LOGINAurel perlahan menurunkan ponsel dari pandangannya. Tangannya masih gemetar, dan wajahnya pucat. “Mas… ini apa?” suaranya nyaris tak terdengar, seperti tertahan di tenggorokan, namun penuh dengan campuran kebingungan.Reyhan masih berdiri di ambang pintu, diam. Tatapannya terarah lurus pada layar ponsel yang kini berada di tangan istrinya. Ia menarik napas dalam, lalu melangkah pelan mendekati tempat tidur.“Itu cuma urusan kerja, Sayang,” ujarnya hati - hati, duduk di ujung ranjang, menjaga jarak agar Aurel tak merasa terpojok. “Aku memang belum sempat cerita.”“Urusan kerja?” Aurel mengerutkan dahi. Ia memandang layar ponsel sekali lagi.[SMS Baru] Incoming Transfer: Rp 601.000.000.000,00 dari Regal Holdings – Project C-7 – Status: Completed.Angka itu terpampang jelas, dingin, dan tak terbantahkan. Jumlah yang tak masuk akal—bukan ratusan juta, tapi enam ratus miliar. Untuk seorang Reyhan yang selama ini disebut pengangguran oleh keluarganya. Seorang suami yang seminggu penuh mengh
Mobil mewah berwarna hitam itu berhenti perlahan di ujung gang kecil yang cukup jauh dari rumah mertuanya. Sopir membuka pintu dengan sopan, namun Reyhan hanya mengangguk singkat.Dengan masih mengenakan kemeja biru lusuh yang sama saat ia pergi seminggu lalu, Reyhan turun tanpa membawa koper apa pun. Ia menyandang tas selempang kecil lusuh yang tampak seperti milik buruh kasar, lalu melangkah pelan menyusuri gang sempit.Udara pagi Jakarta mulai hangat, aroma gorengan dari warung sekitar menyambutnya. Beberapa anak kecil berlarian, tidak mengenal siapa dia. Dan itu bagus.Reyhan menghela napas panjang saat rumah tua di ujung jalan itu mulai terlihat. Rumah itu mungkin tidak mewah, bahkan terkesan usang, tapi di dalamnya ada satu - satunya alasan ia pulang: Aurel.Langkah Reyhan mantap meski sedikit lelah. Setelah seminggu di Tokyo untuk menandatangani kontrak besar kerja sama dengan perusahaan Jepang, akhirnya hari ini ia bisa kembali. Proyek itu akan jadi gerbang internasional berik
Jam menunjukkan pukul 01.13 dini hari. Rumah sudah hening, hanya suara kipas angin yang berputar lamban di langit - langit kamar. Aurel tertidur pulas, matanya masih menyisakan bekas tangis, sedangkan Reyhan duduk gelisah menatap langit - langit. Tiba - tiba, ponselnya yang selama ini selalu di senyapkan bergetar pelan di atas meja. Layar menyala, menampilkan nomor baru yang tidak dikenal—tanpa nama, tanpa jejak. Bukan pertama kalinya ini terjadi. Sudah menjadi aturan tak tertulis dalam kehidupannya, semua urusan besar hanya bisa ditangani saat dunia sedang tertidur. Dan setiap kali asistennya menelpon, selalu melalui nomor berbeda. Tanpa identitas. Tanpa jejak. Dengan gerak cepat, Reyhan mengambil ponsel, lalu keluar kamar tanpa suara. Ia menuju dapur, bagian rumah yang paling jauh dari kamar tidur. Begitu sampai, Reyhan mengangkat telepon. "Halo?" suaranya pelan namun penuh wibawa. “Maaf, Pak Reyhan. Tapi pihak Tokyo baru saja mengonfirmasi. Mereka setuju menandatangan
Pintu kamar dibanting pelan. Nafas Aurel memburu. Matanya merah, dadanya naik turun, dan kedua tangannya sibuk melempar pakaian ke dalam koper besar yang tadi diangkat Reyhan."Mas, kita pergi sekarang juga!" serunya, penuh amarah yang nyaris meledak.Reyhan berdiri di ambang pintu, terdiam. Wajahnya teduh, namun penuh luka yang disembunyikan dengan susah payah. Ia melangkah pelan, lalu memegang lengan Aurel yang masih menggeledah lemari."Aurel... Cukup."“Enggak cukup, Mas!” Aurel menepis tangan Reyhan, lalu memasukkan kemeja, celana, bahkan kaus kaki Reyhan ke dalam koper. "Mas gak lihat? Mereka nginjek harga diri Mas! Masa kita diam aja?!”Reyhan menarik napas dalam - dalam, lalu duduk di sisi tempat tidur. Tangannya menggenggam koper yang belum ditutup itu.“Aku tahu kamu marah. Aku juga sakit, Aurel. Tapi kita gak bisa balas sakit hati dengan lari.”Aurel menatapnya. Matanya berkaca - kaca. “Mas Reyhan, mereka bukan cuma menghina Mas. Mereka ngerendahin aku juga! Seolah aku pere
Rumah itu kembali sepi. Hanya suara kipas angin tua yang berderit pelan di ruang tengah. Reyhan baru saja selesai mengganti baju bersih setelah mandi. Duduk sebentar di ruang makan, ia berniat menyeduh teh yang sudah Aurel buat sejak pagi—yang kini sudah dingin. Tapi baru saja tangannya menyentuh gelas...BRAK!Pintu dapur dibuka kasar. Bu Ratri berdiri di ambang pintu, matanya menyala - nyala.“Kamu pikir kamu siapa di rumah ini, hah?!”Reyhan langsung berdiri. Tubuhnya kaku. “Maaf, Bu?”“Jangan ‘maaf - maaf’ ke saya! Saya udah tua, Reyhan! Bukan bodoh! Kamu pakai apa, hah?! Ilmu hitam? Guna - guna? Sampai - sampai Aurel berani ngelawan saya demi kamu?!”Reyhan mengerutkan kening. “Saya nggak ngerti maksud Ibu...”“Jangan pura - pura! Dari awal saya udah curiga! Kamu cuma modal tampang sama sopan santun busukmu itu! Ternyata dalemnya busuk! Kamu itu laki - laki paling nggak tahu diri yang pernah numpang di rumah saya! Bikin anak saya jadi berani sama ibunya sendiri!”Reyhan menunduk.
Pagi masih setengah terang ketika suara teriakan Bu Ratri membelah rumah. “Reyhan! Itu jemuran udah kamu angkat belum? Awan udah gelap tuh, kalau hujan semua baju bisa bau apek!” Reyhan yang baru selesai menyikat kamar mandi hanya bisa mengangguk sambil menahan napas. Keringat membasahi leher dan pelipisnya, kaos oblongnya sudah basah seperti habis diguyur air. Ia meletakkan ember, buru - buru keluar rumah, mengangkat jemuran sambil menahan pegal di pinggang. Belum sempat ia meletakkan setumpuk pakaian di kursi, suara cempreng itu datang lagi. “Eh, sekalian nyapu teras, ya! Banyak daun kering tuh, bikin kotor pemandangan. Masa laki - laki sehat kayak kamu kerjaannya santai - santai aja?” Aurel yang sedang menata meja makan mendengar semuanya. Ia menoleh ke arah dapur, tempat nasi, sayur asem, dan ikan goreng yang ia masak sejak pagi masih mengepul hangat. Di tengah meja, dua gelas teh manis sudah mulai kehilangan panasnya. “Mas Reyhan...” bisik Aurel dengan lirih, menunggu suami







