Share

Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?
Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?
Author: Langit Berawan

Bab 1. Sopir Dadakan

last update Last Updated: 2025-08-01 09:01:41

Miliana sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya di beranda saat Parjo datang menghampiri. Sekuriti di rumahnya itu terlebih dahulu mengatakan perihal Baskoro yang sedang sakit dan adiknya Baskoro yang akan menggantikan mengantar Pak Gun ke bandara. Tanpa banyak komentar Mili menyuruh sopir pengganti itu datang menemuinya. 

“Pagi, Bu...!” sapa Firzan pada Mili yang sedang menuangkan teh dari teko ke dalam cangkir. Mata sipit Mili melihat ke sumber suara di depannya. Tiba-tiba mulut wanita yang masih mengenakan handuk piyama itu menganga melihat sosok pemuda di depannya. Matanya yang sipit berubah jadi bulat melihat keindahan yang terpampang nyata di depannya, "Wow..." gumamnya terpesona. 

Ekspresi Mili seperti wanita-wanita yang melihat ketampanan Yusuf dalam sebuah perjamuan, tanpa sadar mereka yang sedang mengupas buah malah mengiris jari-jarinya sendiri karena takjub dengan keindahan sosok lelaki pilihan di hadapannya. Begitu pula dengan Mili, air teh yang sedang dituangkan ke dalam cangkir, tanpa sadar sudah meluber kemana-mana saking dia terpesona dengan ketampanan lelaki muda di hadapannya.

“Mauuu...” batin Mili penuh hasrat.

Sebelum Firzan datang, Mili telah merencanakan beberapa kegiatan  setelah suaminya nanti pergi ke Surabaya selama tiga hari, salah satu diantaranya nanti malam dia akan berpesta bersama club mamah muda yang akan kedatangan berondong berotot yang berasal dari Bali. Atau selama suaminya pergi dia akan memberikan pendidikan gratis kepada anak tirinya, Kevin,  bagaimana caranya menjadi pria sejati. Namun, semua rencana itu buyar setelah kehadiran bidadara surga yang baru saja turun dari langit dan mendarat di depan rumahnya. 

“Ya ampun, belum pernah aku melihat seorang lelaki sesempurna ini,” gumam Mili dalam hati sambil tak sadar telah membuat kesalahan menumpahkan air teh yang sedang dituangnya ke dalam cangkir.

Firzan berusaha menyembunyikan tawa melihat tingkah istri boss yang suaminya akan diantarkan ke bandara itu.

Menyadari sedang melakukan hal konyol, Mili buru-buru memperbaiki sikap.

“Serius kamu adiknya Baskoro?” tanya Mili sambil mengangkat dagu dan membusungkan dadanya yang besar ke arah Firzan. Firzan hanya mengangguk mengiyakan. 

“Kerja dimana, Mas?” tanya Mili sedetik kemudian berubah menjadi wanita yang ayu dan penuh kelembutan. 

Firzan yang sudah sering berhadapan dengan berbagai perempuan bisa menangkap sesuatu yang penuh kepalsuan dari wanita di depannya. Sebagai calon sarjana psikologi, dia juga sudah terdidik untuk mengenal mental, pikiran, dan prilaku orang lain walaupun baru pertama kali bertemu. 

Firzan langsung bisa menyimpulkan ada sesuatu yang tidak beres dengan Mili dan kesimpulan yang lain tidak bisa dipungkiri bahwa wanita di hadapannya ini juga wanita yang seksi dan menggairahkan.

“Masih kuliah tingkat akhir, Bu, menunggu sidang,” jelas Firzan, namun Mili sudah tak fokus lagi dengan jawaban itu. Dia hanya fokus mencari cara bagaimana bisa menikmati keindahan lelaki di depannya. Firzan jadi salah tingkah dipandangi terus sedemikian rupa.

“Menggemaskan sekali lelaki ini, ingin kulumat bibirnya yang merah itu,” batin Mili tak mampu lagi membendung gejolak di dalam dadanya. “Kau harus jadi milikku, ganteng!” lanjut Mili berceracau dalam hati. 

“Mah, Baskoro sudah datang?” tiba-tiba muncul Gunawan Sutarjo, dengan berpakaian lengkap, sambil menyeret travel bag berwarna silver. Mili yang sedang tersihir dengan ketampanan Firzan tak menyadari kehadiran suaminya. Firzan coba memberi isyarat kepada Mili dengan menunjuk ke belakang.

“Eh, Papah... sudah siap ya, Pah?” ucap Mili setelah menoleh ke belakang.

“Itu siapa, Mah?” tanya Gun saat melihat kehadiran Firzan.

“Dia adiknya Baskoro, Pah, katanya Baskoro sedang sakit, jadi dia ini mau mengantar Papa ke bandara,” jelas Mili.

Lalu Gun menanyai nama dan pekerjaan Firzan, termasuk bertanya apakah dia punya SIM. Setelah Firzan menjelaskan bahwa selama ini dia nyambi driver online, Gun baru yakin pemuda di depannya bisa diandalkan membawa kendaraan. Di ujung obrolan, lagi-lagi ketampanan Firzan mendapat pujian.

“Papah sarapan dulu ya, Mama mau siap-siap,” ucap Mili yang tiba-tiba punya rencana di luar dugaan karena kehadiran sopir ganteng yang akan mengantar suaminya ke bandara. 

Saat pulang nanti pasti dia butuh teman agar tidak kesepian dan aku yang akan menemaninya, sungguh ide brilian, pikir Mili dengan segala ketertarikannya kepada Firzan pada pandang pertama.

“Maksud Mama...?” ucapan Gun tak dihiraukan oleh istrinya, karena Mili langsung bergegas masuk ke dalam rumah. Tapi, Gun langsung bisa menarik kesimpulan bahwa istrinya ingin ikut mengantarnya ke bandara.

Pasti Mili ingin membahagiakan diriku selama di perjalanan seperti yang pernah beberapa kali kami lakukan di dalam mobil. Baguslah, batin Gunawan sambil menikmati sarapan sepiring nasi goreng spesial.

“Sudah siap, Pah?” ucap Mili yang memakai blus berwarna biru muda yang panjangnya di atas lutut tanpa mengenakan leging. Di tangannya tergantung tas LV.

“Kok tadi enggak bilang kalau mau menemani Papah,” ucap Gun ketika bangkit dari duduknya.

“Kalau Papa enggak mau ditemani ya udah, Mamah masuk aja lagi...,” ucap Mili manja dan coba membalikan badannya, dengan refleks Gun menarik tangan istrinya. 

“Papah becanda, Mah, Papa malah senang. Yang semalam tertunda gara-gara mati lampu kita lanjutkan di mobil ya, Mah?” 

“Terserah Papa aja deh...”

Mili bergelayut manja di pelukan suaminya, sementara ekor matanya tertuju kepada lelaki tampan yang sudah bersiap berdiri di samping mobil yang pintu belakangnya telah terbuka lebar…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 214. Ketahuan Kevin

    “Rasya…!” teriak Kevin mencari sahabatnya. Namun, ia mendapati di dapur sepi, tidak ada siapa-siapa. “Mbak Nung… Mbak Nung…!” panggil Kevin lagi mencari pembantu rumahnya itu, namun sama, tidak ada jawaban. “Kemana sih Mbak Nung? Rasya juga nggak ada lagi…” gumamnya keheranan.Ahhhh…!Saat akan melangkah keluar dari ruangan dapur, langkah Kevin terhenti mendengar sayup-sayup suara desahan seorang perempuan. Kening Kevin mengerut, suara aneh itu kemudian terdengar lagi, ia menengok ke kiri dan kanan mencari sumber suara itu. Pandangan Kevin akhirnya tertuju pada gudang yang pintunya tertutup. “Mbak Nung… Mbak… Mbak Nung…!”Panggil Kevin sambil mengetuk-ngetuk pintu gudang yang terkunci itu. Namun, beberapa saat memanggil tidak ada jawaban. Hening, suara desahan itu pun tak terdengar lagi. “Apa aku salah dengar? Tapi, tadi jelas sekali suaranya berasal dari gudang ini,” pikir Kevin masih berdiri di depan pintu gudang dengan perasaan heran. Kevin memutuskan untuk pergi ke teras depa

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 213. Melanjutkan Permainan

    Setelah membuntuti Tante Mili, Kevin memutuskan kembali ke rumah, tentu saja ia tidak ingin pergi terlalu lama karena ada Rasya yang semalam menginap di rumahnya. Ia menduga temannya itu masih tertidur, karena saat ditelepon tadi tidak ada jawaban.“Aduhhh… sakit…” Saat Kevin masuk ke dalam rumah terdengar rintihan seseorang. Rupanya Mbak Nung sedang memijat punggung Rasya di ruang tengah. “Loh, kenapa lu, bro…?” tanya Kevin tiba-tiba.Tentu saja Rasya dan Mbak Nung terkejut melihat Kevin sudah kembali ke rumah, untung saja Rasya sudah mengenakan pakaian, demikian pula Mbak Nung, jadi tak dicurigai Kevin.“I-ini Mas… katanya badannya Mas Rasya pada pegal-pegal semua,” jawab Nung menjelaskan.“Makanya kalau tidur jangan kelamaan, Sya…”“Daripada nunggu lu nggak jelas ke mana, mending gue tidur,” ucap Rasya dengan nada ketus pada Kevin.Merasa tidak nyaman lagi karena kedatangan Kevin, Mbak Nung memilih pergi ke dapur, “Ya udah, Mas Rasya, Mas Kevin, aku mau lanjut menyiapkan masakan u

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 212. Nung Naik Kuda-Kudaan

    “Kevin tadi mau pergi ke mana, Mbak?” tanya Rasya pada Mbak Nung sejurus ia keluar dari kamar mandi. “Mas Kevin nggak bilang mau pergi ke mana, setelah Bu Mili keluar rumah dia langsung pergi,” jawab Mbak Nung yang masih mengemas tempat tidur Kevin.“Loh… berarti di dalam rumah ini sekarang tinggal kita berdua saja dong, Mbak,” ujar Rasya terdengar antusias .“Iya betul, Mas…” jawab Mbak Nung sambil tersenyum salah tingkah.“Wah, aku jadi takut nih, Mbak?”“Takut kenapa, Mas Rasya?”“Takut nggak bisa nahan diri, soalnya pagi ini Mbak Nung kelihatan seksi sekali,” ucap Rasya menggoda si pembantu rumah itu.“Ah, bisa aja Mas Rasya nih…” Mbak Nung kembali tersipu dibuat Rasya.“Tapi…, aku lapar, Mbak, apa masih ada makanan untuk sarapan?”“Iya ada, Mas, tadi aku bikin nasi goreng dan telor ceplok. Tapi… sebelum sarapan nasi goreng, apa Mas Rasya tidak ingin sarapan yang lain?” tanya Mbak Nung mulai menjalankan rencananya menggoda anak muda yang hanya mengenakan boxer dan masih bertelanja

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 211. Membuntuti Tante Mili

    Kevin menekan gas motor yang dikendarainya keluar dari rumah, dengan sedikit ngebut ia mengejar mobil merah metalik yang ditumpangi Tante Mili. Setelah mobil itu terlihat jelas sudah berada di depan, ia memelankan laju motornya, kemudian mengikutinya dengan jarak dua kendaraan yang berada di belakangnya. Setelah sampai di pertigaan jalan, tampak mobil Mili berbelok arah ke kiri, Kevin terus membuntuti, hingga ia berhenti saat mobil itu memasuki halaman parkir sebuah klinik 24 Jam. “Rupanya benar ia mau mengecek kesehatan,” batin Kevin. Kevin memutuskan untuk memarkir motor di dekat sebuah kedai makan pinggir jalan. Tidak lama kemudian, Rony keluar dari dalam mobil lalu membukakan pintu penumpang bagian tengah. Mili pun turun dari mobil, lalu berjalan dengan gayanya yang elegan dan modis menuju ke dalam klinik. Rupanya Rony pun ikut mengantar masuk ke dalam klinik yang tampak sepi pengunjung itu. Sekadar menunggu, Kevin memesan segelas minuman, lalu mengeluarkan ponsel dari saku cela

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 210. Ditinggal Berduaan Dalam Rumah

    “Bro… bangun, bro!” usik Kevin pada Rasya yang masih tertidur pulas, Rasya hanya terbangun sebentar karena merasa terusik, lalu matanya terpejam kembali. “Gw mau pinjam motor, Sya… gue mau keluar dulu sebentar,” ucapnya memberitahu sahabatnya itu.“Hmm…” gumam Rasya mengiyakan. Kevin bergegas mengambil kunci motor Rasya yang ditaruh di dalam tasnya, lalu dengan mengenakan jaket hitam dan topi biru tua ia keluar kamar untuk mengikuti Tante Mili bersama sopir pribadinya.“Mbak Nung, coba lihat di depan, Tante Mili masih ada apa sudah pergi?” pinta Kevin pada pembantunya yang sedang mengepel lantai ruang tamu.Mbak Nung segera mengintip dari balik jendela, tampak di halaman mobil yang ditumpangi Mili mulai bergerak perlahan menuju pintu keluar. “Tante Mili mau jalan tuh, Mas,” ucap Mbak Nung memberitahu Kevin.“Iya, Mbak, aku mau keluar dulu ya…,” jelas Kevin bergegas keluar rumah.“Loh, emang Mas Kevin mau kemana?”Kevin tak menghiraukan pertanyaan Mbak Nung, ia terus keluar rumah lal

  • Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?   Bab 209. Sopir Pribadi Baru

    Saat sarapan pagi, Mili melayani Gun dengan penuh perhatian, dari makan dan minum ia sendiri yang menyediakan, untuk menunjukkan kalau saat ini sudah berubah menjadi istri paling berbakti pada suami.“Pah…, hari ini Mamah mau ke klinik, mau cek kesehatan,” ujar Mili sekadar beralasan agar bisa keluar rumah dengan bebas.“Loh, memangnya Mamah sakit apa?”“Nggak sakit apa-apa sih, Pah, cuma kan Mamah lama tinggal bersama orang-orang di tahanan, takutnya ada penyakit yang ditularkan mereka pada Mamah, Pah.”“Oh, papah ngerti sekarang. Mamah mau ditemani Papah atau bagaimana?”“Nggak usah, Pah, biar Mamah pergi sendiri saja diantar sopir.”“Ya sudah, nanti setelah Papah sampai kantor, Papah suruh si Bas antar Mamah ke klinik.”“Gimana ya, Pah, sekarang kan Baskoro sudah jadi bagian dari keluarga kita, kakak iparnya Chantika, jadi menurut Mamah kalau masih dijadikan sopir pribadi keluarga sepertinya kurang etis, kurang beretika, Pah. Apalagi harus menyuruh ini-itu, jadi sungkan, Pah.”Gun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status