Masuk“Cepat sekali perginya,” sambung Ravin setengah berbisik. “Itu yang membuatku semakin bingung,” ujar Aneya pelan dengan pandangan yang masih tertuju pada tempat yang sama tersebut. Aneya mengembuskan napas panjang. Ada rasa tidak nyaman yang kembali menetap di dadanya, terlebih setelah semua yang terjadi belakangan ini. Ia masih mencoba mengingat kembali wajah pria tersebut, berharap ingatannya tidak keliru. “Kita kembali ke kantor saja, sambil menunggu kabar dari mereka. Semoga saja tidak ada gerakkan tambahan yang dibuat oleh Arya,” kata Ravin kemudian. Aneya menoleh kepadanya. Ia tidak banyak berdebat dan hanya mengangguk kecil. Mereka pun berlalu meninggalkan area tersebut. Aneya berjalan di sisi Ravin menuju pintu keluar, tetapi beberapa kali ia masih sempat melirik ke belakang. Berharap sosok yang tadi dilihatnya tiba-tiba muncul dari arah mana saja di area restauran itu. Begitu pintu restoran terbuka, udara dari luar menyambut wajahnya. Aneya menarik napas dalam-dalam sebe
Tatapan Ravin tertahan beberapa saat. Aneya menangkap sesuatu yang berbeda di sana, ada kecemasan yang disembunyikan di balik wajah pria itu yang tetap berusaha tenang. Rahangnya memang sempat mengeras, tetapi Ravin masih mengatur napasnya perlahan, seolah tidak ingin membuat kegelisahan Aneya semakin buruk. “Aku tahu ini membuatmu khawatir, tapi kumohon padamu untuk tetap tenang. Kita belum tahu apakah pria itu benar-benar Arya. Jangan sampai kita membuat kesimpulan sebelum memastikan semuanya,” ujar Ravin rendah. Aneya mengangguk kecil, meski jemarinya masih saling menggenggam di atas meja. Cara Ravin berbicara sedikit meredakan sesak di dadanya, tetapi bayangan sosok yang tadi dilihatnya masih terus berputar di kepala. Ravin tiba-tiba bangkit dari kursinya. Gerakan pria itu membuat Aneya refleks mendongak, matanya mengikuti Ravin yang kini mengambil beberapa langkah menjauh dari meja. “Tunggu di sini, tidak akan lama,” kata Ravin dengan suara yang perlahan memudar. Aneya
“Lagipula aku tidak ingin tenagamu habis hanya karena memikirkannya, aku tidak melarangmu bercerita, aku harap kau tidak mengartikan seperti itu,” lanjut Ravin dengan senyum hangat yang menghias wajahnya. Aneya mengangguk kecil, senyum tipis sempat terukir sebelum ia kembali mengambil sepotong ayam di hadapannya. Percakapan tentang masa lalu perlahan mereka tinggalkan. Kini, yang terdengar hanya suara bungkus makanan yang sesekali bergesekan, denting es di dalam gelas minuman, dan tawa kecil yang muncul di sela-sela obrolan ringan mereka. Untuk beberapa saat, Aneya membiarkan dirinya menikmati makan siang itu tanpa memikirkan apa pun yang telah terjadi sebelumnya. Kehadiran Ravin saat ini membuatnya mampu mengalihkan hal yang sempat mengganggu pikiran. Ravin meletakkan bungkus makanan setelah suapan terakhir. “Tunggu di sini, biar aku yang bayar.” Aneya spontan menahan tangan pria tersebut. Bahkan sebelum Ravin sempat berdiri. “Biar aku saja,” cegah Aneya, “sesekali aku yang
Aneya mendongak ke sumber suara. Matanya membulat ketika melihat Ravin berdiri di hadapannya dengan sebuah nampan di tangan. Pria itu meletakkannya di atas meja, memperlihatkan dua dus kecil ayam goreng, nuget ayam, kentang goreng, dua gelas minuman bersoda, dan dua gelas es krim. Aneya mengedip beberapa kali. Pandangan matanya berpindah dari makanan sebanyak itu kepada Ravin, lalu kembali lagi pada nampan. “Ravin…,” ucap Aneya, hanya nama itu yang berhasil lolos dari bibirnya. Pria tersebut menarik kursi di hadapannya dan duduk santai. Pandangannya fokus pada Ravin yang kemudian membagi menu tersebut untuk dirinya dan kemudian menyampirkan nampan di samping meja mereka. “Aku tahu hal itu masih membuatmu trauma,” kata Ravin, “tapi, makan dulu sebelum semuanya menjadi dingin,” Aneya melirik dua gelas es krim yang terletak di atas meja. Ia kemudian mengangkat alisnya sambil menahan senyum. “Es krim ini bukannya sudah dingin?” celetuk Aneya dengan nada bercanda. Ravin terli
Ravin terkekeh pelan. “Kau pasti mulai merasa kepanasan.” “Benar. Cuaca hari ini membuatku gerah,” sahut Aneya sambil mengusap tengkuknya. Tanpa terlalu memikirkannya, ia membuka dua kancing bagian atas kemejanya. Bukan untuk menarik perhatian dari Ravin, melainkan semata-mata agar udara terasa lebih lega di sekitar lehernya. Aneya kemudian mencondongkan tubuh ke arah panel pendingin udara. Jemarinya baru saja hendak menekan tombol ketika ia merasakan tatapan dari arah samping. Ia langsung menoleh dan Ravin sedang memandanginya. Tatapan pria itu tidak lagi setenang beberapa saat lalu. Matanya sempat turun sekilas sebelum kembali bertemu dengan pandangan Aneya, sementara senyum tipis perlahan muncul di sudut bibirnya. “Astaga!” seru Aneya dalam hati. Aneya terdiam. Baru menyadari posisi kemejanya, ia buru-buru merapikan bagian kerah yang terbuka. “Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Aneya berusaha terdengar biasa. Ravin hanya mengangkat alis, seolah tidak merasa bersalah
Ravin terkekeh pelan, entah dibagian mana yang membuat pria itu merasa lucu. Lirikan mata Ravin jatuh pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan, sorot mata itu kemudian menatap Aneya dengan teduh. “Pantas saja kau bertanya seperti itu, sekarang sudah mendekati pukul Waktu Aneya Bagian Makan Siang,” canda Ravin yang sontak melepaskan tawanya. Aneya mengerucutkan bibirnya sambil mendorong pelan dada pria itu, sedangkan Ravin masih menyunggingkan senyum khas di wajah tampan itu. Ketika pria tersebut akhirnya mengambil sedikit jarak, Aneya memperhatikan dengan saksama jemari Ravin yang sibuk merapikan bagian depan kemeja, padahal tidak ada satu pun lipatan yang terlihat berantakan. “Biar aku saja,” kata Aneya cepat dan turut memperbaiki. Tangannya terulur untuk membenahi kerah kemeja Ravin. Gerakannya sempat terhenti ketika menyadari jarak mereka kembali begitu dekat. “Apa sekretarisku sengaja memperlambat waktu makan siang hanya untuk mendapatkan momen seperti ini?” goda
Detik dan menit berlalu, tidak ada tanda-tanda bahwa Aneya akan beranjak. Alih-alih keluar untuk mengambil udara segar atau mengisi perut, ia memilih untuk memeriksa kembali pekerjaannya. “Semuanya sudah lengkap dan aman, apa lagi yang akan ku kerjakan sore nanti? Atau mungkin Ravin ingin menginf
Langkahnya teratur menuju kamar. Ketika Aneya menutup pintu, ia kemudian mendengar getaran yang berasal dari benda pipih di samping bantal. Badan Aneya seolah menuntun dirinya untuk segera memeriksa ponsel tersebut. Sebuah pesan dari Ravin, cukup membuatnya duduk terpaku pada sisi ranjang. “Ter
“Baiklah, aku mengumpulkan semua niat dan tenagaku terlebih dahulu,” jawab Aneya berbicara sendiri dan mengganti posisi menjadi duduk. Ia menarik napas dalam, lirikannya jatuh pada laptop yang berada di atas meja kerja yang dulunya merupakan meja belajar. Pelan kakinya berpijak ke lantai dan berh
Di saat semua orang tengah sibuk dengan hiruk pikuknya dunia, Aneya masih terbaring di atas tempat tidurnya. Perlahan ia membuka mata, memindai sekitar. “Apa aku terlambat lagi hari ini?” tanya Aneya dalam hati. Ia tidak langsung bergegas, Aneya menarik selimut yang berada di ujung tempat tidur







