LOGINApi di dada Tasya tidak lagi sekadar membara, melainkan telah melahap seluruh akal sehatnya. Meski waktu dan perhatiannya banyak tersita oleh Elano dan permainan bisnis yang rumit, insting seorang wanita—terutama wanita yang haus akan kekuasaan—tidak pernah buta. Ia mendengar bisikan-bisikan di kompleks, ia melihat video yang viral itu berulang kali hingga layar ponselnya hampir retak, dan yang paling menyakitkan, ia bisa melihat perubahan itu dengan mata kepalanya sendiri. Dimas yang dulu dingin, kaku, dan jarang tersenyum, kini mulai meleleh. Dan sumbernya jelas sekali: Rani. Sore itu, Tasya memutuskan pulang lebih awal. Bukan karena rindu, melainkan karena rasa curiga yang menggerogoti isi kepalanya. Ia masuk tanpa suara, melepas sepatu hak tingginya dengan gerakan lambat. Sepatu stiletto itu diletakkan dengan hati-hati, seolah ia adalah predator yang sedang mengendap-ngendap mendekati sarang mangsa. Langkah kakinya yang dibalut stoking su
Sore itu langit Citra Asmarayudha tampak keemasan, memantulkan cahaya matahari terbenam ke permukaan aspal yang mengkilap. Suasana terasa tenang, namun di balik ketenangan itu, lensa kamera selalu mengawasi. Zafla, resepsionis gerbang yang tak pernah lepas dari ponselnya, sedang asyik menguji kualitas kamera barunya. Jari-jarinya lincah mengatur sudut, berniat membuat konten aesthetic tentang "Keindahan Sore di Elite Residence". Ia merekam gerbang besi, pepohonan trembesi yang rindang, hingga mobil-mobil mewah yang berlalu lalang. "Hmm, kurang angle yang bagus nih..." gumamnya pelan, matanya terus mengintip lewat layar. Tiba-tiba, sebuah sedan hitam mewah meluncur pelan dan berhenti tepat di depan pos satpam. Itu mobil Dimas. Zafla otomatis mengarahkan kameranya, berniat mengambil gambar mobilnya saja. Namun, apa yang terekam layar ponselnya membuat jari yang sedang menekan tombol record itu berhenti mendadak. Di layar kecil itu, te
"Sudah, sudah Ibu-ibu..." Rahman, satpam senior yang selama ini melihat segala kejadian dengan bijak, akhirnya angkat bicara. Suaranya berat namun tenang, berusaha meredakan api yang mulai membesar. Ia menggeleng pelan, wajahnya penuh penyesalan melihat bagaimana gadis baik seperti Rani diperlakukan demikian. "Jangan gosip dong, belum tentu itu bener. Mungkin hanya salah lihat saja. Kasihan anak orang kalau digunjingkan begitu." Namun usahanya sia-sia. Zenira langsung memotong dengan ketus, ia melirik Rahman dengan pandangan meremehkan. "Ah Pak Rahman tahu apa!" serunya tak terima. "Mata saya tajam lho! Saya lihat sendiri gimana cara Pak Dimas natap dia. Itu bukan tatapan bos ke pembantu! Itu tatapan... ah sudahlah, orang tua mah pasti gak ngerti. Nanti juga terbukti sendiri kalau mereka ada apa-apa!" Rahman hanya bisa menghela napas panjang, memandangi punggung Rani yang sudah menghilang di balik pintu utama rumah Dimas. Ia tahu,
Maiza tersenyum tipis, tidak terkejut sama sekali pertanyaannya begitu telak. Ia menyandarkan punggungnya, menatap Tasya dengan tatapan yang sama tajamnya."Kak Tasya memang tahu segalanya," jawabnya santai, meski nada suaranya penuh perhitungan. "Benar, aku bekerja untuk Pak Elano. Dan seperti yang Kakak bilang, dia orang yang sangat... visioner. Dia tahu peluang di mana pun letaknya, bahkan di tempat yang paling tidak terduga."Ia menatap lurus ke manik mata Tasya, tak sedikit pun gentar."Tentang klien Dimas... biar dibilang begitu, kami hanya menawarkan alternatif yang lebih menguntungkan. Di dunia bisnis, siapa yang memberi harga terbaik, dia yang menang, kan? Apalagi kalau ada tanda-tanda bahwa 'kapal' yang ditumpangi sekarang mulai bocor karena ulah orang dalam."Tasya terkekeh pelan, suara itu terdengar manis namun menusuk. Ia meletakkan cangkir kopinya perlahan, menatap Maiza dengan pandangan menilai—seperti predator yang sedang mengukur kekuatan lawan."Bocor?" ulangnya lemb
Beberapa hari kemudian, Maiza menemui Rani di Penthouse Satya. Kali ini ia membawa sebuah surat kabar yang memuat artikel tentang langkah bisnis terbaru Dimas. Ia duduk di seberang Rani di ruang tamu, lalu membentangkan koran itu di atas meja kopi di antara mereka.“Sudah lihat ini?” tanya Maiza santai sambil menunjuk tajuk utama yang membahas pesaing potensial yang mulai menantang dominasi pasar Satya Inc. “Kakak iparmu akhir-akhir ini sedang menghadapi persaingan yang cukup serius. Bahkan ada kabar soal kemungkinan sabotase internal di dalam perusahaannya sendiri.”Ia sedikit condong ke depan, merendahkan suaranya seolah berbagi rahasia. “Dengar, Rani, aku bukan orang bodoh. Aku bisa melihat bagaimana Tasya memperlakukanmu—lebih seperti pembantu daripada adiknya sendiri. Dan Dimas…” Maiza berhenti sejenak, memberi penekanan. “Katakan saja, aku memperhatikan betapa protektifnya dia belakangan ini.”Maiza mengetuk-ngetuk artikel di koran dengan jarinya. “Kurasa kamu mungkin tahu sesua
Saat malam semakin larut, Dimas membimbing Rani kembali ke kamar vila, tangannya tetap berada di punggungnya yang kecil dengan sentuhan yang penuh posesif. Ruangan diterangi cahaya keemasan hangat dari lampu samping tempat tidur, membentuk bayangan panjang yang melengkung di lantai kayu. Dimas berbalik menghadapnya, matanya tampak lebih gelap karena nafsu yang membanjiri dirinya sambil perlahan membuka satu per satu kancing kemejanya. Nafas Rani terjepit saat melihat dada yang terpahat itu, jari-jarinya tidak bisa menahan diri untuk tidak ingin menjelajahi setiap lekukan tubuh berototnya. "Kamu tidak pernah tahu apa yang kamu lakukan padaku," gumam Dimas sambil melangkah lebih dekat, lalu menangkap wajah Rani dengan kedua tangannya. "Tidak ada orang lain yang bisa membuatku merasa seperti ini... hanya kamu." Rani meleleh dalam genggamannya, bibirnya terbuka sedikit saat dia menatapnya dengan pandangan yang penuh pemujaan. "Aku ingin membuatmu merasa nyaman," bisiknya, tangannya m
Cengkeraman Dimas di leher Rani sedikit menguat. Tatapannya tertuju pada tenggorokan itu dengan sorot intens, posesif.“Katakan,” tuntutnya, suaranya rendah dan penuh kendali. “Katakan padaku kalau kamu milikku.”Rani menelan ludah. Nadinya berdenyut jelas di bawah jemari pria itu. Ia tahu seharusn
Rani menatap memar di foto itu lama-lama, jantungnya berdegup tak karuan. Ia sama sekali tidak mengingat bagaimana bekas itu bisa muncul, namun melihatnya saja sudah cukup membuat tengkuknya dingin. Ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang membuat perutnya melilit gelisah. Apa yang sebenarnya terjadi
Rani berjalan tanpa tujuan di taman yang mengelilingi penthouse itu. Langkahnya pelan, pikirannya masih kacau sejak pertemuannya dengan Tasya. Ada terlalu banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya, dan semuanya terasa menyesakkan. Ia butuh pengalih perhatian—apa pun, asal pikirannya tidak kembali
Pagi ini, Rani menaiki tangga loteng yang berderit, kain lap berdebu tergenggam di tangannya. Udara terasa pengap, sarat aroma kayu tua dan kenangan yang seolah telah lama dikubur. Sambil menyeka rak-rak berdebu, pikirannya melayang pada peristiwa aneh yang terjadi semalam.Saat tangannya meraih se







