Share

Pengakuan

Moza tak habis pikir. Sudah tahu tidak ada bahan makanan, juga fasilitas yang mencukupi. Arlan kekeh tak ingin meninggalkan villa. Murah, namun tak layak huni. Kini ia duduk di samping Arlan yang fokus menyetir. Bukan mencari hotel atau menikmati pemandangan, melainkan belanja kebutuhan pangan ke pasar. Cukup sesak untuk seorang Arlan.

"Masuk," titah Arlan.

"Kenapa tidak ikut saja?"

"Bau, lagi pula tidak ada yang sedap dipandang."

Moza merasa kesal dengan tingkah suaminya. "Mau makan saja susah."

"Kau sudah terbiasa dengan lingkungan kumuh, kan? Cepat belanja setelah itu pulang dan masak."

"Aku tidak pandai memasak, apa telur kemarin belum cukup membuktikan?" Moza berkacak pinggang.

"Ini," kekeh Arlan menyerahkan atm padanya.

Moza semakin tak habis pikir. "Kau kira pasar itu mall? Supermarket? Di sini pa

Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status