LOGINDua hari telah berlalu sejak toko bunga milik Alex kembali berdiri. Alex merasa bangga dan sedikit lega karena akhirnya ia bisa mewujudkan mimpinya memiliki toko bunga sendiri. Namun, di tengah-tengah kegembiraannya, ada sedikit hal yang membuat Alex merasa sedih.Alex berharap Amanda bisa datang ke tokonya, memberikan sedikit ucapan selamat atas apa yang sudah ia lakukan. Ia ingin melihat senyum Amanda, ingin mendengar suaranya yang lembut, dan ingin merasakan kehangatan kehadiran Amanda di sekitarnya.Tapi harapan Alex tidak terwujud. Amanda tidak datang ke toko bunganya. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Amanda di sekitar toko. Alex merasa sedih dan sedikit kecewa.Saat ia sedang menyusun bunga-bunga di toko, ia menerima sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal. "Alex, aku tahu kamu pasti sibuk dengan toko barumu. Selamat atas kesuksesanmu. Tapi tolong, jangan coba-coba menghubungi aku lagi. Aku tidak ingin ada hubungan apa-apa dengan kamu lagi."Alex merasa seperti disambar petir.
Rudi membanting handphone Amanda dengan keras, membuat Amanda terkejut. "Kamu masih berhubungan dengan Alex? Kamu tidak tahu malu?" Rudi berteriak, wajahnya merah karena marah. Amanda merasa dirinya seperti diserang, ia mundur ke belakang sambil memegang perutnya yang sudah mulai membesar. "Rudi, aku... aku hanya..." Rudi tidak membiarkan Amanda menjelaskan. "Tidak ada penjelasan! Kamu sudah hamil, Amanda. Kamu tidak boleh berhubungan dengan Alex lagi. Dia sudah dibayar, dia sudah pergi." Amanda merasa dirinya seperti disambar petir, ia merasa seperti dirinya tidak berharga. "Rudi, tolong... tolong dengarkan aku." Tapi Rudi tidak mau mendengarkan. "Tidak ada lagi, Amanda. Kamu milikku sekarang. Kamu akan menjadi ibu dari anakku, dan kamu tidak akan pergi ke mana-mana." Margaret masuk ke dalam ruangan, wajahnya terlihat tenang tapi tegas. "Apa yang terjadi di sini?" dia bertanya, melihat Rudi yang masih marah dan Amanda yang menangis. Rudi langsung memanggil Margaret. "Ibu, Amand
Nina memeluk Amanda erat, air matanya mengalir deras di bahu Amanda. "Amanda, aku tidak tahu apa yang salah dengan Alex," dia berbisik, suaranya tercekik oleh tangis. "Dia berubah, Amanda. Dia tidak seperti dulu lagi. Aku merasa seperti ada yang hilang di antara kami." Amanda membalas pelukan Nina, mencoba menenangkannya. "Apa yang terjadi, Nina? Ceritakan padaku," dia berkata dengan lembut. Nina menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. "Aku tidak tahu, Amanda. Alex tidak mau bercinta denganku lagi. Dia selalu menolak aku. Aku merasa seperti aku tidak menarik lagi baginya." Amanda mengusap rambut Nina, mencoba menghiburnya. "Aku yakin itu tidak benar, Nina. Alex pasti masih mencintaimu. Mungkin dia hanya sedang stres atau ada masalah lain." Tapi Nina tidak percaya. "Aku tidak tahu, Amanda. Aku merasa seperti ada sesuatu yang salah. Aku merasa seperti aku kehilangan." Amanda memegang tangan Nina, mencoba memberikan kekuatan. "Nina, kamu harus kuat. Kamu tidak bisa m
Malam nampak biasa, Alex dan Nina berbincang layaknya suami istri di atas ranjang. Membahas perkembangan anak mereka yang tumbuh dengan begitu cepat. Alex bahagia memuji Nina sebagai ibu yang luarbiasa. Nafkah batin pun di harapkan oleh Nina. Ia mulai menggoda dengan kata-kata yang sedikit jorok. Tetapi Alex tidak langsung terpancing. Alex masih cukup kuat. Nina yang terlihat begitu berharap bisa bercinta di malam ini. Akhirnya menggunakan cara yang lebih ekstrim. Tanpa berkata-kata, Nina mulai menjamah bagian sensitif dari Alex. Ia meraba dengan perlahan. Mulai menggunakan tangannya untuk melemahkan iman dari Alex. Alex merasa dirinya mulai terpengaruh, tapi tiba-tiba wajah Amanda muncul di benaknya. Ia segera menghentikan rasa ingin bercinta dalam dirinya. Seolah Amanda meminta Alex untuk tidak melakukannya dengan Nina. Menjaga perasaan dari Amanda sekali lagi. "Nina, stop. Aku tidak bisa malam ini," Alex berkata dengan suara yang lembut, tapi tegas. Nina merasa diriny
Rudi terlihat kesal saat menjemput Amanda di kantor sekuriti, wajahnya merah karena malu. "Amanda, apa yang kamu lakukan? Kamu tidak bisa seperti ini," Rudi berkata dengan suara yang tegas. Amanda merasa dirinya terjebak, ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Alex yang berdiri di sebelahnya, mencoba membela Amanda. "Rudi, ini semua salahku. Aku yang salah, jangan salahkan Amanda," Alex berkata dengan suara yang tenang. Rudi memandang Alex dengan mata yang tajam. "Kamu? Apa yang kamu lakukan dengan Amanda?" Rudi bertanya dengan suara yang keras. Alex tidak mundur, ia memandang Rudi dengan mata yang teguh. "Aku yang salah, Rudi. Aku yang salah dalam memperlakukan Amanda. Jangan salahkan dia," Alex berkata dengan suara yang tegas. Amanda merasa dirinya terharu, Alex membelanya di depan Rudi. Tapi Rudi tidak bisa menerima penjelasan itu, ia masih merasa kesal. "Amanda, kita harus bicara tentang ini," Rudi berkata dengan suara yang tegas, lalu memegang tangan Amanda dan membawany
Alex dengan lembut mengusap wajah Amanda, membersihkan sedikit debu yang ada. Amanda merasa nyaman dengan sentuhan Alex, dan ia tidak bisa menahan perasaannya yang mulai berubah. Tiba-tiba, Alex melepaskan kendali dan dengan berani mencium romantis bibir Amanda. Amanda hanya bisa pasrah dan mengikuti apa yang Alex lakukan, merasa jantungnya berdetak kencang. Ciuman itu terasa seperti mimpi bagi Amanda, dan ia tidak bisa menolak perasaan yang mulai tumbuh di hatinya. Alex membalas perasaan Amanda, dan ciuman itu menjadi semakin intens. Amanda merasa dirinya terbawa oleh perasaan yang kuat, dan ia tidak bisa menahan diri lagi. Ia membalas ciuman Alex dengan penuh gairah, merasa dirinya hidup kembali. Tiba-tiba, Amanda sadar apa yang sedang terjadi dan ia langsung melepaskan diri dari Alex. "Alex... apa yang kita lakukan?" Amanda bertanya dengan suara yang bergetar, merasa sedikit panik. Alex memandang Amanda dengan mata yang penuh kasih, dan ia tidak bisa menyembunyikan perasa







