Beranda / Romansa / Benih Cinta Dalam Ruang Direktur / Bab 6: Ketika Jeda Itu Mengundang

Share

Bab 6: Ketika Jeda Itu Mengundang

Penulis: Lavenhaze
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-07 09:09:33

Aneya kembali berkutat dengan pekerjaannya bersama berkas-berkas yang menggunung. Ia menghela napasnya, hari pertama yang cukup berat dan menantang, ia beberapa kali meloloskan keluh kesahnya.

“Rasanya kepalaku mau pecah,” ujar Aneya seraya berdecak ringan.

Fokus matanya masih terpaut pada monitor komputer di hadapannya. Bahkan monitor komputer yang ia pakai memiliki layar yang lebih jernih daripada monitor layar laptopnya.

“Apakah seperti ini juga nasib para sekretaris sepertiku di luar sana?” tanya Aneya pada dirinya sendiri.

“Orang-orang yang menjadi sekretaris di perusahaan besar benar-benar orang yang sangat kuat. Baru setengah hari tapi berbagai macam gerutu sudah keluar dari mulutku,” lanjut Aneya.

Ia sudah mencoba meredam pikirannya yang sempat mengkhawatirkan Arya beberapa saat yang lalu. Kembali Aneya memeriksa ponselnya, ia memantapkan diri untuk mengirim pesan singkat kepada Arya. Ia tidak bisa menahan pikiran obsesifnya yang mengganggu disela-sela bekerja.

Tidak ada balasan dari pesan singkat yang dikirimkan. Aneya mencoba untuk menelpon Arya, guna memastikan apakah akan ada sedikit respon atau tidak sama sekali.

Masih tidak ada notifikasi yang berdering dari ponselnya. Aneya mendengus kesal akan hal tersebut.

“Masih tidak mau merespon, ya?” tanya Aneya seraya menatap ponsel.

“Respon dari siapa?” tanya Ravin sembari menaruh beberapa berkas di hadapan Aneya.

Wanita itu terkejut mendapati Ravin yang kini berada di ruangannya dan kembali menambah berkas untuk ia kerjakan. Aneya mengerjapkan matanya beberapa saat, masih memproses semuanya.

Aneya memperhatikan raut wajah datar dari pria itu. Ravin mengatur kembali berkas yang baru saja ia taruh di hadapan Aneya.

“Ah, tidak, Pak. Saya hanya …” balas Aneya terpotong.

“Hanya mengalihkan perhatian dari tanggung jawab?” timpal Ravin sarkas.

“Tidak sama sekali, Pak,” jawab Aneya lirih.

“Pria ini benar-benar menyebalkan,” gumam Aneya dalam hati.

Aneya berdehem ringan, ia meraih beberapa lembar berkas dan memainkan jari-jarinya di atas papan ketik. Sejujurnya, ia sedikit merasa risih dengan Ravin yang selalu ketus, namun Aneya harus sabar menghadapi atasannya itu.

“Apa ada kendala pada setiap berkas yang saya berikan?” tanya Ravin antusias.

“Sejujurnya, saya tengah beradaptasi dengan semua ini, Pak. Saya akan memberikan kontribusi terbaik sepenuhnya,” jelas Aneya.

“Baiklah kalau begitu, jangan sungkan untuk bertanya,” ujar Ravin.

Aneya menganggukan kepalanya. Senyum Ravin menghias wajah tampan itu yang hampir membuat Aneya gagal fokus.

Aneya tidak bisa berbohong pada hati kecilnya. Ia akui perawakan dari Ravin sama sekali berbeda tiga ratus enam puluh derajat daripada Arya, wanita itu yakin bahwa siapapun yang melihat Ravin pasti akan terpanah, tidak dengan dirinya atau mungkin belum.

“Mohon maaf, Pak, apa ada lagi yang bisa saya bantu?” tanya Aneya.

Mengingat Ravin masih berdiri di depan meja kerjanya dan sedang memperhatikan Aneya. Gerak tubuh pria itu berubah, terlihat Ravin menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal itu.

“Belum, namun saya akan kembali lagi untuk memeriksa semua pekerjaan ini. Jangan melewatkan waktu makan siang,” tegas Ravin seraya berlalu dari hadapan Aneya.

Aneya benar-benar memastikan Ravin sudah keluar dari ruangannya. Ia kembali meloloskan deru napas beratnya, cukup tegang.

“Makan siang? Bagaimana mungkin aku akan sempat makan siang dengan pekerjaan yang seperti tidak ada habisnya ini,” cibir Aneya.

Ditengah-tengah kesibukannya, Aneya sebenarnya terbilang telaten mengerjakan semua berkas yang diberikan oleh Ravin. Ia cepat tanggap. Namun, sifat perfeksionisnya membuat pengerjaannya yang ekstra hati-hati itu memakan sedikit waktu.

Aneya membiarkan Ravin yang berlalu-lalang di ruangannya. Pria itu hanya masuk memeriksa kemajuan apa yang telah dibuat oleh Aneya di hari pertamanya menjabat sebagai sekretaris.

“Saya terkesan dengan cara anda mengerjakan berkas-berkas itu. Bahkan sekretaris saya sebelumnya tidak seperti ini,” puji Ravin.

Ravin kembali terkesima melihat kinerja Aneya yang terbilang cekatan. Bahkan pria itu baru sadar ketika melihat berkas yang dikerjakan oleh Aneya tidak semenggunung seperti diawal.

“Terima Kasih, Pak. Memangnya ada yang salah dengan sekretaris anda sebelumnya?” timpa Aneya.

Wanita itu sedikit menghidupkan percakapan diantara mereka berdua. Ravin memperbaiki gerak tubuhnya dan siap dengan topik ringan yang tercipta.

“Saya merasa tidak puas dengan beberapa hasil yang mereka kerjakan. Saya sebenarnya tidak terpikirkan untuk mencari sekretaris lagi setelah sekian lama, mengingat saya juga bisa mengerjakan semua,” jelas Ravin panjang “hanya saja, semakin hari pekerjaan itu semakin bertambah dan pada akhirnya saya kewalahan, sekuat apapun saya menghadapi ini semua dan pada akhirnya saya benar-benar membutuhkan sekretaris.”

“Mengapa anda tidak mengambil salah satu karyawan yang sudah lama bekerja di perusahaan ini untuk menjadi sekretaris? Bukannya mereka juga berhak mendapat jenjang karir?” kritik Aneya.

“Pertanyaan yang cukup bagus, namun saya sudah membagi bagian mereka. Pekerjaan yang mereka kerjakan sangat berbeda jauh dengan apa yang anda jalankan,” jawab Ravin tegas “saya sangat selektif terhadap setiap orang.”

Aneya mengangguk perlahan, pertanda ia mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Ravin. Pria itu kemudian mengingatkan Aneya untuk segera mengerjakan apa yang harus ia kerjakan.

“Kembali bekerja, anda berhak untuk istirahat dalam beberapa waktu ke depan,” ujar Ravin.

Aneya mengindahkan perkataan atasannya itu. Sebenarnya ia masih ingin melanjutkan pembicaraan bersama Ravin, namun ia sadar bahwa masih banyak hal yang harus ia selesaikan.

Beberapa kali Ravin beradu pandang dengan wanita tersebut, cukup singkat tapi cukup untuk membuat detak jantung miliknya bergetar lebih keras. Rasa penasarannya semakin memupuk kepada sekretaris barunya.

“Pria mana yang cukup beruntung dalam mendapatkan wanita seperti dirimu, Aneya?” gumam Ravin dalam relung hatinya.

Visual yang diberikan Aneya semenjak ia tiba di perusahaan membuat pikiran Ravin sedikit kacau. Ravin sama sekali tidak bosan untuk mencuri pandang ke arah Aneya.

Aneya menggunakan setiap detiknya dengan sangat baik. Ia tidak membiarkan tatapan dari Ravin kali ini membuyarkan fokus utamanya, justru hal tersebut ia tanamkan sebagai pengingat agar lebih mempercepat gerakannya.

Aneya mencoba mengambil jeda, ia meregangkan persendian jari hingga tangannya. Ia tertegun sesaat seolah memikirkan hal yang tidak akan dikatakan pada siapapun dan beberapa saat kemudian ia kembali bekerja, beberapa kali ia melakukan hal seperti itu.

Ravin memperhatikan kembali jeda singkat yang disisipkan oleh Aneya, membuat rasa ingin tahunya semakin tak tertahan. Terlalu konsisten jika disebut kelelahan dan terlalu cepat untuk disebut ragu.

“Tidak perlu terlalu tegang,” ujar Ravin memecah suasana.

Aneya tidak langsung menoleh ke arah Ravin. Gerakannya sempat terhenti untuk beberapa detik guna memastikan dirinya tidak merespon berlebihan.

“Tegang?” timpal Aneya mengulang perkataan Ravin.

“Saya hanya mencoba untuk tetap fokus, Pak,” lanjut Aneya.

“Saya tahu bedanya fokus dan menahan sesuatu,” ujar Ravin santai.

Dengan jarak yang sedekat itu, tatapan Ravin semakin tidak lepas dari wajah Aneya yang masih menatap berkas. Pria itu menelan salivanya dengan susah payah, entah mengapa ia merasa sedikit kikuk.

“Tidak perlu mengkhawatirkan saya, Pak, saya sedang baik-baik saja,” tukas Aneya.

“Jika memang seperti itu, pasti tidak akan mengambil jeda untuk memikirkan sesuatu,” ucap Ravin lembut.

Aneya menahan napas. Ia juga menahan dirinya agar tidak membalas ucapan dari Ravin.

Ravin memutuskan untuk mengambil jarak paling dekat dari yang sebelumnya. Deru napasnya terasa hangat menerpa telinga Aneya.

“Yakin tidak ada yang mengganggu?” tanya Ravin lembut.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 9: Cemburu yang membakar Senja

    Langit Petang yang berwarna oranye itu kini berubah menjadi warna ungu dibubuhi sedikit warna gelap, ada sedikit bintang yang bertabur di langit. Aneya memperhatikan pemandangan itu dengan seksama, tampaknya ada sedikit hal indah sebagai penutup hari yang buruk untuknya. Aneya berada di area parkir. Kendaraan yang tersisa hanya mobil milik Ravin dan beberapa kendaraan lain milik petugas keamanan yang tetap tinggal untuk berjaga semalaman penuh. “Apakah jemputanmu sudah di perjalanan?” tanya Ravin. “Iya, Pak. Mungkin sebentar lagi akan tiba,” sahut Aneya. Ravin tidak beranjak jauh sama sekali dari Aneya. Pria itu bersandar pada pintu mobil, sembari Aneya berdiri dengan sedikit segan di sampingnya. “Apakah tidak masalah jika saya menemani anda disini seraya menunggu jemputan anda tiba?” tanya Ravin canggung. “Tidak apa-apa, Pak. Justru saya sangat menghargai itu,” balas Aneya tersenyum. “Bagaimana kalau kita pergi makan malam untuk waktu yang sebentar saja, tidak jauh dari

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 8: Di Persimpangan Pulang

    “Oh iya, baik, silahkan,” ujar Ravin. Aneya berlalu dari meja kerjanya, meninggalkan Ravin yang masih berada di tempat. Wanita itu mengambil sedikit ruang yang agak berjarak dari Ravin. “Halo, kau dari mana saja?” tanya Aneya dengan nada yang sedikit berbisik. Aneya sudah menunggu akan momen ini seharian penuh. Ia sedikit tersenyum dan merasa tenang sesaat mendengar suara Arya dari balik benda pipih itu. Ravin menangkap ekspresi Aneya yang tersenyum penuh harap. Pria itu merasa tenang melihat senyum yang sederhana itu daripada melihat raut wajah kerucut yang terpahat di wajah Aneya. “Hey, maaf, aku tadi tidak ada waktu untuk memeriksa ponsel ketika aku sudah bangun,” jawab Arya santai dari seberang sana, “aku bahkan lupa menaruh ponselku dimana setelah aku kembali tertidur,” Aneya tercekat sesaat. Jawaban yang diberikan Arya sangat tidak bisa dicerna oleh pikirannya, seperti ia mencoba menentang hal itu. “Kau serius? Tidak ada waktu atau memang sengaja mengabaikanku hari

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 7: Sisa Waktu yang Tersandera

    Perhatian Aneya pada pekerjaannya akhirnya kalah pada sebuah pertanyaan yang diberikan oleh Ravin. Deru napasnya yang keluar begitu berat seolah mengeluarkan sedikit rasa tertekan yang ada pada dalam dirinya. “Apakah hal itu terlalu penting untuk …” ujar Aneya terpotong, tampaknya ia hampir meluapkan emosinya kepada Ravin. “Pacarmu?” sela Ravin tenang. Aneya sempat terhentak sesaat. Namun, ia memastikan agar tidak ada perubahan yang terjadi dari gerakan tubuh serta ekspresi wajahnya. Aneya kembali melandaskan tangannya pada berkas, mengambil salah satu dan memeriksanya, sementara tangan yang lain bermain di atas papan ketik. “Tanpa mengurangi rasa hormat. Saya mohon kepada anda untuk tinggalkan saya dan jangan mengganggu untuk beberapa jam kedepan, Pak,” pinta Aneya datar “anda ingin semua ini agar cepat selesai ‘kan?” “Iya benar, maaf sudah menyita waktu anda terlalu banyak,” ujar Ravin. Ravin memundurkan badannya, lagi-lagi ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia m

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 6: Ketika Jeda Itu Mengundang

    Aneya kembali berkutat dengan pekerjaannya bersama berkas-berkas yang menggunung. Ia menghela napasnya, hari pertama yang cukup berat dan menantang, ia beberapa kali meloloskan keluh kesahnya. “Rasanya kepalaku mau pecah,” ujar Aneya seraya berdecak ringan. Fokus matanya masih terpaut pada monitor komputer di hadapannya. Bahkan monitor komputer yang ia pakai memiliki layar yang lebih jernih daripada monitor layar laptopnya. “Apakah seperti ini juga nasib para sekretaris sepertiku di luar sana?” tanya Aneya pada dirinya sendiri. “Orang-orang yang menjadi sekretaris di perusahaan besar benar-benar orang yang sangat kuat. Baru setengah hari tapi berbagai macam gerutu sudah keluar dari mulutku,” lanjut Aneya. Ia sudah mencoba meredam pikirannya yang sempat mengkhawatirkan Arya beberapa saat yang lalu. Kembali Aneya memeriksa ponselnya, ia memantapkan diri untuk mengirim pesan singkat kepada Arya. Ia tidak bisa menahan pikiran obsesifnya yang mengganggu disela-sela bekerja.

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 5

    Tatapan Ravin masih membayang dalam benak Aneya, tertinggal seperti bayangan cahaya yang enggan pudar. Terasa mengganggu, melekat terlalu lama, bahkan ketika Aneya sudah berusaha memalingkan wajah dan mengatur kembali napasnya. Ruangan itu seharusnya terasa netral, bersih, rapi dan formal. Namun, keberadaan pria itu membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Aneya masih dapat mendengar bisikan suaranya sendiri yang sempat lolos tanpa ia sadari. Sebuah gumaman lirih, nyaris seperti nada yang baru saja diputar lalu terhenti mendadak. Kesadaran akan hal itu membuat rasa malu menjalar cepat, terlebih ketika balasan Ravin datang dengan nada santai yang terasa menyentil. “Saya tidak bicara apapun sama sekali,” sanggah Aneya sembari menyelipkan rambut ke belakang telinga. “Oh, kalau begitu mungkin pendengaran saya yang bermasalah,” timpal Ravin.Senyum tipis terbit di wajah pria itu. Singkat dan cepat, cukup untuk membuat Aneya kehilangan kata-kata. Aneya men

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 4

    Pukul enam pagi waktu setempat, Aneya masih setengah sadar ketika dering alarm ponselnya bergema mengisi kamar. Suara yang terlalu nyaring untuk pagi yang masih terlihat gelap. Ia mengerjap pelan dan mencoba menatap layar ponsel dengan mata yang berat sebelum akhirnya mematikan alarm tersebut. “Sejam kedepan aku sudah harus berada di tempat kerjaku,” gumam Aneya. Aneya masih belum sepenuhnya percaya bahwa ia benar-benar diterima bekerja. Ia benar-benar memulai sesuatu yang baru, hal yang selalu ia impikan sedari dulu. Aneya bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju lemari. Tangannya meraih setelan yang sudah ia siapkan sejak malam sebelumnya. Aneya mengamati pantulannya yang berada di cermin. Tidak berlebihan dan tidak pula terlalu sederhana. “Sempurna!” celetuk Aneya seraya tersenyum lebar. Senyum itu bertahan bahkan ketika ia melangkah keluar dari kamarnya. Ia benar-benar mempersiapkan dirinya dengan sangat baik di hari pertama bekerja. Aneya sarapan seadanya deng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status