Share

Bab 3

Author: Lavenhaze
last update publish date: 2025-12-06 11:03:11

Aneya merengut ringan dengan pertanyaan yang baru saja diberikan kepadanya. Ia merasa pertanyaan itu terlalu personal, tidak perlu berpikir lama baginya untuk mengetahui maksud dari pertanyaan tersebut.

Ada sesuatu di baliknya yang membuat dadanya menegang. Secara tidak langsung ingatan tentang Arya: kata-kata yang meremehkan disertai dengan nada yang meruntuhkan dirinya muncul begitu saja tanpa diminta.

“Mohon maaf. Menurut saya pertanyaan itu tidak memiliki sebuah relevansi dengan posisi yang saya lamar,” jawab Aneya dengan tegas.

Ruangan kembali terasa sunyi. Aneya tidak mengalihkan pandangannya dari Ravin, meski dorongan untuk menunduk terasa lebih kuat.

“Apa yang membuat anda merasa pertanyaan itu tidak relevan dengan posisi tersebut?” tanya Ravin kembali.

Aneya memilih diam, seluruh bagian kepala Aneya penuh oleh ingatan tentang perkataan Arya beberapa jam yang lalu kembali mengalun seperti rekaman rusak. Ia menarik napas pelan, pertanyaan itu terlalu personal.

Hening masih merambat di antara mereka berdua. Rasa canggung memenuhi atmosfer pada ruangan tersebut, keduanya masih bergeming.

Suara yang paling lantang di ruangan itu hanyalah suara detik dari jam dinding dan deru napas mereka berdua. Aneya sadar bahwa diamnya cukup berisiko, tetapi ada kalanya risiko lebih bisa diterima daripada membuka sesuatu yang seharusnya tetap tertutup.

Ravin akhirnya memecah suasana canggung itu dengan deheman ringan. Ia tetap dengan sifat profesional dan ketegasannya di hadapan Aneya. Gestur Aneya juga perlahan berubah santai.

“Saya menunggu jawaban dari anda,” lanjut Ravin.

“Tidak,” kata Aneya tegas, “saya menolak menjelaskan jawaban dari pertanyaan itu,”

Mendengar penolakan dari dirinya yang baru saja ia keluarkan membuat Aneya merasa sedikit terdengar kasar. Namun, ia sama sekali tidak menarik kembali perkataannya.

Raut wajah Aneya mengeras, bukan karena marah semata, melainkan akibat rasa tidak nyaman yang terus menekan dirinya sejak awal wawancara. Ia benar-benar merasa aneh, alih-alih meninggalkan ruangan milik Ravin, pikirannya justru mendorong dirinya ke arah yang berlawanan.

“Menurut anda secara pribadi,” ujar Aneya dengan suara meninggi “apakah ada relevansi dari pertanyaan tersebut dengan posisi yang saya lamar?!”

Kalimat itu meluncur begitu saja. Sedikit tidak sopan dan terlalu berani untuk orang yang sedang duduk sebagai kandidat. Namun, ia sudah lelah berpura-pura patuh pada sesuatu yang sangat jelas mengusiknya.

Tatapan dari Ravin tertuju padanya. Aneya tidak bisa menebak apa pun dari sorot mata pria itu. Terlihat bibir milik Ravin terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang sulit ditafsirkan.

“Saya tidak akan menjawab pertanyaan dari anda sebelum anda menjawab pertanyaan dari saya,” timpal Ravin santai.

“Menyebalkan,” decak Aneya pelan.

Aneya mengembuskan napas dengan kesal, udara di ruangan itu semakin terasa kering. Tatapan pria itu masih bertahan, tidak terlihat menghakimi, tetapi juga tidak memberi ruang untuk mundur.

“Anda tidak profesional,” ujar Aneya refleks.

Ravin berdiri dari kursinya. Aneya mengikuti gerakannya dengan pandangan waspada dan sedikit defensif. Terlihat pria tersebut tengah mengambil segelas air dari sudut ruangan dan kembali mendekat. Tidak ada perubahan ekspresi maupun tanda-tanda ia tersinggung dengan perkataan Aneya.

Gelas berisi air putih itu diletakkan di hadapan Aneya. Pria itu kemudian mempersilahkan Aneya untuk minum.

“Silahkan,” ujar Ravin.

Aneya sempat menolak dengan gelengan kecil. Namun, Aneya tidak bisa berbohong akan tenggorokannya yang terasa begitu kering akibat ketegangan yang ia hadapi.

Tubuhnya menuntut hal-hal kecil yang sebelumnya ia abaikan. Pada akhirnya Aneya meraih gelas itu dan menyesap isinya secara perlahan.

Beberapa detik berlalu. Suasana terasa sedikit lebih ringan, meskipun rasa canggung tidak sepenuhnya pergi.

“Bagaimana dengan jawaban anda?” tanya Ravin.

Aneya menutup matanya sejenak. Ia tahu ini tidak akan berhenti sampai ia memberikan satu jawaban.

Egonya menolak, tetapi logikanya berbicara lebih lantang. Ia sudah sejauh ini dan Aneya bukan datang untuk kalah oleh satu pertanyaan.

“Walau bagaimana pun, tidak akan ku biarkan Arya menjadi sebuah alasan untuk gagal,” batin Aneya.

Aneya akan membuktikan hasil dari usahanya kepada Arya. Ia dengan rasa ambisinya berusaha untuk mendapatkan posisi yang tinggal beberapa pertanyaan lagi untuk dijawab.

“Ya, saya sudah memiliki kekasih dan saya yakin bahwa dalam waktu lima tahun kedepan hubungan yang saya bangun akan berjalan dengan baik,” jawab Aneya ketus dan datar.

Ravin tidak segera merespons. Ia terlihat menatap Aneya beberapa detik, lalu menyandarkan tubuhnya sedikit. Aneya bahkan tidak tahu apa arti dari jeda itu, ia juga tidak ingin menebak.

“Baik,” balas Ravin.

Ravin berdiri di hadapan Aneya. Pria itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Aneya.

“Selamat, anda diterima sebagai sekretaris di perusahaan saya. Mohon maaf, apabila selama sesi wawancara berlangsung, saya membuat anda merasa tidak nyaman” ucap Ravin.

Aneya terkejut, ekspresinya berubah menjadi riang dan matanya berbinar. Wanita itu langsung membalas jabatan tangan dari Ravin, ucapan terima kasih dan permintaan maaf tak luput juga diungkapkan Aneya.

Aneya sudah resmi menjadi sekretaris milik Ravin. Setelah terjadi percakapan singkat diantara mereka, Aneya pun berpamitan untuk pulang. Ada rasa asing yang tertinggal di ruangan itu, seperti sebuah sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, tetapi juga tidak bisa ia abaikan.

Raut misterius dari wajah Ravin masih membekas setelah pria itu merekrut dirinya menjadi sekretaris. Sifatnya terlihat tenang, tidak menunjukan sebuah pertanyaan maupun menawarkan simpati.

Tangis yang ia tumpahkan siang ini membuahkan hasil yang tidak henti-hentinya membuatnya bersyukur atas pencapaian awal yang ia dapatkan. Penantiannya terbayarkan setelah setahun, masalah yang tinggal ia hadapi adalah Arya.

Aneya berjalan menuju halte yang letaknya tepat berada di depan gedung perusahaan. Ia menunggu kedatangan bus berikutnya agar ia bisa pulang.

Jari jemarinya bermain di atas ponsel. Mencoba mengabari sang pujaan hati. Namun, beberapa pesan yang Aneya kirim sama sekali tidak mendapatkan respon dari Arya.

Aneya mendengus kesal, menatap jalan di hadapannya yang mengeluarkan aroma aspal di siang hari. Lama ia terbenam dalam pikiran kosong, hingga klakson dari bus membuyarkannya.

Di dalam bus, Aneya duduk diam. Selama di perjalanan pulang, Aneya masih menunggu notifikasi pesan dari Arya. Ia ingin tahu secepatnya atas tanggapan apa yang akan diberikan oleh pria itu.

Alih-alih mendapatkan notifikasi pesan dari Arya, Aneya menerima sebuah pesan dari nomor tidak dikenal. Isinya begitu formal dan rapih.

“Terima Kasih atas partisipasi yang telah anda berikan dalam sesi wawancara siang ini. Untuk itu, saya memberitahukan bahwa besok anda sudah bisa mulai bekerja. Gunakan seragam dan atribut yang rapih. Tertanda, Ravin,” tulis isi pesan itu.

Wanita itu mengernyitkan alisnya setelah membaca seluruh pesan tersebut. Ia mendapati nama milik Ravin di akhir pesan.

Dengan cepat ia membalas pesan itu dan menyimpan nomor tersebut ke dalam kontaknya. Aneya kemudian menaruh kembali ponselnya di dalam tas.

Setibanya di rumah, Aneya langsung membaringkan badan di atas tempat tidur. Melepas penat di badan, tetapi pikirannya masih belum lepas dari Arya.

Ponselnya kembali mengeluarkan dering notifikasi. Aneya dengan gerakan cepat meraih benda pipih itu yang masih berada di dalam tas.

Terlihat sebuah pesan singkat terpampang di layar ponsel milik Aneya. Alisnya tertaut saat membaca isi pesan tersebut yang berasal dari Ravin.

“Jangan lupa istirahat dan jangan sampai terlambat di hari pertama bekerja,” ujar pesan itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 194

    “Benar. Namun, untuk menempatinya secara permanen dia perlu mengeluarkan biaya lebih banyak lagi daripada yang sudah ku keluarkan saat pertama kali membeli rumah tersebut,” jawab Ravin dengan penuh sarkas sambil melirik ke arah kekasihnya. Mulut Aneya terbuka lebar disusul dengan tawa yang pecah. “Apakah di samping nama tengahmu ada terselip julukan tuan tukang pamer?” “Berhenti menggodaku seperti itu,” kata Ravin yang ikut larut dalam tawa. “Setidaknya aku berhasil mengetahui nama lengkapmu selama ini,” sahut Aneya tak mau kalah. Di detik berikutnya, Ravin memarkirkan mobilnya tepat berada di samping rumah tersebut, tawa mereka kemudian perlahan berhenti senada dengan deru mesin. Senyuman Ravin terukir begitu manis kala netra milik Aneya masih terpaku pada pria itu. “Kita akan melanjutkannya setelah ini, jangan kemana-mana,” ucap Ravin yang kemudian membuka pintu mobilnya. “Tunggu!” seru Aneya dengan nada mencegat. Pria tersebut belum sepenuhnya keluar, masih sedang ber

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 193

    “Aku sama sekali tidak bermaksud,” kata Aneya mengalihkan pembicaraan. Ravin berdeham kecil disusul helaan napas pelan, senyum simpul pria itu sempat tercipta di wajahnya. Pintu kemudian tertutup, sementara Aneya menunggu Ravin masuk dan ikut duduk pada kursi kemudi. Saat Ravin sepenuhnya masuk ke dalam, pandangan Aneya sempat tersita kala mendapati ekspresi milik Ravin menautkan satu alisnya. Ia mencoba menebak apa yang sedang bergumul dalam isi kepala pria itu, alih-alih berdiam diri. Aneya kemudian membuka suara pelan. “Ada apa? Apakah ada sesuatu yang kau lupa di dalam sana?” tanya Aneya menerka dengan hati-hati. Ravin menoleh ke arahnya, air wajah itu masih bertahan di sana. Helaan napas pria itu keluar lebih berat daripada sebelumnya, sembari diikuti dengan kepala yang menunduk. “Tiba-tiba aku juga merasa energiku tidak stabil,” jawab Ravin kemudian terdengar lirih. “Hei, tidak masalah,” sahut Aneya, “apakah kau bisa menjelaskan padaku dengan pelan kenapa tiba-tiba m

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 192

    “Kupastikan tidak sampai sejam,” jawab Ravin terdengar mantap. “Kau janji?” tanya Aneya sekali lagi mencoba memastikan. “Janji, aku tidak akan meninggalkanmu terlalu lama,” sahut Ravin sambil mengelus pucuk kepala kekasihnya. “Terima kasih,” ucap Aneya pelan dengan senyum yang sempat terkulum. Ravin mengangguk pelan dan kemudian menjauhkan tangannya dari kepala Aneya. Pria tersebut kini sepenuhnya keluar dari balik meja kerjanya, sedangkan Aneya tetap memperhatikan setiap gestur yang dilakukan Ravin, termasuk menyamakan langkah mereka menuju pintu. “Silakan,” kata Ravin tenang sambil memegang gagang pintu ruangannya. Pintu terbuka tanpa tergesa, koridor di depan ruangan milik Ravin terpampang dengan jelas di mata Aneya. Ia mengambil langkah lebih dulu saat keluar dari ruangan milik Ravin, ia juga mengambil beberapa langkah demi menyisakan sedikit ruang bagi Ravin agar pria itu bisa mengunci pintu tanpa terhalang oleh badannya. Gemerincing kunci yang keluar dari saku pria

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 191

    “Kami akan tetap mengawalnya, saya tahu Anda cukup khawatir akan hal tersebut, tapi saya bisa menjamin keamanan untuk Anda dan Nona Aneya,” jawab Erik dengan sangat percaya diri. “Baik, Erik. Sekarang ada satu hal lagi yang ingin saya pertanyakan,” sahut Ravin masih dengan ketegasannya. “Tentu, Pak. Silakan, saya dengan senang hati akan meresponnya,” balas Erik terdengar sopan. “Kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh Arya untuk mencari pengacaranya sendiri? Sebab kasus ini bukanlah hal yang bisa disepelekan,” tanya Ravin dengan nada yang rendah. Ada hening yang tiba-tiba merambat dari seberang telepon hingga kembali masuk kembali ke ruangan. Aneya refleks beralih dari ponsel genggam itu dan menatap Ravin, rupanya netra pria itu juga langsung tertuju padanya. Tidak ada maksud apa-apa, mereka hanya menunggu respons berikutnya yang akan disampaikan oleh Erik. Sekitar lima menit mereka habiskan waktu menanti balasan dari seberang sambil menajamkan indra pendengaran, ti

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 190

    “Dua panggilan dari Erik,” jawab Ravin dengan tenang. Kemeja Ravin masih terbuka di hadapan Aneya, sementara ia mengeluarkan dengusannya pelan. Ia mengubah posisinya menjadi duduk di samping Ravin, mencoba melenyapkan hasrat yang sudah mengambil alih suasana di antara mereka. Jemari Ravin menyelip di antara jemarinya. Kehangatan telapak tangan pria itu begitu terasa di kulit Aneya, membuatnya menunduk sekilas kala memperhatikan tangan mereka. Genggaman itu sesekali menguat, kemudian menarik tangannya sedikit lebih dekat. Belum sempat Aneya mengangkat wajah, Ravin langsung mengecup punggung tangannya beberapa kali. Aneya hanya berkedip, membiarkan jemarinya tetap berada dalam genggaman tersebut. “Bahkan disaat seperti ini, dia masih bisa menyempatkan diri memberi afeksi,” batin Aneya sambil mendongak menatap pria tersebut. Panggilan akhirnya tersambung, suara berat dan terdengar sedikit serak dari Ravin berhasil mengisi ruangan yang sedari tadi memantulkan keheningan di antara

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 189

    “Kau semakin pandai menggodaku,” puji Ravin mengangkat kedua tangannya ke belakang kepala. Jemari pria tersebut saling bertaut di sana, sementara senyum miring perlahan muncul di wajahnya. Aneya menatap netra Ravin jauh lebih intens tanpa perlu membalas kalimat itu, ia kembali berkutat pada aktivitasnya yang belum sepenuhnya selesai. “Apa kau akan menanggalkan seluruh pakaianku?” tanya Ravin bersama tawa kecil terselip di akhir kalimat. “Aku bisa mewujudkannya jika itu yang kau mau,” timpal Aneya menggoda. Ravin membiarkan Aneya kembali membuka sisa kancing yang masih mengait satu sama lain. Begitu ia selesai dengan aktivitasnya, kini dada bidang dan lekuk otot perut milik Ravin terekspos, menjadi sebuah pemandangan surga duniawi bagi Aneya. Lama tatapannya berlabuh memindai setiap inci tubuh pria di hadapannya, ia menelan ludah dengan susah payah. Kembali Aneya mendekatkan wajahnya pada Ravin, kening mereka saling bertemu. Alih-alih melangsungkan kembali lumatan di bibir pr

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 24

    Aneya terkesiap beberapa saat. Dirinya gelagapan, dengan terburu-buru ia meraih tas dan sepatunya. Melesat dengan cepat menuju teras.“Baik, Pak. Saya tunggu,” jawab Aneya.Panggilan dimatikan sepihak. Aneya menurunkan tangan dan menggenggam ponselnya.Ia duduk pada salah satu kursi, memilin ujung

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 23

    “Semua ini,” jawab Ravin.“Saya tidak merasa bersalah,” balas Aneya seraya memalingkan wajah. Balasan itu terdengar terlalu cepat. Bahkan untuk dirinya sendiri.Ravin melangkah satu langkah mendekat. Tidak melewati batas, tapi cukup untuk membuat Aneya kembali bisa mencium aroma jas yang tadi memb

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 22

    Aneya tidak tahu harus menjawab apa. Kalimat Ravin masih menggantung di udara, terlalu dekat dengan dadanya, terlalu berat untuk dihadapi saat itu.Ia menarik pergelangan tangannya perlahan dari genggaman pria itu, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan tanpa menoleh. Langkahnya cepat, nya

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 21

    “Baik, Pak,” jawab Aneya, “hanya saja, saya tidak ingin merepotkan,”“Jangan berpikir seperti itu,” ujar Ravin.Nada suara pria itu terdengar tenang, tidak menekan. Aneya mengangguk kecil. Ia tidak menambahkan apa pun lagi.Aneya dapat merasakan sisi lembut pria itu sesaat. Ravin tidak berkata apa-

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status