MasukPukul enam pagi waktu setempat, Aneya masih setengah sadar ketika dering alarm ponselnya bergema mengisi kamar. Suara yang terlalu nyaring untuk pagi yang masih terlihat gelap. Ia mengerjap pelan dan mencoba menatap layar ponsel dengan mata yang berat sebelum akhirnya mematikan alarm tersebut.
“Sejam kedepan aku sudah harus berada di tempat kerjaku,” gumam Aneya. Aneya masih belum sepenuhnya percaya bahwa ia benar-benar diterima bekerja. Ia benar-benar memulai sesuatu yang baru, hal yang selalu ia impikan sedari dulu. Aneya bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju lemari. Tangannya meraih setelan yang sudah ia siapkan sejak malam sebelumnya. Aneya mengamati pantulannya yang berada di cermin. Tidak berlebihan dan tidak pula terlalu sederhana. “Sempurna!” celetuk Aneya seraya tersenyum lebar. Senyum itu bertahan bahkan ketika ia melangkah keluar dari kamarnya. Ia benar-benar mempersiapkan dirinya dengan sangat baik di hari pertama bekerja. Aneya sarapan seadanya dengan telur dadar dan segelas air putih, ia sama sekali tidak mendapat siapapun di meja makan. Orang tuanya berangkat kerja lebih dulu sebelum ia bangun. Kedua orang tua Aneya tentunya sudah diberi tahu oleh Aneya perihal dirinya yang telah diterima bekerja pada suatu perusahaan. Menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi mereka ketika mengetahui hal tersebut. Aneya merapikan rambutnya. Aroma parfum yang begitu manis juga dipakai olehnya, baunya menyeruak kemana saja ia bergerak. Tampilannya sangat rapih dan elegan, ia tidak ingin terlihat mencolok, hanya ingin terlihat siap. Tas diraihnya dari balik pintu kamar. Ia melangkah menuju teras rumah, udara pagi menyambutnya dengan hawa dingin tipis. Matahari masih malu menampakan diri, sinarnya belum sepenuhnya jatuh ke pekarangan rumah Aneya. Ia duduk sebentar, meletakkan tas di atas meja kecil. Namun, ketika hendak berdiri, Aneya menyadari satu hal. “Sepatu,” gumamnya. Ia bergegas ke rak sepatu dan mengenakan sepatu hak tinggi favoritnya. Posturnya terasa berbeda, lebih tegap dan lebih siap menghadapi hari. Ia sudah memberi tahu Arya bahwa ia diterima bekerja di Bhaskara Karya Sejahtera. Respons pria itu semalam datar. Namun, Aneya memilih tidak memikirkannya terlalu jauh. Hari ini terlalu penting untuk dirusak oleh reaksi orang lain. Aneya meraih ponselnya, jari-jemari lentik itu bermain di atas layar. Ia sedang mengetik sebuah pesan singkat kepada Arya. Pesan singkat yang berisi sapaan dan beberapa afirmasi sederhana yang biasa dilakukan oleh Aneya. Bahkan ketika hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Begitu pesan terkirim, tidak sampai satu menit panggilan masuk muncul di layar ponselnya. Nama kontak Arya terpampang begitu jelas di dalam benda pipih itu, Aneya mengangkatnya dengan cepat. “Aku baru bangun dan sudah membaca pesanmu,” ucap Arya dengan nada parau. Tidak ada juga balasan sapaan yang diberikan oleh Arya. Hanya respon yang statis, seakan ia sama sekali tidak menghargai. Aneya menahan dirinya untuk tidak menghela napas terlalu keras. “Ah … Baiklah, aku ingin meminta tolong padamu,” ucap Aneya pelan. “Apa?” tanya Arya singkat. “Bisakah kau mengantarku pagi ini ke kantor? Ini hari pertamaku. Aku harus tiba lebih awal,” pinta Aneya. “Tentu,” balas Arya, “tapi, tunggu sebentar, ya,” “Jangan lama,” timpal Aneya. “Oh ayolah, aku pasti akan menjemputmu,” sahut Arya. Panggilan terputus, Aneya menatap layar ponsel yang kembali gelap. Ia berdecak pelan, seolah tidak begitu yakin dengan apa yang dikatakan oleh Arya. “Semoga saja,” gumam Aneya. Disisi hati Aneya yang perlahan rapuh, ia sebenarnya masih memberikan sedikit kesempatan bagi Arya untuk memperbaiki. Mengingat yang terjadi sebelumnya cukup membuat ia putus asa akan pria itu. Sudah pukul tujuh pagi, kurang lebih sejam Aneya menunggu kehadiran Arya. Matahari dengan gagah menampilkan dirinya yang hangat dengan perlahan, menerpa pekarangan rumah Aneya yang cukup luas. Bahkan matahari pun tak sabar mendahului Arya yang tak kunjung datang. Ucapan yang sudah disepakati sirna sebelum sempat diwujudkan. “Sungguh keterlaluan!” gerutu Aneya, “ia sama sekali tidak menepati janjinya,” Ia bangkit, kesal bercampur kecewa. Hari pertamanya tidak boleh hancur hanya karena satu orang. Aneya meraih ponselnya dan memesan kendaraan mobil pada aplikasi khusus transportasi daring. Ketika kendaraan tiba, ia mengunci pintu rumah dan melangkah masuk ke dalam mobil dengan perasaan campur aduk. Sepanjang perjalanan, ia beberapa kali meminta pengemudi mempercepat laju kendaraan. Aneya tidak ingin terlambat. Ia juga tidak ingin memberi kesan buruk di hari pertama bekerja. Gedung Bhaskara Karya Sejahtera akhirnya terlihat. Aneya turun dengan tergesa, melangkah cepat menuju pintu masuk. Hak sepatunya berbunyi nyaring di lantai marmer. Langkahnya berhenti mendadak. Ia menelan ludahnya dengan susah payah ketika tatapannya bertemu dengan Ravin yang tepat berada di hadapannya. Pria itu berdiri tegap dengan setelan jas yang rapi. Aneya bergeming, pandangan dari Ravin seolah mengunci dirinya dengan tatapan yang tidak bisa ditebak olehnya. Rasa cemas dan bersalah kini bercampur aduk menjalar dari ujung kepala hingga ujung kaki Aneya. “Saya mohon maaf, Pak, atas keterlambatan yang saya lakukan. Hari ini saya sudah membuat kesalahan di hari pertama bekerja,” aku Aneya. Alih-alih merespon Aneya, Ravin justru tidak mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya. Pria itu membalikan badannya dan berjalan meninggalkan Aneya yang masih berdiri di tempat yang sama. Aneya menautkan alis, tatapannya sarat tanda tanya pada Ravin. Aneya dengan cepat menyusul pria itu. “Pak, tolong maafkan saya. Saya tidak akan mengulangi hal yang terjadi hari ini di hari esok dan seterusnya,” celetuk Aneya. Aneya mencoba menyamai langkah pria itu yang cukup cepat. Masih tidak ada respon yang dilantunkan Ravin. Belakangnya seolah menjadi dinding yang meredam suara dari Aneya. Koridor terasa panjang, beberapa pasang mata melirik mereka sekilas. Aneya menundukkan kepala, wajahnya memanas oleh rasa malu. “Sial, mau ku letakkan di mana wajahku kali ini,” umpat Aneya dalam hati. Nyali wanita itu semakin ciut, ia menundukan sedikit kepalanya. Tatapan yang ia terima seolah meremehkan dirinya. Tanpa sadar, Aneya kini berada tepat di depan pintu ruangan milik Ravin. Pintu ruangan itu masih terkunci rapat. Terlihat pria itu meraih kunci ruangan yang ada di dalam saku celananya. Ravin mengeluarkan benda tersebut dan langsung melenggang ke dalam ruangan begitu pintu terbuka. Aneya masih berdiri di ambang pintu. Enggan untuk melangkah masuk walaupun Ravin sudah berada di dalam ruangan. “Kenapa tidak masuk?” tanya Ravin. Suara itu akhirnya terdengar. Aneya belum merespon akan hal tersebut. “Ingin menambah waktu telatmu hari ini?” tanya Ravin sarkas. Aneya tersentak, ia segera mengayunkan langkahnya dengan pelan dan hati-hati saat menapaki ruangan milik Ravin. Suara dari hak tinggi yang ia pakai bergema di dalam ruangan yang sunyi itu. Ia duduk di sofa yang sama seperti saat wawancara, tangannya saling menggenggam di pangkuan. Tatapan pria itu jatuh padanya, Aneya merasakan tekanan aneh. Pandangan Ravin memindai dari ujung rambut hingga ujung kaki Aneya. Tidak ada ketertarikan atau maksud tersembunyi, hanya penilaian datar yang mencoba memahami situasi. Tatapan itu membuat udara di antara mereka terasa lebih berat. Seakan kulit Aneya ikut merespon walaupun salah satu dari mereka masih bergeming di posisi masing-masing. “Sial, jangan menatapku seperti itu,” gumam Aneya lirih. “Maksudmu seperti apa?” tanya Ravin dengan nada datar.Aneya menatap Ravin sederhana. Badannya yang sudah setengah condong ke depan kembali bersandar pada kursi penumpang. Ravin kemudian melepaskan cengkraman ringan yang melilit di pergelangannya sesaat.“Cepatlah, katakan jika ada yang ingin kau sampaikan,” ujar Aneya sambil menyilangkan tangan di dada.Tatapan Ravin masih tertuju padanya, ekspresi pria itu sulit dibaca. Ada helaan napas pelan sebelum Ravin kembali membuka suara.“Jika orang dari masa lalumu kembali…” ujar Ravin berhenti sejenak.Aneya mengernyitkan satu alisnya. Namun, Ravin memalingkan wajah, seolah tidak ingin menatapnya terlalu dalam.“Pastikan kau tidak mengacaukan apa yang sedang kita bangun,” lanjut Ravin sambil meremas kemudi.Aneya terdiam. Beberapa detik kemudian ia kembali menghela napas, ia memberanikan diri memegang pergelangan tangan kiri Ravin.Sorot mata pria itu sedikit terkejut melihat tindakan yang dilakukan Aneya. Namun, tidak ada teguran yang dilayangkan Ravin padanya.“Ravin, aku tidak tahu apa yang
Aneya menelan ludahnya. Tenggorokannya serasa tercekat, untuk pertama kalinya ia mendengar suara pria itu sedikit berbeda, bukan seperti nada yang tegas pada umumnya.“Maksudku…” kata Aneya terpotong sambil menatapnya.“Tidak apa, Aneya,” sela Ravin, “kau benar akan hal itu,”Raut wajah pria itu terlihat sayu. Aneya hanya bisa bergeming sembari mengulum bibirnya ke dalam, ia kembali terjebak di posisi yang membuat dirinya kesulitan untuk mengambil tindakan selanjutnya.Pria itu kemudian mundur beberapa langkah darinya. Namun, masih dalam jarak yang aman, hanya saja rasa canggung itu kini mengisi jeda yang tercipta.“Jika memang bukan urusanku, kau tidak perlu menjelaskan,” kata Ravin dengan nada tenang.Aneya menangkap nada pria itu seperti dipaksa untuk menerima keputusan. Kepasrahan itu membuat degup jantungnya berpacu dengan cepat, ia merasa sangat bersalah.“Ravin, aku sama sekali tidak bermaksud…” ujar Aneya terpotong sambil mendekati Ravin.“Lalu apa maksudmu?” tandas Ravin kemu
“Aku tahu itu hanya alasanmu saja,” jawab Ravin diikuti dengan gelengan kecil.“Alasanku?!” kata Aneya dengan nada sedikit naik.Netra milik Ravin menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Aneya belum bisa memutuskan tautan pandangan itu begitu saja, atmosfer berubah menjadi sedikit serius di antara mereka.“Kau tidak pernah terlihat seperti seseorang yang menerima telepon salah sambung,” ujar Ravin terdengar sangat kritis.Pada akhirnya, Aneya berhasil memalingkan wajahnya. Menelan ludah pun terasa berat baginya untuk di momen yang sedang berlangsung.“Kau terlalu banyak berasumsi, Ravin,” alibi Aneya sambil menghela napas.Aneya masih tetap pada pendiriannya. Ia sama sekali tidak goyah.“Itu karena kau tidak menjelaskannya,” timpal Ravin tidak mau kalah.Sunyi kembali jatuh di antara mereka. Helaan napas pelan pria itu menggema di telinganya.“Aku memang tidak memaksamu untuk bercerita,” kata Ravin, “tapi aku tahu kau tipikal orang seperti apa,”Aneya menggigit bagian dalam pip
Aneya diam seribu bahasa. Ravin meninggalkannya yang masih mematung, pria itu kembali ke mejanya dengan ekspresi tampak kesal.Ia merasa sudah membuat kesalahan kecil. Bahkan Aneya tidak tahu harus memulai dari mana.“Duduk, ini tidak lama,” pinta Ravin dengan nada Rendah.Langkah kaki Aneya mengayun pelan menuju sofa. Ia membiarkan pria tersebut berkutat dengan pekerjaannya.Sementara itu, Aneya mengambil posisi duduk yang tepat. Tidak terlalu tegang dan tidak bisa juga disebut terlalu santai, ia menunggu Ravin menyelesaikan semuanya walaupun ia sudah tidak sabar ingin berlalu dari gedung ini.“Apakah menunggumu dihitung sebagai lembur?” tanya Aneya sedikit bergurau.“Anggap saja begitu,” jawab Ravin sederhana, tidak beralih dari monitor.Aneya menghela napas. Candaan yang ia lontarkan tidak berada di waktu yang tepat. Ia sendiri merasa aneh atas kalimat yang keluar dari mulutnya.Beberapa menit berlalu. Dari ekor matanya, Ravin mulai berdiri dari kursi, gerakkannya berubah menjadi s
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Aneya, nyaris seperti desahan. Ia duduk sendiri di ruang kerjanya, layar monitor masih menyala di depannya. Namun, matanya tidak benar-benar membaca apa yang ditampilkan di sana.Pikirannya berjalan ke tempat lain. Ke satu nama yang baru saja kembali muncul setelah sekian lama. Arya.“Apa sebenarnya yang ia inginkan? Dan apa yang sebenarnya juga aku inginkan?” tanya Aneya pada dirinya dengan nada frustasi.Aneya menatap ponselnya yang tergeletak di bawah layar monitor. Tidak ada notifikasi baru. Layar itu tetap gelap, tetapi pikirannya masih dipenuhi percakapan singkat tadi.“Dia merindukanku? Untuk apa?” gerutu Aneya sembari memanyunkan bibirnya.Ia kemudian menghela napas panjang dan menutup dokumen. Tidak ada gunanya memaksakan diri bekerja jika pikirannya terus berputar di tempat yang sama.Tanpa sadar, pikirannya beralih ke Ravin. Tatapan pria itu begitu tenang tadinya, tetapi terlalu memperhatikan.“Iya, Ravin, aku memang menyembunyik
“Ku kira kau mengganti nomor teleponmu,” sahut suara dari seberang.Hati Aneya mencelus begitu saja. Suara itu terlalu akrab untuk disalahartikan dan terlalu mudah untuk dikenali, bahkan setelah sekian lama tidak terdengar. Ada sesuatu di cara orang itu berbicara, tenang, sedikit rendah dan selalu seolah mengetahui bahwa Aneya akan tetap mendengar.Ia mengerjapkan mata beberapa kali, seolah mencoba menenangkan dirinya sendiri. Refleks, lirikan matanya beralih ke Ravin.Pria itu sudah selesai dengan urusannya di meja kerja. Aneya bisa melihat dari sudut matanya bagaimana Ravin berjalan kembali dengan langkah tenang yang sama seperti biasanya dan tidak mencurigai apa pun. Beberapa detik kemudian, Ravin menjatuhkan tubuhnya kembali di sampingnya. Kehadiran itu terasa jelas.“Maaf, mungkin … salah orang,” ujar Aneya gelagapan.Kata-kata itu keluar lebih cepat dari yang sempat ia pikirkan. Ia tidak ingin menyebut nama penelpon tersebut.Ada dorongan aneh di dalam dirinya untuk menyembunyik







