Startseite / Mafia / Belenggu Cinta Sang Don Juan / Bab 87 Kamu Terlalu Lancang

Teilen

Bab 87 Kamu Terlalu Lancang

last update Zuletzt aktualisiert: 18.12.2025 18:17:23

Taman belakang kediaman Balkan sore itu diselimuti senyap yang aneh. Setelah perang, keheningan tidak lagi terasa damai, suasa justru terasa mencekam karena bayang-bayang kematian masih sangat terasa.

Mawar-mawar hitam di sepanjang jalan setapak masih basah oleh embun sore. Di tengah taman, Alessia berdiri sendiri. Gaun gelapnya berkibar pelan tertiup angin, wajahnya pucat namun tenang, seolah ia sedang memaksa dirinya menghirup udara segar meski faktanya, udara sore itu masih berbau mesiu dan darah. Ia tidak tahu bahwa sepasang mata sudah mengamatinya sejak beberapa menit lalu.

Alexei berdiri di dekat pilar besar, mantel hitamnya kontras dengan bunga mawar putih yang ia genggam. Mawar itu bersih, terlalu bersih, seperti simbol yang sengaja ia pilih untuk hadiah kemenangan, kemurnian palsu, dan niat yang tidak pernah sederhana. Ia melangkah keluar tanpa suara mendekati Alessia.

“Sendirian?” suara Alexei terdengar rendah di belakang Alessia.

Hal itu membuat Alessia terkejut dan menol
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 106 Hati-hati dengan Apa yang Kamu Minta

    Malam menutup kediaman itu rapat-rapat, seperti sekutu setia yang menjaga rahasia di kamar bernuansa hitam milik Drazhan, waktu seolah melambat, memberi ruang bagi sesuatu yang jarang ia izinkan hadir, yaitu sebuah kelembutan.Drazhan bergerak dengan kehati-hatian yang nyaris asing baginya. Tangan yang biasanya memberi perintah eksekusi kini menelusuri bahu Alessia seakan dia benda rapuh yang bisa pecah jika disentuh terlalu keras. Tatapannya tidak lagi tajam seperti pisau, melainkan pekat seperti malam yang memilih untuk memeluk, bukan menelan.“Aku tidak akan menyakitimu,” katanya rendah. Itu bukan janji yang diucapkan sembarang dari mulut pria sepertinya, kalimat itu adalah sumpah paling mahal.Alessia meraih wajah Drazhan, memaksanya menatap. Ada keberanian di sana, juga kepercayaan yang diberikan tanpa syarat. Drazhan merasakan sesuatu runtuh di dadanya, bukan kelemahan, melainkan tembok yang selama ini ia banggakan. Ia memang sudah kalah, ia mencintai Alessia terlalu dalam. Me

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 105 Kamu Yakin Akan Melakukan Ini?

    Alessia menyusuri lorong dengan langkah ragu namun tekad yang perlahan mengeras. Setiap pijakan terasa lebih sunyi dari sebelumnya, seolah rumah itu menahan napas, menunggu sesuatu yang tak terucap. Ia tahu ke mana harus pergi, meski bagian dirinya masih menyangkal alasan kenapa.Kamar pribadi Drazhan berdiri di ujung lorong, lebih gelap dari pintu-pintu lain. Ia mendorongnya perlahan pintu kamar itu. Suasana langsung berbeda. Ruangan itu seperti bayangan dari pemiliknya. Dominasi warna hitam dan abu gelap memenuhi setiap sudut, dinding, perabot, dan tirai tebal yang menutup jendela besar. Aroma maskulin langsung menyergap indera penciumannya. Bau campuran cerutu mahal, alkohol tua, dan sesuatu yang lebih dalam, bau kekuasaan yang tak bisa ditiru memenuhi ruangan itu. Lampu temaram menggantung rendah, memantulkan kilau redup pada botol-botol kristal di rak dan senjata yang tersusun rapi, bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai pernyataan.Drazhan berdiri membelakangi pintu, satu tang

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 104 Ikuti Gerakkanku

    Lorong kediaman kembali sunyi setelah kepergian Alexei. Udara terasa lebih berat, seolah tembok-tembok tua itu ikut menyimpan sisa ketegangan yang belum sempat luruh. Drazhan berjalan di samping Alessia, langkahnya perlahan, jauh berbeda dari pria yang biasa memerintah dengan satu anggukan kepala.Ia membuka pintu kamar dan membiarkan Alessia masuk lebih dulu. Cahaya temaram lampu dinding menyentuh wajah Alessia yang pucat, membuatnya tampak rapuh seperti kaca tipis yang retak halus namun belum pecah.Drazhan menutup pintu di belakang mereka. Keheningan yang canggung langsung menyambut mereka. Cemburu dan amarah masih berputar seperti binatang liar yang baru saja ditarik dari arena di dada Drazhan. Ia ingin meredamnya. Ia ingin menegaskan bahwa Alessia berada di wilayahnya, di bawah namanya, terlindungi oleh kekuasaannya. Tubuhnya menuntut pengakuan itu, tetapi matanya melihat kenyataan yang lain, napas Alessia yang masih belum stabil, pundaknya yang mudah goyah, dan untuk pertama ka

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 13 Perang Besar untuk Suatu Hal yang Tidak Bisa Dibagi

    Mobil Alexei melewati gerbang besi kediamannya. Mesin dimatikan, tapi ia tidak segera turun. Tangannya masih bertumpu di setir, jari-jarinya menegang, lalu mengendur. Di kaca depan, bayangannya sendiri menatap balik wajahnya yang tampak tenang. Ia sudah melihat Alessia. Dia masih Hidup dan bernapas. Meski dia terlihat sangat lemah. Semua itu seharusnya cukup.Alexei turun dari mobil dan berjalan masuk. Para penjaga memberi hormat singkat, mereka membaca suasana tanpa bertanya. Di dalam rumah, keheningan menyambutnya, tidak ada musik, tidak ada tawa, hanya detik jam yang terdengar seperti peluru kecil, jatuh satu per satu.Ia masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu. Ia sengaja tidak mengunci karena merasa tidak perlu. Alexei menyalakan lampu meja, lalu duduk. Beberapa berkas terbuka, peta wilayah terhampar, laporan pergerakan klan utara menunggu tanda tangan. Semua yang seharusnya ia lakukan. Semua yang biasanya ia lakukan tanpa cela. Kini terasa asing, pikirannya selalu kembali ke

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 102 Aku Tidak Datang Untukmu

    Kabar tentang Alessia sampai ke telinga Alexei lebih cepat daripada seharusnya. Bukan lewat laporan resmi, bukan lewat jalur yang bisa ditelusuri. Hanya satu kalimat pendek dari Viktor yang berdiri di ambang pintu ruang kerjanya dengan wajah tegang.“Alessia jatuh dari tangga, Tuan. Tidak parah. Hanya gegar ringan.”Alexei tidak langsung bereaksi. Ia berdiri di depan peta wilayah, tangan masih bertumpu di meja, seolah kata-kata itu belum benar-benar mendarat di otaknya. Lalu napasnya berubah pelan, tapi berat. “Tidak parah,” ulangnya datar.“Dokter mengatakan aman,” tambah Viktor cepat. “Drazhan juga sudah mengamankan situasi.”Alexei berbalik perlahan. Tatapannya tajam, dingin, namun di baliknya ada sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan. Kekhawatiran yang tidak ia izinkan hidup, tapi kini memaksa keluar. “Aman menurut siapa?” tanyanya.Viktor terdiam. Ia sudah mengenal Alexei cukup lama untuk tahu, jawaban logis tidak akan menghentikan ini.“Sediakan mobil,” kata Alexei ak

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 101 Kamu Takut?

    Kepanikan tidak seharusnya hidup di dalam diri seorang pria seperti Drazhan. Ia dibesarkan untuk tetap tenang saat darah mengalir, saat nama-nama besar runtuh, saat nyawa manusia dihitung seperti angka di laporan. Namun saat mendengar nama Alessia, seluruh kendali itu runtuh tanpa sisa.Langkahnya menggema keras di lorong batu. Para penjaga menyingkir tanpa berani menatap wajahnya, tidak ada yang berani menghalangi, tidak ada yang cukup bodoh untuk menanyakan apa pun. Mereka melihatnya, rahang mengeras, mata gelap, napas berat, dan tahu satu hal, jika Alessia benar-benar terluka parah, malam ini akan menelan lebih banyak korban daripada perang terbuka.Pintu kamar Alessia terbuka lebar. Bau antiseptik menyambutnya, terlalu bersih, dan terlalu tenang.Alessia terbaring di ranjang, tubuhnya setengah ditopang bantal. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya pucat, ada bekas kemerahan di pelipisnya. Matanya tertutup, napasnya teratur namun dangkal. Satu perban melingkari pergelangan tangann

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status