Share

Bab 3

Author: Masatha
last update publish date: 2025-08-21 10:45:22

Usai sarapan di restoran, Om Abimanyu mengajak aku untuk mencari mama. Tempat pertama yang kita tuju adalah kantor tempat mama bekerja. Tetapi sesampainya di sana mama tidak ada, malah katanya mama sudah mengundurkan diri lima hari yang lalu dengan alasan ingin fokus menjadi IRT setelah menikah.

"Om, bagaimana ini?" rengekku kembali meneteskan air mata, "Aku khawatir dan aku juga merindukan mama."

Tiba-tiba saja Om Abimanyu menyeka air mataku lalu hendak memelukku, aku tahu dia sedang mencoba menenangkanku. Tapi meskipun Om Abimanyu adalah suamiku aku tetap harus menjaga jarak. Akupun—melangkah mundur.

"Kau takut padaku?"

"Ti—tidak, aku hanya tak terbiasa bersentuhan fisik dengan lawan jenis," jawabku gugup. Aku takut sekilas tadi tatapan Om Abimanyu nampak kesal.

"Bagus, jadi perempuan memang harus punya prinsip dan tidak murahan."

Untuk sesaat, Om Abimanyu tersenyum tipis. Senyuman yang sulit untuk aku artikan apa maksudnya.

"Kita mau cari mama kemana lagi, Om?" selaku tak ingin membuang waktu. Aku takut mama dalam keadaan bahaya.

"Bagaimana kalau ke rumah saudaramu? Kamu tahu kan rumah mereka?"

"Mama anak tunggal, nenek dan kakek sudah tiada semua. Kalau saudara aku tidak tahu, sebab sejak aku lahir hanya bersama mama saja dan tidak pernah diajak ataupun bertemu keluarga lain," jawabku apa adanya.

"Pacar mamamu yang lain, mungkin?"

"Tidak!" jawabku tegas. " Selama ini mama tidak pernah dekat dengan lelaki lain, dia pekerja keras dan baru memperkenalkan teman lelaki hanya Om Abimanyu saja."

Lagi-lagi Om Abimanyu tersenyum smirk, tapi lebih tepatnya seperti sebuah senyuman ejekan.

"Kau tidak bersama mamamu selama 24 jam, Flo. Jadi kamu tidak akan tahu semua tentang mamamu."

"Maksud Om Abimanyu apa?" tanyaku tak paham.

"Bisa jadi, mamamu kabur dengan lelaki lain."

"Tidak mungkin! Mama sangat mencintaimu, Om. Aku malah berpikir bisa jadi mama diculik oleh perempuan yang menyukaimu?" sergahku. Bagiku itu adalah hal yang saat ini dirasa masuk akal.

"Ini bukan drama, Flo. Mana mungkin ada orang yang berani menculik karena negara kita adalah negara hukum. Ayo sembari menunggu kabar dari polisi kita cari disepanjang jalan siapa tahu ketemu mama kamu!"

"Iya, Om."

Aku sedikit kecewa jika Om Abimanyu berpikir mama kabur dengan lelaki lain. Karena aku tahu sendiri segila apa mama terobsesi terhadap Om Abimanyu. Padahal selama ini mama adalah wanita karir yang mencintai pekerjaannya, dan demi Om Abimanyu mama rela melepaskan mimpinya.

Saat mobil berjalan, mataku terus memandang ke jendela siapa tahu bertemu sosok mama. Tapi sampai langit hampir gelap kami masih belum menemukannya.

"Kita pulang ya, Flo. Kita tadi sampai belum makan siang hanya makan roti saja," sela Om Abimanyu.

"Iya, Om."

Kamipun kembali ke hotel, usai mandi makam malam bersama. Meskipun lapar, tapi aku tidak nafsu makan. Setiap kali teringat akan mama hatiku terasa diremas.

"Makan, Flo. Kalau kamu sakit malah nggak bisa mencari mamamu!" tutur Om Abimanyu sembari mengambilkan lauk ke piringku.

"Iya, Om."

Aku mencoba memaksakan diri untuk makan, benar apa kata Om Abimanyu aku harus tetap sehat agar bisa terus mencari mama.

Saat ini Om Abimanyu nampak begitu tenang, sorot matanya memang selalu dingin dan bibirnya jarang tersenyum. Tapi aku tahu—dia orang baik.

"Om ..."

"Iya?"

"Apakah Om Abimanyu sedih karena mama menghilang?"

"Pertanyaan macam apa ini? Tentu saja aku sedih."

Aku hanya menganggukkan kepala, memang pertanyaan bodoh yang keluar dari mulutku barusan. Kalau tidak cinta buat apa Om Abimanyu menunggu mama sampai detik ini. Bayangkan saja, dari jaman mereka SMA sampai kini mama memiliki putri yang berusia 19 tahun.

"Flo ..."

"Iya?"

"Kalau sampai mama kamu tidak kunjung ketemu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Om Abimanyu yang tiba-tiba membuat sekujur tubuh aku gemetar.

Aku tidak bisa, membayangkan saja aku tidak berani. Mama adalah satu-satunya keluarga aku. Mama adalah duniaku.

Air mata ini kembali menetes, aku bisa apa tanpa mama? Meskipun mama jarang memiliki waktu untukku tapi mama tidak pernah membiarkan aku hidup susah. Segala kebutuhan aku tercukupi, dan aku hanya disuruh untuk belajar tanpa mengerjakan pekerjaan kasar di rumah. Mama mendidikku untuk menjadi wanita berprestasi agar kelak bisa memiliki karir cemerlang.

"Jangan nangis, masih ada aku. Bagaimanapun juga aku sekarang adalah walimu, kamu akan menjadi tanggung jawabku!" sela Om Abimanyu sembari menyerahkan tissue di depan wajahku.

Aku menerimanya, lalu menghapus air mataku sendiri.

Kalau mama tidak kembali juga, aku tidak punya siapa-siapa lagi. Sementara aku baru lulus SMA, sementara aku tidak memiliki kemampuan untuk hidup keras. Tetapi aku juga sadar diri, aku hanya pengantin pengganti. Tidak pantas bagiku menggantungkan hidupku dengan Om Abimanyu!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 56

    Sebulan, dua bulan, tiga bulan. Aku seperti orang gila yang sedang menanti reda dari badai yang tak kunjung usai. Aku sengaja menjaga jarak. Pulang ke rumah Om Abimanyu dan Tante Florina hanya sebulan sekali—kadang dua kali kalau tidak bisa menghindar. Tapi selebihnya, aku memilih sibuk. Sibuk bekerja, sibuk rapat, sibuk membenamkan diri ke dalam tumpukan laporan dan angka-angka.Aku terlalu pengecut untuk mengakui alasan sesungguhnya: Naraya.Hari kelulusannya datang. Momen yang seharusnya membahagiakan bagi semua keluarga. Tapi aku malah memilih berangkat ke luar kota. Alasan yang kususun rapi—rapat dengan klien, dokumen penting yang harus kutandatangani, bahkan meeting darurat yang padahal tidak pernah ada.Sebenarnya bukan karena aku tidak ingin hadir. Tapi aku takut.Takut melihatnya berdiri di panggung, tersenyum dengan seragam putih abu-abu yang sebentar lagi akan dilepas. Takut melihat matanya mencari sosokku di kerumunan, dan aku harus pura-pura tak peduli. Takut jika saat it

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 54

    Hari pertama di kantor seharusnya jadi langkah penting dalam hidupku. Tapi tidak ada yang terasa benar-benar penting saat pikiranku masih tertinggal di bangku alun-alun—di antara tawa Naraya dan sorot mata hangat Devan.Senyum itu...Tatapan itu...Naraya bukan lagi gadis kecil yang menangis di balik pintu saat aku pamit pergi ke Amerika. Dia kini perempuan muda yang mulai dicari, ditunggu, dan disayangi dengan cara yang berbeda. Dan Devan—lelaki muda yang datang di waktu yang kuabaikan—telah menjadi seseorang yang memiliki ruang di hatinya.Dan aku?Aku hanya kembali untuk menyadari bahwa tempatku tak lagi sama.---Malam itu, aku sengaja lembur. Padahal tidak ada yang benar-benar penting. Layar laptop menyala, tapi tak satu pun dokumen kubuka. Aku hanya duduk di sana, membiarkan waktu menenggelamkanku perlahan.Bukan karena sibuk. Tapi karena aku takut pulang.Takut jika kembali ke rumah akan membuatku kembali melihat mereka bersama. Takut mendengar Naraya menyebut nama "Devan" deng

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 53

    Pagi di rumah ini selalu terasa hangat. Wangi kopi dari dapur, suara langkah Tante Florina yang sibuk menyiapkan sarapan, dan gemericik air dari taman belakang. Tapi pagi ini... lebih dari sekadar hangat.“Ini untukmu,” ujar Om Abimanyu sambil menyodorkan benda kecil mengilat.Aku menatap kunci mobil di tangannya dengan tatapan heran. “Om?”“Hadiah. Kamu akan mulai bekerja hari ini. Layak mendapat kendaraan yang pantas.”Aku masih terdiam ketika suara alarm mobil berbunyi di luar. Aku menoleh ke jendela.Mobil hitam mengilap itu terparkir sempurna di garasi. Mobil mewah berkelas, yang bahkan hanya kulihat di jalanan Beverly Hills sewaktu kuliah.“Om… ini terlalu…”Om Abimanyu menepuk pundakku. “Jangan berlebihan. Kamu akan jadi wakil direktur. Anggap ini bagian dari tanggung jawab besar yang kamu emban.”Aku mengangguk, masih merasa belum cukup pantas. Tapi sangat berterima kasih.“Waaah, Kak Dipta dapat mobil baru, ya?”Suara lembut itu datang dari tangga. Naraya muncul dengan seraga

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 52

    POV DIPTA Besok adalah hari pertamaku bekerja di kantor pusat Om Abimanyu. Tapi pagi ini aku belum beranjak dari kamar. Di atas meja kerja kecil yang disiapkan di sudut ruangan, beberapa berkas sudah terbuka. Aku membaca ulang profil perusahaan, struktur divisi, laporan keuangan tahun lalu—berusaha mencuri start sebelum terjun langsung.Suara AC mendesis pelan. Jemariku menyusuri angka-angka dan bagan, tetapi fokusku sering teralihkan oleh pikiran lain. Aku gugup. Ini bukan pekerjaan biasa. Ini adalah tanggung jawab yang dipasrahkan dengan kepercayaan penuh. Aku harus siap.Tiba-tiba…Tuk tuk tuk.Ketukan ringan terdengar dari balik pintu. Suaranya halus, hampir seperti bisikan. Lalu disusul oleh ucapan salam yang mengalun begitu lembut.“Assalamu’alaikum…”Suara itu…Merdu. Hangat. Seolah membangunkanku dari lamunan.Aku bergegas bangkit dan membuka pintu, sambil menjawab salamnya. Dan di sanalah dia—berdiri dengan seragam putih abu-abu, rambut panjangnya dikuncir rendah, wajahnya b

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 51

    Seminggu setelah Dipta mengirimkan sampel ke luar negeri, ini aku sudah memegang map hasil dari DNA. Dan saat aku membukanya aku syok karena ternyata selama 7 tahun ini aku sudah membesarkan anak orang lain. Sungguh aku tidak menyesal telah mengeluarkan uang kepada Deni, aku hanya kasihan terhadap Florina dan Naraya karena terpaksa menerima semua keadaan. Di mana mereka mau tak mau harus menerima kehadiran Deni yang lahir dari wanita lain. "Om Abi, untuk urusan Om Rifki biar aku yang menyelesaikannya. Sekarang kamu selesaikan dulu masalah dengan Deni," ucap Dipta.Aku menatap Dipta dengan rasa bangga, dia tumbuh menjadi lelaki dewasa yang sangat bisa diandalkan."Terima kasih ya, Dip.""Sama-sama, Om."Setelah itu akupun perfi. Aku menyandarkan tubuh di balik kemudi, menatap langit Jakarta yang mendung, seolah langit ikut menyelami beban hatiku.Teleponku berdering—Sam.Orang yang selama ini begitu kupercaya, bahkan lebih dari keluargaku sendiri. Asisten yang setia mendampingi cukup

  • Belenggu Mantannya Mama   Bab 50

    Tujuh tahun telah berlalu sejak badai besar dalam hidup kami reda. Waktu seperti berlari, membawa banyak perubahan—tapi satu yang tak pernah berubah adalah kehangatan yang diciptakan oleh keluarga kecil kami. Kini, rumah ini tidak lagi hanya berisi kenangan, tapi juga harapan yang perlahan tumbuh dengan manis.Naraya kini berusia tujuh belas tahun. Gadis kecil kami telah tumbuh menjadi sosok muda yang memikat—tidak hanya karena kecantikannya yang alami, tapi juga karena kepintarannya yang luar biasa. Sejak usia belia, Naraya sudah menunjukkan bakat besar di dunia seni. Kini, karya-karyanya sebagai pelukis muda dikenal luas, bahkan beberapa dipamerkan di galeri nasional. Orang-orang menyebutnya pelukis jenius.Tapi bagiku dan Florina, dia tetap Naraya kecil kami. Anak perempuan yang suka mencoret-coret tembok dengan krayon, dan dengan polosnya bilang itu "lukisan langit".Hari ini adalah hari yang kami tunggu-tunggu. Aku dan Florina bersiap menjemput Dipta di bandara. Bukan anak kandun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status