แชร์

Bab 3 : Pion Yang Hancur

ผู้เขียน: R-One Channelz
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-27 07:22:54

Darah berdesir di pelipisku, seirama dengan detak jarum jam imajiner yang menghitung mundur sisa nyawaku.

Di koridor penjara yang gelap, bau mesiu sisa tembakan peringatan dari kejauhan mulai bercampur dengan aroma amis dari dinding lembab.

Pistol di tanganku terasa berat dan asing, namun tekstur pegangannya yang kasar memberikan kepastian yang aneh.

Aku tidak menunggu maut datang menjemput.

Dengan gerakan yang sudah terlatih dari bertahun-tahun bertahan hidup di jalanan, aku merapat ke dinding sel yang dingin.

Sepatu pantofelku sengaja kulepas ; aku butuh kesunyian. Lantai semen yang kasar menusuk telapak kakiku, memberikan sensasi dingin yang membuatku tetap waspada.

Tap…Tap…Tap….

Suara langkah kaki itu berat, bukan langkah petugas penjara yang biasanya santai.

Ini adalah langkah pemburu. Aku bisa mendengar deru napas mereka yang tertahan di balik masker.

Cahaya senter menyapu jeruji besi sel-sel di depanku, menciptakan bayangan jeruji yang memanjang seperti jari-jari raksasa yang hendak mencengkeram.

"Kendi, aku tahu kau di dalam. Keluar dan segalanya akan cepat selesai," suara itu serak, membawa ancaman yang tidak main-main.

Aku tidak menjawab. Kebodohan terbesar seorang manipulator adalah bicara saat seharusnya bertindak.

Aku merangkak di bawah dipan semen, menunggu cahaya senter itu masuk ke dalam selku. Begitu sinar putih itu menyapu lantai, aku melepaskan tembakan.

Phut !

Suara teredam itu diikuti dengan dentuman tubuh yang menghantam pintu besi. Bau logam darah segar langsung menyeruak. Satu tumbang.

Aku segera melompat keluar, memungut senter yang terjatuh. Cahaya senternya menyinari wajah pria yang kini terkapar; dia mengenakan seragam sipir, tapi tato di lehernya menunjukkan dia adalah orang bayaran.

Siska Pratiwi benar-benar tidak main-baik. Dia ingin aku mati sebelum fajar menyingsing.

Aku berlari menyusuri koridor, mengikuti insting.

Di ujung lorong, aku melihat bayangan siluet yang kukenali. Mery.

Dia berdiri di depan pintu keluar darurat, namun dia tidak sendirian. Pria misterius bersuara berat tadi mencengkeram lengannya.

"Lepaskan dia!" bentakku, menodongkan pistol.

Pria itu berbalik. Dalam keremangan cahaya darurat yang berkedip kemerahan, aku melihat wajahnya.

Dia memiliki bekas luka melintang di alis kirinya, tatapannya sedingin es.

"Kau terlalu lambat, Kendi. Jika kau ingin selamat, ikut aku. Siska sudah mengirim bukti rekaman itu ke kantor pusat polisi."

"Siapa kau?" tuntutku. Rahangku mengeras, jemariku menekan pelatuk lebih dalam. Aku tidak percaya pada siapa pun, apalagi pria yang muncul entah dari mana di tengah kekacauan ini.

"Panggil aku Bram," ucap pria itu singkat.

Aku tersentak. "Bram? Bramantyo sudah mati!"

Pria itu menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang terlihat mengerikan di bawah lampu merah yang berkedip.

"Bramantyo Waluyo yang kau lihat di kamar 1202 adalah pion. Aku adalah alasan kenapa Mery membutuhkan tumbal sepertimu."

Mery menatapku dengan mata yang membelalak, air mata mengalir di pipinya yang putih porselen, namun bibirnya membisikkan sesuatu tanpa suara :

“Lari”

Tiba-tiba, suara sirene polisi yang lebih kencang terdengar dari arah luar.

Bukan sekadar mobil patroli, tapi satuan taktis.

Siska telah berhasil membalikkan narasi ; sekarang aku bukan hanya tersangka pembunuhan, tapi tahanan yang mencoba melarikan diri dengan senjata api.

"Kendi, pilih sekarang. Mati di sini sebagai pahlawan kesiangan, atau hidup sebagai bayanganku," pria bernama Bram itu mengulurkan tangan.

Aku menatap Mery, lalu menatap pria di hadapanku. Aku merasa seluruh hidupku adalah papan catur yang disusun oleh mereka, dan aku hanyalah bidak yang dipaksa bergerak sesuai keinginan mereka.

Namun, mereka lupa satu hal: aku adalah Kendi Sulistyo. Aku tidak suka diperintah.

Aku menurunkan senjataku, tapi bukan untuk menyerah.

Aku menendang tabung pemadam api di dekat kaki pria itu hingga meledak, menciptakan kabut putih yang membutakan.

Dalam kekacauan itu, aku menyambar lengan Mery dan menariknya masuk ke dalam lift barang yang terbuka di sisi kiri koridor.

Pintu lift menutup tepat saat rentetan tembakan otomatis menghujam dinding baja di depan kami.

Di dalam lift yang bergerak turun dengan kasar, aku menyudutkan Mery ke dinding.

Aroma “Black Opium” miliknya kini bercampur dengan bau mesiu dan keringatku.

Aku mencengkeram bahunya, menatap langsung ke dalam mata cokelat gelapnya yang penuh rahasia.

"Siapa pria itu sebenarnya, Mery? Dan apa isi micro-SD yang sebenarnya?" desisku, wajahku hanya berjarak satu inci dari wajahnya.

Mery terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat.

Dia merogoh ke dalam belahan gaunnya, mengeluarkan sebuah kunci kecil berwarna perak yang tersembunyi di sana.

Dia menaruh kunci itu di telapak tanganku, jemarinya yang dingin gemetar.

"Bram yang asli tidak pernah mati, Kendi. Pria di kamar 1202 itu adalah saudara kembarnya yang selama ini menyamar.

Dan micro-SD itu... itu bukan berisi rahasia bisnis."

Lift berdenting. Kami sampai di lantai dasar, tepat di area parkir bawah tanah yang sunyi.

Pintu terbuka, menyingkap puluhan lampu sorot dari mobil polisi yang sudah menunggu di depan kami.

Siska Pratiwi berdiri di sana, memegang megafon dengan senyum kemenangan yang paling memuakkan yang pernah kulihat.

"Menyerahlah, Kendi ! Kau sudah dikepung!" teriak Siska.

Namun, perhatianku teralihkan oleh suara getaran di ponsel yang terselip di saku Mery.

Dia melihat layarnya, wajahnya mendadak pucat pasi. Dia memberikan ponsel itu padaku.

Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal :

“Cek bagasi mobil yang ada di depanmu. Ada hadiah untuk orang tuamu di Bandung”

Aku menatap mobil Mercedes hitam yang terparkir hanya tiga meter di depan pintu lift.

Jantungku seolah berhenti berdetak.

Aku melirik Mery, yang kini menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—antara kasihan dan kepuasan.

"Kendi, jangan buka bagasi itu," bisik Mery lirih.

Tanpa mempedulikan peringatan Siska atau moncong senjata polisi yang mengarah padaku, aku melangkah maju.

Tanganku gemetar saat meraih tuas bagasi mobil tersebut.

Begitu bagasi terbuka, bau busuk yang menyengat langsung menyerang indra penciumanku. Di dalamnya, aku tidak melihat uang atau dokumen.

Aku melihat sesuatu yang membuat seluruh harga diriku dan egoku hancur berkeping-keping dalam sekejap.

Di saat yang sama, Siska berteriak, "Tembak!"

Kilatan api keluar dari moncong senjata para polisi, dan dunia di sekitarku seketika menjadi putih.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 150 : Pengorbanan Sang Nyonya

    Pilar cahaya putih dari satelit pemusnah berputar liar, mendesis panas dan membakar pasir pantai hingga mencair menjadi kaca pijar. Suhu udara melonjak drastis dalam hitungan detik, membuat kulit terasa melepuh dan bau ozon serta sulfur pekat memenuhi setiap jengkal ruang pernapasan.Di tengah kekacauan itu, Darius menyeringai lebar di balik kilau cahaya satelit, tangannya yang memegang pemicu darurat bergetar penuh amarah. "Jika aku mati di sini, kalian semua ikut terkubur di dalam abu pulau ini!" teriaknya histeris, bersiap menekan tombol eksekusi akhir.Kenzo, Davina, dan Jacky terlempar oleh gelombang panas satelit, berdarah-darah di balik batu karang. Aku mencoba melangkah maju, namun aliran Kundalini di tubuhku mendadak terkuras habis setelah hantaman besar sebelumnya. Kakiku terasa berat, terpaku di atas pasir yang membara.Tiba-tiba, sesosok bayangan melesat cepat melewati sisiku.Mery.Wanita itu berlari dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya. Selimut tipis yang tadi membalut

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 149 : Pertempuran Akhir Yang Menegangkan

    Desau bilah rotor helikopter tempur The Eclipse menghantam gendang telinga dengan kekuatan brutal, menciptakan badai angin buatan yang menerbangkan butiran pasir hitam dan menghantam tubuh kami tanpa ampun.Bau bahan bakar avtur yang pekat bercampur dengan aroma garam laut yang asin, menyesakkan dada di setiap tarikan napas.Di tengah badai angin itu, sorotan lampu laser hijau dari bawah lambung helikopter mendarat tepat di dadaku, memancarkan titik bidik kematian yang dikunci oleh sistem penembak jitu otomatis."Kendi, awas!" teriak Kenzo di tengah deru angin, melompat menerjang dan mendorong tubuhku ke balik gundukan karang tajam sesaat sebelum rentetan peluru senapan mesin berat gatling gun dari helikopter memberondong tanah tempat kami berdiri tadi.BZZZ-TRRR-BOOM !Pasir pantai meledak hebat, menghamburkan serpihan batu karang dan debu panas yang menghujani punggung kami. Panas ledakan peluru kaliber besar itu bahkan terasa menyengat kulit. Di dekat kami, Davina dan Jacky berlin

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 148 : Kepungan The Eclipse di saat Terakhir

    Decitan mesin perahu yang melambat berpadu dengan deburan ombak kecil yang memecah karang. Bau amis air laut, aroma mesiu yang mengering di ujung laras senjata, dan bau keringat dingin bercampur menjadi satu di udara malam yang menusuk tulang.Di hadapan kami, garis pantai tersembunyi itu mendadak terang benderang. Tiga buah lampu sorot militer raksasa yang dipasang di atas truk taktis menyala serentak, menghujam tajam dan menyilaukan mata kami seketika.Silau. Aku menyipitkan mata, mengangkat tangan untuk menutupi wajah dari sorotan lampu yang menusuk retina.Di sepanjang bibir pantai berpasir hitam itu, puluhan anggota pasukan elite The Eclipse berpakaian serba hitam berdiri tegap. Laras senapan serbu mereka terarah lurus ke arah perahu kami tanpa celah.Dan di tengah-tengah barisan itu, berdiri sesosok pria dengan setelan jas gelap rapi namun berbalut rompi taktis berat. Lengan kanannya berlapis baja nirkarat mengilap yang memantulkan cahaya lampu sorot. Senyum tipis yang dingin

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 147 : Ada Pengkhianat Diantara Mereka ???

    Bau garam laut dan sisa mesiu yang mengering di kulit berpadu dengan udara malam yang dingin menusuk tulang.Di tengah geladak perahu motor yang melaju membelah ombak gelap, cahaya lampu navigasi yang berpendar kemerahan menyoroti wajah-wajah kami yang tegang.Davina berdiri tegak di dekat konsol kemudi, jari-jarinya yang terbalut sarung tangan taktis menggenggam erat perangkat pelacak mikro berukuran koin yang masih berkedip merah lemah.Pantulan cahaya merah itu memancar di mata dinginnya, menatap tajam ke arah kami satu persatu."Tidak ada orang luar yang bisa menyelundupkan benda ini ke dalam tas darurat kita kecuali orang yang berada di dalam markas saat evakuasi," suara Davina memecah deru mesin perahu, terdengar tajam dan menusuk. "Dan tas ini... berada dalam pengawasan eksklusif sebelum kita naik ke perahu."Suasana di atas perahu mendadak membeku. Jacky, yang memegang kemudi, melirik sekilas lewat spion kecil, sementara Kenzo menyipitkan mata, tangannya secara perlahan berges

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 146 : Siasat Ghost Protocol Dira

    Tetesan air laut yang menetes dari ujung rambutku terasa dingin di kulit leher yang masih panas oleh sisa-sisa adrenalin. Di hadapan kami, permukaan air laut yang tadinya tenang mendadak bergolak aneh. Puluhan riak air berputar cepat, memunculkan sirip-sirip logam hitam legam yang memecah permukaan gelombang. Bau ozon dan sengatan bau belerang tipis langsung tercium di udara, bercampur dengan suara dengung frekuensi tinggi yang menusuk gendang telinga.Skuadron drone tempur laut otonom buatan militer The Eclipse telah tiba, membentuk lingkaran ketat di sekeliling perahu motor kami."Sial, mereka mengepung kita dari segala arah!" seru Jacky, membanting setir ke kanan namun langsung dihentikan oleh kemunculan tiga unit drone torpedo yang melintang tepat di depan jalur haluan.Di dalam kabin tengah, Dira tidak membuang waktu sedetik pun. Jari-jarinya yang basah dan dingin menari sangat cepat di atas papan ketik konsol taktis portabel. Layar monitor holografik di depannya memancarkan g

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 145 : Manuver Tak Terduga Jacky

    BEEP... BEEP... BEEP...Suara sonar bernada tinggi itu berdenyut liar di dalam lambung perahu motor cepat, menusuk gendang telinga dan memicu alarm darurat di benak setiap orang di atas dek. Aroma bensin yang terbakar tipis berpadu dengan bau garam laut yang asin, tersapu oleh embusan angin kencang yang mendinginkan kulit wajahku yang basah oleh keringat.Di hadapan kemudi, Jacky membanting setir ke kiri dengan kasar hingga perahu miring tajam. Buih air laut berhamburan putih, menyembur ke udara dan membasahi sekujur tubuh kami."Torpedo pengunci panas ! Jaraknya sudah kurang dari lima ratus meter!" teriak Jacky di tengah deru mesin yang meraung memekakkan telinga.Aku mencengkeram tepi lambung perahu erat-erat, buku-buku jariku memutih. Di belakang kami, garis lurus buih putih di permukaan air laut bergerak sangat cepat, membelah ombak dengan kecepatan yang mustahil dikejar oleh perahu motor biasa. Bayangan hitam silinder besi meluncur deras di bawah air, membawa kematian yang diat

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 6 : Labirin Pengkhianat

    Dingin yang mematikan langsung menyergap setiap inci kulitku. Air laut yang asin menusuk luka tembak di bahu dan kakiku seperti ribuan jarum yang dipanaskan. Suara rentetan tembakan dari dermaga terdengar meredam di bawah permukaan, berubah menjadi bunyi “plung... plung…”yang aneh saat peluru-pel

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 5 : Mahkota Dari Kawat Berduri

    Hening yang tercipta setelah ledakan itu terasa lebih memekakkan telinga daripada bunyi bom itu sendiri.Asap kelabu yang berbau belerang dan plastik terbakar merayap rendah di atas lantai gudang yang retak. Aku berdiri mematung, ponsel di tanganku masih terasa panas, sementara suara tawa pria di

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 4 : Darah Yang Terkhianati

    Dunia tidak menjadi gelap. Dunia menjadi merah.Suara tembakan itu bukan dentuman, melainkan serangkaian letupan tajam yang merobek udara, seperti suara cambuk yang melecut tepat di samping telingaku.Aku tidak merasakan sakit, hanya dorongan kuat yang melempar tubuhku ke belakang.Punggungku mengh

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 1 : Kamar 1202 Sang Predator & Mangsa

    Lantai marmer lobi Grand Mahakam berkilat seperti cermin, memantulkan sosokku yang sedang berlutut. Bau kafein yang hangus menyerbu indra penciumanku, bercampur dengan aroma pembersih lantai kimiawi yang tajam. Di hadapanku, sepasang sepatu hak tinggi berwarna merah menyala berdiri dengan angkuh.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status