เข้าสู่ระบบAroma dupa kayu gaharu yang terbakar tipis menguar di udara, bercampur dengan bau dingin beton fasilitas bawah tanah markas Jenderal Yudha. Di tengah ruangan komando yang sunyi, pintu baja bergeser terbuka. Sesosok pria tua berbadan tegap dengan balutan pangsi hitam sederhana melangkah masuk. Abah Usman. Langkah kakinya begitu ringan, nyaris tanpa suara, membawa serta kesunyian malam dari perbukitan Cianjur langsung ke jantung kota Jakarta yang bising.Kendi, Kenzo, dan Jenderal Yudha langsung berdiri menyambutnya. Pria tua itu melepas ikatan kepala hitamnya, menyeka peluh tipis di dahinya, lalu menghembuskan napas berat. Sorot mata Abah Usman tajam, memancarkan getaran batin yang dalam."Abah..." ucap Kendi, suaranya tertahan oleh rasa hormat yang mendalam."Aku datang membawa firasat dari angin utara, Ndi, Kenzo," suara Abah Usman parau namun tegas, menggema di dinding-dinding baja ruangan. "Meditasiku pecah semalam. Aku melihat pusaran darah dan besi membentang di atas kota ini.
Asap putih tipis dari sebatang rokok yang menyala di jemariku perlahan memudar, tersapu embusan angin malam Jakarta yang mendingin. Namun, pikiranku justru terseret mundur pada sebuah bayangan yang masih meninggalkan hawa panas di sekujur kulitku.(Flashback)Dua hari yang lalu. Ruang istirahat kecil di sudut markas, berbalut dinding beton dingin dan deru mesin pendingin yang berputar monoton.Wajah Davina hanya berjarak satu inci dari wajahku. Mata hazelnya menatap tajam, menantang sekaligus menuntut. Aroma parfum Baccarat Rouge 540 bercampur dengan wangi mawar putih dari kulitnya langsung menyergap penciumanku—sebuah kombinasi pekat yang mengunci akal sehat. Saat bibir kami bertemu, tidak ada kelembutan di sana. Ciumannya brutal, memabukkan, dipenuhi rasa kepemilikan yang egois. Tangannya yang ramping namun kuat menelusuri dada telanjangku, kuku-kukunya yang bercat merah menggores pelan permukaan kulit, meninggalkan jejak panas.Aku mengangkat tubuhnya, menghimpitnya ke dinding
Lampu neon putih di ruang medis markas rahasia Jenderal Yudha memancarkan pendar dingin yang menerangi ruangan steril berukuran sedang itu. Bau tajam cairan antiseptik, alkohol medis, dan salep penenang berpadu di udara, menciptakan atmosfer yang sunyi dan menenangkan. Di atas ranjang berseprai putih, Siska terbaring lemas. Napasnya teratur namun berat, sisa-sisa efek obat penenang dosis tinggi yang diberikan tim medis bekerja meredakan guncangan psikis setelah teror panjang di markas The Eclipse.Jacky duduk di kursi logam tepat di sisi ranjang. Siku tangannya bertumpu di atas lutut, sementara dagunya disangga oleh kedua tangan yang saling bertaut. Matanya menyapu setiap jengkal wajah Siska yang tampak pucat—mulai dari bulu matanya yang basah oleh sisa air mata, bibirnya yang sedikit kering, hingga pergelangan tangannya yang masih dibalut perban tipis akibat gesekan tali penyiksa.Di dalam binar mata Jacky, tersimpan sesuatu yang jauh lebih dalam dari rasa kasihan seorang rekan sa
"Siska, tenangkan dirimu." Jacky melangkah maju, tangannya dengan lembut menyentuh bahu Siska yang masih bergetar hebat. Ia membawa wanita itu duduk di atas kursi terdekat, memberikan tatapan penuh keyakinan. "Dengarkan aku. Davina memang ada di pihak kita sekarang. Soal pesan yang kau lihat di ponsel Darius... itu bukan dia."Kendi dan Kenzo saling berpandangan. Kendi maju selangkah, menatap Siska dengan dahi berkerut. "Maksudmu, Jack?""Aku menemukan file terenkripsi di server utama The Eclipse saat menyusup tadi," jelas Jacky sambil melirik sekilas ke arah Davina. "Darius tahu Davina telah berkhianat dan memihak Jenderal Yudha. Karena frustrasi dan tidak terima, Darius menciptakan sebuah duplikat biologis—kloningan Davina yang diprogram dengan memori palsu agar mengira dirinya adalah Davina yang asli. Dialah mata-mata yang mengirim informasi itu."Suasana di ruang komando mendadak senyap. Siska tertegun, napasnya perlahan mulai teratur meski sisa-sisa trauma masih membekas di mat
Pisau bedah kecil itu bergerak membelah tali nilon yang mengikat pergelangan tangan Siska dalam satu tarikan mulus. Tali kasar yang sedari tadi menggesek kulitnya hingga berdarah kini jatuh terputus ke lantai semen yang dingin. Dari balik keremangan cahaya darurat yang berkedip merah, sosok berpakaian taktis hitam legam membuka penutup kepalanya.Itu Jacky. Wajahnya dipenuhi coretan jelaga dan sisa keringat, namun sorot matanya setajam elang yang baru saja menemukan mangsanya. Bau mesiu dan anyir darah segar menguar dari sarung tangan kulitnya yang robek di bagian buku jari.Tanpa banyak bicara, Jacky melemparkan sebuah tas ransel kecil ke pangkuan Siska. "Pakai ini. Cepat. Penjaga lapis kedua akan berpatroli dalam lima menit."Siska menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti dipenuhi pasir basah. Dengan jemari yang masih bergetar hebat, ia membuka ritsleting tas itu. Di dalamnya terdapat satu set pakaian taktis bersih, kaus katun hitam, dan sebotol air mineral. Siska menggunak
Bau antiseptik bercampur dengan aroma embun pagi yang menyusup dari celah ventilasi fasilitas bawah tanah Jenderal Yudha.Kelopak mata Mery perlahan bergetar, terbuka menampakkan manik matanya yang jernih namun kosong. Tidak ada kilatan memori atau sisa-sisa penderitaan masa lalu di sana ; yang ada hanya kehampaan yang asing. Ketika aku menggenggam jemarinya, dia menarik tangannya pelan, menatapku seperti menatap orang asing di jalanan."Siapa... kamu ?" bisiknya lirih, suaranya serak.Amnesia total itu merenggut segalanya. Program penghapusan memori The Eclipse telah membabat habis seluruh arsip masa lalunya, menyisakan lembaran putih tanpa nama, tanpa wajah, dan tanpa kenangan tentangku.Namun, di ruangan bernuansa putih steril itu, tidak ada rasa putus asa yang tersisa. Aku, Kenzo, Dira, dan yang lainnya bergantian menjaganya dengan kesabaran ekstra.Dira meracik formula pemulihan saraf, Kenzo memastikan keamanan perimeter, sementara aku duduk berjam-jam menceritakan hal-hal keci
Darah berdesir di pelipisku, seirama dengan detak jarum jam imajiner yang menghitung mundur sisa nyawaku.Di koridor penjara yang gelap, bau mesiu sisa tembakan peringatan dari kejauhan mulai bercampur dengan aroma amis dari dinding lembab.Pistol di tanganku terasa berat dan asing, namun tekstur p
Lampu neon di langit-langit ruang interogasi berkedip dengan bunyi dengung yang menyebalkan, laksana lalat hijau yang berputar di atas bangkai. Cahayanya yang putih pucat menusuk mataku, membuat bayangan Siska Pratiwi yang berdiri di sudut ruangan tampak seperti siluet iblis yang sedang berpesta.
Lantai marmer lobi Grand Mahakam berkilat seperti cermin, memantulkan sosokku yang sedang berlutut. Bau kafein yang hangus menyerbu indra penciumanku, bercampur dengan aroma pembersih lantai kimiawi yang tajam. Di hadapanku, sepasang sepatu hak tinggi berwarna merah menyala berdiri dengan angkuh.
Lonceng di atas pintu cafe tua itu berdenting parau, seolah enggan menyambut kedatanganku yang membawa hawa dingin dari sisa pelarian di jembatan.Aroma kopi yang disangrai terlalu gelap dan bau kayu lapuk menyergap indra penciumanku, mencoba menutupi bau amis darah dari lengan kemejaku yang robek.







