Share

Bab 6

Penulis: Lavenhaze
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-07 09:09:33

Pesan dari kontak yang sama kembali muncul di ponsel milik Aneya. Tepat ketika jarum jam dinding menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit. Layar ponselnya yang terang itu memantulkan cahaya ke wajahnya yang sedikit lelah.

Aneya membaca pesan itu pelan. Memastikan ia tidak salah menangkap maksud dari isi pesan tersebut. Sebuah ajakan makan siang dari direkturnya sendiri.

Terasa aneh baginya. Ia juga takut akan asumsi orang-orang di sekitaran kantor perihal dirinya yang baru saja mendapat posisi sebagai sekretaris.

Aneya tampak ragu untuk membalas pesan itu, ia biarkan tangannya menggantung di layar. Pikirannya bergerak cepat, menimbang-nimbang kesan yang mungkin muncul dari setiap kata yang akan ia ketik.

Sepersekian detik kemudian, Aneya akhirnya mengetik balasan. Dengan mantap ia langsung membubuhkan rangkaian balasan yang ada di dalam pikirannya pada pesan itu.

“Terima kasih atas ajakannya, Pak. Namun, saya ingin menyelesaikan pekerjaan hari ini terlebih dahulu agar tidak tertunda,” balas Aneya.

Aneya membaca ulang kalimat itu sekali lagi. Tidak terlalu panjang dan terlalu dingin. Cukup sopan dan profesional. Pesan itu terkirim.

Aneya membalik ponselnya dan meletakkannya di samping monitor, seolah dengan begitu ia bisa menjauh dari kemungkinan balasan lanjutan. Ia mengembuskan napas perlahan, lalu kembali menatap layar komputer di hadapannya.

Tumpukan berkas di mejanya masih menyisakan cukup banyak pekerjaan. Aneya merapikan posisi duduknya, meluruskan punggung dan kembali menggerakkan jari-jarinya di atas papan ketik.

Beberapa kali gerakan itu ia ulangi agar ketegangan tidak terlalu menguasai persendian badannya. Hari pertama bekerja terasa jauh lebih menantang dari yang ia bayangkan sebelumnya.

“Rasanya kepalaku mau pecah menghadapi semua pekerjaan yang tidak ada habisnya ini,” gumam Aneya pelan.

Monitor komputer yang ia gunakan terasa begitu canggih, layarnya jernih dan responsif. Jauh berbeda dengan laptop lamanya di rumah. Namun, kecanggihan itu tidak serta-merta membuat pekerjaannya terasa ringan.

“Apakah memang seperti ini ritme kerja sekretaris di perusahaan besar?” tanya Aneya pada dirinya sendiri.

Aneya tersenyum kecil, nyaris tanpa humor. Baru setengah hari berlalu, tetapi keluhan sudah berderet di kepalanya. Ia menarik napas panjang, mencoba menertawakan dirinya sendiri.

Ia menyesuaikan kembali fokusnya pada dokumen yang sedang ia periksa. Angka, jadwal dan catatan kecil memenuhi layar.

Aneya membaca dengan teliti, memastikan tidak ada detail yang terlewat. Sifat perfeksionisnya membuat ia enggan bergerak ke berkas berikutnya sebelum benar-benar yakin dengan hasil pekerjaannya.

Di sela-sela konsentrasi itu, pikiran Aneya kembali melenceng. Ia membalik ponselnya dan kembali memeriksa notifikasi yang baru.

Aneya tahu ia seharusnya tidak perlu memikirkan hal lain selain pekerjaannya sekarang. Tetapi kegelisahannya tentang Arya terus muncul tanpa permisi.

Sedari Pagi, tidak ada satu pun kabar yang masuk dari Arya. Aneya menatap layar beberapa detik, lalu membuka aplikasi pesan. Ia mengetik satu kalimat singkat.

“Kau di mana?” ujar pesan itu.

Pesan itu terkirim. Aneya menunggu beberapa saat, matanya masih tertuju pada layar. Tidak ada balasan, Aneya kemudian mencoba menelpon.

Nada sambung terdengar, lalu panggilan berakhir tanpa dijawab. Aneya mengembuskan napas dengan kesal dan meletakkan ponselnya kembali ke meja.

“Masih tidak mau merespons, ya?” gumam Aneya lirih.

“Saya mendengar apa yang kau bicarakan,” celetuk seseorang.

Suara itu datang dari arah pintu. Aneya tersentak dan segera mengangkat kepala.

Ravin nampak berdiri tidak jauh dari mejanya, membawa beberapa map tambahan. Tanpa banyak basa-basi, pria itu melangkah mendekat dan meletakkan map-map tersebut di sisi meja Aneya.

Aneya memperhatikan raut wajah datar dari pria itu. Ravin mengatur kembali berkas yang baru saja ia taruh di hadapan Aneya.

“Respon dari siapa?” tanya Ravin datar.

“Bukan apa-apa, Pak. Urusan pribadi,” balas Aneya.

“Pastikan urusan pribadi tidak mengganggu pekerjaan,” ujarnya singkat.

“Iya, Pak,” jawab Aneya lirih.

Ia kembali menatap layar komputer, berusaha menunjukkan bahwa fokusnya tidak terganggu. Kehadiran Ravin membuat ruangan terasa sedikit lebih sunyi dari biasanya.

“Ada kendala dengan berkas-berkas ini?” tanya Ravin.

“Saya masih beradaptasi, Pak,” jawab Aneya jujur, “tapi sejauh ini masih bisa saya kerjakan,”

Ravin mengangguk tipis, “Kalau ada yang tidak jelas, tanyakan. Jangan menunda.”

“Baik, Pak,” balas Aneya.

Ravin tidak langsung pergi. Ia berdiri di sisi meja, memperhatikan layar komputer Aneya dari jarak yang sopan. Aneya bisa merasakan keberadaannya tanpa harus menoleh.

“Pekerjaanmu terlihat rapi,” kata Ravin akhirnya.

Aneya terkejut mendengarnya. Ia memperbaiki gestur badannya agar tidak terlihat canggung atas pujian yang dilayangkan padanya.

“Terima kasih, Pak,” balas Aneya.

“Sekretaris sebelumnya tidak menyusun berkas seperti ini,” lanjut Ravin.

“Apakah itu alasan Bapak mencari sekretaris baru?” tanya Aneya sedikit ragu.

Ravin tidak langsung menjawab. Ia memindahkan satu map, lalu menutupnya dengan rapi sebelum berbicara kembali.

“Setiap posisi membutuhkan kecocokan,” ujarnya, “tidak semua orang bisa menjalankan peran yang sama,”

Aneya mengangguk pelan. Jawaban itu terdengar netral, tidak memberi celah untuk ditafsirkan lebih jauh.

“Lanjutkan pekerjaanmu dan jangan melewatkan waktu istirahat,” timpal Ravin.

Setelah itu, Ravin berbalik dan meninggalkan ruangan. Aneya menunggu sampai langkahnya benar-benar menghilang sebelum menghela napas lega.

“Makan siang,” gumam Aneya pelan.

Aneya teringat pesan yang sempat ia tolak. Ia melirik jam di sudut layar, waktu bergerak lebih cepat dari yang ia sadari.

Aneya kembali menunduk, menyelesaikan satu per satu berkas yang tersisa. Ia membiarkan dirinya berkutat dalam pekerjaan agar bisa menunda pikiran lain yang mengganggu.

Beberapa kali Ravin terlihat melewati ruangannya. Kadang ia berhenti sebentar untuk memeriksa kemajuan yang ia buat, kadang hanya melintas tanpa berkata apa-apa. Tidak ada percakapan panjang, hanya instruksi singkat seperlunya.

Menjelang sore, Aneya meregangkan pundaknya. Lehernya terasa kaku, matanya sedikit perih karena terlalu lama menatap layar. Namun, melihat tumpukan berkas yang kini jauh berkurang, ia merasakan kepuasan kecil yang tidak bisa ia abaikan.

Ponselnya kembali bergetar, Aneya menoleh perlahan. Ia langsung meraih benda pipih itu.

Satu pesan masuk dari Ravin yang langsung ia buka. Aneya menghela napas pelan saat membacanya.

“Lima belas menit lagi ikut saya ke kantin,” ujar pesan dari Ravin.

Jantung Aneya berdetak sedikit lebih cepat. Ia menelan ludah, membaca ulang pesan itu untuk memastikan tidak ada yang salah.

Ajakan itu seolah tidak bisa ditolak dan dijadwalkan ulang di lain waktu. Mau tidak mau, Aneya harus mengindahkan apa yang dititahkan oleh atasannya.

Aneya menatap berkas-berkas di mejanya, lalu kembali menatap ponsel di tangannya. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia merasa kehilangan kendali atas rencana yang ia susun sendiri.

“Baik, Pak,” balas Aneya.

Begitu pesan terkirim, Aneya meletakkan ponselnya perlahan. Ia bersandar sebentar di kursinya, menatap langit-langit ruangan dengan pikiran yang mulai berputar.

Lima belas menit terasa lebih cepat dari yang Aneya perkirakan. Ia menutup berkas terakhir dengan hati-hati, memastikan meja kerjanya kembali rapi sebelum berdiri dari kursi.

Tangannya sempat merapikan kemeja yang dikenakannya, refleks sederhana yang ia lakukan setiap kali merasa sedikit gugup. Tak lupa ia merapikan rambutnya yang tidak terlalu berantakan.

Saat ia melangkah keluar dari ruangannya, Ravin sudah berdiri di dekat lift. Pria itu tidak sedang menatap ponsel atau berkas apa pun, hanya berdiri tegak dengan ekspresi netral, seolah menunggu tanpa terburu-buru.

“Sudah siap?” tanya Ravin singkat.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 60

    Aneya menatap Ravin sederhana. Badannya yang sudah setengah condong ke depan kembali bersandar pada kursi penumpang. Ravin kemudian melepaskan cengkraman ringan yang melilit di pergelangannya sesaat.“Cepatlah, katakan jika ada yang ingin kau sampaikan,” ujar Aneya sambil menyilangkan tangan di dada.Tatapan Ravin masih tertuju padanya, ekspresi pria itu sulit dibaca. Ada helaan napas pelan sebelum Ravin kembali membuka suara.“Jika orang dari masa lalumu kembali…” ujar Ravin berhenti sejenak.Aneya mengernyitkan satu alisnya. Namun, Ravin memalingkan wajah, seolah tidak ingin menatapnya terlalu dalam.“Pastikan kau tidak mengacaukan apa yang sedang kita bangun,” lanjut Ravin sambil meremas kemudi.Aneya terdiam. Beberapa detik kemudian ia kembali menghela napas, ia memberanikan diri memegang pergelangan tangan kiri Ravin.Sorot mata pria itu sedikit terkejut melihat tindakan yang dilakukan Aneya. Namun, tidak ada teguran yang dilayangkan Ravin padanya.“Ravin, aku tidak tahu apa yang

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 59

    Aneya menelan ludahnya. Tenggorokannya serasa tercekat, untuk pertama kalinya ia mendengar suara pria itu sedikit berbeda, bukan seperti nada yang tegas pada umumnya.“Maksudku…” kata Aneya terpotong sambil menatapnya.“Tidak apa, Aneya,” sela Ravin, “kau benar akan hal itu,”Raut wajah pria itu terlihat sayu. Aneya hanya bisa bergeming sembari mengulum bibirnya ke dalam, ia kembali terjebak di posisi yang membuat dirinya kesulitan untuk mengambil tindakan selanjutnya.Pria itu kemudian mundur beberapa langkah darinya. Namun, masih dalam jarak yang aman, hanya saja rasa canggung itu kini mengisi jeda yang tercipta.“Jika memang bukan urusanku, kau tidak perlu menjelaskan,” kata Ravin dengan nada tenang.Aneya menangkap nada pria itu seperti dipaksa untuk menerima keputusan. Kepasrahan itu membuat degup jantungnya berpacu dengan cepat, ia merasa sangat bersalah.“Ravin, aku sama sekali tidak bermaksud…” ujar Aneya terpotong sambil mendekati Ravin.“Lalu apa maksudmu?” tandas Ravin kemu

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 58

    “Aku tahu itu hanya alasanmu saja,” jawab Ravin diikuti dengan gelengan kecil.“Alasanku?!” kata Aneya dengan nada sedikit naik.Netra milik Ravin menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Aneya belum bisa memutuskan tautan pandangan itu begitu saja, atmosfer berubah menjadi sedikit serius di antara mereka.“Kau tidak pernah terlihat seperti seseorang yang menerima telepon salah sambung,” ujar Ravin terdengar sangat kritis.Pada akhirnya, Aneya berhasil memalingkan wajahnya. Menelan ludah pun terasa berat baginya untuk di momen yang sedang berlangsung.“Kau terlalu banyak berasumsi, Ravin,” alibi Aneya sambil menghela napas.Aneya masih tetap pada pendiriannya. Ia sama sekali tidak goyah.“Itu karena kau tidak menjelaskannya,” timpal Ravin tidak mau kalah.Sunyi kembali jatuh di antara mereka. Helaan napas pelan pria itu menggema di telinganya.“Aku memang tidak memaksamu untuk bercerita,” kata Ravin, “tapi aku tahu kau tipikal orang seperti apa,”Aneya menggigit bagian dalam pip

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 57

    Aneya diam seribu bahasa. Ravin meninggalkannya yang masih mematung, pria itu kembali ke mejanya dengan ekspresi tampak kesal.Ia merasa sudah membuat kesalahan kecil. Bahkan Aneya tidak tahu harus memulai dari mana.“Duduk, ini tidak lama,” pinta Ravin dengan nada Rendah.Langkah kaki Aneya mengayun pelan menuju sofa. Ia membiarkan pria tersebut berkutat dengan pekerjaannya.Sementara itu, Aneya mengambil posisi duduk yang tepat. Tidak terlalu tegang dan tidak bisa juga disebut terlalu santai, ia menunggu Ravin menyelesaikan semuanya walaupun ia sudah tidak sabar ingin berlalu dari gedung ini.“Apakah menunggumu dihitung sebagai lembur?” tanya Aneya sedikit bergurau.“Anggap saja begitu,” jawab Ravin sederhana, tidak beralih dari monitor.Aneya menghela napas. Candaan yang ia lontarkan tidak berada di waktu yang tepat. Ia sendiri merasa aneh atas kalimat yang keluar dari mulutnya.Beberapa menit berlalu. Dari ekor matanya, Ravin mulai berdiri dari kursi, gerakkannya berubah menjadi s

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 56

    Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Aneya, nyaris seperti desahan. Ia duduk sendiri di ruang kerjanya, layar monitor masih menyala di depannya. Namun, matanya tidak benar-benar membaca apa yang ditampilkan di sana.Pikirannya berjalan ke tempat lain. Ke satu nama yang baru saja kembali muncul setelah sekian lama. Arya.“Apa sebenarnya yang ia inginkan? Dan apa yang sebenarnya juga aku inginkan?” tanya Aneya pada dirinya dengan nada frustasi.Aneya menatap ponselnya yang tergeletak di bawah layar monitor. Tidak ada notifikasi baru. Layar itu tetap gelap, tetapi pikirannya masih dipenuhi percakapan singkat tadi.“Dia merindukanku? Untuk apa?” gerutu Aneya sembari memanyunkan bibirnya.Ia kemudian menghela napas panjang dan menutup dokumen. Tidak ada gunanya memaksakan diri bekerja jika pikirannya terus berputar di tempat yang sama.Tanpa sadar, pikirannya beralih ke Ravin. Tatapan pria itu begitu tenang tadinya, tetapi terlalu memperhatikan.“Iya, Ravin, aku memang menyembunyik

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 55

    “Ku kira kau mengganti nomor teleponmu,” sahut suara dari seberang.Hati Aneya mencelus begitu saja. Suara itu terlalu akrab untuk disalahartikan dan terlalu mudah untuk dikenali, bahkan setelah sekian lama tidak terdengar. Ada sesuatu di cara orang itu berbicara, tenang, sedikit rendah dan selalu seolah mengetahui bahwa Aneya akan tetap mendengar.Ia mengerjapkan mata beberapa kali, seolah mencoba menenangkan dirinya sendiri. Refleks, lirikan matanya beralih ke Ravin.Pria itu sudah selesai dengan urusannya di meja kerja. Aneya bisa melihat dari sudut matanya bagaimana Ravin berjalan kembali dengan langkah tenang yang sama seperti biasanya dan tidak mencurigai apa pun. Beberapa detik kemudian, Ravin menjatuhkan tubuhnya kembali di sampingnya. Kehadiran itu terasa jelas.“Maaf, mungkin … salah orang,” ujar Aneya gelagapan.Kata-kata itu keluar lebih cepat dari yang sempat ia pikirkan. Ia tidak ingin menyebut nama penelpon tersebut.Ada dorongan aneh di dalam dirinya untuk menyembunyik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status