Beranda / Romansa / Bayaran Cinta Sang Miliarder / BAB 24 : RAHSIA YANG TERSEMBUNYI DI BALIK HURUF 'S'

Share

BAB 24 : RAHSIA YANG TERSEMBUNYI DI BALIK HURUF 'S'

Penulis: Atria
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-01 00:55:20

Malam itu, rumah Leonard seolah terasa lebih besar dan sunyi dari biasanya. Cahaya lampu taman menerangi jalan setapak yang mengarah ke kebun, tapi bayangan yang terbentuk seolah menyembunyikan sesuatu yang tidak bisa dilihat. Leonard duduk di ruang tamu, meletakkan semua dokumen dari Mira di atas meja marmer. Setiap halaman yang dia baca membuat darahnya semakin mendidih.

Di balik semua kejahatan Rendra dan Elena, ada sebuah rahasia besar tentang perusahaan ayahnya, Wijaya Global Group. Proyek rahasia yang disebut “Proyek Sang Surya” yang seharusnya mengubah wajah industri energi di Indonesia. Dokumen yang ditemukan Mira menunjukkan bahwa proyek itu bukan hanya tentang energi, melainkan tentang hak akses ke sumber daya alam yang bernilai miliaran dolar.

Dan sosok dengan inisial ‘S’ yang selalu disebutkan di sana adalah Sutrisno Wijaya, pamannya sendiri yang menghilang sejak lima tahun yang lalu, tepat setelah kecelakaan ayahnya.

“Tidak mungkin…” bisik Leonard, menatap foto pria berj
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   bab 44 : Luka Menuntun Pulang

    Rina berdiri di trotoar depan gang, matanya menatap jalan raya yang padat. Jaket lusuh membungkus tubuhnya, dan tas kecil di punggungnya terasa ringan — jauh lebih ringan dari beban yang selama ini ia pikul di rumah.Ia tak punya tujuan pasti. Tapi ia punya satu hal: tekad.Ia membuka ponselnya, masuk ke akun penulisan anonimnya. Honor menulis pertama baru saja cair: Rp450.000. Bukan angka besar, tapi cukup untuk satu malam penginapan murah dan makan sederhana.Dengan langkah tenang, ia menyusuri jalan kecil menuju kos harian yang pernah direkomendasikan oleh teman komunitas menulisnya. Sederhana, berjejer rumah petak dengan bau pengap dan lantai semen kasar. Tapi di mata Rina, itu adalah surga kecil setelah bertahun-tahun hidup dalam neraka.---Malam itu, di atas kasur tipis dan dinding yang catnya mengelupas, Rina menangis. Tapi untuk pertama kalinya... tangis itu terasa membebaskan.Ia menulis sebuah kalimat di buku usangnya:Hari ini aku pergi. Bukan karena aku kalah, tapi karena

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 43 : Tidak Selamanya Buta

    Pagi itu, Rina sedang menyapu halaman seperti biasa, saat mendengar suara cempreng Nila dari dalam rumah.“Maaa! Nih ya, temenku nge-share postingan cerita viral. Judulnya ‘Aku Menikah Tapi Tinggal di Neraka’. Baca, deh. Gila, mirip banget kayak cerita kita di rumah ini! Sampe ibu mertua nyuruh nyapu dari subuh segala!”Bu Rukiyah menimpuk sendal ke lantai. “Apaan sih? Kamu bacain dong!”Nila membacakan dengan suara keras. Satu per satu paragraf, satu per satu kalimat yang... Rina tahu betul itu tulisannya sendiri.Tubuh Rina langsung kaku. “Aku dicaci tiap hari, bahkan hanya karena bangun lima menit lebih lambat. Aku disebut benalu, babu, tak tahu diri. Suamiku? Seolah aku ini tidak ada. Aku berbicara, ia tak menjawab. Aku menangis, ia tidur nyenyak. Tapi aku diam. Karena di dalam diamku, ada luka yang sedang menanti waktu untuk bangkit.”“Astaghfirullah... ini pasti perempuan zaman sekarang yang gak tahu diri,” seru Bu Rukiyah, mendelik.Nila ikut berapi - api, “Iya! Berani - beran

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 42 : Jika Aku Mati

    Pagi datang lagi. Dan seperti biasa, Rina yang pertama kali bangun. Jam menunjukkan pukul 04.30 pagi. Suaminya masih terlelap di kamar, mendengkur kecil. Sementara itu, Rina sudah berdiri di dapur, meraba - raba dengan mata mengantuk, menyalakan kompor untuk merebus air. Air matanya bahkan sudah tak keluar lagi. Tubuhnya kaku, kepalanya pening, dan perutnya perih karena semalam hanya diisi dua sendok nasi dingin. Dia tak sanggup makan lebih banyak. Bukan karena tak lapar. Tapi karena tak ada yang tersisa untuk dirinya sendiri. Saat air mendidih dan nasi mulai dimasak, suara langkah kaki mengentak tangga. Bu Rukiyah turun dengan wajah masam, masih mengenakan daster panjang. “Udah bangun?” cibirnya tajam. “Bagus. Tapi kayaknya telat lima menit dari biasanya. Mulai males ya kamu? Nikah baru sebentar, udah males - malesan?” Rina menahan napas. Mulutnya ingin menjawab, tapi ia tahu akibatnya jika membalas. Jadi ia hanya mengangguk, mengaduk nasi yang hampir matang. “Kalau kamu gak s

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 41 : Menantu Baru

    Udara pagi di rumah besar bercat hijau pupus itu tidak pernah terasa hangat untuk Rina. Padahal matahari sudah mulai naik, tapi tubuhnya masih menggigil, bukan karena dingin... tapi karena kata - kata yang baru saja menyayat telinganya.“Bangun jam lima aja udah kayak ratu,” suara cempreng itu menampar kesadarannya.Rina menunduk di dapur, masih mengenakan daster lusuh bermotif bunga layu. Wajahnya sembab, belum sempat cuci muka. Tangannya sibuk membersihkan sisa nasi di dandang, tapi matanya sudah basah.“Kalau kamu pikir nikah sama anak ku terus bisa santai, kamu salah besar!” seru ibu mertuanya, Bu Rukiyah, sambil menatap tajam seperti garam kasar di luka terbuka. “Kamu tuh bukan diboyong buat pamer! Kamu aku bawa masuk ke rumah ini buat bantu aku, ngerti?!”Rina hanya mengangguk. Bibirnya terkunci rapat, menahan sesak yang menumpuk di dada.Dari ruang tengah, suara tertawa nyaring menyusul. Nila, adik iparnya yang masih lajang dan tak pernah bekerja, menyeringai sambil menyeduh te

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 40 : Akhir

    Langit sore di kota itu mendung, seperti menyimpan tanda bahwa badai akan segera berlalu. Di dalam gedung megah tempat Reyhan memimpin perusahaannya, angin tak kasat mata mulai berhembus dari arah yang berbeda—arah akhir dari permainan licik yang terlalu lama berlangsung. Aurel terbatuk pelan. Tubuhnya lunglai, kepalanya pening. Tadi pagi ia minum teh dari pantry kantor—yang diam-diam disiapkan oleh Clarissa. Dan sekarang, Aurel terduduk lemas di ruang lobi, matanya mulai menggelap. “Maaf, mbak... mbak nggak apa-apa?” tanya salah satu resepsionis dengan panik. Sebelum Aurel bisa menjawab, tubuhnya ambruk—dengan mata berkaca. --- Di tempat lain… Clarissa berdiri di salah satu lorong, senyum puas di wajahnya. “Dengan begitu… dia tidak akan datang ke rapat direksi. Dan aku akan gantikan posisinya duduk di sisi Rey.” Tapi ia tidak sadar… dari sudut lorong lain, kamera pengawas telah merekam seluruh aksinya. Termasuk saat ia menambahkan bubuk ke dalam teh Aurel. Dan lebih buruknya

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 39 : Undangan

    Pagi itu, kabut tipis menyelimuti jendela rumah Reyhan dan Aurel. Udara musim gugur di New York membuat semua terasa sejuk, tapi tidak dengan hati Aurel yang dingin oleh ketidakpastian. Ia duduk di meja makan. Diam. Mengaduk teh herbal yang sudah dingin. Reyhan duduk di seberangnya, sama-sama sunyi. Beberapa hari ini mereka seperti dua orang asing di satu rumah. Reyhan menggeser piring ke arah Aurel. "Makanlah, Aurel." Aurel tak menjawab. Matanya menatap ke luar jendela. Dalam pikirannya, bayangan Clarissa masih bermain seperti film rusak. Tertawa di kantor. Duduk begitu dekat. Reyhan diam. Selalu diam. "Aurel… aku akan ke acara gala malam ini. Penting. Kehadiran media, investor besar. Kau—" "Aku tidak akan ikut," potong Aurel pelan. Reyhan mendesah. "Clarissa akan di sana." Aurel menoleh cepat. Matanya tajam. "Tentu dia akan ada. Karena sepertinya dia ada di mana-mana sekarang." “Dia hanya rekan kerja, Aure.” Aurel bangkit. "Dan aku cuma istrimu yang kau sembunyikan dari dun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status