LOGINHujan belum juga reda saat Aira tiba kembali di rumah sakit.
Tubuhnya menggigil, kaus lusuhnya basah menempel di kulit. Setiap langkah terasa berat, seolah memikul beban dunia di pundaknya. Di genggamannya, brosur Leonard Alvero Group itu remuk dan sobek di beberapa sisi. Selembar kertas yang menjadi saksi bisu harapan yang kini pupus. Di depan kamar ibunya, Aira menarik napas dalam. Jari-jarinya baru saja menyentuh gagang pintu dingin, saat pintu itu terbuka kasar dari dalam. Ayahnya berdiri di ambang pintu, wajahnya tegang dengan mata merah karena kurang tidur, bekas tangisan, atau amarah yang membara? "Aira!" Suaranya menggema di lorong, tajam menusuk. Aira tersentak. "A-Ayah..." Belum sempat ia menjelaskan, ayahnya mendorong bahunya hingga Aira terhuyung mundur. "Kamu ke mana saja seharian ini, hah?! Ibumu hampir—" Suaranya tertahan, tapi amarahnya masih terasa pekat di udara. "Dokter mencarimu! Ayah juga! Kamu menghilang tanpa kabar!" Aira menunduk, bibirnya bergetar. Aku hanya berusaha, batinnya, namun kata-kata itu tercekat di tenggorokan. Hanya desah napas berat dan isak tertahan yang lolos. "Aira!" Ayahnya mengguncang bahunya. "Kalau kamu sayang ibumu, bantu Ayah cari uang! Kita gak punya banyak waktu lagi! Dokter bilang operasi gak akan bisa dilakukan jika dalam tiga hari kita tidak melunasi biayanya!" Aira terdiam. Matanya kosong menatap genangan air hujan di lantai, tepat di bawah sepatunya. Tangannya menggenggam erat brosur yang lembap. "Apa itu?" Ayahnya meraih brosur itu dari tangan Aira dengan kasar. Kertas yang sudah lecek itu direbut paksa. "Leonard Alvero Group? Jadi ini yang kamu lakukan seharian? Melamar kerja?!" Aira menelan ludah. "Aku... aku hanya ingin membantu, Ayah. Kupikir jika aku diterima, aku bisa mendapatkan..." "Cukup, Aira!" potong ayahnya dengan nada tinggi. Beberapa perawat menoleh dari ujung lorong. Wajah ayahnya memerah, napasnya memburu. Namun di balik amarah itu, tersirat ketakutan kehilangan istrinya. Tanpa sepatah kata lagi, ayahnya menarik tangan Aira dengan kasar. "Kalau kamu yakin ini bisa membantu ibumu, kita ke sana sekarang juga!" "Ayah, jangan... aku—" "Diam! Apa kamu mau ibumu mati! Apa kamu mau menjadi anak durhaka! Kamu sudah membuat Ayah kehilangan waktu! Sekarang tunjukkan di mana tempatnya!" Aira terpaksa menurut, langkahnya terseret di lantai licin rumah sakit. Air mata bercampur dengan air hujan yang menetes dari rambutnya. Dalam diam, hatinya bergejolak antara rasa bersalah dan takut. Di luar, angin malam berhembus dingin. Motor tua mereka meraung pelan, membelah jalanan basah. Knalpotnya berderak-derak setiap kali melindas genangan air. Ayah Aira mengendarai motor dengan rahang mengeras, wajahnya tegang diterpa angin malam. Aira duduk di belakang. Rambutnya yang basah menempel di kulit, namun hatinya terasa lebih beku dari udara malam itu. Setiap kali motor berbelok, Aira menatap gedung-gedung tinggi berkilauan di sisi jalan. Dunia yang asing baginya. Motor tua itu berhenti mendadak di depan gedung megah Leonard Alvero Group. Lampu-lampu tinggi memantulkan cahaya di genangan air, menyoroti pakaian lusuh Aira dan ayahnya yang basah kuyup. "Turun, Aira!" Suara ayahnya serak, namun penuh penekanan. "Ayah... tolong jangan sekarang, aku—" "Turun!" bentaknya, kali ini lebih keras. Suaranya menggema di parkiran yang sunyi. Aira menggigit bibir, menahan isak yang hampir pecah. Ia menatap gedung menjulang itu—tempat yang beberapa jam lalu menolaknya mentah-mentah. Tangannya gemetar saat ayahnya menariknya masuk melewati pintu kaca besar. Udara dingin dari pendingin ruangan menusuk kulitnya yang basah. Semua mata pegawai yang masih lembur tertuju pada mereka. Ayah Aira mengabaikan tatapan itu. Ia menghampiri meja resepsionis dengan napas memburu. "Saya ingin bertemu dengan siapa pun yang bisa membantu kami!" serunya lantang. Pegawai di meja itu menatap canggung, lalu memberi isyarat ke seorang wanita di sudut lobi. Wanita yang sama. Berpakaian rapi dengan blazer hitam mengilap, sepatu haknya mengetuk lantai marmer dengan suara tajam. Tatapannya dingin, bibirnya tersenyum sinis seolah jijik melihat Aira dan ayahnya yang basah kuyup. "Oh, kalian lagi? Gini deh, bukannya udah saya bilang kan tadi siang, kamu tuh nggak cocok kerja di sini. Lagian, minta gaji segitu? Mimpi kali!" Suaranya tetap lembut, tapi ada nada meremehkan. Ayah Aira melangkah maju, wajahnya memerah karena marah dan putus asa. "Dia hanya meminta tambahan gaji! Anak saya hanya ingin bekerja, bukan meminta belas kasihan!" Wanita itu terkekeh pelan. "Tambahan gaji empat ratus juta? Itu bukan permintaan, Pak. Itu mimpi." Ia mendekat, menatap Aira dari atas ke bawah. "Anda pikir wajah polosmu bisa membeli simpati di sini?" Aira menunduk dalam. Air matanya menetes di lantai marmer dingin, memantulkan bayangan dirinya yang bergetar. Ayahnya hendak membalas dengan suara meninggi, namun Aira menarik tangannya. "Sudah, Ayah... ayo pulang," bisiknya lirih. Suaranya serak, menahan rasa malu dan juga rasa sedih dalam hatinya. Wanita itu menatap sinis. "Satpam!" panggilnya singkat. Dua pria berbaju hitam segera mendekat, langkah mereka berat dan serempak. "Keluarkan mereka dari gedung ini. Sekarang." Aira mundur selangkah, memeluk lengan ayahnya erat. Ayahnya menatap marah, namun tak berdaya. Langkah satpam semakin dekat, hingga suara berat seorang pria memecah keheningan lobi. "Berhenti." Semua gerakan terhenti. Kedua satpam membeku, wanita itu menoleh cepat dengan wajah pucat. Dari arah lift utama, pintu logam terbuka perlahan, memantulkan cahaya ke lantai marmer yang licin. Seorang pria keluar dengan jas hitam sempurna, setiap langkahnya tenang namun penuh wibawa. Sorot matanya tajam, menyimpan dingin dan misteri. Aura di sekelilingnya membuat semua orang menunduk. "Selamat malam, Tuan," ucap wanita itu gugup sambil membungkuk. Satpam ikut menunduk. Suasana hening mencekam. Hanya Aira dan ayahnya yang tak bergerak. Mereka berdiri kaku, basah kuyup, dengan tatapan bingung antara takut dan tak percaya. Tuan Leonard Alvero berhenti beberapa langkah di depan mereka. Matanya menyapu tubuh Aira yang gemetar, rambut basah yang menempel di pipi, pakaian lusuh yang basah kuyup. "Ada masalah apa di sini?" Suara Leonard Alvero datar, namun tatapannya tajam mengamati sekeliling. Para pegawai menunduk, berusaha menghindar dari pandangannya. "Tuan, mereka—" "Saya bertanya, apa yang terjadi di sini?" Suaranya meninggi, Wanita itu tergagap. "Mereka, Tuan. Sudah saya usir tadi siang, tapi mereka kembali dan membuat keributan." Leonard Alvero mengalihkan pandangan pada Aira. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, dunia seolah berhenti, hanya ada dua pasang mata yang saling menatap dalam keheningan lobi megah itu. Aira ingin bicara, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Leonard Alvero menurunkan pandangannya, memperhatikan tangan Aira yang menggenggam erat brosur lamaran yang basah dan lecek. "Siapa namamu?" tanyanya pelan, namun tegas. Aira menelan ludah. "Aira, Tuan." Leonard Alvero terdiam sejenak. Tatapannya tajam. "Bawa mereka ke ruanganku," ucapnya datar sebelum berbalik. Semua orang terperanjat. Wanita tadi menatap tak percaya, "Tu—Tuan? Tapi mereka—" "Sekarang," potong Leonard Alvero tanpa menoleh.Jam dua pagi. Kabut tebal menyelimuti Desa Cemara, membuat setiap suara terdengar lebih mengerikan dan setiap bayangan tampak lebih besar dari sebenarnya. Dewi dan Pak Suroso berdiri di balik semak-semak dekat pasar desa, menyaksikan Rendra dan Bowo memasuki gudang tempat Ibu Sri bekerja. Cahaya merah muda menyala dari dalam kotak kayu tua yang mereka bawa, menerangi wajah mereka dengan warna yang tidak wajar.Di dalam gudang, Ibu Sri terikat di kursi kayu besar, matanya penuh dengan ketakutan namun wajahnya tetap tegas. “Mengapa saya, Rendra?” tanya dia dengan suara yang gemetar namun jelas. “Saya pernah membantu kamu ketika kamu masih kecil. Apa yang telah saya lakukan salah?”Rendra berdiri di depannya dengan senyum jahat. “Kamu tidak melakukan apa-apa salah, Ibu Sri,” jawabnya dengan suara yang dalam dan mengerikan. “Kamu hanya terpilih untuk menjadi bagian dari proses yang sudah ditentukan jauh sebelum kita lahir. Darahmu akan memperkuat kekuatan Nyai Wulandari dan membuka jalan
Dewi tidak bisa tidur sepanjang malam setelah melihat Bowo pergi bersama Rendra. Saat subuh mulai menyingsing dengan warna jingga yang samar di ufuk timur, ia memutuskan untuk mencari jawaban langsung dari Sari. Ia tahu bahwa istri Rendra menyimpan rahasia besar—sesuatu yang mungkin bisa mengubah segala sesuatu jika mereka bisa membongkarkannya.Ia berjalan dengan hati-hati melalui jalan tanah yang masih basah akibat embun, menghindari area lokasi proyek yang sudah mulai ramai dengan pekerja sejak pagi hari. Ketika mendekati rumah Rendra, ia melihat pintu belakang dapur terbuka selebar celah, dengan sinar lampu minyak yang lemah menerangi bagian dalam ruangan. Tanpa berpikir panjang, ia menyelinap masuk dan bersembunyi di balik rak kayu yang penuh dengan peralatan masak bekas.Di dalam dapur, Sari sedang duduk di lantai kayu yang lusuh, tubuhnya membungkuk ke depan dengan kedua tangan menyangga pipinya. Sarung tangan hitam yang selalu dikenakannya sudah dilepas, menunjukkan bekas luka
Hari berikutnya pagi sekali, Bowo muncul di rumah Wijaya dengan baju baru yang rapi dan sepatu kulit yang mengkilap. Wajahnya yang dulu penuh dengan kedekatan kini tampak kosong dan tidak dikenal, matanya menyala dengan cahaya merah tua yang sama dengan Rendra. Ia masuk tanpa mengucapkan salam, langsung mengambil ember berisi air untuk membersihkan wajah dan tangan seperti sedang menjalankan ritual tertentu.“Bowo, nak,” panggil Pak Suroso dengan suara yang pelan. Ia mencoba mendekati putranya dengan hati-hati. “Kita perlu berbicara. Kamu tahu apa yang terjadi dengan Kakek Marto kan?”Bowo tidak menoleh. Ia menyiram air ke wajahnya dengan lambat, kemudian mengeringkannya dengan kain yang dibawanya sendiri. “Kakek Marto telah menyumbangkan dirinya untuk kemakmuran desa,” jawabnya dengan suara yang datar dan tanpa emosi. “Itu adalah bagian dari rencana yang sudah ditentukan jauh sebelum kita lahir.”Dewi berdiri di belakang pintu dapur, melihat suaminya dengan mata yang penuh dengan air
Kegelapan malam belum lagi sirna ketika Pak Suroso sudah bangun dan menyiapkan diri untuk pergi menemui Pak Kadir sekali lagi. Wajahnya tampak lebih pucat dan lelah dari biasanya, namun ada nyala tekad yang sangat kuat di dalam matanya. Ia tahu bahwa mereka tidak punya banyak waktu lagi sebelum korban kedua muncul, dan ia harus melakukan segala yang bisa untuk menghentikan Rendra sebelum terlambat.Dewi bangun ketika mendengar suara ayahnya bergerak di luar kamar. Ia segera keluar dan melihat Pak Suroso yang sedang mengenakan jas hujan hitamnya, dengan topi rotan yang sudah dikenainya selama puluhan tahun. “Bapak akan pergi lagi ke desa tetangga?” tanya ia dengan suara yang pelan dan penuh dengan kekhawatiran.Pak Suroso mengangguk dan kemudian mendekat ke arah putrinya dengan langkah yang lambat. Ia mencium dahinya dengan penuh kasih sayang. “Aku harus mencoba segala cara, nak,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan tekad. “Kita tidak bisa hanya duduk diam dan menunggu hal buruk ter
Suara adzan subuh yang biasanya penuh dengan kedamaian dan harapan kini terdengar sangat suram dan menyakitkan hati di Desa Cemara. Udara pagi yang biasanya segar dan menyegarkan terasa berat dan menyengat, seperti penuh dengan energi negatif yang tidak bisa dijelaskan. Awan gelap masih menutupi langit, meskipun sudah saatnya matahari mulai muncul di ufuk timur, dan suara angin yang bertiup kencang membawa dengannya aroma tanah basah dan sesuatu yang lain—sesuatu yang berbau busuk dan tidak sedap seperti mayat yang sudah membusuk.Dewi tidak bisa tidur sama sekali sepanjang malam setelah melihat Bowo pergi bersama Rendra. Ia berlama-lama duduk di teras rumah, menatap jalan yang ditempuh oleh suaminya dan kakaknya dengan mata yang penuh dengan air mata dan keputusasaan. Pak Suroso juga tidak bisa tidur, menghabiskan malamnya dengan membaca buku catatan neneknya berulang kali, berharap bisa menemukan sesuatu yang terlewatkan—suatu cara untuk menghentikan kutukan dan menyelamatkan putran
Matahari sudah mulai menyemburkan panasnya ke atas Desa Cemara ketika Pak Suroso kembali dari kunjungannya ke Pak Kadir di desa tetangga. Wajahnya tampak lebih pucat dan lelah dari biasanya, dan keringat terus mengalir di dahinya meskipun ia telah mengenakan payung untuk melindungi diri dari sinar matahari yang terik. Ia memasuki rumah dengan langkah yang lambat dan goyah, segera ditemani oleh Dewi dan Bowo yang telah menunggunya dengan rasa khawatir yang luar biasa. “Bagaimana kabarnya, Bapak?” tanya Bowo dengan suara yang penuh dengan harapan. Ia membantu ayahnya duduk di kursi kayu di teras rumah dan segera menghidangkan secangkir air dingin yang segar. Pak Suroso minum air dengan lahap dan kemudian menghela napas panjang. Ia melihat kedua anaknya dengan tatapan yang penuh dengan kesedihan dan keputusasaan. “Pak Kadir sudah melihat buku catatan nenek kita,” ujarnya dengan suara yang pelan. “Ia mengatakan bahwa kutukan yang disebutkan di dalamnya adalah salah satu kutukan paling k







