Home / Fantasi / Bayangan Darah Sang Putra Buangan / 8. MEREKA YANG MENUNGGU KEMATIAN

Share

8. MEREKA YANG MENUNGGU KEMATIAN

Author: Aleena Tan
last update Last Updated: 2025-11-20 11:00:24

Hutan di luar lembah menahan napas saat Kael melangkah. Tidak ada suara ranting patah, tidak ada desir rumput digesek angin. Bahkan suara detak jantung alam seperti ikut mengecil, seolah menyesuaikan dengan ritme jantung Kael yang baru, ritme yang tidak dimiliki makhluk hidup mana pun.

Bayangan di bawah kakinya berubah bentuk setiap beberapa langkah, seperti tinta yang mencari pola baru. Kadang memanjang seperti ular hitam, kadang melebar seperti genangan, kadang bergerigi seperti gigi.

Semua itu tidak Kael kendalikan dengan sengaja, itu hanya reaksi bayangan terhadap keberadaannya.

Ia mengikuti jejak pemburu tanpa tergesa. Setiap bau darah kering, sisa makanan, atau gesekan sepatu di tanah membentuk garis peta yang Kael lihat dengan sangat jelas, meski matanya tidak benar-benar menatap tanah.

Sekarang ia tidak membaca dunia dengan mata, ia membaca dunia dengan kegelapan.

“Delapan ratus meter,” gumamnya. “Kelompok pertama.”

Langkahnya tetap santai.

Namun bagi mereka yang mendengarnya dari jauh, terdengar seperti derap kematian yang berjalan perlahan untuk memberi kesempatan terakhir pada mangsanya.

Lima orang duduk di sekitar api yang hampir mati. Mereka mengenakan jubah penangkal aura dan masker kulit. Masing-masing membawa senjata berbeda, tombak pendek, panah racun, dan dua pedang kembar.

“Harusnya dia sudah mati,” gumam salah satu pemburu, menusuk tanah dengan pisau. “Tidak mungkin ada yang keluar dari lembah itu.”

Yang lain mendengus. “Kita lihat saja nanti. Kalau tubuhnya keluar terbawa arus bayangan, kita tarik bagian yang bisa dijual.”

“Kau yakin ada bagian yang bisa—” Kata-katanya terputus.

Api unggun mereka padam, bukan karena tiupan angin, melainkan karena bayangan merayap ke dalam nyala dan memakan warnanya.

“Ap—apa itu?”

“Gelapnya… salah.”

“Siapkan senjata!”

Mereka berdiri terburu-buru, panik, nafasnya naik turun. Lalu seseorang berjalan keluar dari hutan.

Langkahnya ringan, tenang, tidak terburu-buru. Tetapi setiap langkahnya membuat warna di sekitar memudar.

Lampu siang berubah seperti senja, senja berubah seperti malam. Dan malam berubah seperti sesuatu yang tidak pernah ingin ditulis dalam bahasa manusia.

Kael muncul di antara pepohonan. Wajah tampan itu tidak berubah, hanya … lebih sunyi. Lebih dalam, lebih sulit dibaca.

Bayangan di belakang Kael memanjang seperti mantel berat yang bergerak sendiri.

Para pemburu mundur secara refleks.

“S—Siapa kau?!” seru salah satunya.

Kael mengangkat kepala, dan mata hitamnya memantulkan sisa cahaya seolah sedang menilai.

“Kalian menunggu aku mati,” jawab Kael pelan. “Aku hanya datang untuk memastikan apakah harapan kalian masih perlu ada.”

Salah satu pemburu panik dan meluncurkan panah racun. Panah itu melesat cepat, dengan aura yang seharusnya mampu menembus perisai tingkat menengah.

Kael tidak menoleh.

Bayangan di pundaknya bergerak seperti cambuk, dan panah itu hancur menjadi debu hitam sebelum menyentuhnya.

Pemburu yang lain langsung menyerang bersamaan, menyerbu dari tiga arah. Mereka adalah profesional, tidak gegabah meski panik. Serangan dilakukan serentak, memanfaatkan sudut buta.

Kael tidak bergerak satu milimeter pun, dan itu cukup untuk membuat mereka tahu mereka sudah kalah.

Dari bawah Kael, bayangan melonjak seperti gelombang hitam. Menyambut, mengikat, menjerat.

Para pemburu mengerang, tubuh mereka diangkat beberapa sentimeter dari tanah. Mereka tidak bisa bergerak, bahkan bernafas pun terasa berat, seperti udara diambil dari paru-paru mereka.

“K-kekuatan apa ini?”

“Dia … bukan manusia!”

“Aku bilang jangan dekat-dekat lembah itu!”

Kael menatap mereka dengan tatapan datar.

“Dulu,” katanya tenang, “Aku takut dengan dunia luar karena aku tidak tahu bagaimana dunia melihatku.”

Bayangan menekan sedikit, tulang salah satu pemburu berderit.

“Tapi sekarang,” lanjut Kael, “Akulah yang melihat dunia. Dan aku memutuskan … kalian tidak penting.”

Dengan satu gerakan jari, bayangan berubah bentuk seperti kabut yang memotong.

Tidak ada jeritan, tidak ada darah memercik. Tubuh mereka hancur seperti pasir gelap yang tertiup angin.

Sisa bayangannya kembali ke tanah dan menyatu dengan langkah Kael kembali.

Ia tidak menatap ke belakang, tidak satu pun dari mereka layak menjadi ingatan.

Kael berjalan beberapa menit lagi hingga bau ketakutan berikutnya muncul. Dari balik dedaunan, tiga orang pemburu memegangi mulut satu sama lain, menahan napas. Mereka melihat apa yang terjadi dari jauh.

“Kau lihat tadi?! Dia—dia bahkan tidak menyentuh mereka!”

“Kita harus pergi! Ini bukan target biasa!”

“Kau ingin pergi ke mana?! Dialah yang menemukan KITA!”

Kael berhenti tepat di depan semak tempat mereka bersembunyi.

Tanpa melihat, ia berkata, “Terlalu berisik.”

Mereka membeku.

“Aura kalian bergetar seperti hewan luka,” lanjutnya. “Kukira kalian lebih profesional.”

Bayangan menyebar, tidak mengikat, hanya … menyentuh. Sentuhan ringan itu cukup membuat ketiganya pingsan.

Kael berjalan lagi, ia tidak butuh membunuh semua orang. Beberapa cukup ditinggalkan hidup agar cerita tentang dirinya bisa menyebar.

Ketakutan adalah bahasa yang lebih efisien daripada pedang.

Kael merasakan aura kelompok ketiga semakin jelas, mereka bukan pemburu biasa. Tekanan aura mereka lebih rapi, lebih terlatih, lebih … berbahaya.

Kael berhenti. Angin yang mati kembali bergerak. Tanah yang dingin kembali bergetar.

“Akhirnya,” gumamnya. “Sesuatu yang tidak membosankan.”

Bayangan di sekelilingnya merapat, seperti pasukan yang menyiapkan barisan.

Kael menatap ke depan. “Tunjukkan apakah kalian layak menjadi penghangat sebelum aku naik gunung itu.”

Dan ia melanjutkan langkahnya, ke arah kelompok yang tidak datang untuk mengambil mayatnya, tetapi untuk memastikan ia tidak pernah mencapai sekte lagi.

“Akhirnya,” gumamnya, “sesuatu yang tidak membosankan.”

Tekanan aura di depan terasa berbeda. Tidak bergetar seperti milik pemburu kelas rendah, tidak liar seperti kelompok sebelumnya.

Ini… tenang. Stabil. Seperti tangan ahli yang bisa mematikan seseorang tanpa perubahan ekspresi.

Kael berhenti sejenak, membiarkan bayangannya merayap maju seperti antena untuk membaca keadaan.

Di kejauhan, tiga sosok berdiri di atas dahan pohon besar. Masing-masing tidak bergerak, tetapi aura mereka berdenyut seperti baja yang digosok.

Mereka mengenakan masker perak tipis dan jubah tempur yang hanya dipakai oleh Pemburu Tingkat Emas, golongan paling mematikan di benua, biasanya dikerahkan untuk menangkap kultivator level tinggi.

“Dia mendekat,” bisik salah satu sosok di atas pohon.

“Tidak. Dia tahu kita di sini.” Koreksi sosok yang tubuhnya paling kurus namun auranya paling tajam. “Dan dia menunggu kita mengakui kehadiran kita.”

“Ini tidak seperti laporan. Dia … berbeda.”

Kael mengangkat kepalanya sedikit. “Jika kalian berencana menyerang dari atas,” katanya tenang. “itu tidak akan membantu.”

Ketiga sosok itu saling menatap, kaget karena seseorang dari bawah bisa mendengar bisikan mereka dari jarak sekitar seratus meter.

Sosok di tengah, pemimpin kelompok itu, menarik napas dalam.

“Kael Astaroth,” katanya lantang. “Atas nama Persekutuan Pemburu, kami diutus bukan untuk mengambil kepalamu…”

Kael mengangkat alis tipis.

“Tetapi untuk memastikan kau tidak melangkah ke luar lembah.”

Kael tersenyum kecil, dingin seperti malam yang tidak mengenal belas kasihan.

“Sayangnya,” katanya. “Lambat.”

Bayangannya menggulung naik seperti gelombang hitam raksasa, menyentuh akar-akar pohon, batang, lalu merayap ke udara seperti kabut yang berusaha menggigit langit.

Ketiga pemburu emas itu serempak menghunus senjata mereka.

Kael melangkah ke depan.

“Baik,” gumamnya pelan, “Tunjukkan apakah kalian pantas menghalangiku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   100. FINAL

    Cahaya aurora berwarna pelangi berdenyut liar di seluruh cakrawala Jantung Asal, namun kali ini fenomena tersebut tidak membawa getaran bencana, melainkan sebuah simfoni kemenangan dari dunia yang baru saja mematahkan belenggu terakhirnya.Ribuan burung phoenix transparan yang terbuat dari energi murni terbang melintasi langit, mengepakkan sayap mereka yang menjatuhkan serbuk emas ke permukaan Danau Kristal, menciptakan riak-riak cahaya yang menenangkan siapa pun yang memandangnya.Realitas ini tidak lagi bergetar karena ketakutan akan dihapus, ia bernapas dengan ritme yang stabil, seolah-olah seluruh alam semesta sedang menarik napas lega setelah jutaan tahun berada dalam tekanan pena Arsitek Pertama.Kael Astaroth berdiri di puncak bukit yang menghadap langsung ke arah peradaban baru yang mulai tumbuh di kejauhan. Ia tidak lagi mengenakan jubah perang yang penuh dengan noda darah, melainkan pakaian kain sederhana berwarna abu-abu yang membuatnya tampak seperti seorang sarjana biasa.

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   99. ENDING 3

    Langit yang semula tenang tanpa noda tiba-tiba terlipat layaknya selembar kertas tua yang diremas paksa oleh tangan raksasa tak terlihat. Fenomena ganjil ini memicu guncangan hebat yang mengguncang fondasi alam, menyebabkan air Danau Kristal melonjak drastis hingga setinggi sepuluh meter.Pemandangan horor itu menandai awal dari sebuah anomali spasial yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Suara gemuruh yang memekakkan telinga menggelegar di seluruh penjuru, namun itu bukanlah berasal dari petir atau badai.Bunyi tersebut merupakan hasil dari benturan keras antara hukum realitas baru yang merangsek masuk dengan sisa-sisa "Dinding Narasi" yang berjuang keras untuk tetap tertutup. Pertentangan dua kekuatan besar ini menciptakan kekacauan dimensi yang tak terhindarkan.Di tengah hiruk-pikuk kehancuran ruang tersebut, sebuah pilar cahaya hitam legam menghujam bumi dengan kecepatan luar biasa. Pilar itu mendarat tepat di depan kediaman keluarga Astaroth, membelah tanah menjadi retakan-re

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   98. ENDING 2

    Satu retakan merah darah tiba-tiba membelah cakrawala biru. Suara jeritan statis yang memekakkan telinga meledak dari sana, sisa terakhir program pembersihan yang aktif otomatis sejak Arsitek Pertama lenyap.Protokol darurat itu berniat menghapus seluruh realitas jika naskah tak lagi terbaca. Namun, sebelum retakan itu memuntahkan badai kehancuran, sebuah tangan kecil bercahaya keemasan terulur ke langit.Hanya dengan satu sapuan santai, retakan itu terhapus seolah seseorang baru saja menggunakan karet penghapus pada papan tulis kotor."Ayah, lihat! Aku tangkap serangga berisik itu lagi!" seru bocah laki-laki berusia lima tahun dengan rambut perak yang berkilau di bawah matahari.Kael Astaroth yang sedang memangkas tanaman obat, menoleh dan memberikan senyum tipis penuh kebanggaan. Ia bangkit, menepuk debu dari celana kainnya, lalu mendekati sang putra.Lima tahun berlalu sejak Jantung Asal hancur, dan dalam waktu singkat, dunia baru ini tumbuh men

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   97. ENDING 1

    "Hanya bayangan masa lalu yang mencoba mencari panggung yang sudah tidak ada," jawab Kael pelan sembari mengusap jemari Lyra untuk meredakan kecemasannya.Ia menatap ke arah danau yang kembali tenang, namun di dalam hatinya, Kael tahu bahwa kedamaian ini adalah sesuatu yang harus terus dipupuk. Dunia tanpa penulis ini seperti bayi yang baru lahir, ia sangat murni, namun juga sangat rentan terhadap residu kegelapan yang ditinggalkan oleh Arsitek Pertama.Ia membawa Lyra kembali masuk ke dalam rumah, memastikan setiap sudut kediaman mereka terlindungi oleh hukum keheningan yang ia ciptakan sendiri.Tiga minggu setelah insiden di danau, langit yang biasanya berwarna biru lembut tiba-tiba berubah menjadi perak pekat, bergetar hebat seolah-olah ada sebuah palu raksasa yang sedang menempa realitas di balik awan.Ledakan energi murni merambat dari inti bumi, menciptakan gelombang kejut yang membuat air danau kristal meluap ke udara dan membeku seketika menjadi r

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   96. WARISAN SANG PENGHAPUS

    Langit di atas Danau Kristal tiba-tiba terbelah oleh kilatan cahaya perak yang tidak berasal dari matahari mana pun. Itu bukan serangan musuh, melainkan sisa-sisa dari hukum penulisan yang sedang sekarat, meledak menjadi ribuan kunang-kunang energi sebelum akhirnya lenyap ke dalam udara.Kael Astaroth berdiri di tengah kebun obatnya, merasakan getaran itu merambat melalui telapak kakinya yang telanjang. Jantungnya berdenyut kencang, bukan karena ketakutan, tetapi karena ia merasakan sebuah bab lama benar-benar telah tertutup dan segel terakhir dari jiwanya baru saja terlepas."Satu per satu, belenggu itu berubah menjadi debu," gumam Kael sembari mengepalkan tangannya.Ia menatap telapak tangannya sendiri, di mana bekas luka akibat menyatunya pena perak kini telah berubah menjadi tanda lahir berbentuk garis lurus yang bersih, sebuah simbol bahwa ia adalah penguasa atas kekosongan yang ia tempati.Kael memutar tubuhnya saat merasakan kehadiran seseorang di

  • Bayangan Darah Sang Putra Buangan   95. NASKAH YANG TERHAPUS

    Jeritan Arsitek Pertama bukan sekadar raungan dari tenggorokan makhluk hidup. Itu adalah suara dari miliaran halaman yang terbakar secara bersamaan di dalam gudang memori multiverse.Saat pedang Kael Astaroth menembus pusat gumpalan tinta itu, hukum-hukum fisika yang mengatur Jantung Asal mulai terpilin seperti benang yang kusut.Langit yang tadinya dipenuhi retakan hitam kini mulai rontok, jatuh dalam potongan-potongan besar yang berubah menjadi debu kertas sebelum menyentuh tanah. Tidak ada lagi gravitasi, tidak ada lagi waktu, yang ada hanyalah amarah seorang karakter yang baru saja mematahkan pena penciptanya."Kau ... kau menghancurkan fondasi dari semua yang ada!" Arsitek Pertama meratap, ribuan matanya yang tadinya sombong kini meredup, mengeluarkan cairan hitam yang berbau busuk."Tanpa naskahku, semua dunia ini akan menjadi liar! Tidak akan ada keadilan, tidak ada takdir, hanya kekacauan tanpa akhir!"Kael memutar bilah pedangnya di dalam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status