Masuk#
Lyra meletakkan tasnya di kamar dan langsung ke dapur tanpa sempat berganti pakaian. "Non, istirahat dulu. Pasti capek kan baru pulang dari kampus?" ujar Bik Iyem, pembantu paling tua. Semua orang di rumah itu tahu kalau Lyra selalu bangun lebih awal dan sudah berada di dapur sebelum matahari sepenuhnya naik. Lalu, hal yang sama akan terjadi saat dia pulang dari kampus. Menggulung lengan baju dan melakukan banyak hal di dapur sebelum beristirahat. "Tidak apa-apa Bik. Setidaknya hanya ini yang bisa aku lakukan di rumah ini untuk membalas kebaikan almarhum Om Dipta," ujar Lyra sambil tersenyum. Tidak ada yang secara resmi menyebut Lyra sebagai pembantu, tapi tidak ada pula yang memperlakukannya sebagai keluarga. Terutama anggota keluarga Bramantya. "Biarkan saja Bik Iyem, kan itu maunya sendiri. Dasar anak gundik," sindir salah seorang pembantu yang lebih muda. "Hush! Urusan majikan, kita tidak perlu ikut campur. Bekerja dengan baik dan benar saja biar tidak dipecat," tegur Bik Iyem. "Abaikan saja ucapan tadi. Non Lyra tidak perlu memikirkan hal-hal buruk yang dikatakan orang," hiburnya. Lyra mengangguk. Dia tidak mendebat atau membela diri. Tenaganya sudah cukup terkuras untuk kampus dan rumah. Meski begitu, setelah Bik Iyem pergi, Lyra tahu kalau pembantu yang lain akan mulai melimpahkan pekerjaan mereka kepadanya. “Lyra, teh Nyonya Sri jangan terlalu pahit,” ucap seorang pembantu lain mengingatkan. "Iya," balas Lyra. Dia bergerak cekatan mengambil cangkir teh dan menyeduhnya. “Lyra, piring Tuan muda Adhi jangan tertukar dan cepatlah kalau bekerja.” Kali ini pembantu yang lain menegurnya. Sebenarnya Nyonya Sri Rukmini tahu kalau para pembantu memperlakukan Lyra seperti itu tapi dia membiarkannya. Lyra menghidangkan makanan di atas meja dengan kepala tertunduk. Nasi putih, lauk pauk dan teh hangat yang selalu diminum Nyonya Sri sebelum makan—semuanya tersusun rapi di meja makan besar yang hanya akan diduduki orang yang dianggap sebagai anggota keluarga Bramantya. "Sudah semuanya," gumam Lyra pelan untuk memastikan. Setelahnya dia berdiri sedikit ke samping, bersikap seperti bayangan yang tidak terlihat. Nyonya Sri Rukmini melirik ke arah Lyra dari sudut matanya sambil menyeruput teh. "Hari ini, mulailah makan di meja ini. Aku tidak mau orang bergosip kalau kau diperlakukan seperti pembantu di rumah ini hanya karena kau selalu memilih untuk makan di belakang," ucapnya dingin. Lyra menurut karena dia tidak bisa menentang perintah Nenek Sri meski dia tahu kalau Adhikara sampai melihatnya duduk di meja itu, pria itu pasti akan murka. "Adhi belum turun?" tanya Nyonya Sri. Wanita tua itu kembali melirik ke arah Lyra dari balik kacamatanya. Lyra menatap kursi Adhikara sejenak. "Euhm, aku tidak tahu apa Kakak sudah pulang," jawab Lyra jujur. Nyonya Sri kembali menyeruput tehnya tanpa menoleh. “Dia sudah pulang dari tadi. Coba kau panggil Adhi turun. Dia sering melewatkan makan malam kalau tidak diingatkan,” perintahnya. Lyra mengangguk patuh seperti biasanya. “Iya Nek.” Dia tidak memiliki banyak pilihan di rumah ini meski sejujurnya dia enggan berurusan dengan Adhikara, setidaknya selama ibunya masih terbaring koma di Rumah Sakit. Tangga menuju lantai atas terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap langkahnya semakin pelan dan dipenuhi keraguan. Bukan karena ia takut pada Adhikara tapi karena ia tahu bahwa apa pun yang dia lakukan, di mata Adhikara, dirinya selalu berada di tempat yang salah, pada waktu yang salah. "Tidak akan terjadi apa-apa. Kalau Dia marah, tinggal bilang kalau nenek yang menyuruhku," ucapnya pada dirinya sendiri. Lyra mengetuk pintu kamar Adhikara. Sekali. Tidak ada jawaban. Ia menunggu beberapa detik, lalu mengetuk lagi. “Kak Adhi… makan malam sudah siap.” Sunyi. Lyra bimbang selama beberapa saat sebelum akhirnya mengambil keputusan. Ia mendorong pintu kamar Adhikara sedikit tapi ternyata pintu itu tidak tertutup rapat. Dia mendorong lagi hingga itu terbuka. Bersamaan dengan itu, tubuh Lyra membeku menyaksikan pemandangan yang ada di depannya. "Agh!" Dia menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan teriakannya sendiri. Dia terpaku selama beberapa saat. Adhikara tengah separuh telentang di atas tempat tidur sambil memegang bagian tubuhnya sendiri yang tegak menjulang. Napasnya berat, tubuhnya menegang oleh dorongan yang tidak sempat ia sembunyikan sementara tangannya bergerak cepat naik dan turun. Cairan putih menyemprot keluar saat tatapannya bertemu dengan Lyra yang membeku, menatap lurus ke arah bagian tubuh Adhikara yang perlahan melemas setelah mencapai pelepasan barusan. "Damn, apa yang kau lihat?!" umpatnya kesal. Wajahnya memerah karena marah sekaligus malu. "Itu... tidak ada!" Lyra seakan ingin berlari dari kamar itu tapi seluruh tubuhnya malah membeku. Ini pertama kalinya dia melihat bagian pribadi tubuh pria sejelas itu. Ekspresi Adhikara menggelap. "Bohong! Sekarang saja kau masih melihat ke sini," ucap Adhikara kesal. Dia menutupi bagian bawah tubuhnya dengan bantal. Lyra tersentak mundur. “Hah?! Aku—aku minta maaf!” ucapnya terburu-buru sambil langsung berpaling. Tangannya gemetar saat meraih daun pintu. Dia harus keluar dari kamar itu secepat mungkin. "Mau kemana kau!" Adhikara bergerak cepat. Dia menaikkan boxernya dengan buru-buru dan melompat menyergap pintu sebelum Lyra berhasil lolos. “Siapa yang mengizinkanmu masuk ke kamarku?” suaranya rendah, seperti ditekan. Matanya tajam mengamati Lyra yang memunggunginya. Terhimpit di antara dinding dan tubuh Adhikara yang jauh lebih besar. “Aku mengetuk. Kau yang tidak menjawab. Nenek menyuruhku memanggilmu.” jawab Lyra cepat, masih menunduk. Dia gemetar. Hening. Lyra bisa merasakan tatapan itu, tengkuknya meremang menyadari Adhikara berada tepat di belakangnya. “Apa kau sengaja?” tanya Adhikara. Lyra menggeleng keras. “Aku tidak melihat apa-apa,” sangkalnya. Adhikara tertawa pendek. Dia menatap sinis. “Suka dengan yang kau lihat?” tanyanya lagi. Ia melangkah mendekat, cukup dekat untuk membuat Lyra menahan napas. “Ingat satu hal,” lanjutnya pelan. “Mulai hari ini hutangmu bertambah padaku. Kau tidak berpikir kalau kau boleh melihat tubuhku dengan gratis bukan?” Adhikara memberi penekanan pada kalimat terakhirnya. Lyra menelan ludah. “Sudah kubilang aku tidak melihat apa-apa,” ujarnya lirih. “Keluar!” perintah Adhikara. Dia melepaskan tangannya dari gagang pintu. Lyra bergegas membuka pintu dan keluar dari kamar itu. Jantungnya berdetak terlalu cepat, telapak tangannya dingin. Ini pertama kalinya dia melihat benda itu dan dia mengutuk dirinya sendiri kenapa harus milik Adhikara yang dilihatnya.#Malika duduk terdiam di ruang tengah kediaman keluarga Bramantya, matanya tak lepas dari layar ponsel yang masih menunjukkan deretan pesan tanpa balasan. Sudah dua hari nomor Lyra tidak aktif. Setiap kali ia mencoba menghubungi, hanya suara operator yang menyambutnya, tanda kalau Lyra tidak mengaktifkan ponselnya. Meski Adhikara berulang kali meyakinkannya bahwa Lyra hanya sedang butuh waktu di rumah seorang teman, insting Malika sebagai seorang ibu tidak bisa dibohongi. Ada sesuatu yang tidak beres, sebuah firasat buruk yang terus membayangi pikirannya."Haruskah aku mencari dan menemuinya di rumah temannya itu?" gumam Malika pelan.Padahal, Malika ingin berbicara langsung dengan Lyra mengenai rencananya. Itulah alasan mengapa Malika rela menginap di rumah keluarga Bramantya di tengah jadwal kerjanya yang sangat padat kali ini."Lyra," gumam Malika pelan, suaranya nyaris hilang ditelan kesunyian ruangan tersebut. Dia sebenarnya hanya tidak ingin Lyra mengalami apa yang dulu suda
#Lampu kamar yang temaram masih menyala, membiaskan cahaya redup yang menyentuh wajah Adhikara. Di sisi tempat tidur, Lyra berdiri mematung. Ia sudah mengenakan pakaian lengkap, sebuah blus sederhana dengan jaket tipis yang membungkus tubuh ringkihnya. Di tangan kanannya, ia menggenggam erat sebuah tas kecil yang berisi barang-barang miliknya yang tidak akan pernah bisa dia tinggalkan. Salah satunya foto keluarganya.Lyra menunduk, menatap Adhikara yang masih terlelap dengan napas yang teratur. Selama beberapa saat, matanya beralih pada lantai kamar. Pakaian mereka berserakan di sana, menjadi saksi bisu betapa kacaunya gairah keduanya beberapa jam yang lalu. Aroma percintaan mereka, campuran antara wangi maskulin Adhikara dan aroma tubuhnya sendiri, masih tertinggal pekat di udara, masuk ke dalam paru-parunya dan membuat dada Lyra terasa sesak. Ia menggigit bibirnya pelan. "Ini benar-benar yang terakhir," gumam Lyra, suaranya nyaris tidak terdengar, hilang ditelan kesunyian kama
#Malam itu, ruang tengah apartemen terasa begitu sunyi, hanya diisi oleh suara rendah dari tayangan televisi yang sebenarnya tidak benar-benar mereka tonton. Adhikara duduk di sofa besar, merengkuh tubuh Lyra dalam pelukannya. Ini adalah momen langka. Selama hubungan mereka terjalin, ketenangan seperti ini hampir tidak pernah ada. Biasanya hanya ada ketegangan, air mata, atau gairah yang meledak karena amarah. Namun setelah makan malam tadi, suasana mendadak melunak.Adhikara menyisir rambut Lyra yang halus dengan jemarinya, gerakan yang sangat protektif sekaligus posesif. Ia menghirup aroma sampo dari puncak kepala gadis itu, mencoba meresapi kedamaian yang terasa asing ini."Apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?" tanya Adhikara dengan suara rendah, nyaris berbisik.Lyra yang sejak tadi hanya menyandarkan kepalanya di dada Adhikara perlahan mendongak. Matanya terlihat lelah, namun ia memaksakan sebuah lengkungan tipis di bibirnya. "Aku sudah tidak apa-apa, Kak," balasnya sing
#Deru mesin mobil sport Adhikara memecah keheningan jalanan menuju kompleks apartemennya. Dia mencengkeram kemudi dengan buku-jari tangannya yang memutih. Amarah dan ketakutan bercampur aduk di dadanya sejak ia mendengar kabar bahwa neneknya, Sri Rukmini, telah menemui Lyra secara sepihak. Dia mengetahui itu dari sopir yang baru saja mengantar neneknya pulang."Sialan," umpat Adhikara sambil menyalip kendaraan di depannya dengan kasar.Meski petugas apartemen sudah memastikan pada Adhikara kalau Lyra sudah kembali ke apartemen meski sempat terlihat keluar dari gedung itu sebelumnya, dia tetap saja tidak bisa menghapuskan rasa khawatirnya.Matanya melirik sebuah kotak beludru kecil yang tergeletak di dashboard mobilnya. Cincin itu seharusnya baru akan ia berikan setelah peringatan empat puluh hari kematian Ratna Puspita. Ia ingin melamar Lyra setelah masa berduka selesai. Namun, campur tangan neneknya mengubah segalanya. Adhikara merasa terdesak. Ia membutuhkan ikatan yang lebih ku
#Langkah kaki Sri Rukmini terdengar berwibawa saat ia memasuki ruang teh eksklusif di kawasan Senayan tersebut. Aroma teh yang menenangkan dan interior serba putih yang megah menyambutnya, namun suasana hatinya jauh dari kata damai. Tempat ini biasanya menjadi tempatnya berkumpul bersama rekan-rekan yang dia kenal dari kalangan atas. Namun sore ini, ia datang bukan untuk bertemu dengan salah satu teman kalangan atasnya, melainkan dengan Lyra.Sri Rukmini memilih tempat ini karena ini tidak jauh dari kompleks apartemen mewah milik Adhikara.Dari kejauhan, matanya menangkap sosok yang ia cari. Lyra duduk sendirian di sudut yang cukup privat, membelakangi jendela besar yang menampilkan gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Anehnya, Sri Rukmini merasa gadis itu terlihat sangat cocok berada di sana. Cara Lyra memegang cangkir porselennya, punggungnya yang tegak, hingga caranya menyesap Earl Grey terlihat begitu elegan, seolah ia memang dibesarkan di lingkungan yang sama eksklusifnya
#Cahaya lampu temaram di kamar apartemen itu terasa asing saat Lyra perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur, kepalanya berdenyut nyeri seolah ada godam yang menghantam sarafnya. Hal pertama yang ia tangkap adalah sosok Adhikara yang duduk di tepi ranjang, bayangannya jatuh menimpa tubuh Lyra yang tampak semakin ringkih di balik selimut."Kau sudah bangun?" tanya Adhikara pelan. Suaranya rendah, nyaris berbisik. "Bagaimana perasaanmu? Kau tidur sangat lama, Lyra. Aku sudah membelikan makanan untukmu kalau-kalau kau merasa lapar." Tangannya terulur menyentuh anak rambut yang jatuh di pipi dan dahi Lyra lalu menyelipkannya ke belakang telinga Lyra."Jangan tidur terus," ucap Adhikara lagi.Lyra tidak menjawab. Matanya yang sembab menatap Adhikara dengan binar yang redup, kosong dan menyayat hati, seolah jiwanya telah terkuras habis."Kau sudah kembali?" gumam Lyra lirih.Setelah itu, ia kembali memejamkan mata seakan tidak lagi memiliki keinginan untuk sekadar bangkit atau menapak







