Share

Bab 4

Author: Masatha
last update Last Updated: 2025-08-21 10:45:54

Seminggu setelah mama menghilang, tidak ada kabar sama sekali dari pihak kepolisian. Mama seperti hilang ditelan bumi. 

Sementara Om Abimanyu katanya harus kembali ke Jakarta, mendapat panggilan kerja dari papanya. Karena orang tua Om Abimanyu ingin pensiun, makanya Om Abimanyu berhenti bekerja sebagai dokter. 

Dulu kata mama orang tua Om Abimanyu memiliki jabatan tinggi di perusahaan pusat, sementara mama bekerja di bagian kantor cabang di Surabaya.

"Flo, aku tidak mungkin meninggalkan kamu sendirian di sini. Ikutlah aku ke Jakarta, jika aku pulang tanpa kamu aku akan kena amukan dari orang tuaku karena mengabaikan istriku."

Istri ... Aku tidak berani menganggap diriku ini adalah istri Om Abimanyu. Makanya aku tidak meminta pertanggung jawaban apapun. 

Meski Suara Om Abimanyu bernada rendah, tapi seperti ada tekanan dimana membuat aku takut untuk menolak. Mana aku orang yang tidak enakan. 

"Tapi mama bagaimana? Aku takut saat mama pulang terus aku tidak ada mama akan khawatir," jawabku resah.

"Kalau mama kamu pulang, pastinya dia akan menghubungimu bukan? Kita bisa tinggalkan catatan pemberitahuan di rumah kamu, serta alamat rumah kita yang baru," jawab Om Abimanyu meyakinkan. 

Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk pasrah, pada kenyatannya saat ini aku tidak mampu hidup sendiri.

"Om ... Nanti sesampainya di Jakarta bisakah mencarikan aku pekerjaan? Aku—masih ingin kuliah. Mama selalu berharap aku mendapat pendidikan sampai tinggi lalu memiliki karir yang bagus. Aku ingin membuat mama bangga," pintaku memohon. 

"Kamu tidak perlu cemas, masalah itu semua sudah menjadi tanggung jawab aku. Kamu hanya perlu fokus kuliah dan belajar, semua kebutuhan aku yang tanggung. Bagaimanapun juga kamu adalah istriku!" 

Entah kenapa, setiap kali Om Abimanyu mengungkit tentang identitas itu mengingatkan aku dengan mama dan rasa ketakutan tersendiri. Perasaan aneh, tapi aku tidak tahu itu firasat apa. 

"Om, lalu kapan kita akan mengurus surat perceraian?" tanyaku meminta kepastian. 

"Aku tidak bisa menceraikan kamu sekarang, Flo. Karena hanya dengan identitas itu aku dapat menjagamu. Kalau aku membiarkan kamu tinggal di rumah tanpa identitas, yang ada aku akan mendapat hujatan dikira aku gadun yang memelihara sugar baby. Paling tidak sampai kamu sudah lulus kuliah dan menjadi wanita mandiri!" tegas Om Abimanyu. 

"Tapi—kalau ternyata mama tidak kembali bagaimana? Apakah Om Abimanyu tidak berpikir untuk menikah lagi dengan wanita lain? Aku lulus kuliah butuh waktu bertahun-tahun, itu akan mempersulit Om Abimanyu mencari jodoh kalau masih ada ikatan status denganku."

Usia Om Abimanyu sudah memasuki 36 tahun, pastinya butuh istri yang sesungguhnya dan juga seorang anak.

"Kamu tidak perlu memikirkan aku, Flo. Fokuslah pada masa depanmu. Tugasmu hanya belajar dan belajar."

Aku merasa terharu, Om Abimanyu tidak memiliki ikatan darah denganku. Tapi kenapa sebaik ini sampai mau menanggung biaya pendidikan dan kebutuhan aku? Aku berjanji pada diriku sendiri, untuk tidak menyia-nyiakan pengorbanan Om Abimanyu. Aku harus belajar rajin dan bisa membuat bangga Om Abimanyu serta mama. 

Kamipun melakukan penerbangan dari Surabaya—Jakarta. Ini adalah kepergian aku yang pertama kali tanpa mama. Sebab selama ini mama tidak pernah membiarkan aku bepergian tanpanya.

"Kamu takut?" tanya Om Abimanyu tersenyum manis. 

"Ehm, ini pertama kalinya aku naik pesawat. Biasanya kalau keluar kota sama mama naik kereta api yang lebih hemat," jawabku jujur apa adanya. 

"Kalau keluar kota biasanya kemana-mana saja?" 

"Saat lulus SD, mama mengajak aku jalan-jalan ke Malang. Saat lulus SMP mama mengajak aku jalan-jalan ke Yogyakarta. Saat lulus SMA, mama katanya ingin mengajak aku pindah ke Jakarta sekalian aku melanjutkan kuliah di sana."

"Oh, kalau mengenai pindah ke Jakarta itu memang ideku, Flo. Sebenarnya setelah menikah aku mengajak kalian untuk ke Jakarta. Aku sudah menyiapkan rumah dan juga universitas yang bagus untukmu. Hanya saja aku tidak menyangka mama kamu tiba-tiba pergi tanpa kabar. Tapi bagaimanapun juga aku pernah berjanji pada mamamu, akan menjaga kamu seperti anakku sendiri!"

"Terima kasih, Om."

"Kalau kamu takut ketinggian tidurlah, nanti kalau sudah sampai aku bangunkan."

"Iya, Om."

"Bisakah mulai sekarang jangan panggil Om?"

Deg! 

Setiap kali Om Abimanyu menatap aku serius, aku selalu merasa takut. Karena memang wajah Om Abimanyu nampak begitu tegas. 

"Lalu—aku harus memanggil apa?" tanyaku gugup.

"Abi."

"Hah? Nama saja? Kurasa itu tidak sopan."

"Hm. Di Jakarta, semua orang tahunya kamu istriku. Akan aneh kalau kamu memanggilku dengan sebutan Om."

"Abi ..."

"Yups bagus, kamu harus mulai terbiasa."

Sesampainya di tempat tujuan, aku terpana dengan rumah megah milik Om Abimanyu. Rumah berlantai tiga dengan taman yang luas, air mancur.

Mata ini terpukau dengan keindahan bunga mawar yang sedang mekar-mekarnya, juga ikan-ikan cantik yang harganya pasti mahal. 

"Ini benar rumahmu, Om?" tanyaku berasa mimpi. 

"Rumah kita, Flo. Dan jangan panggil aku Om lagi!"

"Maaf," cicitku meringis malu.

"Ayo aku tunjukkan kamar kamu!"

Saat memasuki rumah, sudah ada seorang lelaki setengah baya serta empat orang pelayan perempuan muda yang menyambut kami. 

"Selamat datang, Tuan, Nyonya."

Aku tersenyum kikuk, rasanya canggung dipanggil Nyonya. 

"Dia Pak Rasyid, kepala pelayan di rumah ini. Kalau kamu butuh apa-apa bisa panggil dia!" tutur Om Abimanyu.

Aku hanya menganggukkan kepala, aku tidak menyangka jika Om Abimanyu ternyata sekaya ini. 

Lalu Om Abimanyu membawaku menaiki lift, sampai di lantai tiga. 

"Ini kamar kita, Flo."

"Hah, kamar kita?" pekikku kaget. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 30

    POV Florina.Aku benci dia...Benci pada cara dia menyebut namaku seolah tak ada yang salah di antara kami. Benci pada ketenangan suaranya, saat jiwaku adalah badai tak bernama. Benci pada kelembutannya, yang kini mulai meretas celah-celah hatiku yang retak.Aku benci Om Abimanyu. Tapi... mengapa di dalam dekapannya, aku merasa damai?Mengapa di tengah gelapnya malam yang tak kukenal, dekapan pria itu justru terasa seperti rumah? Entah ini suara hatiku, atau suara halus dari kehidupan mungil yang kini kutitipkan di rahimku.Mungkin ini cinta. Atau sekadar bias dari rasa lelah yang tak pernah kutumpahkan.Atau mungkin... aku hanya terlalu rindu, terlalu rapuh, terlalu ingin dimengerti.Dia mendekatiku, membawa semangkuk bubur yang mulai hangat dengan uap kesabaran.“Pelan-pelan makannya,” katanya, dengan suara serupa gumaman angin sore yang membelai ubun-ubun.Tangannya menggenggam sendok, lalu menyuapik

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 29

    POV FlorinaAku kira dengan rasa benci bisa melupakannya, tetapi ketika aku mendapat kabar dari Kak Putra jika Om Abimanyu baru saja keluar dari kamar hotel dengan seorang perempuan hatiku terasa sakit. Ternyata cintaku padanya tak sedangkal itu.Dengan penuh tekat, akupun mengirim pesan untuk bercerai.Bahkan tanganku sampai gemetar, ponsel yang aku pegang terjatuh ke lantai. Begini saja aku sudah tidak mampu menanggungnya, apakah selemah ini diriku? Tiba-tiba terdengar bunyi teriakan dari tetangga, aku yang panik segera menghapus air mata dan keluar dari rumah. "Ada apa?" tanyaku heran. Tapi perasaan aku sudah tidak enak. "Mama kamu—masuk rumah sakit!" "Hah? Kok bisa?" pekikku syok."Tadi katanya di warung ada orang yang menghina kamu, mama kamu nggak terima dan akhirnya mereka berantem. Mama kamu lawan tiga loh, walau menang tapi akhirnya pingsan dan banyak luka."Aku langsung meminta bantuan tet

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 28

    Aku bukan tipe laki-laki yang senang menghabiskan malam di tempat bising dengan lampu kelap-kelip dan dentuman musik. Tapi malam ini, aku membiarkan diriku hanyut dalam kebodohan yang dirancang oleh dua sahabatku—Tian dan Abbas.Abbas akan segera menikah dan pindah ke Bandung bersama istrinya. Sebuah babak baru dalam hidupnya yang seharusnya dirayakan. Dan Tian, seperti biasa, menyarankan sesuatu yang tidak pernah aku setujui sejak dulu, tapi kali ini aku tak punya tenaga untuk menolak."Ayo, sekali ini aja, Bi. Mumpung kita masih bisa ngumpul bertiga. Nanti kalau kamu sudah punya anak, makin susah kita ketemu," ujar Tian sambil tertawa, menepuk bahu Abbas.Aku hanya mengangguk pelan, mengangkat gelas tanpa semangat. Tenggorokanku terasa pahit, bahkan sebelum alkohol itu menyentuh lidahku.Jujur saja, aku masih belum pulih sepenuhnya dari demam. Tubuhku lelah. Tapi lebih lelah lagi hati ini. Di antara ribuan langkah kaki orang-orang asing malam it

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 27

    Tubuhku masih belum benar-benar pulih. Tapi berdiam diri di rumah justru membuatku lebih sakit dari sekadar demam.Tiap sudut rumah ini penuh dengan bayang-bayangnya. Bayang seorang perempuan yang masih memanggilku “Om” dengan suara lembut tapi menohok, yang diam-diam mengisi seluruh isi hidupku tanpa izin, dan sekarang memilih pergi, meninggalkanku dengan sunyi yang mencekik.Aku duduk di belakang kemudi, menatap kaca spion.Wajahku pucat. Mata sayu. Tapi tidak ada yang lebih menyakitkan dari dada ini yang makin hari makin sesak karena tidak bisa memeluknya.Florina.Aku tahu aku brengsek.Aku tahu aku menyakitimu.Tapi... aku juga manusia. Yang pada akhirnya mencintai lebih dalam daripada yang kuprediksi.Sampai di kantor, semua terasa datar. Lobi yang biasanya aku lewati tanpa pikir sekarang terasa seperti lorong panjang penjara. Senyum para staf tidak menyentuhku hari ini. Tidak ada yang bisa menyentuhku har

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 26

    (POV Abimanyu)Jakarta selalu panas seperti biasa, tapi kali ini aku merasa lebih dingin dari kulkas. Bukan karena cuaca. Tapi tidak ada Florina.Ranjang disisiku kosong.Lengan ini kosong.Tidak ada lagi suara manja yang memanggilku. Tidak ada tangan mungil yang menyentuh pipiku saat aku tertidur, tidak ada lagi aroma wangi dari rambut dan lembutnya kulit istriku. Hari keempat tanpa kehadirannya. Hari keempat juga ponselku sunyi dari balasan.Padahal aku sudah mengirim banyak pesan. "Jangan lupa sarapan.""Kalau kamu pusing, jangan minum obat sembarangan.""Aku tahu kamu marah, tapi tolong jaga kandungan kamu baik-baik.""Florina, aku kangen. Kamu baik-baik aja di sana?""Balas sekali saja, ya sayang... biar aku tenang."Semua terkirim. Tapi tidak ada centang biru.Dia mematikan notifikasi baca. Bahkan mungkin... dia sengaja tidak mau melihatnya sama sekali.Tubuhku terasa berat. Lebih berat dari meminggul batu satu ton, rasa bersalah yang menumpuk hari demi hari kian menyiksaku.B

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 24

    Aku berlari menuju ke kamarku sendiri, aku kunci pintu dari dalam agar suamiku dan mama tidak bisa masuk. Meskipun mereka terus mengetuk pintu, aku tidak mau membukanya. Sumpah demi apapun, aku tidak bisa menerima semua kebohongan ini. Walaupun selama ini Om Abimanyu memperlakukan aku dengan baik, nyatanya dia menikahiku karena untuk balas dendam pada mama sementara mama dulu meninggalkannya karena keadaan yang memaksa. Lalu siapa yang menjadi korban? Antara aku—mama dan Om Abimanyu kami semuanya menjadi korban. Tapi cara Om Abimanyu yang menarikku dalam kehidupannya terlalu keji, sialnya aku sudah mulai mencintainya dan bahkan aku tengah hamil anaknya. Setelah aku mulai tenang, aku diam-diam keluar dari kamar karena haus. Tapi rumah mama yang tidak lebih besar dari ruang tamu milik Om Abimanyu terasa begitu sunyi. Di rumah ini hanya ada kamar dua, lalu dimana Om Abimanyu? Saat aku masuk ke kamar mama, di sana juga kosong. Saat aku ke dapur, aku mendengar suara bisik-bisik. Ru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status