Beranda / Romansa / Bayaran Cinta Sang Miliarder / Bab 4 — Tanda Tangan Takdir

Share

Bab 4 — Tanda Tangan Takdir

Penulis: Atria
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-08 22:44:43

Tinta di atas kertas itu mengering cepat, tapi perasaan Aira justru sebaliknya, membasahi dadanya dengan penyesalan yang bahkan belum sempat ia kenali.

Tangannya gemetar saat meletakkan pulpen itu kembali di meja.

Klik.

Suara kecil saat pena ditutup itu menggema seperti palu godam yang memaku dirinya sendiri.

Leonard Alvero mengambil lembar perjanjian itu dengan tenang. Matanya menelusuri tanda tangan Aira sejenak, lalu melipat kertas itu perlahan.

"Mulai saat ini," ucapnya datar, "hidupmu ada di tangan saya."

Kata-kata itu meluncur bagai pisau yang menggores luka tak terlihat di dada Aira. Dia menunduk, bibirnya bergetar, tapi tak menjawab.

Di sampingnya, ayahnya memandang dengan wajah bersalah, campur antara syukur dan ngeri yang membuatnya pucat. "Terima kasih, Tuan...," suaranya parau, "tolong... selamatkan istri saya."

Leonard Alvero menatapnya datar, lalu menekan tombol di meja. "Raisa," panggilnya singkat. Perempuan yang tadi menghadang Aira segera masuk. "Urus semua biaya rumah sakit keluarga ini. Pastikan mereka nggak kekurangan apa pun."

Raisa sempat melirik Aira sekilas, sedikit heran—tapi ia hanya mengangguk dan keluar tanpa sepatah kata.

Aira menatap lantai, matanya kosong. Dia mendengar ayahnya berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Leonard Alvero, tapi semua suara itu terdengar jauh, seolah dari dunia lain.

Saat mereka berjalan meninggalkan ruangan itu, Aira sempat menoleh sekali. Leonard Alvero masih berdiri di dekat jendela besar, punggungnya tegap, siluetnya dibingkai cahaya lampu kota. Namun ketika pria itu sedikit menoleh, mata mereka bertemu dan sesuatu dalam tatapan Leonard Alvero membuat napas Aira tercekat.

Itu bukan sekadar tatapan dingin seorang pebisnis. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang gelap, misterius, dan seolah sedang menunggu.

Aira menunduk cepat-cepat, memeluk map kecil berisi dokumen rumah sakit, lalu melangkah keluar dari gedung Leonard Alvero Group dengan kaki lemas.

Di luar, hujan sudah reda, tapi udara masih lembap dan dingin. Motor tua mereka masih terparkir di bawah atap parkiran yang bocor. Ayahnya memutar kunci, tapi tangannya bergetar hebat.

"Semua bakal baik-baik aja, Ra..." katanya pelan, suaranya serak.

Aira hanya diam, menatap ke depan. Air matanya jatuh tanpa suara, bercampur dengan sisa hujan di pipinya. Dalam hati kecilnya, dia tahu—nggak ada yang bakal baik-baik aja setelah Aira menandatangani kontrak itu.

Di lantai atas, dari balik kaca tebal ruangan Leonard Alvero masih berdiri di tempat yang sama. Matanya mengikuti motor tua yang menjauh, lalu berhenti di satu titik kosong di kejauhan. Ia menatap tangan kanannya yang tadi memegang perjanjian itu. Rahangnya mengeras tanpa suara.

---

Suara roda ranjang dorong bergema di lorong rumah sakit. Aira berjalan di samping ibunya yang terbujur lemah di atas ranjang operasi. Selang infus menggantung di lengan sang ibu, wajahnya pucat, bibirnya nyaris nggak berwarna.

"Bu..." bisik Aira, menggenggam jemari ibunya erat.

Wanita itu menatapnya samar, mencoba tersenyum meski napasnya berat. "Kamu anak kuat, ya, Nak..."

Kata-kata itu keluar lirih, seperti bisikan terakhir sebelum pintu ruang operasi menutup perlahan—klik!

Aira masih berdiri di sana, menatap pintu putih itu seolah bisa menembusnya dengan doa. Ayahnya memeluk bahunya pelan, tapi Aira hanya menunduk, menggigit bibir sampai berdarah.

Satu jam berlalu. Lorong mulai sepi. Hanya suara jam dinding yang terdengar monoton. Aira masih duduk di kursi tunggu, matanya sembab, tubuhnya gemetar karena belum makan dan kelelahan.

Tiba-tiba, dua pria berpakaian hitam muncul dari ujung koridor. Langkah mereka serempak, tegas, dan berhenti tepat di depan Aira.

"Nona Aira Prameswari?"

Aira menatap mereka dengan bingung. "Iya, saya..."

"Tuan Leonard Alvero meminta kami menjemput Anda," ucap salah satunya datar. "Sekarang."

Aira tertegun. "Apa? Sekarang?"

Mereka hanya diam, tapi gestur mereka jelas nggak memberi ruang untuk menolak.

Ayah Aira segera berdiri, bingung dan panik. "Anak saya belum bisa pergi! Istri saya masih di ruang operasi!"

Salah satu pria itu menunduk sopan, namun tegas, "Perintah langsung dari Tuan Leonard Alvero. Segera."

Aira menggigit bibirnya, berdiri dengan langkah berat. Air matanya jatuh satu per satu, jatuh ke lantai rumah sakit yang dingin. "Tolong, Tuan... tunggu sampai operasi selesai," pintanya parau, menatap kedua pria berpakaian hitam itu.

Namun wajah mereka tetap datar—tanpa belas kasihan, tanpa jeda. Salah satu dari mereka mengulurkan tangan, menggenggam lengan Aira dengan tegas namun tidak kasar. "Maaf, Nona. Kami cuma jalanin perintah."

"Saya mohon... ibu saya—"

"Kami nggak bisa nunggu."

Aira sempat menoleh ke arah ayahnya yang kini memeluk map rumah sakitnya erat-erat, wajahnya pucat pasi. "Ayah..."

Suaranya hampir hilang.

Kedua pria itu menuntunnya keluar, melewati lorong panjang yang kini terasa begitu asing. Langkah Aira terseret lemah, matanya berkaca-kaca, sementara ayahnya mengikuti sampai depan pintu rumah sakit—tapi nggak mampu berbuat apa pun.

Mobil hitam itu menunggu di luar, dengan mesin yang sudah menyala. Begitu Aira masuk ke dalam mobil, salah satu pria itu menutup pintunya perlahan. Ayahnya masih berdiri di tepi trotoar, bajunya basah oleh gerimis, wajahnya penuh luka batin.

Saat mobil mulai bergerak, barulah suaranya pecah memecah keheningan malam: "Aira... hati-hati, Nak..."

Kata-kata itu bergetar, terbawa angin dan tersangkut di kaca mobil yang mulai menjauh. Aira menatap ke luar, melihat sosok ayahnya mengecil di kejauhan, hingga akhirnya hilang di balik kabut hujan.

Di dalam mobil yang sunyi itu, Aira memejamkan mata. Air matanya terus mengalir tanpa suara, sementara dalam hatinya hanya satu doa yang berulang: "Tuhan, jangan biarin Ibu pergi. Tolong selamatkan ibu."

**

Gedung Leonard Alvero Group terlihat megah malam itu. Langit sudah gelap, dan lampu-lampu kota memantul di kaca-kaca tinggi bangunan itu. Aira turun dari mobil dengan langkah gontai. Tubuhnya masih basah oleh hujan yang mulai turun kembali, rambutnya menempel di wajah.

Saat pintu lift terbuka, ia langsung disambut oleh Leonard Alvero—berdiri di balik meja kerja, mengenakan kemeja hitam, dengan senyum samar yang dingin.

"Selamat datang, Aira."

Aira mengepalkan tangan. "Kenapa... kenapa Tuan nggak nunggu Ibu saya selesai operasi dulu?!" Suara gadis itu bergetar, namun tajam. "Tuan janji bakal bantu kami! Tapi kenapa malah sekarang saya dijemput?!"

Leonard Alvero perlahan berjalan mendekat, langkahnya tenang. Ia meletakkan selembar kertas di atas meja, lalu mendorongnya ke arah Aira. "Baca paragraf ketiga, baris kedua," ujarnya lembut, nyaris seperti godaan.

Aira menatap kertas itu, lalu membaca—dan dadanya seakan diremas saat menyadari:

'Perjanjian berlaku efektif sejak pasien dinyatakan masuk ruang operasi.'

Ia menatap Leonard Alvero, matanya membulat tak percaya. "Tuan... ini—"

"Kamu tanda tangan itu sendiri," potong Leonard Alvero pelan, menautkan senyum samar di sudut bibirnya. "Nggak ada paksaan, kan?"

Aira menunduk, wajahnya panas karena malu—bukan hanya karena kesalahan, tapi juga karena ia merasa begitu kecil di hadapan pria itu. Tangannya bergetar, menahan tangis yang tak boleh keluar.

Leonard Alvero memperhatikan setiap gerak tubuh gadis itu. Ia mendekat sedikit, menunduk hingga wajahnya sejajar dengan Aira. "Cuma satu malam, Aira," bisiknya pelan, hampir seperti janji. "Setelah itu, ibumu bakal hidup. Dan kamu bebas."

Aira menatapnya, mata beningnya penuh ketakutan dan air mata. Namun ia tahu... perjanjian sudah ditandatangani. Nggak ada jalan kembali.

Leonard Alvero berbalik, melangkah menuju pintu samping ruangan. "Raisa, siapkan kamar tamu," perintahnya ringan. Lalu menatap Aira satu kali lagi. "Dan pastikan dia ngerti. Apa arti dari perjanjian itu."

Pintu ruangan tertutup dengan lembut, tapi di dada Aira, suara itu menggema keras.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 90 : Korban Berikutnya.

    Jam dua pagi. Kabut tebal menyelimuti Desa Cemara, membuat setiap suara terdengar lebih mengerikan dan setiap bayangan tampak lebih besar dari sebenarnya. Dewi dan Pak Suroso berdiri di balik semak-semak dekat pasar desa, menyaksikan Rendra dan Bowo memasuki gudang tempat Ibu Sri bekerja. Cahaya merah muda menyala dari dalam kotak kayu tua yang mereka bawa, menerangi wajah mereka dengan warna yang tidak wajar.Di dalam gudang, Ibu Sri terikat di kursi kayu besar, matanya penuh dengan ketakutan namun wajahnya tetap tegas. “Mengapa saya, Rendra?” tanya dia dengan suara yang gemetar namun jelas. “Saya pernah membantu kamu ketika kamu masih kecil. Apa yang telah saya lakukan salah?”Rendra berdiri di depannya dengan senyum jahat. “Kamu tidak melakukan apa-apa salah, Ibu Sri,” jawabnya dengan suara yang dalam dan mengerikan. “Kamu hanya terpilih untuk menjadi bagian dari proses yang sudah ditentukan jauh sebelum kita lahir. Darahmu akan memperkuat kekuatan Nyai Wulandari dan membuka jalan

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   BAB 89 : RAHASIA SARI TERBONGKAR

    Dewi tidak bisa tidur sepanjang malam setelah melihat Bowo pergi bersama Rendra. Saat subuh mulai menyingsing dengan warna jingga yang samar di ufuk timur, ia memutuskan untuk mencari jawaban langsung dari Sari. Ia tahu bahwa istri Rendra menyimpan rahasia besar—sesuatu yang mungkin bisa mengubah segala sesuatu jika mereka bisa membongkarkannya.Ia berjalan dengan hati-hati melalui jalan tanah yang masih basah akibat embun, menghindari area lokasi proyek yang sudah mulai ramai dengan pekerja sejak pagi hari. Ketika mendekati rumah Rendra, ia melihat pintu belakang dapur terbuka selebar celah, dengan sinar lampu minyak yang lemah menerangi bagian dalam ruangan. Tanpa berpikir panjang, ia menyelinap masuk dan bersembunyi di balik rak kayu yang penuh dengan peralatan masak bekas.Di dalam dapur, Sari sedang duduk di lantai kayu yang lusuh, tubuhnya membungkuk ke depan dengan kedua tangan menyangga pipinya. Sarung tangan hitam yang selalu dikenakannya sudah dilepas, menunjukkan bekas luka

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   BAB 88 : PERUBAHAN PADA BOWO

    Hari berikutnya pagi sekali, Bowo muncul di rumah Wijaya dengan baju baru yang rapi dan sepatu kulit yang mengkilap. Wajahnya yang dulu penuh dengan kedekatan kini tampak kosong dan tidak dikenal, matanya menyala dengan cahaya merah tua yang sama dengan Rendra. Ia masuk tanpa mengucapkan salam, langsung mengambil ember berisi air untuk membersihkan wajah dan tangan seperti sedang menjalankan ritual tertentu.“Bowo, nak,” panggil Pak Suroso dengan suara yang pelan. Ia mencoba mendekati putranya dengan hati-hati. “Kita perlu berbicara. Kamu tahu apa yang terjadi dengan Kakek Marto kan?”Bowo tidak menoleh. Ia menyiram air ke wajahnya dengan lambat, kemudian mengeringkannya dengan kain yang dibawanya sendiri. “Kakek Marto telah menyumbangkan dirinya untuk kemakmuran desa,” jawabnya dengan suara yang datar dan tanpa emosi. “Itu adalah bagian dari rencana yang sudah ditentukan jauh sebelum kita lahir.”Dewi berdiri di belakang pintu dapur, melihat suaminya dengan mata yang penuh dengan air

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   BAB 87 : UDAYA MENGHALAU KEKUATAN JAHAT

    Kegelapan malam belum lagi sirna ketika Pak Suroso sudah bangun dan menyiapkan diri untuk pergi menemui Pak Kadir sekali lagi. Wajahnya tampak lebih pucat dan lelah dari biasanya, namun ada nyala tekad yang sangat kuat di dalam matanya. Ia tahu bahwa mereka tidak punya banyak waktu lagi sebelum korban kedua muncul, dan ia harus melakukan segala yang bisa untuk menghentikan Rendra sebelum terlambat.Dewi bangun ketika mendengar suara ayahnya bergerak di luar kamar. Ia segera keluar dan melihat Pak Suroso yang sedang mengenakan jas hujan hitamnya, dengan topi rotan yang sudah dikenainya selama puluhan tahun. “Bapak akan pergi lagi ke desa tetangga?” tanya ia dengan suara yang pelan dan penuh dengan kekhawatiran.Pak Suroso mengangguk dan kemudian mendekat ke arah putrinya dengan langkah yang lambat. Ia mencium dahinya dengan penuh kasih sayang. “Aku harus mencoba segala cara, nak,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan tekad. “Kita tidak bisa hanya duduk diam dan menunggu hal buruk ter

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   BAB 86 : KORBAN PERTAMA

    Suara adzan subuh yang biasanya penuh dengan kedamaian dan harapan kini terdengar sangat suram dan menyakitkan hati di Desa Cemara. Udara pagi yang biasanya segar dan menyegarkan terasa berat dan menyengat, seperti penuh dengan energi negatif yang tidak bisa dijelaskan. Awan gelap masih menutupi langit, meskipun sudah saatnya matahari mulai muncul di ufuk timur, dan suara angin yang bertiup kencang membawa dengannya aroma tanah basah dan sesuatu yang lain—sesuatu yang berbau busuk dan tidak sedap seperti mayat yang sudah membusuk.Dewi tidak bisa tidur sama sekali sepanjang malam setelah melihat Bowo pergi bersama Rendra. Ia berlama-lama duduk di teras rumah, menatap jalan yang ditempuh oleh suaminya dan kakaknya dengan mata yang penuh dengan air mata dan keputusasaan. Pak Suroso juga tidak bisa tidur, menghabiskan malamnya dengan membaca buku catatan neneknya berulang kali, berharap bisa menemukan sesuatu yang terlewatkan—suatu cara untuk menghentikan kutukan dan menyelamatkan putran

  • Bayaran Cinta Sang Miliarder   Bab 85 : PERJANJIAN YANG TAK BISA DIBATALKAN

    Matahari sudah mulai menyemburkan panasnya ke atas Desa Cemara ketika Pak Suroso kembali dari kunjungannya ke Pak Kadir di desa tetangga. Wajahnya tampak lebih pucat dan lelah dari biasanya, dan keringat terus mengalir di dahinya meskipun ia telah mengenakan payung untuk melindungi diri dari sinar matahari yang terik. Ia memasuki rumah dengan langkah yang lambat dan goyah, segera ditemani oleh Dewi dan Bowo yang telah menunggunya dengan rasa khawatir yang luar biasa. “Bagaimana kabarnya, Bapak?” tanya Bowo dengan suara yang penuh dengan harapan. Ia membantu ayahnya duduk di kursi kayu di teras rumah dan segera menghidangkan secangkir air dingin yang segar. Pak Suroso minum air dengan lahap dan kemudian menghela napas panjang. Ia melihat kedua anaknya dengan tatapan yang penuh dengan kesedihan dan keputusasaan. “Pak Kadir sudah melihat buku catatan nenek kita,” ujarnya dengan suara yang pelan. “Ia mengatakan bahwa kutukan yang disebutkan di dalamnya adalah salah satu kutukan paling k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status