Share

BAB 5 MENYESAL KATANYA, TAPI...

Rupanya, Keenan sudah mengikuti mereka dengan wajah paling gusar yang pernah Kirana lihat selama 4 tahun ia mengenalnya.

“Hei!” Bagas mencoba menghentikan Keenan yang menarik paksa Kirana tanpa bicara apapun. Tapi meskipun perawakan mereka sama, kekuatan dari kemarahan Keenan cukup untuk mendorong Bagas, hingga Kirana berhasil ditahan di dalam mobil Keenan.

“Kalau kamu benar-benar mau pulang ke rumah orang tuamu, aku yang akan mengantarmu! Bukan orang lain!” Hanya itu yang Keenan katakan, setelah berhasil membuat Kirana terkurung di dalam mobilnya.

Meskipun Kirana tidak mau tetap bersama suami yang mengkhianatinya, tapi karena ia ingin tahu alasan dari semua sikap dan perkataan Keenan yang terus membingungkannya, akhirnya Kirana memutuskan untuk mengikuti permainan pria itu.

Sementara di luar, Manda dan orang tua Keenan sudah sampai di tempat parkir untuk mencegah Keenan pergi, tepat saat Keenan langsung menginjak pedal dan membawa Kirana melesat bersamanya tanpa menggubris mereka.

***

Selama perjalanan dari Jakarta menuju Bandung, Keenan tidak banyak bicara seperti biasa. Wajahnya terus mengeras seolah dipenuhi banyak pikiran yang tidak pernah bisa Kirana terka.

Keenan memang selalu seperti itu, bahkan sejak pertama kali mereka bertemu karena pekerjaan tahun 2018 lalu.

Saat itu, Keenan masih menjabat sebagai salah satu Direktur MNK Corp yang mengawasi program mereka, INTV atau Indonesia Network Television yaitu produsen sekaligus aplikasi penyedia video khusus untuk program lokal Indonesia.

Kirana sebagai asisten sutradara di sana, tidak sengaja bertemu Keenan yang awalnya tidak Kirana kenali sebagai direktur karena penampilannya yang sangat sederhana, hingga terjadi kesalahpahaman yang berujung pada terjalinnya hubungan mereka seperti saat ini.

Selama Kirana mengenalnya, Keenan selalu tampak dingin dan keras. Kirana pun jadi kesulitan berkomunikasi dengan Keenan, karena Keenan tidak terbiasa mengeluarkan isi pikiran atau hatinya dengan baik. Meskipun setelah itu Kirana tahu bahwa Keenan cukup hangat dan selalu mendengarkan orang-orang di sekitarnya. Tapi setelah apa yang terjadi sekarang, Kirana tidak tahu lagi orang seperti apa Keenan sebenarnya.

Setelah perjalanan mereka di tengah malam yang sunyi selama 3 jam lebih, akhirnya mereka sampai juga di rumah orang tua Kirana.

Orang tua Kirana yang mendengar suara deru mobil dari luar tengah malam itu, segera membuka pintu dengan wajah terkejut, karena kehadiran Keenan yang tidak mereka harapkan.

“Kenapa dia yang mengantarmu?!” teriak Ayah Kirana, sambil menunjuk Keenan yang baru keluar dari mobil, dengan wajah kesal yang sama seperti kemarin. “Pergi dari sini!”

“Ayah.. ini udah malam, biarkan nak Keenan tidur di sini..” Ibu Kirana berbicara dengan suaminya sambil berusaha menenangkan.

Kirana yang juga khawatir jika membiarkan Keenan kembali ke Jakarta padahal malam sudah sangat larut, ikut membujuk sang ayah.

“Terserah! Tapi kamu harus sudah pergi dari sini sebelum saya bangun besok!” Ayah Kirana akhirnya membolehkan, sambil meninggalkan mereka dengan emosi yang masih meluap.

Setelah mereka semua masuk ke rumah keluarga Kirana yang cukup sederhana di banding apartemen ataupun rumah keluarga Keenan, Kirana segera menyiapkan tempat tidur untuk Keenan di satu-satunya kamar yang tersisa di sana. Namun, begitu Kirana selesai dan hendak kembali ke kamarnya, Keenan tiba-tiba menarik Kirana ke dalam pelukannya.

“Apa yang kamu lakukan?!” Kirana hampir menjerit keras karena terkejut dengan sikap Keenan tersebut. Meskipun mereka masih suami istri, tapi hubungan mereka sedang diambang perceraian, sehingga Kirana tidak mengharapkan Keenan untuk memeluknya seperti itu.

“Tidurlah denganku, Sayang..” Keenan berucap lembut, membuat hati Kirana berdesir aneh, sama seperti saat pertama kali Keenan meminta Kirana menjadi kekasihnya 4 tahun lalu.

‘Nggak, aku nggak boleh lemah!’ Kirana menolak dengan keras dalam hatinya. Ia berusaha menarik tubuhnya dari Keenan, tapi Keenan semakin memeluknya dengan erat.

“Keenan.. lepasin aku!” Kirana masih berusaha melepaskan diri. “Gimanapun kita bakal cerai!”

“Nggak.” Keenan langsung menyanggahnya dengan tegas. “Aku udah bilang kalau aku nggak akan pernah bercerai dari kamu, Kirana!”

“Tapi.. Manda udah hamil anak kamu!” Kirana bersuara lebih keras untuk menyadarkan Keenan situasi mereka saat ini.

Keenan menggelengkan kepala. “Sudah aku bilang itu nggak benar! Aku memang nggak bisa menjelaskan semuanya sekarang, tapi aku bersumpah bahwa aku nggak pernah menduakanmu!”

Kirana mendengus, masih tidak mengerti mengapa Keenan terus berkata seperti itu, padahal bagi Kirana semuanya sudah jelas bahwa Keenan berselingkuh!

“Aku memang sempat khilaf dan aku menyesali semua itu, tapi aku nggak selingkuh darimu! Percayalah sama aku, Kirana..” Keenan kembali mengeluarkan suara lembut itu lagi yang sejak 4 tahun lalu selalu membuat Kirana luluh, tapi tidak dengan sekarang!

Dengan kekuatannya yang tersisa, Kirana mendorong Keenan untuk melepaskan diri. Keenan seolah sadar bahwa Kirana sudah tidak nyaman dengan tindakannya, jadi ia tampak melonggarkan pelukan eratnya dan membuat Kirana berhasil terlepas darinya.

Kirana segera beranjak, berusaha mengabaikan semua ucapan Keenan yang hanya membuat perasaannya tak karuan.

“Aku udah berjuang untuk mendapatkanmu selama belasan tahun, jadi nggak mungkin aku berpaling darimu!” seru Keenan, membuat langkah Kirana terhenti seketika.

Belasan tahun? Bukankah mereka baru bertemu selama 4 tahun? Apa ia salah bicara atau ia mengatakan kebohongan lain?

Kirana mendengus, berpikir bahwa Keenan benar-benar mencoba menipunya lagi.

“Berisik! Cepat tidur!” Bukan suara Kirana, melainkan Ayah Kirana yang berada di kamar sebelah. Mungkin beliau sudah muak dengan percakapan mereka yang tidak berakhir tengah malam itu. Jadi, Kirana segera pergi keluar meninggalkan Keenan yang terus berusaha menghentikannya.

Keesokan harinya, saat Kirana hendak memastikan semua ucapan Keenan yang membingungkannya, Kirana justru mendapat kiriman video dari nomor tidak dikenal. Nomor yang tiga bulan lalu mengarahkan Kirana untuk mengetahui perselingkuhan Keenan dan Manda.

Kirana memutar video tersebut setelah helaan napas panjang.

Wajah Manda langsung keluar dari video itu, memperlihatkan dirinya yang memakai lingerie tipis berwarna hitam, sedang menuju sebuah ranjang tempat Keenan berada.

Astaga!

Kirana memejamkan matanya sejenak dengan napas tak beraturan, sebelum ia kembali memutar video saat Manda mulai mencium Keenan yang tengah tertidur sambil bertelanjang dada. Sedetik kemudian, ciuman panas Manda dibalas Keenan dengan lebih ganas, hingga kamera yang merekam mereka jatuh dan membuat hati Kirana ikut jatuh.

‘Menyesal dia bilang.. Omong kosong!’

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status