MasukLangit malam kelam saat Aira dan ayahnya digiring menuju lantai teratas Leonard Alvero Group.
Di dalam lift, keheningan mencekam. Hanya dengung mesin yang perlahan membawa mereka naik, seolah ikut menahan napas menunggu apa yang akan terjadi. Pintu lift terbuka, hawa dingin langsung menusuk kulit. Ruang kerja Leonard Alvero terbentang luas. Lantai marmer hitamnya berkilauan, memantulkan cahaya kota yang gemerlap dari balik jendela kaca raksasa. Di tengah ruangan, Leonard Alvero berdiri memunggungi mereka, tegap menatap pemandangan kota. Siluetnya terpantul di kaca, bagai raja yang mengamati kerajaannya. "Ayah... apa nggak sebaiknya kita pulang aja?" bisik Aira lirih. Ayahnya menggenggam tangannya erat. "Nggak, Aira. Ini satu-satunya harapan kita." Leonard Alvero berbalik perlahan, tatapannya setajam pisau. "Duduk." Mereka menurut. Kursi kulit di depan meja besar itu terasa mewah untuk tubuh mereka yang lelah dan basah. Hening. Hanya detak jam dinding yang terdengar. Ayah Aira menunduk dalam, lalu mulai bicara dengan suara serak, "Tuan... saya mohon, tolonglah kami. Istri saya, ibunya Aira, harus segera dioperasi. Dokter bilang nyawanya bisa nggak ketolong jika kami nggak segera dapat uang." Leonard Alvero menatap tanpa ekspresi, jari-jarinya mengetuk meja pelan. "Jadi, apa yang bisa kalian tawarkan?" Ayahnya menelan ludah. "Saya mohon, Tuan... beri anak saya pekerjaan. Apa aja. Jadi petugas kebersihan, asisten rumah tangga, kerja lembur juga nggak masalah, asal bayarannya lebih. Kami nggak minta dikasihani, kami cuma butuh kesempatan agar bisa mendapatkan uang, tolonglah kamu Tuan." Aira menunduk, matanya berkaca-kaca. Ayahnya menunduk lebih dalam lagi, hampir menyembah di hadapan meja itu. "Tuan... tolonglah. Saya rela ngelakuin apa pun. Jangan biarin istri saya meninggal cuma karena kami miskin." Suasana ruangan semakin tegang. Hanya napas mereka yang terdengar. Aira menggigit bibir, berusaha menahan air mata. Ia ingin menarik ayahnya agar berhenti merendahkan diri, tapi tubuhnya lemas, tenggorokannya tercekat. Leonard Alvero terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata dengan nada datar, "Maaf, saya nggak butuh asisten. Semua posisi udah ke isi." Kata-katanya bagai petir yang menyambar. Ayah Aira mendongak, matanya memohon. "Tapi, Tuan... lihatlah anak saya. Dia pekerja keras, rajin, nggak bakal ngecewain. Cuma beberapa minggu aja, sampe operasi istri saya selesai. Abis itu, kami pergi." Leonard Alvero hanya diam, hingga Aira mulai gemetar, seolah menahan rasa malu. "Saya nggak punya yayasan amal," katanya dingin. "Kalau kalian datang buat ngemis, kalian salah tempat." Ayah Aira hampir terjatuh dari kursi. Napasnya tersengal. Aira segera memegangi bahunya, menatap Leonard Alvero dengan air mata berlinang. "Tuan..." katanya lirih, menahan sesak di dada. "Saya nggak datang buat ngemis." Dia menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan dengan suara yang hampir pecah, "Saya bisa ngelakuin apa aja... bersih-bersih, bantu-bantu, apa pun yang Tuan mau. Bahkan kalau Tuan butuh tenaga saya seumur hidup... saya bersedia. Asal ibu saya bisa diselamatkan." Ucap Aira. Leonard Alvero tidak menjawab. Dia menatap keduanya sesaat, lalu berbalik menghadap jendela. Cahaya lampu kota membias di wajahnya, dingin tanpa ekspresi. "Satpam bakal nganter kalian turun," katanya akhirnya, suaranya rendah dan tajam. "Jangan datang lagi tanpa janji." Ayah Aira terdiam, bahunya merosot, napasnya berat. Aira hanya bisa menatap punggung Leonard Alvero, punggung yang kaku, seolah nggak punya hati. Aira gak putus asa, dia memohon pada Leonard Alvero, "Tuan, saya mohon..." suara Aira pecah, nyaris berbisik. "Tolong jangan usir kami. Saya bakal ngelakuin apa aja biar ibu saya bisa dioperasi. Tolong kasih saya kesempatan..." Ayahnya ikut bersujud di sampingnya, memohon dengan suara serak, "Tuan Alvero... kami nggak punya siapa-siapa lagi. Tolong anak saya. Tolong istri saya." Hening panjang mengisi ruangan. Leonard Alvero masih membelakangi mereka, lalu perlahan menoleh. Tatapannya redup, sulit ditebak apakah itu amarah, iba, atau sesuatu yang lain. "Apa aja, kamu bilang?" suaranya pelan tapi menusuk. Aira mengangguk tanpa ragu. "Iya, Tuan. Apa aja." Leonard Alvero menatapnya, lalu berjalan mendekat. Ketika akhirnya dia berhenti di hadapan Aira, bayangan tubuhnya menutupi cahaya di wajah gadis itu. "Kalau gitu," katanya tenang, "saya punya satu tawaran." Aira menahan napas. "Ini bukan pekerjaan biasa. Saya nggak bakal maksa. Tapi kalau kamu nerima, semua biaya yang kamu butuhkan bakal saya tanggung... berapa pun." Ayah Aira menatap tak percaya. "T-tawaran apa itu, Tuan?" Leonard Alvero tersenyum tipis, senyum yang membuat udara ruangan semakin berat. "Perjanjian antara saya dan putri anda. Cuma itu yang bisa saya tawarkan. Jika anda tidak mau, anda boleh keluar, sekarang." Suasana seketika membeku. Aira menatap pria itu dengan mata lebar. Udara di ruang kerja itu terasa semakin dingin. Jam dinding berdetak pelan. Leonard Alvero berdiri di balik mejanya, tangan terlipat di dada. Tatapannya tertuju pada Aira, tajam, dan dingin. "Saya nggak bikin keputusan dengan gampang," katanya pelan. "Biasanya, orang seperti kalian udah saya usir dari tadi." Aira menunduk, suaranya bergetar. "Saya cuma pengen menyelamatkan ibu saya, Tuan." Leonard Alvero menarik kursinya, duduk perlahan. "Kalau gitu, dengerin baik-baik. Saya bakal ngasih kamu kesempatan. Tapi ini bukan pekerjaan di perusahaan. Ini perjanjian pribadi antara saya dan kamu." Ayah Aira langsung mendongak. "Perjanjian pribadi? Maksud Anda apa, Tuan?" Leonard Alvero tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang lurus ke arah Aira. "Kalau putrimu nerima, semua biaya rumah sakit bakal saya tanggung penuh, bahkan lebih dari itu. Tapi ada syarat yang harus dia patuhi. Ruangan hening. Hanya suara hujan di luar yang terdengar memukul jendela kaca. Ayah Aira menatap putrinya, wajahnya penuh ketakutan. "Aira, kamu nggak harus—" Tapi Aira menatap Leonard Alvero, matanya berkaca-kaca, namun penuh tekad. "Apa pun syaratnya, Tuan... saya bakal nerima." Leonard menatap Aira tanpa kedip, wajahnya datar tapi matanya menusuk seperti bilah pisau. Sudut bibirnya terangkat sedikit—bukan senyum, tapi ekspresi sinis yang seolah meremehkan Aira. Saat ia berbicara, suaranya pelan namun tajam, seperti seseorang yang yakin penuh bahwa ia memegang seluruh kekuasaan. “Kamu yakin? Sekali kamu tanda tangan perjanjian ini, nggak ada jalan kembali.” Nada suaranya terdengar dingin dan menghina. Aira menelan ludah, menunduk sebentar, lalu mengangguk pelan. "Ya, Tuan. Saya yakin." Leonard Alvero membuka laci meja, mengeluarkan selembar kertas tipis berstempel perusahaan, tapi tanpa logo resmi—perjanjian pribadi yang bahkan hukum pun mungkin nggak bisa menjangkaunya. Ia menaruhnya di atas meja, bersama sebuah pulpen hitam. "Baca dulu kalau kamu mau," katanya dingin. "Kalau yakin, tanda tangani. Setelah itu, saya bakal nepati janji saya. Memberikan berapapun yang kamu minta." Aira menatap kertas itu. Tangannya gemetar, tangan Aira akhirnya bergerak. Ia mengambil pulpen itu dengan napas bergetar dan menandatangani kontrak.Dua minggu setelah menerima surat dari Pak Sudarto, Alya telah mengumpulkan semua keberanian yang dia miliki untuk mencari tahu siapa orang yang sebenarnya berada di balik semua rencana jahat itu. Dia menemukan loker yang disebutkan Pak Sudarto di kantor lama perusahaan konstruksi yang telah dibubarkan, dan di dalamnya terdapat tumpukan dokumen yang membuatnya menggigil saat membacanya. Hari itu pagi, Alya mengundang Raka, Nadia, Amanda, dan keluarga dekatnya untuk berkumpul di kantor yayasan. Ruangan terasa lebih kecil dari biasanya karena ketegangan yang memenuhi udara. Semua orang melihat Alya dengan wajah yang penuh dengan pertanyaan saat dia meletakkan tumpukan dokumen di atas meja besar. “Saya punya sesuatu yang harus saya tunjukkan kepada kalian semua,” ucap Alya dengan suara yang tegas namun penuh dengan kesedihan. “Ini adalah bukti yang saya temukan dari loker Pak Sudarto. Bukti yang menunjukkan bahwa ada orang lain yang memiliki peran utama dalam semua yang terjadi pada ki
Tiga minggu telah berlalu sejak Dina datang dengan dokumen dari ayahnya, dan kehidupan Alya serta orang - orang di sekitarnya terasa seperti berada di atas gunung es yang siap runtuh kapan saja. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa Rizky telah merencanakan semuanya sejak awal — mulai dari membuat Nadia dekat dengan Raka hingga mencoba menghancurkan yayasan beberapa tahun kemudian. Segala sesuatu yang mereka anggap sebagai pilihan pribadi ternyata merupakan bagian dari permainan yang dirancang dengan cermat untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan. Hari itu pagi, Alya, Raka, dan Nadia berkumpul di kantor yayasan untuk membahas apa yang harus dilakukan dengan bukti baru ini. Ruangan terasa dingin meskipun udara luar sedang panas, dan suasana penuh dengan ketegangan yang bisa diraba. “Kita tidak bisa menyembunyikan ini lagi,” ucap Raka dengan suara yang tegas. “Semua orang berhak tahu bahwa mereka bukan hanya korban dari kesalahan kita, tapi juga dari permainan yang dirancang oleh Rizk
Empat bulan telah berlalu sejak acara “Bunga untuk Kebenaran” yang sukses mengungkapkan kecurangan Rizky. Kasusnya sedang dalam proses pengadilan, dan banyak bukti yang telah dikumpulkan menunjukkan bahwa dia telah terlibat dalam berbagai praktik korupsi dan kecurangan selama bertahun - tahun. Yayasan “Bunga untuk Semua” akhirnya bisa melanjutkan pembangunan gedung baru, dengan dukungan dari pemerintah dan masyarakat yang semakin besar.Hari itu adalah hari peresmian gedung baru yayasan yang terletak di kawasan baru di pinggiran Kota A. Gedung tiga lantai dengan desain modern namun hangat ini dilengkapi dengan ruang pelatihan, ruang bermain anak - anak, perpustakaan kecil, dan juga kebun bunga yang akan digunakan untuk menanam bibit - bibit bunga yang akan diberikan kepada masyarakat.Ratusan orang datang untuk menghadiri acara peresmian, termasuk pejabat pemerintah, pengusaha yang memiliki integritas, serta banyak anak - anak dan keluarga yang telah mendapatkan manfaat dari program y
Hanya seminggu lagi sebelum acara “Bunga untuk Kebenaran” digelar, dan suasana di kantor yayasan semakin tegang namun penuh dengan semangat. Ribuan orang telah mendaftarkan diri untuk menghadiri acara tersebut setelah berita tentang kecurangan Rizky mulai menyebar luas melalui media sosial dan liputan media massa yang semakin banyak. Namun dengan semakin dekatnya acara, ancaman dari pihak Rizky juga semakin nyata. Hari itu pagi, Alya datang ke toko “Hati yang Baru” untuk mengambil bunga - bunga yang akan digunakan sebagai dekorasi acara. Namun dia terkejut ketika melihat pintu toko yang patah dan barang - barang di dalamnya berantakan. Beberapa pajangan bunga hancur berkeping - keping, dan catatan kasar tertulis di dinding dengan semprotan warna hitam: “HENTIKAN SEMUA APA YANG KAMU LAKUKAN, ATAU AKAN ADA KERUSAKAN LEBIH BESAR.” Sari yang sudah ada di toko menangis sambil membersihkan puing - puing. “Bu Alya... saya tidak tahu siapa yang melakukan ini. Saya datang hanya beberapa meni
Empat hari telah berlalu sejak pertemuan dengan Rizky, dan situasi semakin memburuk. Kontraktor telah menghentikan semua pekerjaan pada gedung baru yayasan, dan beberapa sponsor mulai menarik dukungan mereka dengan alasan tidak ingin terlibat dalam masalah yang tidak jelas. Alya menghabiskan hampir setiap jamnya di kantor yayasan bersama Raka dan Nadia, mencoba mencari solusi untuk masalah yang semakin kompleks.Hari itu pagi, Alya sedang memeriksa dokumen keuangan yayasan ketika Sari masuk dengan wajah yang penuh dengan kegembiraan. “Bu Alya! Ada seorang pria yang ingin bertemu dengan Anda. Dia bilang dia punya informasi penting tentang kontraktor yang bekerja sama dengan kita.”Alya mengangkat alisnya dengan penasaran. “Siapa dia? Dan apa yang dia bisa beritahu kita?”“Saya tidak tahu pasti, Bu. Dia hanya bilang namanya Budi dan pernah bekerja sebagai supervisor di proyek kontraktor itu,” jawab Sari. “Dia bilang dia tidak bisa tinggal diam melihat uang orang banyak disia-siakan kare
SEASON 2*****Sepuluh tahun telah berlalu sejak yayasan “Bunga untuk Semua” didirikan. Kota A telah mengalami banyak perubahan — bangunan - bangunan tinggi menjulang ke langit, jalan - jalan baru dibangun, dan kehidupan kota semakin ramai. Namun toko bunga “Hati yang Baru” tetap berdiri kokoh di lokasinya yang asli, menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang Alya dalam membangun kehidupan yang penuh makna.Hari itu pagi sekali, Alya sudah berada di toko untuk mempersiapkan pesanan besar untuk acara peresmian gedung baru yayasan. Arif sedang berada di luar kota untuk mengikuti konferensi dokter hewan, jadi Alya bekerja sendirian bersama beberapa karyawannya. Suara mesin pendingin yang berdenyut dan aroma bunga segar memenuhi ruangan toko yang kini telah direnovasi menjadi lebih luas dan nyaman.“Bu Alya, ada pesan dari kantor yayasan!” teriak Sari yang kini telah menjadi manajer utama toko. “Mereka bilang ada masalah dengan bahan bangunan yang akan digunakan untuk gedung baru. Ada kem







