Home / Mafia / Belenggu Cinta Sang Don Juan / Bab 86 Kami Mengakui Kepemimpinanmu

Share

Bab 86 Kami Mengakui Kepemimpinanmu

Author: Silentia
last update Last Updated: 2025-12-17 21:15:44

Kemenangan tidak pernah datang dengan sorak-sorai di Balkan. Semua kemenangan datang di iringi dengan bau mayat yang belum sempat dikubur dan senyap yang terlalu berat untuk dirayakan.

Beograd akhirnya diam meski asap masih menggantung rendah, menyelimuti bangunan-bangunan tua yang berlubang peluru. Darah mengalir di jalanan, bercampur hujan tipis yang turun seperti belas kasihan palsu.

Mayat-mayat klan utara dan sekutunya dibiarkan tergeletak begitu saja, supaya menjadi sebuah pesan yang tidak perlu diterjemahkan. Semua orang pasti paham, melawan Drazhan penguasa Balkan sama dengan mati.

Drazhan berdiri di halaman rumah utamanya, mantel hitamnya basah oleh darah dan hujan. Di sekelilingnya, para penjaga berdiri tegak dengan wajah-wajah keras.

“Hitung ulang,” perintah Drazhan tanpa emosi.

Rafael menutup radio setelah menerima laporan terakhir. “Tidak ada pergerakan dari utara, Tuan. Jalur suplai mereka hancur total. Para pemimpin bayaran sudah mati atau melarikan diri. Balkan, mena
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 107 Mahkota Kekuasaan Itu Selalu Haus Darah

    Dinding batu di penjara bawah tanah sebelah timur terbelah seperti luka lama yang dipaksa terbuka kembali. Api menyembur, asap hitam menjilat langit fajar, dan suara alarm manual akhirnya meraung, bukan karena sistem, melainkan karena darah pertama telah tumpah.Drazhan sudah bergerak sebelum gema ledakan mereda. Ia menarik Alessia ke balik dinding baja, menekan bahunya ke sudut aman yang hanya diketahui tiga orang di dunia ini. “Tetap di sini. Apa pun yang kamu dengar, jangan keluar,” perintahnya dingin dan mutlak.“Apa yang terjadi?” tanya Alessia, matanya tajam meski jantungnya berdegup keras.“Kesalahan lama,” jawab Drazhan singkat. “Anak buah Korolev bangkit lagi.” Ia berbalik, meraih senapan otomatis dari rak tersembunyi. Wajahnya kini sepenuhnya berubah, tidak ada sisa pria yang semalam berjanji perlindungan dengan bisikan. Yang berdiri saat ini adalah Raja Mafia Balkan, pemilik tanah, darah, dan ketakutan.Rafael muncul dari koridor dengan wajah berlumur darah orang lain. “Mer

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 106 Hati-hati dengan Apa yang Kamu Minta

    Malam menutup kediaman itu rapat-rapat, seperti sekutu setia yang menjaga rahasia di kamar bernuansa hitam milik Drazhan, waktu seolah melambat, memberi ruang bagi sesuatu yang jarang ia izinkan hadir, yaitu sebuah kelembutan.Drazhan bergerak dengan kehati-hatian yang nyaris asing baginya. Tangan yang biasanya memberi perintah eksekusi kini menelusuri bahu Alessia seakan dia benda rapuh yang bisa pecah jika disentuh terlalu keras. Tatapannya tidak lagi tajam seperti pisau, melainkan pekat seperti malam yang memilih untuk memeluk, bukan menelan.“Aku tidak akan menyakitimu,” katanya rendah. Itu bukan janji yang diucapkan sembarang dari mulut pria sepertinya, kalimat itu adalah sumpah paling mahal.Alessia meraih wajah Drazhan, memaksanya menatap. Ada keberanian di sana, juga kepercayaan yang diberikan tanpa syarat. Drazhan merasakan sesuatu runtuh di dadanya, bukan kelemahan, melainkan tembok yang selama ini ia banggakan. Ia memang sudah kalah, ia mencintai Alessia terlalu dalam. Me

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 105 Kamu Yakin Akan Melakukan Ini?

    Alessia menyusuri lorong dengan langkah ragu namun tekad yang perlahan mengeras. Setiap pijakan terasa lebih sunyi dari sebelumnya, seolah rumah itu menahan napas, menunggu sesuatu yang tak terucap. Ia tahu ke mana harus pergi, meski bagian dirinya masih menyangkal alasan kenapa.Kamar pribadi Drazhan berdiri di ujung lorong, lebih gelap dari pintu-pintu lain. Ia mendorongnya perlahan pintu kamar itu. Suasana langsung berbeda. Ruangan itu seperti bayangan dari pemiliknya. Dominasi warna hitam dan abu gelap memenuhi setiap sudut, dinding, perabot, dan tirai tebal yang menutup jendela besar. Aroma maskulin langsung menyergap indera penciumannya. Bau campuran cerutu mahal, alkohol tua, dan sesuatu yang lebih dalam, bau kekuasaan yang tak bisa ditiru memenuhi ruangan itu. Lampu temaram menggantung rendah, memantulkan kilau redup pada botol-botol kristal di rak dan senjata yang tersusun rapi, bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai pernyataan.Drazhan berdiri membelakangi pintu, satu tang

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 104 Ikuti Gerakkanku

    Lorong kediaman kembali sunyi setelah kepergian Alexei. Udara terasa lebih berat, seolah tembok-tembok tua itu ikut menyimpan sisa ketegangan yang belum sempat luruh. Drazhan berjalan di samping Alessia, langkahnya perlahan, jauh berbeda dari pria yang biasa memerintah dengan satu anggukan kepala.Ia membuka pintu kamar dan membiarkan Alessia masuk lebih dulu. Cahaya temaram lampu dinding menyentuh wajah Alessia yang pucat, membuatnya tampak rapuh seperti kaca tipis yang retak halus namun belum pecah.Drazhan menutup pintu di belakang mereka. Keheningan yang canggung langsung menyambut mereka. Cemburu dan amarah masih berputar seperti binatang liar yang baru saja ditarik dari arena di dada Drazhan. Ia ingin meredamnya. Ia ingin menegaskan bahwa Alessia berada di wilayahnya, di bawah namanya, terlindungi oleh kekuasaannya. Tubuhnya menuntut pengakuan itu, tetapi matanya melihat kenyataan yang lain, napas Alessia yang masih belum stabil, pundaknya yang mudah goyah, dan untuk pertama ka

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 103 Perang Besar untuk Suatu Hal yang Tidak Bisa Dibagi

    Mobil Alexei melewati gerbang besi kediamannya. Mesin dimatikan, tapi ia tidak segera turun. Tangannya masih bertumpu di setir, jari-jarinya menegang, lalu mengendur. Di kaca depan, bayangannya sendiri menatap balik wajahnya yang tampak tenang. Ia sudah melihat Alessia. Dia masih Hidup dan bernapas. Meski dia terlihat sangat lemah. Semua itu seharusnya cukup. Alexei turun dari mobil dan berjalan masuk. Para penjaga memberi hormat singkat, mereka membaca suasana tanpa bertanya. Di dalam rumah, keheningan menyambutnya, tidak ada musik, tidak ada tawa, hanya detik jam yang terdengar seperti peluru kecil, jatuh satu per satu. Ia masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu. Ia sengaja tidak mengunci karena merasa tidak perlu. Alexei menyalakan lampu meja, lalu duduk. Beberapa berkas terbuka, peta wilayah terhampar, laporan pergerakan klan utara menunggu tanda tangan. Semua yang seharusnya ia lakukan. Semua yang biasanya ia lakukan tanpa cela. Kini terasa asing, pikirannya selalu kembal

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 102 Aku Tidak Datang Untukmu

    Kabar tentang Alessia sampai ke telinga Alexei lebih cepat daripada seharusnya. Bukan lewat laporan resmi, bukan lewat jalur yang bisa ditelusuri. Hanya satu kalimat pendek dari Viktor yang berdiri di ambang pintu ruang kerjanya dengan wajah tegang.“Alessia jatuh dari tangga, Tuan. Tidak parah. Hanya gegar ringan.”Alexei tidak langsung bereaksi. Ia berdiri di depan peta wilayah, tangan masih bertumpu di meja, seolah kata-kata itu belum benar-benar mendarat di otaknya. Lalu napasnya berubah pelan, tapi berat. “Tidak parah,” ulangnya datar.“Dokter mengatakan aman,” tambah Viktor cepat. “Drazhan juga sudah mengamankan situasi.”Alexei berbalik perlahan. Tatapannya tajam, dingin, namun di baliknya ada sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan. Kekhawatiran yang tidak ia izinkan hidup, tapi kini memaksa keluar. “Aman menurut siapa?” tanyanya.Viktor terdiam. Ia sudah mengenal Alexei cukup lama untuk tahu, jawaban logis tidak akan menghentikan ini.“Sediakan mobil,” kata Alexei ak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status