LOGINBagai disambar petir di siang bolong, Richman Adalrich terhuyung mundur satu langkah."Jangan membual, Jason! Mana mungkin cucuku... darah daging Adalrich mengalami hal memalukan seperti itu?!" bentaknya dengan suara bergetar hebat, sebuah upaya keputusasaan untuk menyangkal kenyataan pahit yang baru saja menamparnya.Tanpa membuang waktu, Jason dengan sigap merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang sengaja ia simpan sejak lama sebagai benteng antisipasi darurat."Saya tidak berani berbohong, Tuan Besar. Ini adalah laporan kesehatan Tuan Muda Hans yang sangat lengkap, langsung dari Klinik Andromeda, beserta seluruh catatan medis dari Dokter Edward yang selama ini menangani beliau secara rahasia."Richman menyambar amplop itu. Jemarinya yang menua gemetar saat membuka lembar demi lembar dokumen medis yang tertera jelas dengan stempel resmi klinik dan tanda tangan dokter spesialis.Masih dalam kondisi syok yang menderu, Richman langsung menghubungi nomor Dokt
Tiga hari telah berlalu sejak Hans dikurung di kamar rahasia itu. Di atas ranjang, tubuh tegap yang biasanya tampak gagah kini terbaring lemas tanpa daya. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering dan pecah-pecah.Di sudut kamar, nampan berisi makanan mewah yang diantarkan setiap beberapa jam sekali tetap utuh, mendingin tanpa tersentuh sedikit pun.Hans benar-benar melakukan aksi mogok makan.Awalnya, Richman Adalrich tidak peduli. Pria tua itu mengira cucunya hanya sedang merajuk dan mencoba menggertaknya. Richman yakin rasa lapar akan mengalahkan ego masa muda Hans. Namun, ia salah menilai keras kepala darah Adalrich yang mengalir di tubuh cucunya."Bawa keluar makanan itu. Aku tidak butuh," bisik Hans lirih saat pelayan kembali datang. Suaranya serak, nyaris habis."Tuan Muda, Anda bisa mati jika terus seperti ini," bujuk pelayan itu ketakutan.Hans memalingkan wajahnya ke dinding, menatap kosong. "Lebih baik aku mati di sini daripada hidup seperti boneka yang dilarang menemui Shenka."
"Apa maksudnya ini? Kalian mengurungku?! Buka pintunya, bangsat! Keluarkan aku dari sini!"Hans berteriak histeris. Telapak tangannya menghantam permukaan pintu bertubi-tubi, sebelum tangannya beralih mencengkeram dan menghentak tuas pintu kamar itu dengan frustrasi. Sia-sia. Logam tebal itu bergeming, mengunci mati kebebasannya. Namun, tepat saat dadanya naik-turun memburu napas, sebuah suara yang sangat familiar merayap dari balik dinding."Percuma saja kamu berteriak, Hans. Pintu itu berlapis baja tebal. Tidak akan pernah terbuka sampai aku sendiri yang memerintahkannya."Hans tertegun. Suara bariton itu terdengar begitu berwibawa, dingin, dan tanpa cela—sama sekali tidak menunjukkan nada kelemahan."Kakek?" bisik Hans lirih. Jantungnya mencelos. Ia spontan memundurkan langkah seiring firasat buruk yang mulai menggerogoti benaknya.Klik.Pintu itu perlahan bergeser terbuka. Di ambang pintu, Richman Adalrich berdiri tegak. Sosok tua itu tampak bugar, mengenakan setelan jas rapi tanp
Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur, tetapi Hans sudah tampak gagah dalam balutan setelan kemeja dan denim mahal berwarna hitam. Wajahnya yang tampan telah dicukur rapi, menyisakan bayangan kebiruan di bagian dagu dan rahang yang membuat ketampanannya bertambah dua kali lipat.Ia menyisir rapi rambut bergelombangnya yang dipangkas pendek, tak lupa membubuhkan sedikit pomade agar tatanan rambutnya tetap rapi dan berkilau meski beraktivitas seharian.Hans membuka laci kaca yang berisi puluhan jam tangan dari brand-brand ternama. Ia mengambil satu jam tangan merek R bertali hitam. Usai menyemprotkan parfum mahal ke kedua sisi leher dan bagian dalam pergelangan tangannya, Hans pun tersenyum."Perfect! Today is yours, Hans. Bersenang-senanglah."Cahaya matahari telah merambat di sela-sela gorden, Hans meraih kunci lalu bergegas menuju mobilnya yang terparkir di basement. Sejak semalam ia bertekad akan mengunjungi kediaman keluarga Zeny jika Shenka tidak juga meneleponnya.Dan sekaran
Adrian jelas bukan pria kemarin sore. Separuh usianya mungkin sudah dihabiskan untuk bercinta. Dia adalah pria dewasa yang sudah sangat berpengalaman dalam banyak hal, termasuk dalam hubungan intim antara pria dan wanita. Baginya mencumbu wanita selain sang istri adalah hobi yang telah ia tinggalkan sejak menikahi Bianca. Namun, ciuman Shelomita mampu membuat tubuhnya bergetar hingga ke tulang. "She-shelo ... jangan begini, ingat aku adalah suami ibumu," ucap Adrian seraya mendorong pelan tubuh Shelomita. Ia masih mencoba mempertahankan kewarasannya meskipun sempat terlena oleh permainan lidah sang anak tiri.Shelomita melepaskan tautan bibirnya, tetapi kedua tangannya masih melingkar di leher Adrian."Aku tahu ... kau adalah suami ibuku. Itu sebabnya aku ingin kau menceraikannya karena dia tidak layak mendapatkan pria hebat sepertimu. Ibuku bukan wanita yang setia, Adrian. Aku yakin kau pasti sudah tahu apa yang dilakukannya dengan sahabat baikmu itu." Dengan tatapan penuh percaya d
Meski luar biasa galau dengan perasaannya, tetapi Shelomita berhasil menepati janjinya membawa Shenka pulang dengan selamat ke kediaman keluarga Zeny."Shenka cucuku, akhirnya kamu pulang juga, Sayang. Kamu tega meninggalkan Kakek tanpa kabar. Kamu tidak sayang Kakek lagi? Mau Kakek cepat mati?" Adhiwan menyongsong kedatangan Shenka dengan pelukan hangat dari atas kursi rodanya."Maafkan aku, Kek. Tentu saja aku sangat menyayangi Kakek, tapi saat itu aku benar-benar ingin sendiri, Kek. Aku ingin hidup tenang dan bebas, bukan dipenjara oleh berbagai macam aturan."Shenka membalas pelukan Adhiwan dengan erat, tak lupa melabuhkan kecupan sayang di kedua pipi sang Kakek."Kakek 'kan sudah bilang. Kalau kamu tidak betah di rumah ini, tinggallah bersama Kakek. Rumah nenekmu tidak ada yang menghuni, kita bisa tinggal di sana berdua."Shenka menggeleng. "Rumah nenek terlalu jauh dari kota, Kek. Sementara kesehatan Kakek sudah tak seperti dulu lagi. Sewaktu-waktu kondisi Kakek bisa drop, dan p
Suasana romantis begitu kental terasa di apartemen itu. Shenka yang awalnya terkesan dingin, sekarang justru terbawa arus permainan Hans yang terus memancing gairahnya. Ia bahkan tanpa sadar melentingkan tubuhnya memberi akses penuh pada Hans untuk mencumbu tubuhnya. Hingga pada satu titik, ketik
"Aku menginginkanmu, Shenka. Jadilah kekasihku," pinta Hans.Tubuh Shenka membeku dalam seketika. Bola matanya membesar, menatap Hans dengan tatapan tidak percaya."Sepertinya kau sudah tidak waras, Tuan. Bagaimana bisa kau memintaku jadi kekasihmu sementara kita tidak saling
Keesokan paginya. "Astaga! Ini orang maunya apa, sih?" seru Mila sambil menatap layar ponselnya. "Kenapa sih, Mil? Pagi-pagi udah ngomel. Pamali, ntar rezekimu dipatuk ayam," omel Shenka sambil menarik selimutnya kembali. "Salah, itu untuk orang yang malas bangun pagi kaya
Di ruang VIP sebuah kelab malam."Apakah Anda yang bernama Hans?"Seorang gadis muda tiba-tiba masuk, berdiri di depan Hans, lalu bertanya dengan nada menantang. Wajahnya cantik, hidung bangir, bibir mungil berwarna merah muda. Kulitnya yang putih tampak bercahaya di bawah pantulan







