MasukAneya merengut ringan dengan pertanyaan yang baru saja diberikan kepadanya. Ia merasa pertanyaan itu terlalu personal, tidak perlu berpikir lama baginya untuk mengetahui maksud dari pertanyaan tersebut.
Ada sesuatu di baliknya yang membuat dadanya menegang. Secara tidak langsung ingatan tentang Arya: kata-kata yang meremehkan disertai dengan nada yang meruntuhkan dirinya muncul begitu saja tanpa diminta. “Mohon maaf. Menurut saya pertanyaan itu tidak memiliki sebuah relevansi dengan posisi yang saya lamar,” jawab Aneya dengan tegas. Ruangan kembali terasa sunyi. Aneya tidak mengalihkan pandangannya dari Ravin, meski dorongan untuk menunduk terasa lebih kuat. “Apa yang membuat anda merasa pertanyaan itu tidak relevan dengan posisi tersebut?” tanya Ravin kembali. Aneya memilih diam, seluruh bagian kepala Aneya penuh oleh ingatan tentang perkataan Arya beberapa jam yang lalu kembali mengalun seperti rekaman rusak. Ia menarik napas pelan, pertanyaan itu terlalu personal. Hening masih merambat di antara mereka berdua. Rasa canggung memenuhi atmosfer pada ruangan tersebut, keduanya masih bergeming. Suara yang paling lantang di ruangan itu hanyalah suara detik dari jam dinding dan deru napas mereka berdua. Aneya sadar bahwa diamnya cukup berisiko, tetapi ada kalanya risiko lebih bisa diterima daripada membuka sesuatu yang seharusnya tetap tertutup. Ravin akhirnya memecah suasana canggung itu dengan deheman ringan. Ia tetap dengan sifat profesional dan ketegasannya di hadapan Aneya. Gestur Aneya juga perlahan berubah santai. “Saya menunggu jawaban dari anda,” lanjut Ravin. “Tidak,” kata Aneya tegas, “saya menolak menjelaskan jawaban dari pertanyaan itu,” Mendengar penolakan dari dirinya yang baru saja ia keluarkan membuat Aneya merasa sedikit terdengar kasar. Namun, ia sama sekali tidak menarik kembali perkataannya. Raut wajah Aneya mengeras, bukan karena marah semata, melainkan akibat rasa tidak nyaman yang terus menekan dirinya sejak awal wawancara. Ia benar-benar merasa aneh, alih-alih meninggalkan ruangan milik Ravin, pikirannya justru mendorong dirinya ke arah yang berlawanan. “Menurut anda secara pribadi,” ujar Aneya dengan suara meninggi “apakah ada relevansi dari pertanyaan tersebut dengan posisi yang saya lamar?!” Kalimat itu meluncur begitu saja. Sedikit tidak sopan dan terlalu berani untuk orang yang sedang duduk sebagai kandidat. Namun, ia sudah lelah berpura-pura patuh pada sesuatu yang sangat jelas mengusiknya. Tatapan dari Ravin tertuju padanya. Aneya tidak bisa menebak apa pun dari sorot mata pria itu. Terlihat bibir milik Ravin terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang sulit ditafsirkan. “Saya tidak akan menjawab pertanyaan dari anda sebelum anda menjawab pertanyaan dari saya,” timpal Ravin santai. “Menyebalkan,” decak Aneya pelan. Aneya mengembuskan napas dengan kesal, udara di ruangan itu semakin terasa kering. Tatapan pria itu masih bertahan, tidak terlihat menghakimi, tetapi juga tidak memberi ruang untuk mundur. “Anda tidak profesional,” ujar Aneya refleks. Ravin berdiri dari kursinya. Aneya mengikuti gerakannya dengan pandangan waspada dan sedikit defensif. Terlihat pria tersebut tengah mengambil segelas air dari sudut ruangan dan kembali mendekat. Tidak ada perubahan ekspresi maupun tanda-tanda ia tersinggung dengan perkataan Aneya. Gelas berisi air putih itu diletakkan di hadapan Aneya. Pria itu kemudian mempersilahkan Aneya untuk minum. “Silahkan,” ujar Ravin. Aneya sempat menolak dengan gelengan kecil. Namun, Aneya tidak bisa berbohong akan tenggorokannya yang terasa begitu kering akibat ketegangan yang ia hadapi. Tubuhnya menuntut hal-hal kecil yang sebelumnya ia abaikan. Pada akhirnya Aneya meraih gelas itu dan menyesap isinya secara perlahan. Beberapa detik berlalu. Suasana terasa sedikit lebih ringan, meskipun rasa canggung tidak sepenuhnya pergi. “Bagaimana dengan jawaban anda?” tanya Ravin. Aneya menutup matanya sejenak. Ia tahu ini tidak akan berhenti sampai ia memberikan satu jawaban. Egonya menolak, tetapi logikanya berbicara lebih lantang. Ia sudah sejauh ini dan Aneya bukan datang untuk kalah oleh satu pertanyaan. “Walau bagaimana pun, tidak akan ku biarkan Arya menjadi sebuah alasan untuk gagal,” batin Aneya. Aneya akan membuktikan hasil dari usahanya kepada Arya. Ia dengan rasa ambisinya berusaha untuk mendapatkan posisi yang tinggal beberapa pertanyaan lagi untuk dijawab. “Ya, saya sudah memiliki kekasih dan saya yakin bahwa dalam waktu lima tahun kedepan hubungan yang saya bangun akan berjalan dengan baik,” jawab Aneya ketus dan datar. Ravin tidak segera merespons. Ia terlihat menatap Aneya beberapa detik, lalu menyandarkan tubuhnya sedikit. Aneya bahkan tidak tahu apa arti dari jeda itu, ia juga tidak ingin menebak. “Baik,” balas Ravin. Ravin berdiri di hadapan Aneya. Pria itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Aneya. “Selamat, anda diterima sebagai sekretaris di perusahaan saya. Mohon maaf, apabila selama sesi wawancara berlangsung, saya membuat anda merasa tidak nyaman” ucap Ravin. Aneya terkejut, ekspresinya berubah menjadi riang dan matanya berbinar. Wanita itu langsung membalas jabatan tangan dari Ravin, ucapan terima kasih dan permintaan maaf tak luput juga diungkapkan Aneya. Aneya sudah resmi menjadi sekretaris milik Ravin. Setelah terjadi percakapan singkat diantara mereka, Aneya pun berpamitan untuk pulang. Ada rasa asing yang tertinggal di ruangan itu, seperti sebuah sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, tetapi juga tidak bisa ia abaikan. Raut misterius dari wajah Ravin masih membekas setelah pria itu merekrut dirinya menjadi sekretaris. Sifatnya terlihat tenang, tidak menunjukan sebuah pertanyaan maupun menawarkan simpati. Tangis yang ia tumpahkan siang ini membuahkan hasil yang tidak henti-hentinya membuatnya bersyukur atas pencapaian awal yang ia dapatkan. Penantiannya terbayarkan setelah setahun, masalah yang tinggal ia hadapi adalah Arya. Aneya berjalan menuju halte yang letaknya tepat berada di depan gedung perusahaan. Ia menunggu kedatangan bus berikutnya agar ia bisa pulang. Jari jemarinya bermain di atas ponsel. Mencoba mengabari sang pujaan hati. Namun, beberapa pesan yang Aneya kirim sama sekali tidak mendapatkan respon dari Arya. Aneya mendengus kesal, menatap jalan di hadapannya yang mengeluarkan aroma aspal di siang hari. Lama ia terbenam dalam pikiran kosong, hingga klakson dari bus membuyarkannya. Di dalam bus, Aneya duduk diam. Selama di perjalanan pulang, Aneya masih menunggu notifikasi pesan dari Arya. Ia ingin tahu secepatnya atas tanggapan apa yang akan diberikan oleh pria itu. Alih-alih mendapatkan notifikasi pesan dari Arya, Aneya menerima sebuah pesan dari nomor tidak dikenal. Isinya begitu formal dan rapih. “Terima Kasih atas partisipasi yang telah anda berikan dalam sesi wawancara siang ini. Untuk itu, saya memberitahukan bahwa besok anda sudah bisa mulai bekerja. Gunakan seragam dan atribut yang rapih. Tertanda, Ravin,” tulis isi pesan itu. Wanita itu mengernyitkan alisnya setelah membaca seluruh pesan tersebut. Ia mendapati nama milik Ravin di akhir pesan. Dengan cepat ia membalas pesan itu dan menyimpan nomor tersebut ke dalam kontaknya. Aneya kemudian menaruh kembali ponselnya di dalam tas. Setibanya di rumah, Aneya langsung membaringkan badan di atas tempat tidur. Melepas penat di badan, tetapi pikirannya masih belum lepas dari Arya. Ponselnya kembali mengeluarkan dering notifikasi. Aneya dengan gerakan cepat meraih benda pipih itu yang masih berada di dalam tas. Terlihat sebuah pesan singkat terpampang di layar ponsel milik Aneya. Alisnya tertaut saat membaca isi pesan tersebut yang berasal dari Ravin. “Jangan lupa istirahat dan jangan sampai terlambat di hari pertama bekerja,” ujar pesan itu.Ravin menghela napas, perlahan Aneya melepaskan pelukannya. Ia sempat mengangkat wajah, memperhatikan pergerakan yang dilakukan pria tersebut, tetapi Ravin justru beralih ke sisi mobil dan membukakan pintu untuknya. Aneya terdiam sesaat sebelum mengalihkan pandangan ke kursi penumpang. “Ayo, pulang. Kita berdua sudah terlalu lelah untuk hari ini,” ujar Ravin dengan nada yang lembut. “Dia benar, aku saja yang terlalu berlebihan … sepertinya,” batin Aneya sembari menyeret kakinya pelan. Pintu mobil tertutup dengan bunyi dentuman pelan. Aneya tetap diam di kursi penumpang, pandangannya terpaku pada halaman luas di balik kaca depan. Jemarinya terkulai di pangkuan, tak bergerak meski beberapa detik berlalu. Tak lama kemudian, pintu di sisi pengemudi terbuka dan tertutup kembali. Ravin memutar kunci kontak, disusul deru mesin yang memenuhi kabin. Namun, Aneya masih belum mengalihkan pandangannya. Sepanjang perjalanan, Aneya hanya menatap jalanan dari balik kaca jendela. Tak sepatah
“Akhirnya kau membuka suara,” celetuk Arya sarkas dengan seringai khasnya. Ravin meraih pergelangan tangan kiri Aneya, lalu bangkit dari tempat duduk. Aneya segera menyusul, napasnya memburu saat ia berdiri di sisi pria itu. Jemarinya menegang dalam genggaman Ravin, sementara tatapannya tertuju tajam pada Arya. “Kau bahkan terdengar tidak serius setiap kali menanggapi Ravin!” pekik Aneya bersama dengan amarah yang akhirnya meluap. “Jika aku tidak serius, untuk apa aku mengerahkan tenaga dalam menjawab pertanyaan seperti itu?” sahut Arya, “jangan terlalu dendam padaku, kita dulu juga pernah menjalin hubungan.” Rahang Aneya mengeras. Ia merenggut tangannya dari genggaman Ravin, lalu melangkah cepat menghampiri Arya. Jemarinya mengepal erat di sisi tubuh, sementara tatapannya tak lepas dari pria itu, seolah tak ada lagi yang mampu menghalangi langkahnya. Telapak tangan Aneya mendarat telak di pipi Arya, menghasilkan bunyi tamparan yang memecah keheningan. Ia tertegun saat melih
“Salahkah jika aku percaya diri pada hal yang kuyakini?” tanya Arya sarkas membalik pertanyaan. “Senang mendengarmu begitu percaya diri,” sahut Ravin tak kalah sarkas. Netra Aneya bergantian melirik kedua pria yang berada di sekitarnya. Ia mengembuskan napas pelan melalui hidung, berusaha agar salah satu dari mereka tidak ada yang menyadari hal tersebut. “Sampai kapan aku akan dikarantina di sini?” tanya Arya kemudian. Aneya memperhatikan gerak-gerik Arya yang merogoh saku celana, seolah berusaha keras mengeluarkan benda dari dalam sana. Sebatang rokok kemudian dibakar oleh pria itu, tidak ada yang membuka suara dan Arya terlihat tetap santai menghisap rokoknya beberapa kali dengan kepulan asap yang beberapa kali dikeluarkan dari mulutnya. “Aku tidak akan menjawab pertanyaan tersebut, tapi aku ingin bertanya satu hal padamu,” kata Ravin mencoba tetap pada topik. “Ravin, kau punya terlalu banyak pertanyaan, aku bahkan tidak yakin akan menjawab semua pertanyaan itu,” ucap Ar
Aneya bergeming sembari menatap ke arah pintu yang menuju balkon. Tanpa sadar ia menarik napasnya dalam dan mengembuskannya perlahan, ia mencoba membuat perasaannya stabil. “Aku siap,” jawab Aneya akhirnya terdengar pelan. “Tetap bersamaku, jangan lepaskan genggamannya,” sahut Ravin setengah berbisik. Genggaman pria itu semakin menguat kala langkah kaki mereka kini tertuju pada satu arah menuju pintu tersebut. Pria itu kemudian menarik pintu kaca besar setelah berhasil memutar gagangnya. Semilir angin malam yang terasa sejuk seketika menyambut mereka, salah satu tangan Aneya mencoba memperbaiki rambutnya yang tertiup angin. Pandangannya mengedar, balkon itu cukup luas. “Di mana dia?” gumam Aneya pelan hampir tak terdengar. “Ikut aku, balkon ini terhubung dengan beberapa bagian balkon di sisi samping,” ucap Ravin sederhana. Aneya sedikit terkejut ketika pria di sampingnya mendengar apa yang baru saja ia katakan. Sepersekian detik berikutnya, derap langkah mereka berjalan
“Benar. Namun, untuk menempatinya secara permanen dia perlu mengeluarkan biaya lebih banyak lagi daripada yang sudah ku keluarkan saat pertama kali membeli rumah tersebut,” jawab Ravin dengan penuh sarkas sambil melirik ke arah kekasihnya. Mulut Aneya terbuka lebar disusul dengan tawa yang pecah. “Apakah di samping nama tengahmu ada terselip julukan tuan tukang pamer?” “Berhenti menggodaku seperti itu,” kata Ravin yang ikut larut dalam tawa. “Setidaknya aku berhasil mengetahui nama lengkapmu selama ini,” sahut Aneya tak mau kalah. Di detik berikutnya, Ravin memarkirkan mobilnya tepat berada di samping rumah tersebut, tawa mereka kemudian perlahan berhenti senada dengan deru mesin. Senyuman Ravin terukir begitu manis kala netra milik Aneya masih terpaku pada pria itu. “Kita akan melanjutkannya setelah ini, jangan kemana-mana,” ucap Ravin yang kemudian membuka pintu mobilnya. “Tunggu!” seru Aneya dengan nada mencegat. Pria tersebut belum sepenuhnya keluar, masih sedang ber
“Aku sama sekali tidak bermaksud,” kata Aneya mengalihkan pembicaraan. Ravin berdeham kecil disusul helaan napas pelan, senyum simpul pria itu sempat tercipta di wajahnya. Pintu kemudian tertutup, sementara Aneya menunggu Ravin masuk dan ikut duduk pada kursi kemudi. Saat Ravin sepenuhnya masuk ke dalam, pandangan Aneya sempat tersita kala mendapati ekspresi milik Ravin menautkan satu alisnya. Ia mencoba menebak apa yang sedang bergumul dalam isi kepala pria itu, alih-alih berdiam diri. Aneya kemudian membuka suara pelan. “Ada apa? Apakah ada sesuatu yang kau lupa di dalam sana?” tanya Aneya menerka dengan hati-hati. Ravin menoleh ke arahnya, air wajah itu masih bertahan di sana. Helaan napas pria itu keluar lebih berat daripada sebelumnya, sembari diikuti dengan kepala yang menunduk. “Tiba-tiba aku juga merasa energiku tidak stabil,” jawab Ravin kemudian terdengar lirih. “Hei, tidak masalah,” sahut Aneya, “apakah kau bisa menjelaskan padaku dengan pelan kenapa tiba-tiba m
“Sayangnya tidak, aku serius atas apa yang kukatakan. Jika dia tidak bisa berkomitmen, maka biarkan aku menjadi lelaki pertama yang membuktikan padamu akan hal tersebut,” jawab Ravin dengan tegas dan terdengar serius. Aneya terkesiap dengan apa yang ia dengar. Nada pria itu bergema tidak main-mai
Aneya terdiam beberapa detik di tempat. Jemarinya langsung bergerak di atas layar ponsel, sibuk membalas pesan dari Ravin tanpa benar-benar memedulikan sekitar. Fokusnya tertahan penuh pada percakapan itu, sementara Arya dibiarkan berdiri beberapa langkah darinya, seolah Aneya sengaja menciptakan j
“Aku sangat perlu dan akan mendiskusikan hal itu bersama Arya,” jawab Aneya dengan jujur. “Kalian akan bertemu besok?” tanya Ibu Aneya dengan penasaran. “Iya, kebetulan kami sudah membuat jadwal temu dari hari-hari sebelumnya,” jawab Aneya tanpa mengalihkan perhatian dari benda di hadapannya.
Aneya sontak terkejut, beruntung ia sudah berada di pekarangan kantor. Hal tersebut membuatnya segera mematikan pengeras suara dari ponsel dan menempelkan benda itu ke telinga. “Kau membuatku terkejut!” seru Aneya setengah berbisik sembari menatap sekitar. “Ada yang menjemputmu?” tanya Ravin tida







