Share

Bab 6. Tidak Ada Perceraian

"Bercerai? hahaha....!" Tawa Eiser menggema di ruangan dan itu membuat Kayana semakin geram. "Kamu pikir aku akan melepaskanmu begitu saja setelah apa yang kamu perbuat di kehidupanku? Tidak semudah itu, Kay. Kamu harus terima pembalasanku terlebih dahulu."

"Persetan denganmu, Eiser. Aku akan tetap mengajukan perceraian." Kayana tidak akan tinggal diam kali ini.

"Coba saja kalau kamu bisa. Tapi itu tidak akan mudah. Dan sampai kapanpun, tidak akan ada perceraian. Camkan itu!"

"Kamu egois, Eiser. Aku membencimu!" jerit Kayana.

"Pantasnya aku yang mengatakan itu." Eiser tidak kalah sinis.

"Kalau begitu maki aku sesuka hati kamu, Eiser. Lakuka apa yang ingin kamu lakukan. Setelah itu, biarkan aku pergi." Kayana menurunkan nada bicaranya. Sayangnya itu terdengar lucu bagi Eiser sampai-sampai pria itu harus tertawa dengan remeh.

"Sudah kubilang. Itu tidak akan terjadi, sampai kapanpun kamu tidak akan bisa lepas dari genggamanku, Kay."

"Sebenarnya apa maumu! Jika kamu ingin menghancurkan hidup aku, kamu sudah berhasil, Eiser. Lalu apa lagi yang kamu inginkan dari aku!" Kayana tidak mengerti. Suaminya ini enggan melepaskan dirinya, tetapi selama pernikahan tak pernah sekalipun membuatnya tertawa. Justru penderitaan yang selalu ia terima.

Oh Kayana lupa. Semua ini karena dendam. Tetapi, pantaskah Kayana mendapatkan itu semua. Bahkan untuk kesalahan yang tidak pernah ia perbuat.

"Sudah jelas 'kan? Aku ingin hidup kamu dan sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu dan membiarkanmu berkeliaran dengan bebas di luar sana." Eiser berkata dengan sorot mata paling dingin yang pernah Kayana lihat.

Seolah ingin menegaskan bahwa apa yang ia katakan, tidak ada satupun orang lain yang bisa mengganggu gugatnya.

"Kamu jahat, Eiser!"

Eiser maju, mengikis jarak yang membentang di antara keduanya. Diraihnya dagu wanita di hadapannya lalu membungkam mulut sang istri menggunakan bibirnya sendiri. Kayana yang tidak siap, tidak mampu menghalau serangan sang suami yang begitu cepat. Dan ketika pria itu melahap habis bibirnya, Kayana hanya bisa pasrah.

Kayana mendorong dada bidang Eiser ketika ia kesulitan bernapas.

"Hentikan, Eiser. Kamu menyakitiku." Alih-alih mengecup dengan lembut, Eiser malah memainkan bibirnya dengan kasar. Menggerakkan indera pengecap secara serampangan bahkan menggigit bibir Kayana sampai berdarah.

"Jika kamu ingin aku melakukannya dengan lembut, maka itu hanya ada dalam mimpimu, Kayana." Eiser kembali maju, berniat mengulangi perbuatannya. Tetapi, Kayana lebih dulu menahannya.

"Jangan, Eiser. Ini tempat umum."

Eiser tertawa. "Oh, jadi kamu ingin melakukannya di rumah. Oke, kita pulang sekarang."

"Tidak! Bukan begitu, Eiser." Saat Kayana mengatakan itu, Eiser sudah menarik pergelangan tangannya.

Dengan langkah tergesa keduanya berjalan menuju ke arah pintu keluar. Ini jelas mimpi buruk. Kayana jelas tahu, cara bermain Eiser. Dan Kayana tidak mau menjadi objek pelampiasan nafsu suaminya. Meski itu adalah tergolong hal wajar karena dirinya dan Eiser adalah suami istri.

Sampai di basement, langkah Eiser terhenti oleh suara dering ponsel dari dalam saku jas. Secara otomatis langkah Kayana ikut terhenti. Ia mengamati pergerakan sang suami menjawab panggilan.

"Halo, Ivana," ucap Eiser dengan sangat lembut. Ah, nama itu. Nama yang membuat Kayana merasa nyeri ketika Eiser menyebutnya. Belum lagi cara bicara Eiser yang 180 derajat berbanding terbalik saat berbicara dengan dirinya. Membuat hati Kayana serasa ditusuk ribuan jarum.

"Oke aku ke sana sekarang." Wajah Eiser berubah panik. Ia sampai lupa dengan apa yang hendak ia lakukan kepada Kayana bahkan meninggalkan wanita itu sendirian di basement.

Kayana terpaksa pulang dengan mengendarai taksi. Kalau ia kembali ke pesta, akan menjadi masalah karena keluarga Eiser akan mempertanyakan keberadaan pria itu.

Kayana bisa saja membeberkan semua kelakuan suaminya di depan keluarganya dan menuntut perceraian seperti yang dikatakannya tadi kepada Eiser. Namun, sekali lagi Kayana tidak ingin melibatkan keluarga Eiser yang begitu tulus menyayangi dirinya.

Ya, satu-satunya alasan Kayana mempertahankan rumah tangganya yang tidak sehat dengan Eiser adalah karena keluarga suaminya itu. Memperlakukan dirinya berbeda dengan cara Eiser memperlakukannya.

Pulang ke rumah, sama sekali tidak membuat Kayana tenang. Pikirannya melayang pada Eiser yang kini sedang menemui Ivana. Ia menduga-duga apa yang telah suaminya lakukan dengan wanita itu.

Ivana lumpuh, itu yang ia tahu. Namun, wanita lumpuh bukan berarti tidak sanggup memuaskan seorang pria. Eiser dan Ivana bisa melakukannya dengan cara apapun yang tidak menyakiti Ivana. Pikiran kotor itu, terus berdesakan memenuhi isi kepala.

Lagi pula apa yang dilakukan seorang pria dan wanita berdua sampai selarut ini? Dan itu semakin memperkuat tekad Kayana ingin berpisah dari Eiser. Ya meskipun itu tidak mudah. Pelan-pelan Kayana akan memikirkan jalan keluarnya.

Jam di dinding menunjuk pada angka 12. Kayana yang sudah menukar gaun pesta dengan jubah tidur tidak dapat terpejam. Nasib menjadi istri yang diabaikan, harus tidur sendiri tanpa teman.

Gelap berganti terang. Tepat pukul 6, Kayana terbangun. Begitu ia membuka mata, tak ia dapati suami di tempatnya. Kayana tertawa, lebih tepatnya menertawakan diri sendiri. Bisa-bisanya ia menunggu kedatangan pria yang jelas-jelas lebih memilih selingkuhannya dari pada istri sendiri.

Dan bahkan setelah apa yang Eiser lakukan terhadap dirinya. Kayana masih mengharap suaminya itu pulang. Sungguh tidak habis pikir dengan dirinya sendiri.

Suasana rumah tampak sepi. Ya, sebab selama ini Eiser tidak merekrut satu orang pun pekerja untuk menangani masalah rumah maupun dapur. Ia ingin semuanya dikerjakan oleh istrinya. Itu juga sebagai salah satu bentuk hukuman yang diberikan Eiser kepada Kayana.

Rumah ini memiliki dua lantai di mana setiap lantai memiliki bilik dan kamar khusus. Dan Kayana harus membersihkan itu semua seorang diri, untungnya ada alat khusus untuk membersihkan debu yang menempel pada pajangan maupun perabot rumah. Jadi tidak butuh waktu lama bagi Kayana untuk membersihkan semua itu.

"Sudah cukup. Ini terlihat menakjubkan."

Puas melihat setiap ruangan bersih. Kayana beralih pada dapur. Ia memasak untuk dirinya sendiri. Ia sengaja memasak sedikit karena tidak ingin mengulang kesalahan membuang-buang makanan sebab merasa yakin kalau suaminya tidak akan pulang.

Rencananya, ia akan pergi ke toko bunga miliknya setelah ini. Berdiam diri di rumah membuatnya semakin stress. Tidak butuh waktu lama bagi Kayana untuk membersihkan diri. Kemeja formal dan rok span yang dipadukan dengan blazer hitam terlihat pas di tubuh Kayana.

Wanita cantik dengan lesung pipi itu sengaja mengikat rambutnya dan membiarkan anak rambutnya tertinggal di depan. Yang terakhir adalah heels. Kayana sengaja memakai hak yang sedikit rendah untuk mempermudah langkah kakinya.

Kayana menuruni satu persatu anak tangga. Dan tepat di tangga terakhir, langkahnya terhenti oleh kehadiran sosok yang ada di pikirannya semalam. Dan yang membuat Kayana tercengang adalah, wanita yang bersamanya.

"Kamu..."

Eiser menyeringai. Ia memandang Kayana dengan sorot mata dingin. "Kenapa terkejut begitu, oh iya perkenalkan. Ini Ivana, mulai sekarang ia akan tinggal di rumah ini."

"Apa?"

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status