LOGIN“Jadi?” Devan bergumam lirih, suaranya hampir tak terdengar. Lalu, menggeleng pelan, rahangnya mengeras. Ada amarah yang perlahan naik, bukan pada Cleo, melainkan pada dunia yang begitu kejam pada perempuan yang ada di depannya, dan pada seorang laki-laki yang membiarkan istrinya menanggung beban harga diri yang seharusnya dia pikul sendiri.Devan mengingat kembali hari itu, di rumah sakit, saat Cleo melahirkan. Cara Cleo menatap bayi itu dengan campuran takut dan pasrah. Cara Cleo memilih pergi, sendirian, membawa rahasia sebesar gunung di punggungnya. Dadanya berdenyut sakit.“Pantas kamu selalu merasa bersalah. Pantas kamu menjauh. Pantas kamu memilih menghilang.”Kini, bukan kebencian yang tumbuh di hati Devan. Justru sebaliknya. Ada rasa hancur, iba, dan penyesalan yang bercampur jadi satu. Penyesalan karena tujuh tahun lalu dia tak cukup kuat menggenggam Cleo.Karena dia membiarkan perempuan yang dicintainya berjuang sendirian di tengah kebohongan dan tekanan.Mata Devan memera
Cleo akhirnya melepaskan diri dari pelukan itu. Bukan dengan kasar, melainkan perlahan. Dia mundur satu langkah, dan menunduk. Jemarinya saling mencengkeram menahan gemetar yang tak bisa disembunyikan.“Kamu nggak tahu sebenarnya, Van. Kalau kamu tahu semuanya, kamu pasti benci aku.”Devan mengernyit. Tangannya terulur, ingin kembali menarik Cleo ke pelukannya. Namun, Cleo menolak, dan untuk pertama kalinya, Devan melihat ketakutan nyata di mata Cleo. Bukan hanya sebatas keraguan."Aku benci kamu? Itu nggak mungkin Cleo, aku udah kehilangan kamu tujuh tahun. Nggak ada lagi yang bisa lebih menyakitkan dari itu.”Devan melangkah lebih dekat, kali ini menjaga jarak, memberi ruang agar Cleo tak merasa terpojok. Suaranya merendah, penuh kesabaran.“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dari dulu kamu selalu menutup diri? Kenapa kamu memilih pergi tanpa pernah jujur padaku? Kenapa kamu nggak pernah terbuka, dan selalu menyimpan rasa sakit itu sendiri, Cleo?”Cleo menghela napas panjang, dadan
Cleo masih memejamkan mata. Dadanya naik turun tak beraturan, rasanya satu tarikan napas saja terasa terlalu berat. Namun, langkah kaki itu kini justru kian mendekat. Seolah sebuah pertanda jika Cleo sudah tak memiliki lagi kesempatan untuk menghindar.“Apa kabarmu, Cleo?”Pertanyaan itu sederhana. Namun justru itulah yang membuat tenggorokannya tercekat. Bukan karena dia tak punya jawaban, melainkan karena suara itu terdengar tulus.Suara ketulusan yang sama seperti tujuh tahun lalu. Atau bahkan, sejak mereka saling mengenal dulu.Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Akhirnya, Cleo menarik napas panjang. Lalu, detik berikutnya, dia bangkit dari kursinya dan berbalik. Kini, keduanya berdiri saling berhadapan, terpisah jarak tak lebih dari satu langkah, tapi terasa seolah ada tujuh tahun yang membentang di antara mereka. Tujuh tahun yang dipenuhi diam, luka, dan rindu yang tak pernah benar-benar mati.Mata mereka saling bertaut. Tidak ada pelukan, tidak ada sentuhan. Hanya tatapa
Keesokan harinya, Devan kembali tenggelam dalam rutinitas pekerjaannya. Hari ini, dimulai dengan rapat panjang, lalu dilanjutkan tinjauan proyek.Devan berdiri di tengah timnya, memberi arahan dengan suara tegas dan sikap profesional seperti biasa. Namun hanya tubuhnya yang benar-benar hadir di sana. Pikirannya sepenuhnya tertinggal pada satu nama, Cleo.Setiap angka di layar, setiap penjelasan rekan bisnis, terdengar samar, tidak benar-benar masuk dalam benaknya. Sedangkan pandangan Devan kerap kosong, menembus jauh melewati ruang rapat. Memang, sesekali dia mengangguk, memberi persetujuan, tapi pikirannya tak sepenuhnya fokus.Sebenarnya, tadi malam, dia sudah dekat dengan Cleo. Begitu dekat hingga dia bisa melihat siluet wanita itu dari dalam, membayangkan sosok Cleo mungkin sedang duduk bersama anaknya, menjalani hidup yang selama ini tak pernah dia ketahui.Namun pada akhirnya, Devan memilih mundur. Dia ingat betul bagaimana tangannya sempat terangkat, hampir membuka gerbang, lal
Beberapa saat kemudian, Cleo bangkit dari tempat duduknya. Dia merapikan tas yang disampirkan di bahu, lalu melangkah masuk ke dalam cafe.Suasana di dalam masih hangat, beberapa pengunjung tampak larut dalam obrolan ringan, sementara musik lembut mengalun pelan. Cleo mendekat ke meja kasir.“Aku pulang dulu ya,” ucapnya lembut.Kasir itu mengangguk hormat.“Iya, Bu Cleo. Hati-hati di jalan.”Sebelum benar-benar melangkah pergi, Cleo menambahkan dengan nada santai, “Tolong bilangin ke yang giliran jaga, jangan lupa laporkan kondisi kafe ya. Kalau ada apa-apa, langsung kabari aku.”“Siap, Bu."Cleo tersenyum tipis, lalu melangkah keluar. Pintu cafe menutup pelan di belakangnya. Namun, tanpa disadari Cleo, dari seberang jalan, di bawah temaram lampu kota yang mulai menyala satu per satu, ada sepasang mata yang tak berkedip mengamatinya.Sosok itu berdiri kaku, setengah tersembunyi di balik bayangan pohon yang ada di depan cafe. Pandangannya mengikuti setiap gerak Cleo, cara wanita itu m
Tiga bulan kemudian ....Devan melangkah keluar dari bandara Ngurah Rai, sesaat setelah pintu otomatis terbuka dan udara Denpasar menyambutnya.Entah mengapa perasaan Devan terasa lebih ringan dibanding kunjungan terakhirnya tiga bulan lalu.Dia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam. Angin laut yang samar bercampur aroma khas pulau ini menyentuh wajahnya, membuat dadanya terasa lapang. Tidak ada lagi beban yang menekan seperti sebelumnya. Tidak ada perasaan bersalah, tidak ada kewajiban yang memaksa. Kali ini, dia datang bukan sebagai suami seseorang. Namun, dia datang sebagai Devan, utuh dengan dirinya sendiri.Tiga bulan lalu, setiap langkah di kota ini terasa berat. Hatinya dipenuhi konflik, rasa terikat pada pernikahan yang hampa, dan bayang-bayang Cleo yang terus menghantuinya tanpa boleh dia dekati. Bahkan udara Denpasar kala itu terasa sesak, seolah ikut menertawakan kegundahannya. Devan melirik ponselnya. Tidak ada lagi pesan yang harus dia jelaskan, tidak ada telepon







