Share

Bab 5

Penulis: Lavenhaze
last update Tanggal publikasi: 2025-12-06 11:35:47

Tatapan Ravin masih membayang dalam benak Aneya, tertinggal seperti bayangan cahaya yang enggan pudar. Terasa mengganggu, melekat terlalu lama, bahkan ketika Aneya sudah berusaha memalingkan wajah dan mengatur kembali napasnya.

Ruangan itu seharusnya terasa netral, bersih, rapi dan formal. Namun, keberadaan pria itu membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat dari sebelumnya.

Aneya masih dapat mendengar bisikan suaranya sendiri yang sempat lolos tanpa ia sadari. Sebuah gumaman lirih, nyaris seperti nada yang baru saja diputar lalu terhenti mendadak. Kesadaran akan hal itu membuat rasa malu menjalar cepat, terlebih ketika balasan Ravin datang dengan nada santai yang terasa menyentil.

“Saya tidak bicara apapun sama sekali,” sanggah Aneya sembari menyelipkan rambut ke belakang telinga.

“Oh, kalau begitu mungkin pendengaran saya yang bermasalah,” timpal Ravin.

Senyum tipis terbit di wajah pria itu. Singkat dan cepat, cukup untuk membuat Aneya kehilangan kata-kata.

Aneya menggigit bibir bagian dalamnya, rasa gugup itu tidak lagi samar. Detak jantungnya berpacu pelan, seperti langkah yang terlalu cepat di lorong sempit. Dengan sangat hati-hati, ia mengangkat pandangan dan menatap Ravin, hanya sepersekian detik sebelum kembali menunduk.

“Apa yang kau tunggu?” tanya Ravin.

“Saya … harus mulai darimana, Pak?” balas Aneya sedikit gugup.

Suara Aneya terdengar sedikit bergetar, meskipun ia sudah berusaha menahannya. Ruangan di sekelilingnya terasa begitu besar dan sunyi seolah menggerogoti dirinya yang masih belajar berdiri di dunia orang dewasa.

Ravin berdehem ringan. Ia beranjak dari balik meja kerjanya dan berjalan menuju lemari besar di sudut ruangan. Langkahnya terdengar mantap di lantai yang mengilap. Aneya tanpa sadar mengikuti pergerakannya dengan pandangan mata.

Cara berjalan pria itu terlihat tenang dan terukur. Postur tubuhnya tegap, memberi kesan seseorang yang terbiasa berada di ruang ini. Aneya segera menyadari bahwa ia menatap terlalu lama.

Ravin tiba-tiba menoleh, Aneya refleks menunduk. Tatapannya jatuh pada sepatu hak tinggi yang dikenakannya, seolah benda itu jauh lebih menarik untuk diperhatikan. Pipinya kini terasa menghangat.

“Tugas seorang sekretaris bukan untuk menatap atasan sepanjang waktu,” tukas Ravin datar.

Aneya terbelalak sesaat, ucapan itu tidak disertai nada tinggi dan tidak terdengar kasar. Namun, karena ketenangannya, kalimat itu terasa jauh lebih menusuk.

“Maaf, Pak,” ujar Aneya lirih.

Dalam diam, Aneya merasakan perbedaan yang jelas antara pertemuan kemarin dan hari ini. Ravin yang ia temui sebelumnya terasa lebih santai, sementara Ravin pagi ini tampak jauh lebih berjarak. Perubahan itu cepat, nyaris membuatnya tersandung di hari pertama.

Ia menarik napas panjang dan menegur dirinya sendiri. Hari pertama bukan waktu yang tepat untuk ceroboh.

Tanpa ia sadari, tawa kecil lolos dari bibirnya. Lebih seperti reaksi canggung ketimbang tawa sungguhan.

“Apa ada yang lucu?” tanya Ravin datar.

“Sama sekali tidak ada, Pak,” jawab Aneya cepat sambil menggelengkan kepala.

Tatapan Ravin tertaut beberapa saat padanya, sebelum pria itu kembali fokus pada lemari arsip. Aneya menghembuskan napas pelan.

“Astaga. Fokus, Aneya,” batin Aneya.

Tatapan Ravin singgah sebentar padanya sebelum pria itu kembali fokus pada lemari arsip. Aneya menghembuskan napas pelan dan menelan salivanya perlahan.

Beberapa detik kemudian, Ravin berbalik membawa setumpuk berkas dan meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan Aneya. Bunyi kertas yang bersentuhan terdengar cukup keras di telinganya.

“Ini dia!” seru Ravin.

Aneya menatap tumpukan itu. Jumlahnya tidak sedikit.

“Lumayan banyak,” gumam Aneya tanpa sadar.

“Belum seberapa,” jawab Ravin singkat, “nanti kau akan terbiasa,”

Aneya tertegun dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Ravin. Dengan berkas sebanyak itu saja sudah cukup membuat pelipis Aneya berdenyut samar.

“Apakah saya harus menyelesaikan semuanya dalam satu hari ini, Pak?” tanya Aneya ragu.

“Tentu saja,” jawab Ravin mantap.

Mata Aneya membelalak mendengar jawaban dari Ravin. Namun, ia hanya bisa mengangguk dan menahan komentar atau kritikan yang tidak akan mengubah apa pun.

Ravin menjelaskan alur pengerjaan dengan ringkas. Aneya mendengarkan dengan seksama tanpa menyela, mencatat setiap instruksi yang diarahkan pria itu di kepalanya.

“Saya tidak akan memberi lembur, saya harap semua ini dapat diselesaikan sebelum jam pulang” jelas Ravin.

Kalimat itu terdengar seperti aturan sekaligus ujian bagi Aneya. Ia tidak punya pilihan lain selain mendengarkan.

“Bagaimana jika tidak selesai?” tanya Aneya.

“Tidak ada opsi untuk itu,” tukas Ravin.

Aneya terdiam. Ia tahu, sebuah protes hanya akan terdengar seperti sebuah ketidakmampuan dan menambah masalah.

Ravin kemudian membawa sebagian berkas dan mengajaknya keluar dari ruangan. Mereka berjalan menyusuri koridor menuju ruang sekretaris yang berada tepat di samping ruangan pria tersebut. Aneya melangkah mengikuti di belakang, berusaha menyamai langkah tanpa tergesa.

Ruangan itu luas, bersih dan tertata rapi. Meja kerja besar, kursi ergonomis dan lemari arsip yang tertata rapi memberi kesan profesional. Aneya berdiri sejenak, mengamati ruang yang kini menjadi tanggung jawabnya.

“Ini ruanganmu,” ujar Ravin.

“Terima kasih, Pak,” balas Aneya.

“Dan …,” ujar Ravin terputus.

“Dan … Apa?” tanya Aneya.

“Semangat,” jawab Ravin lirih.

Hanya satu kata itu yang terucap sebelum Ravin berbalik dan meninggalkan ruangan. Aneya duduk perlahan di kursinya. Menghela napas panjang. Menatap meja kerja yang kini menjadi miliknya.

Ruangan yang ia tempati terasa seperti jawaban atas doa-doanya. Tentunya menjadi pengingat bahwa tidak ada yang datang tanpa tuntutan.

“Inilah kesempatan itu,” gumam Aneya pelan, “kesempatan yang tidak boleh disia-siakan,”

Aneya mulai bekerja. Waktu berlalu tanpa ia sadari. Ia tenggelam di antara berkas, angka dan catatan. Tangannya bergerak cepat dan matanya menelusuri setiap detail. Namun, di sela kesibukan itu, pikirannya terus melenceng.

Bayangan pagi tadi kembali muncul, janji yang tidak ditepati oleh Arya dan ponsel yang tetap sunyi dari notifikasi. Aneya berusaha menyingkirkan pikirannya. Ia tidak boleh membiarkan urusan pribadi mengganggu hari pertamanya. Namun, rasa kecewa itu tetap menyelinap di sela fokusnya.

Siang datang tanpa permisi. Cahaya matahari yang cukup terik menyusup lewat jendela, menandai waktu yang terus berjalan. Aneya baru menyadari jam telah menunjukkan tengah hari ketika perutnya terasa sedikit perih.

Aneya meraih ponselnya. Masih tidak ada pesan maupun panggilan telepon.

“Kau di mana, Arya?” tanya Aneya lirih.

Getaran notifikasi tiba-tiba terasa di telapak tangannya. Ada sebuah pesan yang masuk dan langsung dibuka oleh Aneya.

“Jangan lupa istirahat dan jangan lupa untuk menyelesaikan pekerjaanmu,” celetuk pesan itu.

Aneya menatap layar itu lama ketika menampilkan notifikasi pesan yang bersumber dari Ravin. Kalimatnya singkat, namun terasa terlalu tepat sasaran. Dadanya menghangat oleh perasaan yang sulit ia jelaskan.

Ia mengetik balasan. Menghapusnya dan mengetik lagi, Aneya ragu. Belum sempat ia mengirim apa pun, layar ponselnya kembali menyala.

“Karena setelah jam makan siang, saya akan kembali ke ruanganmu untuk mengecek kemajuan berkas yang sudah kau kerjakan,” timpal pesan itu lagi.

Aneya membeku, jarinya berhenti di udara. Ruangan itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Ia menatap pesan itu sekali lagi, mencoba mempersiapkan kembali dirinya.

Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya mengetik balasan. Jarinya mulai bermain di atas layar ponsel.

“Terima kasih atas pengingatnya, Pak,” balas Aneya

Notifikasi ponsel Aneya bergema. Alisnya bertaut saat melihat nama yang sama muncul.

“Ikut saya di jam makan siang nanti,” ujar pesan tersebut.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Cynta
Baru hari pertama udah diajak makan siang.. sungguh bos yang perhatian.. Tapi gpp Aneya, daripada sama si Arya..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 194

    “Benar. Namun, untuk menempatinya secara permanen dia perlu mengeluarkan biaya lebih banyak lagi daripada yang sudah ku keluarkan saat pertama kali membeli rumah tersebut,” jawab Ravin dengan penuh sarkas sambil melirik ke arah kekasihnya. Mulut Aneya terbuka lebar disusul dengan tawa yang pecah. “Apakah di samping nama tengahmu ada terselip julukan tuan tukang pamer?” “Berhenti menggodaku seperti itu,” kata Ravin yang ikut larut dalam tawa. “Setidaknya aku berhasil mengetahui nama lengkapmu selama ini,” sahut Aneya tak mau kalah. Di detik berikutnya, Ravin memarkirkan mobilnya tepat berada di samping rumah tersebut, tawa mereka kemudian perlahan berhenti senada dengan deru mesin. Senyuman Ravin terukir begitu manis kala netra milik Aneya masih terpaku pada pria itu. “Kita akan melanjutkannya setelah ini, jangan kemana-mana,” ucap Ravin yang kemudian membuka pintu mobilnya. “Tunggu!” seru Aneya dengan nada mencegat. Pria tersebut belum sepenuhnya keluar, masih sedang ber

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 193

    “Aku sama sekali tidak bermaksud,” kata Aneya mengalihkan pembicaraan. Ravin berdeham kecil disusul helaan napas pelan, senyum simpul pria itu sempat tercipta di wajahnya. Pintu kemudian tertutup, sementara Aneya menunggu Ravin masuk dan ikut duduk pada kursi kemudi. Saat Ravin sepenuhnya masuk ke dalam, pandangan Aneya sempat tersita kala mendapati ekspresi milik Ravin menautkan satu alisnya. Ia mencoba menebak apa yang sedang bergumul dalam isi kepala pria itu, alih-alih berdiam diri. Aneya kemudian membuka suara pelan. “Ada apa? Apakah ada sesuatu yang kau lupa di dalam sana?” tanya Aneya menerka dengan hati-hati. Ravin menoleh ke arahnya, air wajah itu masih bertahan di sana. Helaan napas pria itu keluar lebih berat daripada sebelumnya, sembari diikuti dengan kepala yang menunduk. “Tiba-tiba aku juga merasa energiku tidak stabil,” jawab Ravin kemudian terdengar lirih. “Hei, tidak masalah,” sahut Aneya, “apakah kau bisa menjelaskan padaku dengan pelan kenapa tiba-tiba m

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 192

    “Kupastikan tidak sampai sejam,” jawab Ravin terdengar mantap. “Kau janji?” tanya Aneya sekali lagi mencoba memastikan. “Janji, aku tidak akan meninggalkanmu terlalu lama,” sahut Ravin sambil mengelus pucuk kepala kekasihnya. “Terima kasih,” ucap Aneya pelan dengan senyum yang sempat terkulum. Ravin mengangguk pelan dan kemudian menjauhkan tangannya dari kepala Aneya. Pria tersebut kini sepenuhnya keluar dari balik meja kerjanya, sedangkan Aneya tetap memperhatikan setiap gestur yang dilakukan Ravin, termasuk menyamakan langkah mereka menuju pintu. “Silakan,” kata Ravin tenang sambil memegang gagang pintu ruangannya. Pintu terbuka tanpa tergesa, koridor di depan ruangan milik Ravin terpampang dengan jelas di mata Aneya. Ia mengambil langkah lebih dulu saat keluar dari ruangan milik Ravin, ia juga mengambil beberapa langkah demi menyisakan sedikit ruang bagi Ravin agar pria itu bisa mengunci pintu tanpa terhalang oleh badannya. Gemerincing kunci yang keluar dari saku pria

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 191

    “Kami akan tetap mengawalnya, saya tahu Anda cukup khawatir akan hal tersebut, tapi saya bisa menjamin keamanan untuk Anda dan Nona Aneya,” jawab Erik dengan sangat percaya diri. “Baik, Erik. Sekarang ada satu hal lagi yang ingin saya pertanyakan,” sahut Ravin masih dengan ketegasannya. “Tentu, Pak. Silakan, saya dengan senang hati akan meresponnya,” balas Erik terdengar sopan. “Kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh Arya untuk mencari pengacaranya sendiri? Sebab kasus ini bukanlah hal yang bisa disepelekan,” tanya Ravin dengan nada yang rendah. Ada hening yang tiba-tiba merambat dari seberang telepon hingga kembali masuk kembali ke ruangan. Aneya refleks beralih dari ponsel genggam itu dan menatap Ravin, rupanya netra pria itu juga langsung tertuju padanya. Tidak ada maksud apa-apa, mereka hanya menunggu respons berikutnya yang akan disampaikan oleh Erik. Sekitar lima menit mereka habiskan waktu menanti balasan dari seberang sambil menajamkan indra pendengaran, ti

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 190

    “Dua panggilan dari Erik,” jawab Ravin dengan tenang. Kemeja Ravin masih terbuka di hadapan Aneya, sementara ia mengeluarkan dengusannya pelan. Ia mengubah posisinya menjadi duduk di samping Ravin, mencoba melenyapkan hasrat yang sudah mengambil alih suasana di antara mereka. Jemari Ravin menyelip di antara jemarinya. Kehangatan telapak tangan pria itu begitu terasa di kulit Aneya, membuatnya menunduk sekilas kala memperhatikan tangan mereka. Genggaman itu sesekali menguat, kemudian menarik tangannya sedikit lebih dekat. Belum sempat Aneya mengangkat wajah, Ravin langsung mengecup punggung tangannya beberapa kali. Aneya hanya berkedip, membiarkan jemarinya tetap berada dalam genggaman tersebut. “Bahkan disaat seperti ini, dia masih bisa menyempatkan diri memberi afeksi,” batin Aneya sambil mendongak menatap pria tersebut. Panggilan akhirnya tersambung, suara berat dan terdengar sedikit serak dari Ravin berhasil mengisi ruangan yang sedari tadi memantulkan keheningan di antara

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 189

    “Kau semakin pandai menggodaku,” puji Ravin mengangkat kedua tangannya ke belakang kepala. Jemari pria tersebut saling bertaut di sana, sementara senyum miring perlahan muncul di wajahnya. Aneya menatap netra Ravin jauh lebih intens tanpa perlu membalas kalimat itu, ia kembali berkutat pada aktivitasnya yang belum sepenuhnya selesai. “Apa kau akan menanggalkan seluruh pakaianku?” tanya Ravin bersama tawa kecil terselip di akhir kalimat. “Aku bisa mewujudkannya jika itu yang kau mau,” timpal Aneya menggoda. Ravin membiarkan Aneya kembali membuka sisa kancing yang masih mengait satu sama lain. Begitu ia selesai dengan aktivitasnya, kini dada bidang dan lekuk otot perut milik Ravin terekspos, menjadi sebuah pemandangan surga duniawi bagi Aneya. Lama tatapannya berlabuh memindai setiap inci tubuh pria di hadapannya, ia menelan ludah dengan susah payah. Kembali Aneya mendekatkan wajahnya pada Ravin, kening mereka saling bertemu. Alih-alih melangsungkan kembali lumatan di bibir pr

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 7

    “Iya, Pak,” jawab Aneya mantap. Mereka masuk ke dalam lift tanpa banyak bicara. Pintu lift menutup perlahan, menyisakan keheningan yang terasa canggung, tetapi tidak sepenuhnya tidak nyaman. Aneya menatap angka lantai yang bergerak turun. Ia menyadari betapa sunyinya lift itu, hanya diisi suara de

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 6

    Pesan dari kontak yang sama kembali muncul di ponsel milik Aneya. Tepat ketika jarum jam dinding menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit. Layar ponselnya yang terang itu memantulkan cahaya ke wajahnya yang sedikit lelah. Aneya membaca pesan itu pelan. Memastikan ia tidak salah menangkap ma

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 4

    Pukul enam pagi waktu setempat, Aneya masih setengah sadar ketika dering alarm ponselnya bergema mengisi kamar. Suara yang terlalu nyaring untuk pagi yang masih terlihat gelap. Ia mengerjap pelan dan mencoba menatap layar ponsel dengan mata yang berat sebelum akhirnya mematikan alarm tersebut. “S

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 3

    Aneya merengut ringan dengan pertanyaan yang baru saja diberikan kepadanya. Ia merasa pertanyaan itu terlalu personal, tidak perlu berpikir lama baginya untuk mengetahui maksud dari pertanyaan tersebut.Ada sesuatu di baliknya yang membuat dadanya menegang. Secara tidak langsung ingatan tentang Ary

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status