LOGINMobil yang dipandu Firzan mulai melaju membelah jalanan ibu kota yang masih sepi. Dari balik kaca spion depan, Firzan bisa melihat Pak Gun sedang menempelkan wajah ke bagian depan tubuh istrinya yang menonjol. Lelaki tampan itu hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala atas apa yang baru saja dilihatnya. “Selamat menikmati kuda liar, Pak...” ucap Firzan dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.
Saat mobil melaju keluar kota Jakarta, aksi panas di dalam mobil terus berlanjut. Saat ini Mili sudah berjongkok di hadapan suaminya yang sedang duduk bersandar.
“Buka, Mah...” pinta Gun menyuruh Mili membuka resleting celana suaminya itu.
Dengan cekatan Mili pun memulai permainannya.
Baru saja istrinya akan memulai, tiba-tiba handphone suaminya berbunyi. Tertera di layar nama putrinya Chantika yang kini tinggal di Semarang. Dalam keadaan penuh kenikmatan itu, kalau bukan dari putrinya tidak mungkin dia mau menjawab panggilan telepon.
“Pah, ada sedikit masalah nih di Semarang,” adu Chantika di sana kepada papanya.
“Tumben kamu enggak bisa menyelesaikan masalah sendiri,” ucap Pak Gun yang tengah berada di dalam perjalanan ke bandara.
“Aku ada pesanan nasi kotak mendadak Pah, tapi stok ayam pejantan dari pembekalnya sedang kosong dan sudah aku cari kemana-mana memang tidak ada. Jadi aku minta izin pakai ayam broiler untuk hari ini saja,” jelas Chantika sambil keheranan mendengar suara ayahnya sebentar-bentar mendesah tidak jelas.
“Papah kenapa sih...?” selidik Chantika.
“Enggak... enggak pa-pa...” jelas Pak Gun. “Ya udah untuk kali ini Papa izinkan. Ingat ya kali ini saja, besok harus sudah dipastikan barangnya harus aaa...daa... Mah...”
Chantika menjauhkan handphonenya dari telinga, desahan papanya terdengar lagi, sungguh tidak enak didengar.
“Papa kenapa sih, Pah?” tegas Chantika.
“Enggak pa-pa… Ya udah dulu ya teleponnya, jangan lupa pesan Papa,” ucap Pak Gun sebelum menutup telepon.
Desahan Pak Gun di belakang tidak lagi terdengar pelan. Mendengarnya membuat Firzan merasa ngilu.
“Sekarang Papa bisa keluar kota dengan tenang. Plong rasanya Mah,” ucap Pak Gun setelah desahan klimaksnya terdengar bikin Firzan sakit kepala. Mili tampak sibuk mengeluarkan tisu untuk membersihkan celana pada area sensitif Pak Gun.
Mendekati bandara Soekarno Hatta, Pak Gun yang sudah bisa duduk santai di samping istrinya, memulai obrolan dengan Firzan.
“Maaf ya, Mas tadi, maklumlah mau pergi ke Surabaya tiga hari, jadi harus diservis dulu, kalau tidak nanti malah saya pengin jajan di luar, hahaha...”
“Bisa aja, Bapak...” timpal Firzan.
“Kamu bilang tidak lama lagi mau lulus kuliah ya Mas? Kalau mau gabung di restoran saya silakan. Dalam waktu dekat ini kita mau buka outlet di Kemang,” ucap Pak Gun memberi penawaran.
“Iya, Mas Firzan, apalagi tampang Mas menjual begitu, cocok ya Pah kalau jadi ambassador di perusahaan kita.” Mili ikut mendukung ucapan suaminya.
“Tapi saya kan bukan model, Pak, Bu,” ucap Firzan sembari tersenyum.
“Terserah kamu tinggal pilih mau jabatan apa, yang penting lulus kuliah kamu langsung gabung dengan ayam penyet Gunsu. Janji ya?” tegas Pak Gun.
“Baik, Pak. Terima kasih atas kepercayaannya,” ucap Gun dengan wajah semringah. Setidaknya ketakutannya selama ini tidak dapat pekerjaan setelah lulus kuliah bisa dia ketepikan. Selanjutnya dia tidak berani berharap banyak, karena dia mengakui awam dalam bisnis kuliner.
“Kamu kuliah di mana, Mas Firzan?” Pak Gun masih melanjutkan obrolannya. Dia langsung tertarik dengan diri dan kepribadian Firzan.
Memang selain memiliki paras rupa yang rupawan dia juga memiliki attitude yang baik, dari cara dia berbicara dengan orang yang lebih tua penuh sopan santun. Dalam dirinya juga tidak ada tanda-tanda sifat penentang, yang sangat dihindari oleh seorang pimpinan dalam merekrut karyawan. Sehingga tanpa pikir panjang Pak Gun berani menawarkan pekerjaan kepada Firzan.
“Saya kuliah di Semarang, Pak,” jelas Firzan.
“Wah, kebetulan saya ada outlet di sana. Nanti kalau kamu balik ke Semarang kamu training saja di sana ya. Mau kamu ya?”
“Iya, siap pak!”
“Nanti saya telepon anak saya, agar bisa mengajari kamu ya Mas Firzan?”
“Iya, Pak, terima kasih....”
Mendengar obrolan Firzan dan suaminya, Mili sedari tadi malah sedang memutar otak. Bagaimana pun caranya, dia sudah bertekad harus bisa menaklukan Firzan. Salah satu caranya adalah dengan selalu bersamanya atau cara apa pun akan dia tempuh demi mendapatkan lelaki tampan yang telah membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama itu.
Tiba di pintu keberangkatan, Mili langsung mengantarkan suaminya check-in. Sementara Firzan menunggu di area parkir pengunjung bandara.
Hati Firzan mulai merasa tidak tenang, karena dalam perjalanan pulang nanti dia hanya akan berdua dengan Mili. Tentu saja dia takut wanita itu nekad, dan melakukan hal yang bukan-bukan kepada dirinya. Sebagai mahasiswa psikologi Firzan bisa membaca karakter wanita seperti Mili, dia tipe orang yang akan menghalalkan cara untuk dapat meraih keinginannya.
“Firzan, ayo kita pulang...”
Sentuhan lembut di bahu Firzan yang sedang duduk melamun membuatnya terkesiap. Saat dia menoleh ke belakang Mili sudah berada di sampingnya memamerkan senyumnya yang penuh tanda tanya…
“Rasya…!” teriak Kevin mencari sahabatnya. Namun, ia mendapati di dapur sepi, tidak ada siapa-siapa. “Mbak Nung… Mbak Nung…!” panggil Kevin lagi mencari pembantu rumahnya itu, namun sama, tidak ada jawaban. “Kemana sih Mbak Nung? Rasya juga nggak ada lagi…” gumamnya keheranan.Ahhhh…!Saat akan melangkah keluar dari ruangan dapur, langkah Kevin terhenti mendengar sayup-sayup suara desahan seorang perempuan. Kening Kevin mengerut, suara aneh itu kemudian terdengar lagi, ia menengok ke kiri dan kanan mencari sumber suara itu. Pandangan Kevin akhirnya tertuju pada gudang yang pintunya tertutup. “Mbak Nung… Mbak… Mbak Nung…!”Panggil Kevin sambil mengetuk-ngetuk pintu gudang yang terkunci itu. Namun, beberapa saat memanggil tidak ada jawaban. Hening, suara desahan itu pun tak terdengar lagi. “Apa aku salah dengar? Tapi, tadi jelas sekali suaranya berasal dari gudang ini,” pikir Kevin masih berdiri di depan pintu gudang dengan perasaan heran. Kevin memutuskan untuk pergi ke teras depa
Setelah membuntuti Tante Mili, Kevin memutuskan kembali ke rumah, tentu saja ia tidak ingin pergi terlalu lama karena ada Rasya yang semalam menginap di rumahnya. Ia menduga temannya itu masih tertidur, karena saat ditelepon tadi tidak ada jawaban.“Aduhhh… sakit…” Saat Kevin masuk ke dalam rumah terdengar rintihan seseorang. Rupanya Mbak Nung sedang memijat punggung Rasya di ruang tengah. “Loh, kenapa lu, bro…?” tanya Kevin tiba-tiba.Tentu saja Rasya dan Mbak Nung terkejut melihat Kevin sudah kembali ke rumah, untung saja Rasya sudah mengenakan pakaian, demikian pula Mbak Nung, jadi tak dicurigai Kevin.“I-ini Mas… katanya badannya Mas Rasya pada pegal-pegal semua,” jawab Nung menjelaskan.“Makanya kalau tidur jangan kelamaan, Sya…”“Daripada nunggu lu nggak jelas ke mana, mending gue tidur,” ucap Rasya dengan nada ketus pada Kevin.Merasa tidak nyaman lagi karena kedatangan Kevin, Mbak Nung memilih pergi ke dapur, “Ya udah, Mas Rasya, Mas Kevin, aku mau lanjut menyiapkan masakan u
“Kevin tadi mau pergi ke mana, Mbak?” tanya Rasya pada Mbak Nung sejurus ia keluar dari kamar mandi. “Mas Kevin nggak bilang mau pergi ke mana, setelah Bu Mili keluar rumah dia langsung pergi,” jawab Mbak Nung yang masih mengemas tempat tidur Kevin.“Loh… berarti di dalam rumah ini sekarang tinggal kita berdua saja dong, Mbak,” ujar Rasya terdengar antusias .“Iya betul, Mas…” jawab Mbak Nung sambil tersenyum salah tingkah.“Wah, aku jadi takut nih, Mbak?”“Takut kenapa, Mas Rasya?”“Takut nggak bisa nahan diri, soalnya pagi ini Mbak Nung kelihatan seksi sekali,” ucap Rasya menggoda si pembantu rumah itu.“Ah, bisa aja Mas Rasya nih…” Mbak Nung kembali tersipu dibuat Rasya.“Tapi…, aku lapar, Mbak, apa masih ada makanan untuk sarapan?”“Iya ada, Mas, tadi aku bikin nasi goreng dan telor ceplok. Tapi… sebelum sarapan nasi goreng, apa Mas Rasya tidak ingin sarapan yang lain?” tanya Mbak Nung mulai menjalankan rencananya menggoda anak muda yang hanya mengenakan boxer dan masih bertelanja
Kevin menekan gas motor yang dikendarainya keluar dari rumah, dengan sedikit ngebut ia mengejar mobil merah metalik yang ditumpangi Tante Mili. Setelah mobil itu terlihat jelas sudah berada di depan, ia memelankan laju motornya, kemudian mengikutinya dengan jarak dua kendaraan yang berada di belakangnya. Setelah sampai di pertigaan jalan, tampak mobil Mili berbelok arah ke kiri, Kevin terus membuntuti, hingga ia berhenti saat mobil itu memasuki halaman parkir sebuah klinik 24 Jam. “Rupanya benar ia mau mengecek kesehatan,” batin Kevin. Kevin memutuskan untuk memarkir motor di dekat sebuah kedai makan pinggir jalan. Tidak lama kemudian, Rony keluar dari dalam mobil lalu membukakan pintu penumpang bagian tengah. Mili pun turun dari mobil, lalu berjalan dengan gayanya yang elegan dan modis menuju ke dalam klinik. Rupanya Rony pun ikut mengantar masuk ke dalam klinik yang tampak sepi pengunjung itu. Sekadar menunggu, Kevin memesan segelas minuman, lalu mengeluarkan ponsel dari saku cela
“Bro… bangun, bro!” usik Kevin pada Rasya yang masih tertidur pulas, Rasya hanya terbangun sebentar karena merasa terusik, lalu matanya terpejam kembali. “Gw mau pinjam motor, Sya… gue mau keluar dulu sebentar,” ucapnya memberitahu sahabatnya itu.“Hmm…” gumam Rasya mengiyakan. Kevin bergegas mengambil kunci motor Rasya yang ditaruh di dalam tasnya, lalu dengan mengenakan jaket hitam dan topi biru tua ia keluar kamar untuk mengikuti Tante Mili bersama sopir pribadinya.“Mbak Nung, coba lihat di depan, Tante Mili masih ada apa sudah pergi?” pinta Kevin pada pembantunya yang sedang mengepel lantai ruang tamu.Mbak Nung segera mengintip dari balik jendela, tampak di halaman mobil yang ditumpangi Mili mulai bergerak perlahan menuju pintu keluar. “Tante Mili mau jalan tuh, Mas,” ucap Mbak Nung memberitahu Kevin.“Iya, Mbak, aku mau keluar dulu ya…,” jelas Kevin bergegas keluar rumah.“Loh, emang Mas Kevin mau kemana?”Kevin tak menghiraukan pertanyaan Mbak Nung, ia terus keluar rumah lal
Saat sarapan pagi, Mili melayani Gun dengan penuh perhatian, dari makan dan minum ia sendiri yang menyediakan, untuk menunjukkan kalau saat ini sudah berubah menjadi istri paling berbakti pada suami.“Pah…, hari ini Mamah mau ke klinik, mau cek kesehatan,” ujar Mili sekadar beralasan agar bisa keluar rumah dengan bebas.“Loh, memangnya Mamah sakit apa?”“Nggak sakit apa-apa sih, Pah, cuma kan Mamah lama tinggal bersama orang-orang di tahanan, takutnya ada penyakit yang ditularkan mereka pada Mamah, Pah.”“Oh, papah ngerti sekarang. Mamah mau ditemani Papah atau bagaimana?”“Nggak usah, Pah, biar Mamah pergi sendiri saja diantar sopir.”“Ya sudah, nanti setelah Papah sampai kantor, Papah suruh si Bas antar Mamah ke klinik.”“Gimana ya, Pah, sekarang kan Baskoro sudah jadi bagian dari keluarga kita, kakak iparnya Chantika, jadi menurut Mamah kalau masih dijadikan sopir pribadi keluarga sepertinya kurang etis, kurang beretika, Pah. Apalagi harus menyuruh ini-itu, jadi sungkan, Pah.”Gun







