MasukTatapan Ravin masih membayang dalam benak Aneya, tertinggal seperti bayangan cahaya yang enggan pudar. Terasa mengganggu, melekat terlalu lama, bahkan ketika Aneya sudah berusaha memalingkan wajah dan mengatur kembali napasnya.
Ruangan itu seharusnya terasa netral, bersih, rapi dan formal. Namun, keberadaan pria itu membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Aneya masih dapat mendengar bisikan suaranya sendiri yang sempat lolos tanpa ia sadari. Sebuah gumaman lirih, nyaris seperti nada yang baru saja diputar lalu terhenti mendadak. Kesadaran akan hal itu membuat rasa malu menjalar cepat, terlebih ketika balasan Ravin datang dengan nada santai yang terasa menyentil. “Saya tidak bicara apapun sama sekali,” sanggah Aneya sembari menyelipkan rambut ke belakang telinga. “Oh, kalau begitu mungkin pendengaran saya yang bermasalah,” timpal Ravin. Senyum tipis terbit di wajah pria itu. Singkat dan cepat, cukup untuk membuat Aneya kehilangan kata-kata. Aneya menggigit bibir bagian dalamnya, rasa gugup itu tidak lagi samar. Detak jantungnya berpacu pelan, seperti langkah yang terlalu cepat di lorong sempit. Dengan sangat hati-hati, ia mengangkat pandangan dan menatap Ravin, hanya sepersekian detik sebelum kembali menunduk. “Apa yang kau tunggu?” tanya Ravin. “Saya … harus mulai darimana, Pak?” balas Aneya sedikit gugup. Suara Aneya terdengar sedikit bergetar, meskipun ia sudah berusaha menahannya. Ruangan di sekelilingnya terasa begitu besar dan sunyi seolah menggerogoti dirinya yang masih belajar berdiri di dunia orang dewasa. Ravin berdehem ringan. Ia beranjak dari balik meja kerjanya dan berjalan menuju lemari besar di sudut ruangan. Langkahnya terdengar mantap di lantai yang mengilap. Aneya tanpa sadar mengikuti pergerakannya dengan pandangan mata. Cara berjalan pria itu terlihat tenang dan terukur. Postur tubuhnya tegap, memberi kesan seseorang yang terbiasa berada di ruang ini. Aneya segera menyadari bahwa ia menatap terlalu lama. Ravin tiba-tiba menoleh, Aneya refleks menunduk. Tatapannya jatuh pada sepatu hak tinggi yang dikenakannya, seolah benda itu jauh lebih menarik untuk diperhatikan. Pipinya kini terasa menghangat. “Tugas seorang sekretaris bukan untuk menatap atasan sepanjang waktu,” tukas Ravin datar. Aneya terbelalak sesaat, ucapan itu tidak disertai nada tinggi dan tidak terdengar kasar. Namun, karena ketenangannya, kalimat itu terasa jauh lebih menusuk. “Maaf, Pak,” ujar Aneya lirih. Dalam diam, Aneya merasakan perbedaan yang jelas antara pertemuan kemarin dan hari ini. Ravin yang ia temui sebelumnya terasa lebih santai, sementara Ravin pagi ini tampak jauh lebih berjarak. Perubahan itu cepat, nyaris membuatnya tersandung di hari pertama. Ia menarik napas panjang dan menegur dirinya sendiri. Hari pertama bukan waktu yang tepat untuk ceroboh. Tanpa ia sadari, tawa kecil lolos dari bibirnya. Lebih seperti reaksi canggung ketimbang tawa sungguhan. “Apa ada yang lucu?” tanya Ravin datar. “Sama sekali tidak ada, Pak,” jawab Aneya cepat sambil menggelengkan kepala. Tatapan Ravin tertaut beberapa saat padanya, sebelum pria itu kembali fokus pada lemari arsip. Aneya menghembuskan napas pelan. “Astaga. Fokus, Aneya,” batin Aneya. Tatapan Ravin singgah sebentar padanya sebelum pria itu kembali fokus pada lemari arsip. Aneya menghembuskan napas pelan dan menelan salivanya perlahan. Beberapa detik kemudian, Ravin berbalik membawa setumpuk berkas dan meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan Aneya. Bunyi kertas yang bersentuhan terdengar cukup keras di telinganya. “Ini dia!” seru Ravin. Aneya menatap tumpukan itu. Jumlahnya tidak sedikit. “Lumayan banyak,” gumam Aneya tanpa sadar. “Belum seberapa,” jawab Ravin singkat, “nanti kau akan terbiasa,” Aneya tertegun dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Ravin. Dengan berkas sebanyak itu saja sudah cukup membuat pelipis Aneya berdenyut samar. “Apakah saya harus menyelesaikan semuanya dalam satu hari ini, Pak?” tanya Aneya ragu. “Tentu saja,” jawab Ravin mantap. Mata Aneya membelalak mendengar jawaban dari Ravin. Namun, ia hanya bisa mengangguk dan menahan komentar atau kritikan yang tidak akan mengubah apa pun. Ravin menjelaskan alur pengerjaan dengan ringkas. Aneya mendengarkan dengan seksama tanpa menyela, mencatat setiap instruksi yang diarahkan pria itu di kepalanya. “Saya tidak akan memberi lembur, saya harap semua ini dapat diselesaikan sebelum jam pulang” jelas Ravin. Kalimat itu terdengar seperti aturan sekaligus ujian bagi Aneya. Ia tidak punya pilihan lain selain mendengarkan. “Bagaimana jika tidak selesai?” tanya Aneya. “Tidak ada opsi untuk itu,” tukas Ravin. Aneya terdiam. Ia tahu, sebuah protes hanya akan terdengar seperti sebuah ketidakmampuan dan menambah masalah. Ravin kemudian membawa sebagian berkas dan mengajaknya keluar dari ruangan. Mereka berjalan menyusuri koridor menuju ruang sekretaris yang berada tepat di samping ruangan pria tersebut. Aneya melangkah mengikuti di belakang, berusaha menyamai langkah tanpa tergesa. Ruangan itu luas, bersih dan tertata rapi. Meja kerja besar, kursi ergonomis dan lemari arsip yang tertata rapi memberi kesan profesional. Aneya berdiri sejenak, mengamati ruang yang kini menjadi tanggung jawabnya. “Ini ruanganmu,” ujar Ravin. “Terima kasih, Pak,” balas Aneya. “Dan …,” ujar Ravin terputus. “Dan … Apa?” tanya Aneya. “Semangat,” jawab Ravin lirih. Hanya satu kata itu yang terucap sebelum Ravin berbalik dan meninggalkan ruangan. Aneya duduk perlahan di kursinya. Menghela napas panjang. Menatap meja kerja yang kini menjadi miliknya. Ruangan yang ia tempati terasa seperti jawaban atas doa-doanya. Tentunya menjadi pengingat bahwa tidak ada yang datang tanpa tuntutan. “Inilah kesempatan itu,” gumam Aneya pelan, “kesempatan yang tidak boleh disia-siakan,” Aneya mulai bekerja. Waktu berlalu tanpa ia sadari. Ia tenggelam di antara berkas, angka dan catatan. Tangannya bergerak cepat dan matanya menelusuri setiap detail. Namun, di sela kesibukan itu, pikirannya terus melenceng. Bayangan pagi tadi kembali muncul, janji yang tidak ditepati oleh Arya dan ponsel yang tetap sunyi dari notifikasi. Aneya berusaha menyingkirkan pikirannya. Ia tidak boleh membiarkan urusan pribadi mengganggu hari pertamanya. Namun, rasa kecewa itu tetap menyelinap di sela fokusnya. Siang datang tanpa permisi. Cahaya matahari yang cukup terik menyusup lewat jendela, menandai waktu yang terus berjalan. Aneya baru menyadari jam telah menunjukkan tengah hari ketika perutnya terasa sedikit perih. Aneya meraih ponselnya. Masih tidak ada pesan maupun panggilan telepon. “Kau di mana, Arya?” tanya Aneya lirih. Getaran notifikasi tiba-tiba terasa di telapak tangannya. Ada sebuah pesan yang masuk dan langsung dibuka oleh Aneya. “Jangan lupa istirahat dan jangan lupa untuk menyelesaikan pekerjaanmu,” celetuk pesan itu. Aneya menatap layar itu lama ketika menampilkan notifikasi pesan yang bersumber dari Ravin. Kalimatnya singkat, namun terasa terlalu tepat sasaran. Dadanya menghangat oleh perasaan yang sulit ia jelaskan. Ia mengetik balasan. Menghapusnya dan mengetik lagi, Aneya ragu. Belum sempat ia mengirim apa pun, layar ponselnya kembali menyala. “Karena setelah jam makan siang, saya akan kembali ke ruanganmu untuk mengecek kemajuan berkas yang sudah kau kerjakan,” timpal pesan itu lagi. Aneya membeku, jarinya berhenti di udara. Ruangan itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Ia menatap pesan itu sekali lagi, mencoba mempersiapkan kembali dirinya. Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya mengetik balasan. Jarinya mulai bermain di atas layar ponsel. “Terima kasih atas pengingatnya, Pak,” balas Aneya Notifikasi ponsel Aneya bergema. Alisnya bertaut saat melihat nama yang sama muncul. “Ikut saya di jam makan siang nanti,” ujar pesan tersebut.“Kau semakin pandai menggodaku,” puji Ravin mengangkat kedua tangannya ke belakang kepala. Jemari pria tersebut saling bertaut di sana, sementara senyum miring perlahan muncul di wajahnya. Aneya menatap netra Ravin jauh lebih intens tanpa perlu membalas kalimat itu, ia kembali berkutat pada aktivitasnya yang belum sepenuhnya selesai. “Apa kau akan menanggalkan seluruh pakaianku?” tanya Ravin bersama tawa kecil terselip di akhir kalimat. “Aku bisa mewujudkannya jika itu yang kau mau,” timpal Aneya menggoda. Ravin membiarkan Aneya kembali membuka sisa kancing yang masih mengait satu sama lain. Begitu ia selesai dengan aktivitasnya, kini dada bidang dan lekuk otot perut milik Ravin terekspos, menjadi sebuah pemandangan surga duniawi bagi Aneya. Lama tatapannya berlabuh memindai setiap inci tubuh pria di hadapannya, ia menelan ludah dengan susah payah. Kembali Aneya mendekatkan wajahnya pada Ravin, kening mereka saling bertemu. Alih-alih melangsungkan kembali lumatan di bibir pr
Suara decitan pelan dari pintu di belakangnya membuat Aneya tersentak. Kepalanya berputar cepat ke arah sumber suara. Dalam satu gerakan, ia sudah duduk tegak. Badannya tak lagi terlentang seperti beberapa detik sebelumnya, sementara pandangannya terpaku pada celah pintu yang perlahan terbuka. Aneya menahan napas sesaat. Namun, begitu wajah yang dikenalnya terlihat jelas, ketegangan di bahunya perlahan luruh. Ia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan. Senyum tipis telah lebih dulu terukir di wajah Ravin saat langkah pria tersebut masuk ke dalam ruangan, membuat Aneya tanpa sadar ikut mengangkat sudut bibirnya. Setidaknya, penantiannya selama dua puluh menit akhirnya menemukan jawaban. “Sudah lama menungguku?” tanya Ravin menghampiri. “Iya, aku pikir kau meninggalkanku sendirian di sini,” jawab Aneya dengan suara yang parau. Ravin mengernyitkan dahi. “Apakah kau baik-baik saja?” Aneya mengangguk cepat. “Iya, aku tidak apa-apa.” Suara yang keluar masih terdenga
Aneya memperhatikan wajah Ravin memerah, dengan seringai yang tampak bahagia. Ravin mengangguk pelan tanda mengindahkan pertanyaan darinya. “Verifikasinya berhasil,” ucap Ravin tersipu. Tawa ringan dari Aneya ikut mengisi suasana hangat. Sesaat kemudian, ia menopang wajahnya dengan telapak tangan dan siku yang bersandar pada sofa, ia menatap Ravin dengan saksama. “Sekarang apa yang harus kuperbuat?” tanya Aneya sambil menghela napas. “Apakah kau bosan?” tanya Ravin mengunci pandangannya. “Sejujurnya … iya, aku bosan, berikan aku kesibukan, rasanya gaji yang baru kuterima tadi terasa seperti gaji buta untuk hari ini,” jawab Aneya berterus terang. “Sudah kubilang, hari ini kau tidak perlu mengerjakan apapun, bersantailah sesaat denganku,” sahut Ravin dengan nada tenang. Aneya mengerucutkan bibirnya sambil mengembuskan napas kasar, posisinya kini berubah menjadi bersandar pada sofa. Namun, ia tahu sorot mata pria tersebut belum beranjak dari dirinya. Ia kemudian memperhat
Benda kecil berwarna silver itu terayun di hadapan Aneya, terjepit di antara ibu jari dan telunjuk Ravin. Tatapannya langsung jatuh pada benda tersebut. Sesaat ia hanya berkedip, sebelum ingatannya kembali pada langkahnya yang terburu-buru meninggalkan area parkiran. Tanpa sempat memedulikan pertanyaan Ravin yang belum selesai, Aneya segera mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Namun, baru saja ujung jarinya hampir menyentuh benda itu, Ravin lebih dulu menarik tangannya ke belakang. Hal tersebut membuat Aneya memutar badannya, kini posisinya dan Ravin begitu dekat. Bahkan lebih dekat daripada jarak yang mereka ciptakan saat di parkiran tadi. “Hei! Berikan padaku!” seru Aneya kesal. “Aku akan memberikannya padamu jika kau melakukan satu hal,” kata Ravin penuh akan maksud yang terdengar menggoda. Aneya berdecak kasar. “Jangan lagi.” Ravin melangkah mendekat, membuat Aneya spontan mundur setapak. Namun, belum sempat ia memberi jarak lebih jauh, punggungnya lebih dulu menyentuh perm
“Tidak ada usul lain yang terpikirkan, kita akan mengambil rencana kedua seperti yang saya katakan sebelumnya, tapi kita harus memastikan dirinya terlebih dulu,” jawab Ravin terdengar rasional dan bijak. Erik mengangguk. “Baik, Pak. Saya akan memastikan kabar berikutnya dan segera mengonfirmasikannya.” “Saya akan tetap menunggu keputusan dan perkembangannya,” sahut Ravin dengan tegas. Erik kembali mengangguk sebelum berbalik dan meninggalkan mereka. Langkah pria tersebut semakin menjauh hingga akhirnya benar-benar menghilang dari area parkiran. Aneya masih berdiri di tempatnya, begitu juga dengan pria di sampingnya. Ia mengembuskan napas dan menggeser sedikit posisi tubuhnya. Sejak tadi, bahunya terasa kaku tanpa ia sadari. Ia menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga, lalu melirik Ravin dari sudut mata. “Aku kira kau akan langsung menyetujui usul tersebut,” ujar Aneya, memecah hening yang sempat mengambil alih beberapa saat. Ravin menolehkan pandangan kepadany
“Jangan khawatir, itu bukan sesuatu yang membuatmu terlihat salah di mataku,” sahut Ravin seraya tersenyum. Aneya menatapnya beberapa saat. Senyum Ravin masih bertahan, hangat dan tanpa ada kesan menghakimi. Kalimat tersebut mampu membuat Aneya meyakini dirinya sendiri bahwa itu bukan sepenuhnya hal yang salah. Beberapa detik kemudian, Ravin kembali mengarahkan pandangannya ke jalan. Tangannya yang tadi sempat mengusap rambut Aneya turun perlahan dan kembali menggenggam setir. “Terima kasih sudah meyakinkanku,” gumam Aneya pelan. Aneya membiarkan kepalanya bersandar pada jok. Ia menatap sisi wajah Ravin dari samping, lalu tanpa sadar tersenyum kecil. Setidaknya, ia tidak perlu merasa malu hanya karena pikirannya sempat dipenuhi kekhawatiran yang berlebihan. Halaman perusahaan milik Ravin mulai terlihat di ujung jalan. Begitu mobil memasuki area parkir, Aneya mengenali deretan kendaraan yang tertata rapi di sekitar gedung. Ravin mengarahkan mobil ke tempat biasanya, pria itu
Ia terkejut akan kehadiran Ravin yang kini berada tepat di depannya. Begitu banyak timbul pertanyaan di kepala Aneya perihal mengapa pria itu tetap bisa mendapatinya. “Apa? Tidak … bukan seperti itu, Pak,” kelit Aneya.“Lalu?” tanya Ravin beralih menatapnya.Aneya membuang muka. Ia masih belum pun
Aneya mengerjap beberapa saat. Kalimat itu terasa terlalu ringan untuk sesuatu yang seharusnya besar. Ia butuh beberapa detik untuk memastikan dirinya tidak salah dengar.“Sama sekali tidak, Pak,” jawab Aneya ragu.Ia tidak berbohong. Pertanyaan Ravin sebelumnya tentang ketidaknyamanan memang ia ja
Aneya terkesiap beberapa saat. Dirinya gelagapan, dengan terburu-buru ia meraih tas dan sepatunya. Melesat dengan cepat menuju teras.“Baik, Pak. Saya tunggu,” jawab Aneya.Panggilan dimatikan sepihak. Aneya menurunkan tangan dan menggenggam ponselnya.Ia duduk pada salah satu kursi, memilin ujung
“Semua ini,” jawab Ravin.“Saya tidak merasa bersalah,” balas Aneya seraya memalingkan wajah. Balasan itu terdengar terlalu cepat. Bahkan untuk dirinya sendiri.Ravin melangkah satu langkah mendekat. Tidak melewati batas, tapi cukup untuk membuat Aneya kembali bisa mencium aroma jas yang tadi memb







