Share

Bab 4

Author: Lavenhaze
last update Huling Na-update: 2025-12-06 11:19:05

Pukul enam pagi waktu setempat, Aneya masih setengah sadar ketika dering alarm ponselnya bergema mengisi kamar. Suara yang terlalu nyaring untuk pagi yang masih terlihat gelap. Ia mengerjap pelan dan mencoba menatap layar ponsel dengan mata yang berat sebelum akhirnya mematikan alarm tersebut.

“Sejam kedepan aku sudah harus berada di tempat kerjaku,” gumam Aneya.

Aneya masih belum sepenuhnya percaya bahwa ia benar-benar diterima bekerja. Ia benar-benar memulai sesuatu yang baru, hal yang selalu ia impikan sedari dulu.

Aneya bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju lemari. Tangannya meraih setelan yang sudah ia siapkan sejak malam sebelumnya. Aneya mengamati pantulannya yang berada di cermin. Tidak berlebihan dan tidak pula terlalu sederhana.

“Sempurna!” celetuk Aneya seraya tersenyum lebar.

Senyum itu bertahan bahkan ketika ia melangkah keluar dari kamarnya. Ia benar-benar mempersiapkan dirinya dengan sangat baik di hari pertama bekerja.

Aneya sarapan seadanya dengan telur dadar dan segelas air putih, ia sama sekali tidak mendapat siapapun di meja makan. Orang tuanya berangkat kerja lebih dulu sebelum ia bangun.

Kedua orang tua Aneya tentunya sudah diberi tahu oleh Aneya perihal dirinya yang telah diterima bekerja pada suatu perusahaan. Menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi mereka ketika mengetahui hal tersebut.

Aneya merapikan rambutnya. Aroma parfum yang begitu manis juga dipakai olehnya, baunya menyeruak kemana saja ia bergerak. Tampilannya sangat rapih dan elegan, ia tidak ingin terlihat mencolok, hanya ingin terlihat siap.

Tas diraihnya dari balik pintu kamar. Ia melangkah menuju teras rumah, udara pagi menyambutnya dengan hawa dingin tipis. Matahari masih malu menampakan diri, sinarnya belum sepenuhnya jatuh ke pekarangan rumah Aneya.

Ia duduk sebentar, meletakkan tas di atas meja kecil. Namun, ketika hendak berdiri, Aneya menyadari satu hal.

“Sepatu,” gumamnya.

Ia bergegas ke rak sepatu dan mengenakan sepatu hak tinggi favoritnya. Posturnya terasa berbeda, lebih tegap dan lebih siap menghadapi hari.

Ia sudah memberi tahu Arya bahwa ia diterima bekerja di Bhaskara Karya Sejahtera. Respons pria itu semalam datar. Namun, Aneya memilih tidak memikirkannya terlalu jauh. Hari ini terlalu penting untuk dirusak oleh reaksi orang lain.

Aneya meraih ponselnya, jari-jemari lentik itu bermain di atas layar. Ia sedang mengetik sebuah pesan singkat kepada Arya.

Pesan singkat yang berisi sapaan dan beberapa afirmasi sederhana yang biasa dilakukan oleh Aneya. Bahkan ketika hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja.

Begitu pesan terkirim, tidak sampai satu menit panggilan masuk muncul di layar ponselnya. Nama kontak Arya terpampang begitu jelas di dalam benda pipih itu, Aneya mengangkatnya dengan cepat.

“Aku baru bangun dan sudah membaca pesanmu,” ucap Arya dengan nada parau.

Tidak ada juga balasan sapaan yang diberikan oleh Arya. Hanya respon yang statis, seakan ia sama sekali tidak menghargai. Aneya menahan dirinya untuk tidak menghela napas terlalu keras.

“Ah … Baiklah, aku ingin meminta tolong padamu,” ucap Aneya pelan.

“Apa?” tanya Arya singkat.

“Bisakah kau mengantarku pagi ini ke kantor? Ini hari pertamaku. Aku harus tiba lebih awal,” pinta Aneya.

“Tentu,” balas Arya, “tapi, tunggu sebentar, ya,”

“Jangan lama,” timpal Aneya.

“Oh ayolah, aku pasti akan menjemputmu,” sahut Arya.

Panggilan terputus, Aneya menatap layar ponsel yang kembali gelap. Ia berdecak pelan, seolah tidak begitu yakin dengan apa yang dikatakan oleh Arya.

“Semoga saja,” gumam Aneya.

Disisi hati Aneya yang perlahan rapuh, ia sebenarnya masih memberikan sedikit kesempatan bagi Arya untuk memperbaiki. Mengingat yang terjadi sebelumnya cukup membuat ia putus asa akan pria itu.

Sudah pukul tujuh pagi, kurang lebih sejam Aneya menunggu kehadiran Arya. Matahari dengan gagah menampilkan dirinya yang hangat dengan perlahan, menerpa pekarangan rumah Aneya yang cukup luas.

Bahkan matahari pun tak sabar mendahului Arya yang tak kunjung datang. Ucapan yang sudah disepakati sirna sebelum sempat diwujudkan.

“Sungguh keterlaluan!” gerutu Aneya, “ia sama sekali tidak menepati janjinya,”

Ia bangkit, kesal bercampur kecewa. Hari pertamanya tidak boleh hancur hanya karena satu orang. Aneya meraih ponselnya dan memesan kendaraan mobil pada aplikasi khusus transportasi daring.

Ketika kendaraan tiba, ia mengunci pintu rumah dan melangkah masuk ke dalam mobil dengan perasaan campur aduk. Sepanjang perjalanan, ia beberapa kali meminta pengemudi mempercepat laju kendaraan.

Aneya tidak ingin terlambat. Ia juga tidak ingin memberi kesan buruk di hari pertama bekerja.

Gedung Bhaskara Karya Sejahtera akhirnya terlihat. Aneya turun dengan tergesa, melangkah cepat menuju pintu masuk. Hak sepatunya berbunyi nyaring di lantai marmer.

Langkahnya berhenti mendadak. Ia menelan ludahnya dengan susah payah ketika tatapannya bertemu dengan Ravin yang tepat berada di hadapannya. Pria itu berdiri tegap dengan setelan jas yang rapi.

Aneya bergeming, pandangan dari Ravin seolah mengunci dirinya dengan tatapan yang tidak bisa ditebak olehnya. Rasa cemas dan bersalah kini bercampur aduk menjalar dari ujung kepala hingga ujung kaki Aneya.

“Saya mohon maaf, Pak, atas keterlambatan yang saya lakukan. Hari ini saya sudah membuat kesalahan di hari pertama bekerja,” aku Aneya.

Alih-alih merespon Aneya, Ravin justru tidak mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya. Pria itu membalikan badannya dan berjalan meninggalkan Aneya yang masih berdiri di tempat yang sama.

Aneya menautkan alis, tatapannya sarat tanda tanya pada Ravin. Aneya dengan cepat menyusul pria itu.

“Pak, tolong maafkan saya. Saya tidak akan mengulangi hal yang terjadi hari ini di hari esok dan seterusnya,” celetuk Aneya.

Aneya mencoba menyamai langkah pria itu yang cukup cepat. Masih tidak ada respon yang dilantunkan Ravin. Belakangnya seolah menjadi dinding yang meredam suara dari Aneya.

Koridor terasa panjang, beberapa pasang mata melirik mereka sekilas. Aneya menundukkan kepala, wajahnya memanas oleh rasa malu.

“Sial, mau ku letakkan di mana wajahku kali ini,” umpat Aneya dalam hati.

Nyali wanita itu semakin ciut, ia menundukan sedikit kepalanya. Tatapan yang ia terima seolah meremehkan dirinya.

Tanpa sadar, Aneya kini berada tepat di depan pintu ruangan milik Ravin. Pintu ruangan itu masih terkunci rapat.

Terlihat pria itu meraih kunci ruangan yang ada di dalam saku celananya. Ravin mengeluarkan benda tersebut dan langsung melenggang ke dalam ruangan begitu pintu terbuka.

Aneya masih berdiri di ambang pintu. Enggan untuk melangkah masuk walaupun Ravin sudah berada di dalam ruangan.

“Kenapa tidak masuk?” tanya Ravin.

Suara itu akhirnya terdengar. Aneya belum merespon akan hal tersebut.

“Ingin menambah waktu telatmu hari ini?” tanya Ravin sarkas.

Aneya tersentak, ia segera mengayunkan langkahnya dengan pelan dan hati-hati saat menapaki ruangan milik Ravin. Suara dari hak tinggi yang ia pakai bergema di dalam ruangan yang sunyi itu.

Ia duduk di sofa yang sama seperti saat wawancara, tangannya saling menggenggam di pangkuan. Tatapan pria itu jatuh padanya, Aneya merasakan tekanan aneh.

Pandangan Ravin memindai dari ujung rambut hingga ujung kaki Aneya. Tidak ada ketertarikan atau maksud tersembunyi, hanya penilaian datar yang mencoba memahami situasi.

Tatapan itu membuat udara di antara mereka terasa lebih berat. Seakan kulit Aneya ikut merespon walaupun salah satu dari mereka masih bergeming di posisi masing-masing.

“Sial, jangan menatapku seperti itu,” gumam Aneya lirih.

“Maksudmu seperti apa?” tanya Ravin dengan nada datar.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 9: Cemburu yang membakar Senja

    Langit Petang yang berwarna oranye itu kini berubah menjadi warna ungu dibubuhi sedikit warna gelap, ada sedikit bintang yang bertabur di langit. Aneya memperhatikan pemandangan itu dengan seksama, tampaknya ada sedikit hal indah sebagai penutup hari yang buruk untuknya. Aneya berada di area parkir. Kendaraan yang tersisa hanya mobil milik Ravin dan beberapa kendaraan lain milik petugas keamanan yang tetap tinggal untuk berjaga semalaman penuh. “Apakah jemputanmu sudah di perjalanan?” tanya Ravin. “Iya, Pak. Mungkin sebentar lagi akan tiba,” sahut Aneya. Ravin tidak beranjak jauh sama sekali dari Aneya. Pria itu bersandar pada pintu mobil, sembari Aneya berdiri dengan sedikit segan di sampingnya. “Apakah tidak masalah jika saya menemani anda disini seraya menunggu jemputan anda tiba?” tanya Ravin canggung. “Tidak apa-apa, Pak. Justru saya sangat menghargai itu,” balas Aneya tersenyum. “Bagaimana kalau kita pergi makan malam untuk waktu yang sebentar saja, tidak jauh dari

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 8: Di Persimpangan Pulang

    “Oh iya, baik, silahkan,” ujar Ravin. Aneya berlalu dari meja kerjanya, meninggalkan Ravin yang masih berada di tempat. Wanita itu mengambil sedikit ruang yang agak berjarak dari Ravin. “Halo, kau dari mana saja?” tanya Aneya dengan nada yang sedikit berbisik. Aneya sudah menunggu akan momen ini seharian penuh. Ia sedikit tersenyum dan merasa tenang sesaat mendengar suara Arya dari balik benda pipih itu. Ravin menangkap ekspresi Aneya yang tersenyum penuh harap. Pria itu merasa tenang melihat senyum yang sederhana itu daripada melihat raut wajah kerucut yang terpahat di wajah Aneya. “Hey, maaf, aku tadi tidak ada waktu untuk memeriksa ponsel ketika aku sudah bangun,” jawab Arya santai dari seberang sana, “aku bahkan lupa menaruh ponselku dimana setelah aku kembali tertidur,” Aneya tercekat sesaat. Jawaban yang diberikan Arya sangat tidak bisa dicerna oleh pikirannya, seperti ia mencoba menentang hal itu. “Kau serius? Tidak ada waktu atau memang sengaja mengabaikanku hari

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 7: Sisa Waktu yang Tersandera

    Perhatian Aneya pada pekerjaannya akhirnya kalah pada sebuah pertanyaan yang diberikan oleh Ravin. Deru napasnya yang keluar begitu berat seolah mengeluarkan sedikit rasa tertekan yang ada pada dalam dirinya. “Apakah hal itu terlalu penting untuk …” ujar Aneya terpotong, tampaknya ia hampir meluapkan emosinya kepada Ravin. “Pacarmu?” sela Ravin tenang. Aneya sempat terhentak sesaat. Namun, ia memastikan agar tidak ada perubahan yang terjadi dari gerakan tubuh serta ekspresi wajahnya. Aneya kembali melandaskan tangannya pada berkas, mengambil salah satu dan memeriksanya, sementara tangan yang lain bermain di atas papan ketik. “Tanpa mengurangi rasa hormat. Saya mohon kepada anda untuk tinggalkan saya dan jangan mengganggu untuk beberapa jam kedepan, Pak,” pinta Aneya datar “anda ingin semua ini agar cepat selesai ‘kan?” “Iya benar, maaf sudah menyita waktu anda terlalu banyak,” ujar Ravin. Ravin memundurkan badannya, lagi-lagi ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia m

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 6: Ketika Jeda Itu Mengundang

    Aneya kembali berkutat dengan pekerjaannya bersama berkas-berkas yang menggunung. Ia menghela napasnya, hari pertama yang cukup berat dan menantang, ia beberapa kali meloloskan keluh kesahnya. “Rasanya kepalaku mau pecah,” ujar Aneya seraya berdecak ringan. Fokus matanya masih terpaut pada monitor komputer di hadapannya. Bahkan monitor komputer yang ia pakai memiliki layar yang lebih jernih daripada monitor layar laptopnya. “Apakah seperti ini juga nasib para sekretaris sepertiku di luar sana?” tanya Aneya pada dirinya sendiri. “Orang-orang yang menjadi sekretaris di perusahaan besar benar-benar orang yang sangat kuat. Baru setengah hari tapi berbagai macam gerutu sudah keluar dari mulutku,” lanjut Aneya. Ia sudah mencoba meredam pikirannya yang sempat mengkhawatirkan Arya beberapa saat yang lalu. Kembali Aneya memeriksa ponselnya, ia memantapkan diri untuk mengirim pesan singkat kepada Arya. Ia tidak bisa menahan pikiran obsesifnya yang mengganggu disela-sela bekerja.

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 5

    Tatapan Ravin masih membayang dalam benak Aneya, tertinggal seperti bayangan cahaya yang enggan pudar. Terasa mengganggu, melekat terlalu lama, bahkan ketika Aneya sudah berusaha memalingkan wajah dan mengatur kembali napasnya. Ruangan itu seharusnya terasa netral, bersih, rapi dan formal. Namun, keberadaan pria itu membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Aneya masih dapat mendengar bisikan suaranya sendiri yang sempat lolos tanpa ia sadari. Sebuah gumaman lirih, nyaris seperti nada yang baru saja diputar lalu terhenti mendadak. Kesadaran akan hal itu membuat rasa malu menjalar cepat, terlebih ketika balasan Ravin datang dengan nada santai yang terasa menyentil. “Saya tidak bicara apapun sama sekali,” sanggah Aneya sembari menyelipkan rambut ke belakang telinga. “Oh, kalau begitu mungkin pendengaran saya yang bermasalah,” timpal Ravin.Senyum tipis terbit di wajah pria itu. Singkat dan cepat, cukup untuk membuat Aneya kehilangan kata-kata. Aneya men

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 4

    Pukul enam pagi waktu setempat, Aneya masih setengah sadar ketika dering alarm ponselnya bergema mengisi kamar. Suara yang terlalu nyaring untuk pagi yang masih terlihat gelap. Ia mengerjap pelan dan mencoba menatap layar ponsel dengan mata yang berat sebelum akhirnya mematikan alarm tersebut. “Sejam kedepan aku sudah harus berada di tempat kerjaku,” gumam Aneya. Aneya masih belum sepenuhnya percaya bahwa ia benar-benar diterima bekerja. Ia benar-benar memulai sesuatu yang baru, hal yang selalu ia impikan sedari dulu. Aneya bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju lemari. Tangannya meraih setelan yang sudah ia siapkan sejak malam sebelumnya. Aneya mengamati pantulannya yang berada di cermin. Tidak berlebihan dan tidak pula terlalu sederhana. “Sempurna!” celetuk Aneya seraya tersenyum lebar. Senyum itu bertahan bahkan ketika ia melangkah keluar dari kamarnya. Ia benar-benar mempersiapkan dirinya dengan sangat baik di hari pertama bekerja. Aneya sarapan seadanya deng

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status