Share

Bab 3. Kepanikan Dalam Salon

last update Last Updated: 2025-08-01 09:23:56

Firzan menghentikan mobil di tepi jalan pada area penjemputan penumpang di terminal keberangkatan. Wanita berpakaian seksi di atas lutut yang memamerkan kaki jenjangnya yang putih dan mulus itu tampak sudah menunggu. Ketika sudah berhampiran dengannya, Firzan segera turun dari mobil untuk membukakan pintu. 

“Silakan Bu,” ucap Firzan setelah membuka pintu belakang mobil sebelah kiri.

“Aku duduk di depan saja,” ucap Mili membuka sendiri pintu penumpang di bagian depan lalu masuk ke dalam mobil. 

Deg! Hati Firzan menangkap firasat tidak baik, tapi saat ini dia hanya sebagai sopir, tidak punya pilihan selain mengikuti saja kemauan majikannya.

“Enggak apa-apa kan, aku duduk di depan, biar ngobrolnya lebih enak selama perjalanan gitu,” ucap Mili sesaat setelah Firzan berada dibalik kemudi di sampingnya. Firzan dengan ramah hanya mengiyakan, meskipun dia mulai merasa tak nyaman, tapi dia berusaha bersikap santai karena dia perlu fokus mengendarai mobil paling bagus yang pernah dibawanya.

“Kita langsung pulang ke rumah ya, Bu?” ucap Firzan saat mobil merayap perlahan menuju keluar kawasan bandara.

“Jangan dulu deh, lagian di rumah juga enggak ada siapa-siapa, aku boring sendirian. Mending antar aku dulu ke salon ya, soalnya nanti sore aku ada acara dinner sama teman-temanku, biar seger aku pengin dipijit. Oh iya, tugasmu sampai malam kan, seperti jam kerjanya Baskoro?” ucap Mili dari nadanya dia sedang coba berbicara akrab dengan Firzan.

“Saya ikut saja, Bu, seharian ini saya siap mengantar Ibu,” ucap Firzan coba menyenangkan hati Mili, walaupun sebenarnya dia lupa menanyakan kepada Baskoro, tugasnya hanya mengantar majikannya ke bandara? Atau menggantikan kerjanya selama sehari ini? 

Tapi, Firzan sudah terlanjur menyanggupi untuk bekerja seharian kepada Mili, dengan harapan akan menerima lebih banyak uang yang sangat dia butuhkan untuk membayar kuliah dan wisuda yang sudah menghitung hari.

 “Firzan, jangan panggil aku ‘ibu’ ya, berasa tua banget aku, hehehe...” ucap Mili coba mencairkan suasana obrolannya dengan Firzan. 

“Jadi saya harus panggil apa ya?” tanya Firzan yang sudah bisa lebih santai berbicara dengan Mili.

“Panggil namaku aja, Mili, paling umur kita enggak jauh-jauh amat selisihnya, kan? Aku kepala 3 kamu kepala 2, selisihnya cuma 1 saja, kan?”

“Hahahaa...” Firzan tertawa lepas, dia tidak menyangka kalau Mili pintar bercanda juga.

“Saya panggil Tante Mili saja ya, jujur saya sungkan kalau harus menyebut nama. Maaf ya...” ucap Firzan mengutarakan keinginannya. 

“Oke enggak apa-apa kok. Karena kamu maunya panggil aku ‘Tante’, berarti mulai hari ini kamu adalah keponakan-ku. Keponakan harus nurut sama Tante ya... hehehe...” 

Lagi-lagi candaan Mili membuat Firzan tertawa. Tidak seperti yang Firzan bayangkan sebelumnya, ternyata Mili mempunyai sisi lain yang menyenangkan dijadikan teman ngobrol. Sehingga selama perjalanan dari bandara jadi tidak terasa sudah sejam lebih berlalu, dan kini mobil yang dipandu Firzan sudah mulai memasuki kota Jakarta.

Sejauh ini Mili sudah cukup senang, rencananya tidaklah sesulit yang dia bayangkan untuk mendekati si bidadara surga-nya. Malam ini dia akan memberi kejutan kepada anggota club mamah muda yang lain. Rencana besar itu akan dimulai dari salon dan spa yang baru saja dia tiba di tempat untuk orang-orang kelas atas itu.

Mili mengajak Firzan masuk, meskipun awalnya Firzan lebih memilih menunggu di luar, tetapi bukan Mili namanya kalau tidak bisa mendapatkan keinginannya.

“Di dalam ada free coffee ada camilannya juga, tunggu di dalam saja ya, Firzan,” bujuk Mili, dan Firzan pun tak bisa menolak.

Saat lelaki tampan rupawan itu masuk ke dalam salon, Mili sudah menduga, akan terjadi kepanikan di dalam sana. Semua mata perempuan tertuju kepada Firzan, dengan berbagai ekspresi yang sungguh menggelikan. Mili yang berjalan beriringan dengan Firzan merasa menjadi wanita yang paling beruntung sedunia, karena mampu menggaet lelaki setampan bidadara surga, semua pasti mengira dia adalah si pemilik sah lelaki yang terlahir sempurna itu.

 Mili menyuruh Firzan duduk di sebuah sofa empuk di dalam private lobi, sedangkan Mili langsung masuk ke dalam ruangan yang di sana bertuliskan massage room and sauna

Tidak lama kemudian seorang wanita datang membawakan segelas kopi dan camilan untuk Firzan. 

“Silakan ya dinikmati kopinya, Kak,” ucap wanita berseragam itu dengan super ramah. Rupanya keramahannya itu ada maksud tersembunyi, apalagi kalau bukan minta Firzan diajak selfie. Karena sudah terbiasa tentu saja Firzan tidak canggung lagi dan membalas keramahan setiap orang yang mengaguminya dengan selalu tersenyum ramah.

Saat Firzan mulai menikmati kopinya, seorang wanita dan lelaki yang tubuhnya berotot masuk ke dalam private lobi. Seperti halnya Mili, wanita itu pun masuk kedalam massage room and spa. Sementara si lelaki berotot menghampiri sofa panjang yang sedang diduduki Firzan. Dia duduk di ujung sofa sebelah kiri Firzan.

“Sedang menunggu juga, Bro?” ucap si lelaki berotot.

“Oh, iya...” jawab Firzan singkat sambil menunjukan keramahan lewat senyumnya.

“Lama ya sudah menunggunya?” lanjut Ray meneruskan obrolan.

“Lumayan. Pertama kali datang ke sini?” timpal Firzan.

Yeah, my first time.”

Oh, me too. Where you from?

I’m Australian exactly, but my father is Indonesian from Bali. Ibuku lebih menginginkan aku jadi Australian, but ... aku lebih cinta Indonesia, I love so much Indonesia woman. Does it!

“Tentu saja, kamu kan punya darah Indonesia, your face also more Indonesian look, and you have tanned skin.”

“Ya, karena aku sering berjemur di Bali.”

It’s good for you...”

Obrolan lelaki berwajah tampan dan lelaki badan berotot itu mengalir begitu saja, walaupun tanpa saling kenal nama satu sama lain…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 214. Ketahuan Kevin

    “Rasya…!” teriak Kevin mencari sahabatnya. Namun, ia mendapati di dapur sepi, tidak ada siapa-siapa. “Mbak Nung… Mbak Nung…!” panggil Kevin lagi mencari pembantu rumahnya itu, namun sama, tidak ada jawaban. “Kemana sih Mbak Nung? Rasya juga nggak ada lagi…” gumamnya keheranan.Ahhhh…!Saat akan melangkah keluar dari ruangan dapur, langkah Kevin terhenti mendengar sayup-sayup suara desahan seorang perempuan. Kening Kevin mengerut, suara aneh itu kemudian terdengar lagi, ia menengok ke kiri dan kanan mencari sumber suara itu. Pandangan Kevin akhirnya tertuju pada gudang yang pintunya tertutup. “Mbak Nung… Mbak… Mbak Nung…!”Panggil Kevin sambil mengetuk-ngetuk pintu gudang yang terkunci itu. Namun, beberapa saat memanggil tidak ada jawaban. Hening, suara desahan itu pun tak terdengar lagi. “Apa aku salah dengar? Tapi, tadi jelas sekali suaranya berasal dari gudang ini,” pikir Kevin masih berdiri di depan pintu gudang dengan perasaan heran. Kevin memutuskan untuk pergi ke teras depa

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 213. Melanjutkan Permainan

    Setelah membuntuti Tante Mili, Kevin memutuskan kembali ke rumah, tentu saja ia tidak ingin pergi terlalu lama karena ada Rasya yang semalam menginap di rumahnya. Ia menduga temannya itu masih tertidur, karena saat ditelepon tadi tidak ada jawaban.“Aduhhh… sakit…” Saat Kevin masuk ke dalam rumah terdengar rintihan seseorang. Rupanya Mbak Nung sedang memijat punggung Rasya di ruang tengah. “Loh, kenapa lu, bro…?” tanya Kevin tiba-tiba.Tentu saja Rasya dan Mbak Nung terkejut melihat Kevin sudah kembali ke rumah, untung saja Rasya sudah mengenakan pakaian, demikian pula Mbak Nung, jadi tak dicurigai Kevin.“I-ini Mas… katanya badannya Mas Rasya pada pegal-pegal semua,” jawab Nung menjelaskan.“Makanya kalau tidur jangan kelamaan, Sya…”“Daripada nunggu lu nggak jelas ke mana, mending gue tidur,” ucap Rasya dengan nada ketus pada Kevin.Merasa tidak nyaman lagi karena kedatangan Kevin, Mbak Nung memilih pergi ke dapur, “Ya udah, Mas Rasya, Mas Kevin, aku mau lanjut menyiapkan masakan u

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 212. Nung Naik Kuda-Kudaan

    “Kevin tadi mau pergi ke mana, Mbak?” tanya Rasya pada Mbak Nung sejurus ia keluar dari kamar mandi. “Mas Kevin nggak bilang mau pergi ke mana, setelah Bu Mili keluar rumah dia langsung pergi,” jawab Mbak Nung yang masih mengemas tempat tidur Kevin.“Loh… berarti di dalam rumah ini sekarang tinggal kita berdua saja dong, Mbak,” ujar Rasya terdengar antusias .“Iya betul, Mas…” jawab Mbak Nung sambil tersenyum salah tingkah.“Wah, aku jadi takut nih, Mbak?”“Takut kenapa, Mas Rasya?”“Takut nggak bisa nahan diri, soalnya pagi ini Mbak Nung kelihatan seksi sekali,” ucap Rasya menggoda si pembantu rumah itu.“Ah, bisa aja Mas Rasya nih…” Mbak Nung kembali tersipu dibuat Rasya.“Tapi…, aku lapar, Mbak, apa masih ada makanan untuk sarapan?”“Iya ada, Mas, tadi aku bikin nasi goreng dan telor ceplok. Tapi… sebelum sarapan nasi goreng, apa Mas Rasya tidak ingin sarapan yang lain?” tanya Mbak Nung mulai menjalankan rencananya menggoda anak muda yang hanya mengenakan boxer dan masih bertelanja

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 211. Membuntuti Tante Mili

    Kevin menekan gas motor yang dikendarainya keluar dari rumah, dengan sedikit ngebut ia mengejar mobil merah metalik yang ditumpangi Tante Mili. Setelah mobil itu terlihat jelas sudah berada di depan, ia memelankan laju motornya, kemudian mengikutinya dengan jarak dua kendaraan yang berada di belakangnya. Setelah sampai di pertigaan jalan, tampak mobil Mili berbelok arah ke kiri, Kevin terus membuntuti, hingga ia berhenti saat mobil itu memasuki halaman parkir sebuah klinik 24 Jam. “Rupanya benar ia mau mengecek kesehatan,” batin Kevin. Kevin memutuskan untuk memarkir motor di dekat sebuah kedai makan pinggir jalan. Tidak lama kemudian, Rony keluar dari dalam mobil lalu membukakan pintu penumpang bagian tengah. Mili pun turun dari mobil, lalu berjalan dengan gayanya yang elegan dan modis menuju ke dalam klinik. Rupanya Rony pun ikut mengantar masuk ke dalam klinik yang tampak sepi pengunjung itu. Sekadar menunggu, Kevin memesan segelas minuman, lalu mengeluarkan ponsel dari saku cela

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 210. Ditinggal Berduaan Dalam Rumah

    “Bro… bangun, bro!” usik Kevin pada Rasya yang masih tertidur pulas, Rasya hanya terbangun sebentar karena merasa terusik, lalu matanya terpejam kembali. “Gw mau pinjam motor, Sya… gue mau keluar dulu sebentar,” ucapnya memberitahu sahabatnya itu.“Hmm…” gumam Rasya mengiyakan. Kevin bergegas mengambil kunci motor Rasya yang ditaruh di dalam tasnya, lalu dengan mengenakan jaket hitam dan topi biru tua ia keluar kamar untuk mengikuti Tante Mili bersama sopir pribadinya.“Mbak Nung, coba lihat di depan, Tante Mili masih ada apa sudah pergi?” pinta Kevin pada pembantunya yang sedang mengepel lantai ruang tamu.Mbak Nung segera mengintip dari balik jendela, tampak di halaman mobil yang ditumpangi Mili mulai bergerak perlahan menuju pintu keluar. “Tante Mili mau jalan tuh, Mas,” ucap Mbak Nung memberitahu Kevin.“Iya, Mbak, aku mau keluar dulu ya…,” jelas Kevin bergegas keluar rumah.“Loh, emang Mas Kevin mau kemana?”Kevin tak menghiraukan pertanyaan Mbak Nung, ia terus keluar rumah lal

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 209. Sopir Pribadi Baru

    Saat sarapan pagi, Mili melayani Gun dengan penuh perhatian, dari makan dan minum ia sendiri yang menyediakan, untuk menunjukkan kalau saat ini sudah berubah menjadi istri paling berbakti pada suami.“Pah…, hari ini Mamah mau ke klinik, mau cek kesehatan,” ujar Mili sekadar beralasan agar bisa keluar rumah dengan bebas.“Loh, memangnya Mamah sakit apa?”“Nggak sakit apa-apa sih, Pah, cuma kan Mamah lama tinggal bersama orang-orang di tahanan, takutnya ada penyakit yang ditularkan mereka pada Mamah, Pah.”“Oh, papah ngerti sekarang. Mamah mau ditemani Papah atau bagaimana?”“Nggak usah, Pah, biar Mamah pergi sendiri saja diantar sopir.”“Ya sudah, nanti setelah Papah sampai kantor, Papah suruh si Bas antar Mamah ke klinik.”“Gimana ya, Pah, sekarang kan Baskoro sudah jadi bagian dari keluarga kita, kakak iparnya Chantika, jadi menurut Mamah kalau masih dijadikan sopir pribadi keluarga sepertinya kurang etis, kurang beretika, Pah. Apalagi harus menyuruh ini-itu, jadi sungkan, Pah.”Gun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status