Share

Bab 7. Membawa Ivana

Kayana tercenung beberapa saat. Ia mencoba untuk memahami ucapan suaminya. Dia bilang apa tadi? Eiser ingin kekasihnya tinggal bersama dirinya di rumah ini? Apa dirinya tidak salah dengar? Yang benar saja? Apa dia sudah gila?

"Eiser. Kamu boleh untuk tidak pulang. Tapi jangan keterlaluan dengan menyuruhku melakukan hal yang tidak akan pernah aku lakukan."

Eiser menanggapi ucapan istrinya dengan senyum remeh. Ia jelas tahu kalau wanita itu tidak senang bahkan menolek keputusannya, itu bisa dilihat dari raut wajah Kayana dan juga ucapannya. Dan memang itulah tujuan Eiser sebenarnya. Membuat istrinya marah.

"Aku tidak perlu izinmu untuk melakukan apapun. Di rumahku!" Eiser memberi tekanan di kalimat terakhirnya dan itu membuat Kayana mengepal geram.

Ia memang membiarkan dirinya ditindas oleh Eiser agar pria itu puas membalaskan dendamnya. Tetapi tidak dengan keputusan ini.

"Baik, kalian boleh tinggal di sini. Kalau begitu aku yang akan keluar dari rumah ini." Kayana melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Namun saat melewati Eiser, pergelangan tangan Kayana malah dicekal.

Ia terjungkal karena Eiser mendorongnya dan terjatuh tepat di bawah kaki Ivana. Kayana terkejut untuk beberapa saat sebelum ia kembali dalam kesadarannya.

"Jangan pernah menghindar dari hukuman!" tegas Eiser. "Lihatlah! Gara-gara siapa kaki itu tidak bisa berjalan!"

Kayana menatap sepasang kaki yang terlihat sehat itu. Seketika mengingatkan Kayana pada kejadian tempo hari lalu. Ivana berusaha bunuh diri dengan lompat dari atas gedung lantaran kekasihnya akan menikah dengan wanita lain yang tak lain adalah dirinya.

Dasar bodoh! Cantik, tetapi pikirannya sempit. Kayana ingin sekali mengumpati tindakan wanita itu. Tetapi, itu hanya ada dalam angannya saja.

"Terimakasih karena sudah mengingatkan aku, Eiser. Lalu apa mau kamu sekarang?"

"Layani dia!"

Manik indah Kayana melebar. "Kamu bilang apa?" Kayana nyaris tidak dapat mempercayai pendengarannya.

"Kamu tuli? Layani Ivana, persiapkan segala sesuatunya, kebutuhannya, makan, minum, tidur, mandi, semuanya!"

Kayana melirik sekilas ke arah Ivana. Ia tahu dalam diamnya, wanita itu tengah bersorak kegirangan. Terlihat dari sebelah sudut bibirnya yang sedikit naik. Kayana memberikan tatapan tajam pada suaminya.

"Aku bukan pembantu, Eiser. Aku mungkin akan melayanimu karena kamu suami aku, tapi tidak dengan wanita ini."

"Oh jadi begitu, kalau begitu perlu aku ingatkan sekali lagi. Karena siapa Ivana jadi seperti ini, karena siapa Ivana kehilangan karier dan pekerjaannya? Karena siapa Kami kehilangan bayi, karena siapa kami kehilangan kebahagiaan kami hmmm?" Eiser mengatakan itu sembari menarik rambut sang istri dan membuatnya mendongak. Terlihat tatapan mata Eiser yang berkilat tajam.

Pria itu tidak dapat lagi menahan amarah lantaran sang istri terus saja membangkang. Kayana terdiam, matanya berkaca-kaca melihat Eiser.

Melakukan apa yang Ivana lakukan mungkin lebih baik dari pada harus melakukan hal konyol yang diminta oleh Eiser. Lagi pula di mana pikiran pria itu? Bisa-bisanya dia menyuruh istrinya untuk melayani selingkuhannya?

"Eiser, di mana hati kamu? Sebaiknya kamu bunuh saja aku."

"Aku akan melakukannya nanti, sekarang lakukan apa yang aku perintahkan. Antarkan Ivana ke kamar tamu!"

Tubuh Kayana kembali dihentakkan ke bawah. Kedua matanya terpejam sesaat. Dan membuat air mata yang ia tahan nyaris keluar. Tetapi, itu tidak akan terjadi. Pantang baginya menangis di hadapan Eiser, terlebih dengan keberadaan kekasih pria itu.

"Ivana, mulai sekarang dia akan melayanimu, katakan apapun kebutuhanmu padanya."

"Terimakasih, Sayang," ucap wanita yang sedari tadi hanya diam.

Ivana sedikit kecewa karena dirinya hanya ditempatkan di kamar tamu. Padahal ia ingin sekali ditempatkan di kamar khusus. Atau kamar Eiser sekalian. Tetapi, ia tidak boleh protes.

Membujuk Eiser bukanlah perkara mudah dan ia berhasil melakukannya setelah melakukan hal konyol. Diancam sedikit saja, Eiser sudah luluh. Sebelah sudut bibir Ivana ditarik ke samping mengingat apa yang telah ia lakukan.

"Ini kamarmu," kata Kayana. Ia terpaksa menuruti keinginan Eiser. Tetapi percayalah, Kayana tidak akan membuat ini bertahan lama.

"Bagus juga. Tetapi bukan ini yang aku inginkan." Ivana memutar kursi roda menghadap istri dari kekasihnya ini. "Aku bukan hanya ingin sesuatu yang sekedar bagus, tetapi juga berkelas."

Kening Kayana terlipat. "Apa maksud kamu?"

"Aku ingin kamarmu!"

"Apa?"

Untungnya Eiser tidak menuruti keinginan Ivana yang satu ini. Alasannya sederhana karena kamar Kayana berada di lantai atas, dan akan kesulitan bagi Ivana untuk bisa sampai ke sana. Cukup masuk akal, dan cukup berlogika.

Meski begitu, Kayana tidak bisa lolos begitu saja. Ia betul-betul memainkan peran seperti yang diinginkan oleh Eiser. Setelah menyiapkan segala sesuatu untuk Ivana, kini ia berada dapur untuk menyiapkan makan malam.

Untuk pekerjaan satu ini, Kayana sungguh-sungguh menggunakan hati. Sebab makanan adalah sesuatu yang patut disyukuri. Bisa saja Kayana memberi racun atau obat pencahar untuk memberi pelajaran pada manusia-manusia durjana itu.

Tetapi, ia memilih untuk tidak melakukan itu. Kalaupun ia harus membalas perlakuan buruk yang dilakukan Eiser dan Ivana pada dirinya. Ia tidak akan melakukannya melalui makanan. Untuk saat ini ia hanya pasrah dan menyerahkan semuanya pada yang diatas. Setiap perbuatan pasti ada balasannya 'kan?

Eiser turun dan mencium aroma masakan. Dan dilihat dari baunya, wanita itu tengah memasak sup daging sapi. Yaitu, makanan kesukaannya.

Eiser duduk di kursi utama tanpa diminta. Sedangkan Kayana masih terlihat sibuk menata piring di atas meja, mengabaikan kehadiran Eiser yang begitu tiba-tiba.

"Panggil Ivana kemari."

Kayana menghentikan pekerjaannya seketika lalu menatap suaminya. "Eiser, kakinya memang lumpuh, tetapi tangannya masih bisa berfungsi."

Tatapan tajam menusuk diberikan Eiser, dan itu cukup membuat Kayana ciut. Sebelum pria itu memuntahkan lahar amarahnya. Kayana segera menyudahi pekerjaannya lalu melakukan apa yang Eiser lakukan.

Kursi digeser untuk memberikan ruang bagi Ivana yang berada di kursi roda. Senyum terus menghiasi bibir wanita cantik berambut panjang itu.

"Makan yang banyak agar kau cepat sembuh," kata Eiser sembari meletakkan daging di piring Ivana.

Kayana nyaris menumpahkan air yang ada di gelas saking kesalnya melihat kemesraan yang tidak tanggung-tanggung mereka umbar di depan dirinya. Tidak tahu diri, mungkin itu kata yang tepat untuk keduanya.

Setelah mengisi gelas kosong dengan air putih. Kayana gegas mengambil tempat duduk di sisi bagian kanan kursi Eiser. Ia membalik piring. Dan pergerakan itu mencuri perhatian Eiser. Ia jelas tahu apa yang akan dilakukan oleh istrinya.

"Tunggu," kata Eiser yang membuat gerakan Kayana seketika berhenti. Kayana menoleh.

"Ada apa?"

"Siapa yang menyuruhmu makan?" ucap Eiser dengan dingin.

"Apa maksud kamu?"

"Kamu sepertinya tidak paham maksudku. Aku menyuruhmu untuk melayani kami. Jadi bertindaklah sesuai dengan peranmu. Kamu boleh makan setelah kami selesai. Berdiri di sana sampai kami selesai makan."

Untuk saat ini Kayana hanya bisa mengeram marah. Benar-benar tidak punya hati.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status