Partager

21. Harapan Terselubung

Auteur: Cathalea
last update Date de publication: 2023-08-11 15:55:28

Meski luar biasa galau dengan perasaannya, tetapi Shelomita berhasil menepati janjinya membawa Shenka pulang dengan selamat ke kediaman keluarga Zeny.

"Shenka cucuku, akhirnya kamu pulang juga, Sayang. Kamu tega meninggalkan Kakek tanpa kabar. Kamu tidak sayang Kakek lagi? Mau Kakek cepat mati?" Adhiwan menyongsong kedatangan Shenka dengan pelukan hangat dari atas kursi rodanya.

"Maafkan aku, Kek. Tentu saja aku sangat menyayangi Kakek, tapi saat itu aku benar-benar ingin sendiri, Kek. Aku ingi
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Belenggu Hasrat Tuan Muda Adalrich   28. Mengikis Harga Diri

    Hanya dalam hitungan menit, deru mesin mobil mewah yang berhenti mendadak di halaman depan menandakan kedatangan sang patriarki. Pintu utama mansion terbuka lebar, menampilkan sosok Adhiwan Zeny yang meluncur dengan kursi rodanya, masuk dengan wajah yang diselimuti amarah pekat. Aura kekuasaan yang dipancarkannya membuat para pengawal di ruangan itu langsung menunduk tak berani bersuara.Namun, gerak Adhiwan mendadak terhenti di tengah ruang tamu. Matanya yang tajam menangkap sosok pemuda asing yang berdiri lemas di sana. Begitu mengenali garis wajah itu, arah kemarahan Adhiwan seketika berbelok tajam. Urat-urat di pelipisnya menegang."Untuk apa ada darah daging Adalrich di dalam rumahku?!" bentak Adhiwan, suaranya menggelegar penuh kebencian. Ia menunjuk ke arah pintu luar dengan tangan bergetar. "Pergi dari sini sebelum aku membuatmu menyesal telah menginjakkan kaki di keluarga Zeny! Pengawal, seret dia keluar!"Melihat situasi yang kian kritis, Shelomita dengan berani langsung mel

  • Belenggu Hasrat Tuan Muda Adalrich   27. Jalan Buntu

    Langkah kaki Hans terseret lambat saat ia memasuki apartemennya sendiri. Tempat yang biasanya menjadi pelarian yang tenang, kini terasa asing. Dokter Edward sebenarnya telah memperingatkan dengan tegas agar Hans tetap berbaring di bawah pengawasan medis demi memulihkan kondisi fisiknya yang anjlok. Namun, pemuda itu keras kepala. Baginya, rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa sesak yang mencengkeram dadanya sejak memikirkan Shenka."Tuan Muda, Anda harus istirahat. Biarkan cairan infus ini selesai dahulu," bujuk Jason dengan raut cemas yang kentara.Hans merenggut kasar jarum infus di punggung tangannya, mengabaikan setetes darah yang keluar dari sana. "Antar aku ke kediaman Zeny, Jas. Sekarang," desisnya, suaranya parau namun penuh penekanan yang tak bisa dibantah.Jason sempat ragu. Ia tahu tindakan ini seperti mengantar nyawa ke kandang singa. Namun, melihat sorot mata Hans yang menyalang di balik kelopak matanya yang menghitam, Jason akhirnya tunduk.Setengah jam kemu

  • Belenggu Hasrat Tuan Muda Adalrich   26. Meluruhkan Ego

    Bagai disambar petir di siang bolong, Richman Adalrich terhuyung mundur satu langkah."Jangan membual, Jason! Mana mungkin cucuku... darah daging Adalrich mengalami hal memalukan seperti itu?!" bentaknya dengan suara bergetar hebat, sebuah upaya keputusasaan untuk menyangkal kenyataan pahit yang baru saja menamparnya.Tanpa membuang waktu, Jason dengan sigap merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang sengaja ia simpan sejak lama sebagai benteng antisipasi darurat."Saya tidak berani berbohong, Tuan Besar. Ini adalah laporan kesehatan Tuan Muda Hans yang sangat lengkap, langsung dari Klinik Andromeda, beserta seluruh catatan medis dari Dokter Edward yang selama ini menangani beliau secara rahasia."Richman menyambar amplop itu. Jemarinya yang menua gemetar saat membuka lembar demi lembar dokumen medis yang tertera jelas dengan stempel resmi klinik dan tanda tangan dokter spesialis.Masih dalam kondisi syok yang menderu, Richman langsung menghubungi nomor Dokt

  • Belenggu Hasrat Tuan Muda Adalrich   25. Rahasia Tuan Muda

    Tiga hari telah berlalu sejak Hans dikurung di kamar rahasia itu. Di atas ranjang, tubuh tegap yang biasanya tampak gagah kini terbaring lemas tanpa daya. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering dan pecah-pecah.Di sudut kamar, nampan berisi makanan mewah yang diantarkan setiap beberapa jam sekali tetap utuh, mendingin tanpa tersentuh sedikit pun.Hans benar-benar melakukan aksi mogok makan.Awalnya, Richman Adalrich tidak peduli. Pria tua itu mengira cucunya hanya sedang merajuk dan mencoba menggertaknya. Richman yakin rasa lapar akan mengalahkan ego masa muda Hans. Namun, ia salah menilai keras kepala darah Adalrich yang mengalir di tubuh cucunya."Bawa keluar makanan itu. Aku tidak butuh," bisik Hans lirih saat pelayan kembali datang. Suaranya serak, nyaris habis."Tuan Muda, Anda bisa mati jika terus seperti ini," bujuk pelayan itu ketakutan.Hans memalingkan wajahnya ke dinding, menatap kosong. "Lebih baik aku mati di sini daripada hidup seperti boneka yang dilarang menemui Shenka."

  • Belenggu Hasrat Tuan Muda Adalrich   24. Di Bawah Kendali

    "Apa maksudnya ini? Kalian mengurungku?! Buka pintunya, bangsat! Keluarkan aku dari sini!"Hans berteriak histeris. Telapak tangannya menghantam permukaan pintu bertubi-tubi, sebelum tangannya beralih mencengkeram dan menghentak tuas pintu kamar itu dengan frustrasi. Sia-sia. Logam tebal itu bergeming, mengunci mati kebebasannya. Namun, tepat saat dadanya naik-turun memburu napas, sebuah suara yang sangat familiar merayap dari balik dinding."Percuma saja kamu berteriak, Hans. Pintu itu berlapis baja tebal. Tidak akan pernah terbuka sampai aku sendiri yang memerintahkannya."Hans tertegun. Suara bariton itu terdengar begitu berwibawa, dingin, dan tanpa cela—sama sekali tidak menunjukkan nada kelemahan."Kakek?" bisik Hans lirih. Jantungnya mencelos. Ia spontan memundurkan langkah seiring firasat buruk yang mulai menggerogoti benaknya.Klik.Pintu itu perlahan bergeser terbuka. Di ambang pintu, Richman Adalrich berdiri tegak. Sosok tua itu tampak bugar, mengenakan setelan jas rapi tanp

  • Belenggu Hasrat Tuan Muda Adalrich   23. Kejutan untuk Hans

    Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur, tetapi Hans sudah tampak gagah dalam balutan setelan kemeja dan denim mahal berwarna hitam. Wajahnya yang tampan telah dicukur rapi, menyisakan bayangan kebiruan di bagian dagu dan rahang yang membuat ketampanannya bertambah dua kali lipat.Ia menyisir rapi rambut bergelombangnya yang dipangkas pendek, tak lupa membubuhkan sedikit pomade agar tatanan rambutnya tetap rapi dan berkilau meski beraktivitas seharian.Hans membuka laci kaca yang berisi puluhan jam tangan dari brand-brand ternama. Ia mengambil satu jam tangan merek R bertali hitam. Usai menyemprotkan parfum mahal ke kedua sisi leher dan bagian dalam pergelangan tangannya, Hans pun tersenyum."Perfect! Today is yours, Hans. Bersenang-senanglah."Cahaya matahari telah merambat di sela-sela gorden, Hans meraih kunci lalu bergegas menuju mobilnya yang terparkir di basement. Sejak semalam ia bertekad akan mengunjungi kediaman keluarga Zeny jika Shenka tidak juga meneleponnya.Dan sekaran

  • Belenggu Hasrat Tuan Muda Adalrich   14. Morning Wood

    Suasana romantis begitu kental terasa di apartemen itu. Shenka yang awalnya terkesan dingin, sekarang justru terbawa arus permainan Hans yang terus memancing gairahnya. Ia bahkan tanpa sadar melentingkan tubuhnya memberi akses penuh pada Hans untuk mencumbu tubuhnya. Hingga pada satu titik, ketik

  • Belenggu Hasrat Tuan Muda Adalrich   3. Selidiki Latar Belakangnya

    "Aku menginginkanmu, Shenka. Jadilah kekasihku," pinta Hans.Tubuh Shenka membeku dalam seketika. Bola matanya membesar, menatap Hans dengan tatapan tidak percaya."Sepertinya kau sudah tidak waras, Tuan. Bagaimana bisa kau memintaku jadi kekasihmu sementara kita tidak saling

  • Belenggu Hasrat Tuan Muda Adalrich   2. Menginginkanmu

    Keesokan paginya. "Astaga! Ini orang maunya apa, sih?" seru Mila sambil menatap layar ponselnya. "Kenapa sih, Mil? Pagi-pagi udah ngomel. Pamali, ntar rezekimu dipatuk ayam," omel Shenka sambil menarik selimutnya kembali. "Salah, itu untuk orang yang malas bangun pagi kaya

  • Belenggu Hasrat Tuan Muda Adalrich   1. Korban Fitnah

    Di ruang VIP sebuah kelab malam."Apakah Anda yang bernama Hans?"Seorang gadis muda tiba-tiba masuk, berdiri di depan Hans, lalu bertanya dengan nada menantang. Wajahnya cantik, hidung bangir, bibir mungil berwarna merah muda. Kulitnya yang putih tampak bercahaya di bawah pantulan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status