Home / Romansa / Bayi di Hari Natal / BAB 3. Kemungkinan Sekutu

Share

BAB 3. Kemungkinan Sekutu

Author: Day Torres
Kalau Zack merasa ada yang tidak beres dengan perusahaan itu, instingnya langsung siaga tinggi saat dia turun ke tempat parkir dan melihat wanita itu bersandar di salah satu dinding. Dia berusaha mengganti sepatu hak tinggi dengan sepatu kets datar, tangannya gemetar.

Dia tergoda untuk menghampiri Andrea, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang menolak untuk terlibat dalam masalah orang lain. Dia punya perusahaan baru yang harus dijalankan, jika dia ingin Andrea merasa lebih baik, dia hanya perlu membereskan perusahaannya, bukan kehidupan pribadi wanita itu.

Akhirnya, dia melihat Andrea merapikan mantelnya dan melangkah keluar ke jalan yang dingin.

Dia pun memperhatikan dari kejauhan dan melihat Andrea tidak naik taksi atau bus, jadi dia mungkin tinggal di dekat situ. Dia tidak tahu betapa salah dugaannya karena Andrea sama sekali tidak tinggal dekat, dia hanya tidak mampu membayar bentuk transportasi apa pun.

Selama empat puluh menit, wanita muda itu berjalan menembus dinginnya musim dingin di Kanada, dan ketika dia akhirnya mencapai gedung apartemennya, hari sudah hampir gelap.

"Selamat malam, Bu Margaret," sapanya ramah kepada wanita yang hampir tujuh puluh tahun yang menjaga putrinya. "Gimana kabar Ibu? Gimana kelakuan putri kecilku?"

Andrea mengangkat putrinya ke pelukannya dan menghujaninya dengan ciuman, memeluknya seolah hanya itu yang bisa meredakan semua rasa sakit di hatinya.

"Semua berjalan lancar, Nak," kata Bu Margaret. "Adriana anak yang sangat baik, dia seperti malaikat. Hanya saja ... em ... kami sudah lapar pada jam segini."

Andrea tersenyum lembut. "Jangan khawatir, Bu Margaret, aku akan segera buatkan makan malam."

Margaret Wilson juga semacam malaikat baginya. Dia tidak punya keluarga dan hidup dari uang pensiunnya, tetapi ada banyak hal yang sudah tidak mampu dia lakukan. Margaret tinggal di sebelah kamarnya, ketika Andrea ditinggalkan sendirian, Bu Margaret adalah satu-satunya yang membantunya. Sekarang, dia merawat Adriana kecil di siang hari sebagai imbalan agar Andrea membantu semua pekerjaan rumah, jadi begitu pulang bekerja dan sampai rumahnya, Andrea mengurus semuanya, bersih-bersih, memasak, mencuci, mengurus keperluan ....

Andrea pun mulai menyiapkan makan malam, sementara putrinya menendang-nendang ke udara saat mendengarnya bernyanyi. Dia tidak punya banyak alasan untuk melakukannya, tapi Andrea tidak ingin Adriana melupakan suaranya karena terlalu banyak waktu dihabiskan tanpanya.

Tak lama kemudian, apartemen kecil itu dipenuhi aroma sup kental yang dibuat dengan banyak cinta tapi sedikit daging. Setelah makan, dia pamit pada Bu Margaret dan membawa putrinya ke apartemen kecil mereka. Sewa sudah dibayar setahun, jadi dia masih punya waktu beberapa bulan untuk mencari di mana mereka akan tinggal selanjutnya.

Dia memandikan putrinya dengan air hangat, menyanyikan lagu untuknya, dan mengayunkannya, mencoba menyampaikan apa pun kecuali kesedihan yang mencekik jiwanya. Begitu Adriana tertidur, dia membaringkan bayi kecil itu di tempat tidur bayinya di atas satu-satunya kasur yang dia punya. Kasur itu diberikan oleh gereja terdekat, tapi dia tidak punya ranjang untuk menaruhnya, jadi kasur itu ada di lantai. Dia tahu itu bahkan bukan rumah yang nyaman, tapi setidaknya dia bisa memberikan kehangatan dan atap bagi dia dan putrinya.

Andrea memeriksa tagihan dan berusaha menahan air mata, melihat dia tidak akan bisa bertahan sampai akhir bulan. Setelah bayar tagihan bulanan rumah sakit dan biaya untuk bayi dan rumah, uangnya nyaris tidak tersisa.

"Aku nggak bisa mengorbankan listrik atau pemanas ...." gumamnya. "Dan tentu saja tidak susu formula dan popok Adriana .... Ya Tuhan, aku harus gimana ...?!"

Selama semenit penuh, kesedihan menguasainya, dan dia menangis, tapi kemudian dia mengambil keputusan yang paling logis, dia harus membeli lebih sedikit makanan untuk dirinya sendiri. Ada kopi dan kue-kue di kantor ... dia bisa makan itu.

Keesokan harinya, dia berjalan kembali ke kantornya, tapi dia bahkan belum sempat menyeruput kopi pertamanya karena begitu Peter keluar dari lift, dia mulai meneriaki Andrea.

"Bukankah sudah kubilang serahkan laporan bulan lalu!?" hardiknya, Andrea hampir menjatuhkan cangkirnya karena dia sudah menyerahkannya kemarin, dan pria itu malah melemparkannya ke wajahnya. "Jangan menatapku seperti itu, aku jadi makin yakin kamu lebih bego dari yang kemarin, Andrea!"

Dia membeku tapi memaksa diri untuk menatap Peter.

"Pak," katanya dengan suara bergetar. "Saya sudah menyerahkan dokumen-dokumen itu kemarin. Kalau ada masalah, jangan salahkan hasil pekerjaan saya, Anda yang bilang Anda mau laporan bulan ini!"

"Yah, sekarang aku mau lagi!" Peter tidak mau mendengar kata-kata Andrea. "Jadi untuk memastikan kamu tidak buat kesalahan lagi, hari ini kamu tarik semua laporan selama setahun, dari semua divisi, itu saja!"

"Tapi ... menarik semua laporan itu akan memakan waktu semalaman ...." Andrea berusaha menjelaskan, tapi Peter sudah membalikkan badannya untuk pergi.

"Itu urusanmu, Andrea. Kamu lembur dong, dan jika kamu tidak bisa melakukan pekerjaanmu, maka kamu harus cari cara apapun itu ... atau mulai bersihkan mejamu agar orang lain bisa datang gantikan kamu."

Andrea mengangguk dalam diam, meskipun hatinya hancur membayangkan harus pulang terlambat. Pertama, jika dia pulang terlambat, dia tidak bisa menghabiskan waktu dengan putrinya sebanyak yang dia inginkan, tapi bagian yang paling menjengkelkan adalah dia tahu mengapa bosnya ingin dia tetap tinggal.

Selama satu detik yang panjang, dia mengepalkan tangan dan menahan air mata, berkata pada dirinya sendiri bahwa dia tidak boleh kehilangan pekerjaan itu, dan begitu Peter menghilang ke kantornya, dia mengambil laptop dan berlari ke ruang fotokopi. Ada tujuh printer di sana, jika dia cepat, dia mungkin bisa menyelesaikannya sebelum jam kerja berakhir.

Dia bahkan tidak menyadari bahwa sepasang mata tajam sedang mengamati kejadian itu. Mata yang melihatnya berlarian sepanjang hari dan terutama menyadari dia memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadi sekutu yang baik.

Zack telah menghabiskan sepanjang hari meninjau kontrak representasi atlet, tetapi itu belum cukup, dia harus menggali lebih dalam, dan untuk itu, dia butuh akses khusus, akses yang dimiliki Andrea.

Sudah lewat tengah hari ketika Zack menuju ke ruang fotokopi, tapi hal pertama yang dia lihat adalah seorang wanita terhuyung-huyung mencoba meraih lantai tanpa terjatuh.

"Andrea!" serunya sambil melingkarkan lengan di pinggang wanita itu untuk menopangnya, melihat Andrea bereaksi gugup.

"Maaf! Maaf!" gumamnya, mencoba meraih salah satu printer untuk menopang diri.

"Kamu tadi sudah mau pingsan, tidak perlu minta maaf," kata Zack dengan suara berat. "Kamu baik-baik saja?"

Andrea mengatupkan bibir dan mengangguk.

"Ya ... Sepertinya gula darahku turun ...." Dia berbohong. "Nanti bakal hilang dengan kopi ...."

Tetapi seolah-olah tubuhnya membantah pernyataan itu, perutnya berbunyi keras, membuatnya menatap perutnya dengan malu.

"Maaf ... maaf .... Ini nggak benar ...."

"Tentu saja nggak benar," balasnya, dan Andrea memucat. "Nggak benar kalau kamu lapar terus. Kamu harus dengar bagaimana aku kalau sedang lapar."

Dan meskipun tidak ada sedikitpun senyuman di wajahnya, Andrea merasa itu semacam ... kasihan?

"Begini, aku tidak kenal siapa-siapa di sini. Bagaimana kalau aku mengajakmu keluar makan dan kamu jelaskan sedikit bagaimana tempat ini bekerja? Karena aku sudah jadi agen olahraga selama beberapa tahun, tapi demi Tuhan aku tidak mengerti perusahaan ini!"

Andrea ragu-ragu, melihat semua pekerjaan yang dia miliki, tapi dia juga sangat lapar.

"Baiklah... terima kasih."

Zack pun membukakan pintu untuknya, dan tak lama kemudian, mereka duduk di kafetaria. Andrea berusaha makan perlahan, tapi untungnya pria di depannya tidak terlihat terlalu lembut, jadi mereka berdua akhirnya melahap burger itu seperti beruang setelah hibernasi.

Tiba-tiba, ponsel Andrea mulai berdering, dan dia permisi, menjauh sedikit, tapi Zack masih bisa mendengar apa yang dia bicarakan.

"Maaf, Bu Margaret .... Bisakah Ibu menungguku sampai jam tujuh malam ini?" pinta wanita muda itu. "Bosku ingin aku lembur .... Aku tahu .... Maaf banget, aku janji akan buatkan Ibu makan malam terbaik .... Ya .... Terima kasih, Bu Margaret, Anda sungguh baik sekali ...."

Andrea pun menutup telepon, dan Zack bisa melihat cara dia menelan ludah dengan susah payah. Makan siang berakhir dengan banyak rasa terima kasih dari Andrea dan banyak rasa ingin tahu dari Zack, yang membuatnya tetap tinggal ketika jam kerja telah berakhir.

Sementara semua orang pergi, Andrea masih bekerja keras di ruang fotokopi, mencoba menarik setiap laporan yang dihasilkan dalam setahun terakhir. Itu benar-benar gila, tapi ketika dia merasakan pintu ruangan terbuka, dia tidak ragu mengapa Peter memintanya melakukan itu.

Pria itu maju ke arahnya, dan Andrea membuat gerakan refleks menjauh tanpa sadar.

"Wah, kamu pekerja keras ya, Andrea?!" kata Peter dengan senyum mengejek. "Coba saja kamu bisa serajin ini dalam hal lainnya juga!"

Andrea merasakan getaran menjalari tulang punggungnya.

"Saya tidak mengerti ...." ujarnya, mencoba menjauh lebih jauh lagi.

"Ayolah, jangan malu-malu," katanya, mendekat. "Aku yakin semua upaya yang kamu berikan pada pekerjaanmu ini mungkin akan lebih berguna jika kamu menerapkannya di area yang lebih ... intim."

Andrea merasa napasnya memburu dan jantungnya berdetak makin cepat. Dia menelan ludah dan mencoba tetap kuat.

"Saya tidak tahu apa maksud Bapak," katanya dengan nada dingin, bersandar di dinding.

"Benarkah?" tanyanya sembari mencengkram dagu Andrea di antara jari-jarinya. "Aku rasa kamu tahu. Bahkan, Aku rasa kamu bisa memberikan dorongan yang lebih nyata pada kariermu jika kamu bersedia!"

Peter mendekat lagi, menatap matanya dan meletakkan tangannya di bahu Andrea, menggerakkannya dengan cara yang halus secara seksual.

"Saya rasa Bapak salah, Pak Peter. Saya sangat puas dengan pekerjaan yang saya miliki .... Saya tidak butuh apa-apa lagi ...."

"Aku tidak percaya itu," kata pria itu dengan senyum sinis. "Kenapa menolak? Aku bisa membantumu meningkatkan karirmu."

"Saya bilang saya tidak mau..."

Andrea merasakan cengkeraman Peter di lengannya mengencang dan menatap putus asa ke arah pintu yang terbuka, memikirkan kemungkinan untuk melarikan diri. Tetapi ketika cengkraman pria tua itu mengencang, sosok yang mengesankan itu berdiri melawan cahaya dari pintu masuk.

"Andrea? Di mana aku harus meletakkan laporan-laporan ini?" ujar Zack dengan suara yang dingin dan berat, dan Peter berbalik, marah melihat pendatang baru itu mengganggu untuk kedua kalinya.

"Kenapa kamu masih di sini?!" sembur Peter, dan Zack melirik tangan yang mencengkram lengan wanita itu.

"Aku? Aku menunggu Andrea untuk mengantarnya pulang," katanya. "Sementara Bapak?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bayi di Hari Natal   BAB 50. Aku Bukan Pangeran

    Andrea merasa napasnya tersengal saat Zack menggunakan jari-jari basah itu untuk mencengkeram wajahnya.“Tubuhmu nggak bisa bohong padaku, Andrea ....” desisnya, mencium Andrea dengan penuh nafsu, dan sedetik kemudian, tangan-tangan besar itu mencengkeram pantatnya untuk mengangkatnya ke dinding. “Kamu menginginkan ini sama seperti aku menginginkannya ....”Andrea menggigil mendengar kata-katanya. Andrea tahu dirinya tidak bisa menyangkal, tahu dirinya telah menginginkan pria itu sejak lama, dan kini api di antara tubuh mereka akan meledak. Dia pun mengangguk, tidak mampu berbicara, saat tangan si pria yang besar bergerak di antara pahanya, dan ketika Zack menyentuhnya lagi, Andrea merasakan aliran adrenalin mengalir dalam dirinya.“Katakan, Andrea,” geram Zack, matanya berkilauan. “Aku ingin kamu mengatakannya ....”Andrea menggigit bibirnya untuk menahan erangan, merasakan nafsu mengalir deras di nadinya. Dia begitu terangsang sehingga pikiran untuk menyangkal terasa mustahil.“Ya ..

  • Bayi di Hari Natal   BAB 49. Mencari Kebenaran

    Zack berdiri di sana, mengepalkan tinju dan menggertakkan giginya. Ekspresinya campuran kemarahan, frustrasi, dan rasa sakit.Untuk sesaat, dia terdiam. Dia sangat marah dan terluka oleh cara Andrea menyalahkan dirinya sendiri atas perselingkuhan yang tidak pernah terjadi. Andrea telah mengambil tanggung jawab untuk mereka berdua. Keluarganya yang berpikir buruk tentang Andrea itu membuatnya marah.“Apa kamu memang membuatku mabuk dan memanfaatkanku?” geramnya, menekan Andrea ke tubuhnya, merasakan Andrea menggigil. “Mengapa kamu menanggung kesalahan itu?”Zack merasa telinganya berdenging karena amarah. Tentu saja bukan terhadap Andrea, tetapi terhadap seluruh situasi yang telah mendorong mereka ke ambang kehancuran keluarga.“Karena itu perlu! Apa kamu nggak melihat bagaimana Papamu menatapmu?”Zack menggertakkan giginya karena frustasi.“Itu masalahku, Andrea! Aku yang seharusnya memperbaikinya, bukan kamu!” serunya. “Apa kamu tahu apa yang akan dipikirkan keluargaku tentangmu? Apa

  • Bayi di Hari Natal   BAB 48. Rasa Bersalah dan Kebohongan (II)

    "Tapi dia selingkuh dariku!" bentak Giselle."Telan martabatmu sebelum kau tersedak gara-gara itu!" desis Andrea, menghadapinya." Jika dia selingkuh darimu, itu karena dia belajar darimu! Berhenti bilang kau kehilangan bayimu, kau nggak kehilangannya, kau menggugurkannya, itu sebabnya Zack meninggalkanmu!"Itu bohong!”"Itulah yang akan dikatakan doktermu jika ditanya, atau setidaknya itulah yang tertera di surat asuransi medismu, Aborsi Terencana dengan penekanan pada kata “TERENCANA”. Jadi jangan sok berlagak korban, itu nggak cocok untukmu.”"Dia pacarku! Dan kau, kau pelacur, tidur dengannya dan hamil!" teriak wanita itu."Cukup, Giselle!" teriak Zack dengan sengit, menariknya menjauh dari Andrea."Benar! Aku melakukan semuanya. Zack nggak ada hubungannya dengan itu. Dia hanya melakukan hal yang benar dengan bertanggung jawab atas kehamilanku, nggak lebih," jawab Andrea yang melihat frustasi dan ketidakberdayaan di wajah Zack, tetapi setidaknya wajah Papanya sudah jauh lebih tenang

  • Bayi di Hari Natal   BAB 47. Rasa Bersalah dan Kebohongan (I)

    Zack ingin sekali tanah terbuka dan menelannya saat itu juga. Bagaimana atau mengapa wanita itu ada di sana, dia tidak tahu, tetapi dia yakin itu tidak berarti baik baginya.Andrea melihat wajah Zack langsung menggelap, dan lengan Zack melingkari pinggangnya saat pria itu mendekat.“Apa yang terjadi?”“Ada hal buruk akan terjadi, Manisku,” geram Zack, dan Andrea melihat si kembar dengan antusias berbicara dengan pendatang baru itu.“Siapa dia?” tanya Andrea pelan tetapi kemudian ingat bahwa Zack biasanya tidak membawa wanita pulang, jadi dia bukan hanya mantan kekasih biasa, dia adalah “sang mantan itu.”Zack pun menghela napas, tahu dia harus memberitahu Andrea.“Itu Giselle,” katanya pelan.Andrea terdiam sejenak dan kemudian berbicara.“Kamu benar, para saudarimu nggak akan tinggal diam,” kata Andrea. “Mereka bisa-bisanya kepikiran untuk membawanya ke sini. Apa kamu takut dia akan buat keributan?”Zack mengangguk. Dia tidak pernah takut akan momen ini karena tidak ada alasan bagi ke

  • Bayi di Hari Natal   BAB 46. Aku Benar-Benar Minta Maaf

    Luka bakar di tangan Zack sudah jauh membaik, meskipun sakit, luka bakar itu ringan. Namun, dia sengaja memanfaatkan situasi itu agar Andrea harus memanjakannya dengan segala cara yang mungkin. Memiliki Andrea sedekat itu sungguh membuat gila. Zack tidak mengerti sejak kapan wanita ini mulai membuatnya merasa gitu, tetapi itu sederhana, menginginkan apa yang tidak bisa dia miliki. Harusnya begitu, 'kan? Dan meskipun dia tidak tahu kapan dia mulai menginginkan Andrea, menginginkan wanita itu dengan cara berbeda, membuatnya susah mengalihkan mata setiap kali Andrea berganti pakaian.“Bolehkah aku memilih gaunmu?” gumam Zack melihat Andrea memilih apa yang akan dia kenakan untuk pembaptisan bayi itu.Empat hari tersisa sampai Natal, dan keluarga telah memutuskan untuk memajukan perayaan itu. Mereka akan membaptis Adriana di gereja kota dan kemudian mengadakan pesta yang indah di rumah. Mereka akan merayakan Malam Natal hanya dengan keluarga.“Tentu,” gumam Andrea, dan Zack memilih gaun bi

  • Bayi di Hari Natal   BAB 45. Tempat Tidur Rusak

    “Jadi bagaimana kamu menginginkannya?”Pertanyaan itu sederhana, tetapi dia tidak bisa menjawabnya.‘Sukarela, tulus, nyata,’ pikir Zack, tetapi sebaliknya, dia hanya mundur selangkah, membiarkan udara mengalir di antara mereka.“Aku bisa melakukannya sendiri.” Zack tersenyum lembut, dan Andrea meninggalkan kamar mandi, menyadari dirinya merasa tercekik saat menutup pintu.Dia memejamkan mata sejenak sambil duduk di tepi tempat tidur. Zack sangat tampan, benar-benar seksi sehingga bisa membuatnya terengah-engah, tetapi dia tidak boleh jatuh cinta pada pria itu.Namun itu sulit! Terutama ketika pria sialan itu keluar dari kamar mandi, setengah meneteskan air di atas semua tato itu.“Bisakah kau membantuku dengan kemeja ini?” tanya Zack dengan polos, dan Andrea mengangguk karena Zack sudah melakukan bagian tersulit, yaitu mengenakan celana piyama.Tetapi mengenakan kemejanya berarti menyentuhnya, dan menyentuhnya di mana saja terasa berbahaya karena Andrea merasa lebih hangat dari sebelu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status