi, terlalu terkontrol, seperti kekuatan yang menolak menunjukkan seluruh dirinya.
“Formasi Tiga Garis, sekarang!” Pemimpin mereka memberi aba-aba.
Ketiganya bergerak cepat. Tubuh mereka bergabung dalam pola segitiga yang menghasilkan lingkaran cahaya emas pucat. Ratusan jarum aura terbentuk di udara di antara mereka, kecil, sangat tajam, dan diarahkan seluruhnya pada Kael.
“Satu sentuhan, dan tubuhmu akan—”
“Putus!” Kael menyelesaikan kalimat itu dengan suara datar. “Sudah kudengar.”
Jarum-jarum itu meluncur. Cepat, tepat, tanpa ruang menghindar.
Bayangan di bawah Kael merendah, menipis, lalu tiba-tiba mengembang seperti tameng hidup.
TAP. TAP. TAP.
Setiap jarum aura yang menyentuh bayangan itu menghilang, bukan terpental, bukan dihancurkan, melainkan diserap, seolah dilempar ke dalam ruang yang tidak mengenal kata ‘kembali’.Pemimpin pemburu ternganga, “Itu bukan teknik defensif!”
“Bukan.” Kael mengakui. “Itu kelaparan.”
Ia mengangkat tangan sedikit, bayangan mengikuti gerakan itu, membentuk pusaran tipis, naik perlahan ke udara seperti asap yang menunggu perintah.
Pemburu kurus di kiri gemetar. “Apa itu memakan aura kita?”
Kael menatapnya. “Bayangan memakan apa pun yang hidup,” katanya pelan. “Dan aura kalian … masih bernapas.”
Gelombang kegelapan menyambar.
Pemburu emas melompat ke belakang, terlalu lambat. Bayangan menamparnya seperti ombak hitam, membuat tubuhnya terlempar berpuluh meter dan menghantam batang pohon besar hingga retak.
Dua lainnya langsung menyerang, satu menebas dengan pedang emas, yang lain menembakkan tombak aura.
Kael melangkah maju, bukan menghindar, bukan menangkis. Dia … masuk ke serangan itu.
Pedang emas itu mengenai dada Kael, atau seharusnya begitu. Namun logam itu menembus bayangan gelap yang tiba-tiba memadat seperti air hitam, membuat bilahnya berhenti seolah menabrak tembok.
Tombak aura meluncur ke wajah Kael, bayangan di matanya bergerak. Tombak itu berubah menjadi debu hitam di udara.
Dua pemburu itu terpaku.
“Dia … bukan—”
Fajar menyingsing dengan warna biru yang jernih, seolah-olah alam semesta sedang mencoba membersihkan sisa-sisa kegelapan dari pertempuran semalam. Kael dan Lyra berdiri di gerbang pos penjaga, menatap ke arah pegunungan di utara. Di sana, Menara Hitam berdiri dengan angkuh, ujungnya seolah menusuk langit, dan mata perak di puncaknya terus berkedip, mengawasi setiap gerak-gerik di dunia bawah.Aris dan para pengungsi melepas kepergian mereka dengan tatapan penuh rasa syukur sekaligus cemas. Di tangan Aris, buku catatan memori itu didekap erat, seolah-olah itu adalah jantung dari keberadaan mereka."Berhati-hatilah, Tuan Kael, Nona Lyra," ucap Aris dengan suara parau. "Dunia di depan sana tidak lagi seperti yang kita kenal. Tanah itu tidak lagi mengingat siapa yang menginjaknya."Kael mengangguk singkat. Ia memanggul tas perbekalannya yang kini terasa lebih berat karena tubuh manusianya mulai merasakan efek kelelahan yang nyata. Namun, saat ia merasakan jemari Lyra menyelinap ke sela-s
Malam di pos penjaga yang runtuh itu terasa lebih panjang dari biasanya. Api unggun kecil di tengah ruangan memberikan bayangan yang menari-nari di dinding batu yang retak.Di sekitar api itu, belasan pengungsi duduk dengan bahu yang merosot, mata mereka kosong, mencerminkan ketakutan akan dunia yang perlahan-latih menghilang dari ingatan mereka sendiri.Kael duduk di dekat pintu masuk yang terbuka, pedang besinya bersandar di pangkuannya. Ia tidak lagi memiliki mata yang bisa melihat menembus dimensi, namun insting bertarungnya tetap tajam. Ia bisa merasakan angin dingin yang membawa aroma hampa, aroma ketiadaan yang sedang mengintai di kegelapan luar.Lyra mendekatinya, membawa sebuah kain yang telah dibasahi air hangat. Ia duduk di samping Kael dan mulai menyeka debu dari wajah pria itu."Mereka mulai tenang," bisik Lyra, melirik ke arah para pengungsi. "Tapi ketakutan mereka masih sangat besar, Kael. Mereka merasa seolah-olah besok pagi, mereka tidak akan lagi ingat siapa diri mer
Kael menghentikan langkahnya sejenak, menatap ke arah kegelapan hutan di depan mereka. "Ya. Ia tidak menyerang dengan pasukan. Ia menyerang dengan keraguan. Tapi selama aku memegang tanganmu, ketiadaan itu tidak akan pernah memiliki ruang di duniaku."Kael menarik Lyra ke dalam dekapan samping, merangkul bahunya erat. Mereka berjalan menembus malam, bukan sebagai dewa yang sombong, melainkan sebagai sepasang manusia yang memiliki satu sama lain sebagai kompas.Perjalanan menyebarkan resonansi jiwabaru saja dimulai. Di depan mereka, ribuan rintangan menanti, namun di dalam hati mereka, sebuah janji telah terpatri,Selama ada cinta, sejarah tidak akan pernah bisa dihapus.Setelah berjalan cukup jauh dari batas desa, Kael memutuskan untuk berhenti. Tubuh manusianya mulai merasakan letih yang nyata. Napasnya sedikit berat, dan pundaknya yang dulu kokoh memikul beban dunia, kini terasa pegal karena membawa tas perbekalan."Kita istirahat di sini," u
Fajar benar-benar telah menyapa desa kecil itu dengan warna emas yang murni. Sisa-sisa kabut hitam dari pasukan void telah menguap, meninggalkan tanah yang lembap namun terasa jauh lebih ringan. Di tengah puing-puing kereta perang yang hancur, Kael masih merasakan hangatnya pelukan Lyra. Detak jantung wanita itu adalah satu-satunya melodi yang ingin ia dengar selamanya."Kael," bisik Lyra, melepaskan pelukannya perlahan namun tangannya tetap menggenggam jemari Kael. "Ayo, kita kembali ke gubuk. Tubuhmu butuh istirahat, dan luka-lukamu harus segera dibersihkan."Kael mencoba berdiri, namun rasa sakit di punggungnya membuatnya meringis.Lyra dengan sigap merangkul pinggang Kael, membiarkan pria itu menyandarkan sebagian berat tubuhnya pada pundaknya yang kecil. Arkhavel mendekat, membantu memapah Kael dari sisi lain."Biar aku bantu, Kael," ucap Arkhavel. "Kau sudah melakukan lebih dari cukup untuk hari ini."Kael hanya mengangguk lemah. Matanya melirik ke arah tubuh Elara yang sedang d
Serangan gelap yang dilepaskan Elara melesat seperti kilat hitam, merobek udara dengan suara mendesis yang mematikan. Targetnya bukan Kael, melainkan Lyra, titik lemah sekaligus jantung dari seluruh pertahanan desa ini. Ia tahu, tanpa dukungan emosional Lyra, Kael hanyalah seorang pria dengan pedang besi."Lyra!" raungan Kael membelah riuh rendah pertempuran.Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat bayangan maut itu mendekat ke arah wanita yang ia cintai. Di dunia lama, Kael bisa berpindah tempat dalam sekejap mata menggunakan bayangan. Namun sekarang, ia harus mengandalkan otot dan tulang manusianya.Kael melompat. Ia tidak peduli pada ksatria void yang sedang menebas punggungnya. Ia hanya peduli pada satu hal, keselamatan Lyra.BUM!Ledakan energi kegelapan menghantam tepat saat Kael menarik Lyra ke dalam pelukannya dan memutar tubuh mereka di udara. Ia menjadikan punggungnya sebagai perisai hidup. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari saraf tulang belakangnya, seolah-ol
Berita yang dibawa Arkhavel jatuh seperti palu godam di tengah desa yang baru saja merasakan sedikit kedamaian. Ribuan pasukan void dan sisa-sisa pasukan takdir sedang bergerak menuju titik ini.Mereka adalah badai yang tidak mengenal ampun, bertujuan untuk memadamkan cahaya kebebasan yang baru saja dinyalakan oleh Kael dan Lyra.Kael menatap Arkhavel yang masih bersimpuh di tanah. Pria yang dulu begitu angkuh sebagai utusan dewan perbatasan itu kini tampak sangat rapuh. Jubahnya robek, dan matanya yang dulu dingin kini dipenuhi ketakutan manusiawi."Ribuan?" Lyra berbisik, suaranya sedikit bergetar. Ia menggenggam lengan Kael lebih erat. "Kael, desa ini tidak memiliki benteng. Warga di sini hanya memiliki parang dan kayu. Bagaimana kita bisa menghadapi ribuan pasukan penghancur?"Kael tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah warga desa yang mulai berkerumun. Ia melihat ketakutan yang sama di mata mereka.Namun, ia juga melihat anak kecil yang ia selamatkan kemarin sedang menatapny







