Accueil / Male Adult / Bermain Api Dengan Nyonya / Bab 6 : Labirin Pengkhianat

Partager

Bab 6 : Labirin Pengkhianat

last update Date de publication: 2026-04-27 07:30:49

Dingin yang mematikan langsung menyergap setiap inci kulitku. 

Air laut yang asin menusuk luka tembak di bahu dan kakiku seperti ribuan jarum yang dipanaskan. 

Suara rentetan tembakan dari dermaga terdengar meredam di bawah permukaan, berubah menjadi bunyi “plung... plung…”yang aneh saat peluru-peluru itu menembus air di sekitarku.

Aku tenggelam. Kegelapan air laut pelabuhan yang berminyak dan kotor menutup pandanganku.

Paru-paruku mulai berontak, memohon oksigen, sementara rasa pahit dari plastik micro-SD yang kutelan masih tertinggal di pangkal lidah.

Jangan mati di sini, Kendi.

Aku menendang dengan kaki kananku yang tidak terluka, mencoba melawan daya tarik arus bawah yang kuat.

Setiap gerakan membuat darah segar merembes keluar, menciptakan jejak merah yang samar di tengah air yang hitam.

 Di atas sana, cahaya lampu sorot kapal kargo yang membawa Ibunda dan Dira Andriani menyapu permukaan air seperti mata raksasa yang mencari mangsa.

Aku muncul ke permukaan tepat di bawah bayangan pilar beton dermaga yang berlumut.

Aku terengah, menghirup udara malam yang tajam dan berbau solar. 

Di kejauhan, kapal kargo itu sudah mulai menjauh, membelah ombak dengan angkuh.

 Dira berdiri di buritan, siluetnya yang kaku tampak seperti malaikat maut di bawah siraman lampu dek.

"Tujuannya bukan membunuhmu, Kendi! Tapi membuatmu membusuk di dasar laut!"

Suara Siska Pratiwi menggema dari atas dermaga, diikuti suara sepatu bot yang berlarian di atas kayu. 

Mereka belum menyerah. Aku merayap, jemariku mencengkeram tiram-tiram tajam yang menempel di pilar beton hingga telapak tanganku robek. 

Rasa perihnya membantu fokusku agar tidak pingsan.

Aku berhasil memanjat sebuah sekoci tua yang tertambat di sisi dermaga yang gelap. Di sana, aku terkapar, membiarkan tubuhku menggigil hebat. 

Aku meraba perutku. Benda itu ada di sana—daftar dosa keluarga Waluyo. 

Kunci untuk menghancurkan Bram, Mery, dan Siska dalam satu serangan.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang tenang terdengar mendekat. Bukan langkah kasar polisi atau anak buah Bram. Ini adalah langkah yang sangat kukenali—halus, berirama, dan membawa aroma Black Opium.yang kini bercampur dengan bau amis laut.

Mery Waluyo.

Dia berdiri di pinggir dermaga, menatapku yang tergeletak di sekoci dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia tidak berteriak memanggil yang lain. Dia justru melepaskan mantel wol mahalnya dan melemparkannya ke arahku.

"Pakai itu jika kau tidak ingin mati karena hipotermia sebelum fajar," bisiknya. Suaranya terbawa angin laut, terdengar rapuh namun penuh rahasia.

"Kenapa... kau tidak menyerahkanku pada suamimu?" tanyaku parau, suaraku nyaris hilang karena air laut yang tertelan.

Mery berjongkok, tangannya yang putih porselen memegang pinggiran dermaga. "Karena Bram tidak tahu bahwa aku yang mengirim Dira padamu sejak awal. Dira bukan bekerja untuk Bram, Kendi. Dia bekerja untukku."

Duniaku serasa jungkir balik untuk kesekian kalinya. Otakku yang manipulatif mencoba memetakan papan catur baru. 

Jika Dira bekerja untuk Mery, berarti penyanderaan Ibuku adalah skenario Mery untuk menjauhkan Ibuku dari jangkauan Bram.

"Dira tidak mengkhianatimu, dia mengamankan aset terbesarmu agar Bram tidak bisa menyentuhnya," lanjut Mery.

Dia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening dari sakunya. "Minum ini. Ini akan memicu muntah agar kau bisa mengeluarkan kartu itu.

Aku butuh data di dalamnya sekarang juga untuk menghentikan kapal itu sebelum mencapai perairan internasional."

Aku menatap botol itu, lalu menatap mata Mery yang "polos" namun mematikan. 

Apakah ini jebakan lain? Ataukah Mery sedang mencoba melakukan pengkhianatan terbesar terhadap suaminya sendiri dengan memanfaatkanku?

"Kenapa aku harus percaya padamu?" tuntutku, sambil mencengkeram pinggiran sekoci dengan sisa kekuatanku.

Mery tersenyum, jenis senyuman yang biasanya membuatku merasa menang, tapi kali ini membuatku merasa seperti tikus yang masuk perangkap. 

"Karena hanya aku yang tahu di mana Dira membawa ibumu. Dan hanya aku yang tahu bahwa pria yang kau panggil Bram itu... sebenarnya bukan ayah kandungmu."

Jantungku berdegup sangat kencang hingga terasa sakit di dada. "Apa maksudmu?"

Mery hendak menjawab, namun lampu senter dari anak buah Bram mulai mendekati posisi kami. Dia berdiri dengan cepat, wajahnya kembali menjadi topeng ketenangan yang anggun.

"Temui aku di gudang tua nomor 7 dalam satu jam. Jika kau tidak datang, Dira akan menerima perintah untuk menekan tombol itu. Pilihan ada di tanganmu, Pelayan."

Mery berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan tepat saat dua anak buah Bram muncul.

Aku segera menarik mantel wol itu untuk menutupi seragamku yang basah dan luka-lukaku, lalu merosot kembali ke dalam air, berenang menjauh di bawah bayangan dermaga.

Satu jam.

Aku harus mengeluarkan kartu itu dari perutku, mengobati luka tembak ini, dan sampai ke gudang nomor 7 tanpa tertangkap Siska. Aku merasa seperti mayat hidup yang dipaksa berlari di atas bara api.

Aku berhasil sampai ke pinggiran pantai yang kumuh, menyeret tubuhku ke sebuah gubuk nelayan yang ditinggalkan. Dengan tangan gemetar, aku membuka botol dari Mery. Baunya seperti amonia yang menyengat.

Aku meminumnya dalam sekali teguk.

Rasa mual yang hebat langsung menyerang. Perutku seperti diremas oleh tangan raksasa. 

Aku memuntahkan segalanya—air laut, asam lambung, dan akhirnya... benda keras itu berdenting di atas lantai kayu yang kotor. 

Micro-SD itu bersinar kusam di bawah cahaya bulan yang masuk dari celah atap.

Aku mengambilnya, membersihkannya dengan kain mantel Mery. Namun, saat aku menyalakan ponselku yang masih menyala—berkat casing anti-air—dan memasukkan kartu itu, sebuah notifikasi muncul.

Bukan daftar nama pejabat. Bukan rahasia bisnis.

Layar ponselku menampilkan sebuah foto lama yang sudah menguning. Foto seorang wanita cantik—Ibundaku—sedang berdiri di depan sebuah gerbang panti asuhan, menggendong bayi laki-laki. Di belakang foto itu terdapat tulisan tangan yang sangat kukenali. Tulisan tangan Siska Pratiwi.

“Kendi adalah kuncinya. Jika dia tahu siapa dia sebenarnya, Grand Mahakam akan runtuh dalam semalam.”

Belum sempat aku memproses informasi itu, pintu gubuk didobrak kasar. Bukan oleh polisi, bukan oleh Bram.

Siska Pratiwi berdiri di sana, memegang pistol laras panjang dengan mata yang merah karena amarah.

Di belakangnya, berdiri seorang pria yang wajahnya tidak terlihat, tertutup bayangan topi, namun dia memegang sebuah benda yang membuat darahku membeku.

Itu adalah kalung yang sama dengan yang melingkar di leher Ibuku. Dan lampu indikator di atasnya sedang berkedip merah—tanda bahwa hitungan mundur telah dimulai.

"Kau pikir Mery berada di pihakmu?" Siska tertawa melengking, suara yang memecah kesunyian malam.

 "Mery adalah orang yang membayar Dira untuk membunuh ibumu jika kau berhasil mendapatkan kartu itu. 

Dan sekarang, waktumu sudah habis."

Pria di belakang Siska melangkah maju ke cahaya. Saat aku melihat wajahnya, aku menyadari bahwa pengkhianatan ini jauh lebih dalam dari yang bisa kubayangkan.

"Halo, Kendi. Lama tidak jumpa," ucap pria itu.

Aku ternganga.

 "Kau...?"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 130 : Kabar Dari Abah Usman

    Aroma dupa kayu gaharu yang terbakar tipis menguar di udara, bercampur dengan bau dingin beton fasilitas bawah tanah markas Jenderal Yudha. Di tengah ruangan komando yang sunyi, pintu baja bergeser terbuka. Sesosok pria tua berbadan tegap dengan balutan pangsi hitam sederhana melangkah masuk. Abah Usman. Langkah kakinya begitu ringan, nyaris tanpa suara, membawa serta kesunyian malam dari perbukitan Cianjur langsung ke jantung kota Jakarta yang bising.Kendi, Kenzo, dan Jenderal Yudha langsung berdiri menyambutnya. Pria tua itu melepas ikatan kepala hitamnya, menyeka peluh tipis di dahinya, lalu menghembuskan napas berat. Sorot mata Abah Usman tajam, memancarkan getaran batin yang dalam."Abah..." ucap Kendi, suaranya tertahan oleh rasa hormat yang mendalam."Aku datang membawa firasat dari angin utara, Ndi, Kenzo," suara Abah Usman parau namun tegas, menggema di dinding-dinding baja ruangan. "Meditasiku pecah semalam. Aku melihat pusaran darah dan besi membentang di atas kota ini.

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 129 : Firasat Dari Cianjur

    Asap putih tipis dari sebatang rokok yang menyala di jemariku perlahan memudar, tersapu embusan angin malam Jakarta yang mendingin. Namun, pikiranku justru terseret mundur pada sebuah bayangan yang masih meninggalkan hawa panas di sekujur kulitku.(Flashback)Dua hari yang lalu. Ruang istirahat kecil di sudut markas, berbalut dinding beton dingin dan deru mesin pendingin yang berputar monoton.Wajah Davina hanya berjarak satu inci dari wajahku. Mata hazelnya menatap tajam, menantang sekaligus menuntut. Aroma parfum Baccarat Rouge 540 bercampur dengan wangi mawar putih dari kulitnya langsung menyergap penciumanku—sebuah kombinasi pekat yang mengunci akal sehat. Saat bibir kami bertemu, tidak ada kelembutan di sana. Ciumannya brutal, memabukkan, dipenuhi rasa kepemilikan yang egois. Tangannya yang ramping namun kuat menelusuri dada telanjangku, kuku-kukunya yang bercat merah menggores pelan permukaan kulit, meninggalkan jejak panas.Aku mengangkat tubuhnya, menghimpitnya ke dinding

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 128 : Love interest Para Jagoan

    Lampu neon putih di ruang medis markas rahasia Jenderal Yudha memancarkan pendar dingin yang menerangi ruangan steril berukuran sedang itu. Bau tajam cairan antiseptik, alkohol medis, dan salep penenang berpadu di udara, menciptakan atmosfer yang sunyi dan menenangkan. Di atas ranjang berseprai putih, Siska terbaring lemas. Napasnya teratur namun berat, sisa-sisa efek obat penenang dosis tinggi yang diberikan tim medis bekerja meredakan guncangan psikis setelah teror panjang di markas The Eclipse.Jacky duduk di kursi logam tepat di sisi ranjang. Siku tangannya bertumpu di atas lutut, sementara dagunya disangga oleh kedua tangan yang saling bertaut. Matanya menyapu setiap jengkal wajah Siska yang tampak pucat—mulai dari bulu matanya yang basah oleh sisa air mata, bibirnya yang sedikit kering, hingga pergelangan tangannya yang masih dibalut perban tipis akibat gesekan tali penyiksa.Di dalam binar mata Jacky, tersimpan sesuatu yang jauh lebih dalam dari rasa kasihan seorang rekan sa

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 127 : Prahara Dua Davina

    "Siska, tenangkan dirimu." Jacky melangkah maju, tangannya dengan lembut menyentuh bahu Siska yang masih bergetar hebat. Ia membawa wanita itu duduk di atas kursi terdekat, memberikan tatapan penuh keyakinan. "Dengarkan aku. Davina memang ada di pihak kita sekarang. Soal pesan yang kau lihat di ponsel Darius... itu bukan dia."Kendi dan Kenzo saling berpandangan. Kendi maju selangkah, menatap Siska dengan dahi berkerut. "Maksudmu, Jack?""Aku menemukan file terenkripsi di server utama The Eclipse saat menyusup tadi," jelas Jacky sambil melirik sekilas ke arah Davina. "Darius tahu Davina telah berkhianat dan memihak Jenderal Yudha. Karena frustrasi dan tidak terima, Darius menciptakan sebuah duplikat biologis—kloningan Davina yang diprogram dengan memori palsu agar mengira dirinya adalah Davina yang asli. Dialah mata-mata yang mengirim informasi itu."Suasana di ruang komando mendadak senyap. Siska tertegun, napasnya perlahan mulai teratur meski sisa-sisa trauma masih membekas di mat

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 126 : Penyelamat Yang Terlambat

    Pisau bedah kecil itu bergerak membelah tali nilon yang mengikat pergelangan tangan Siska dalam satu tarikan mulus. Tali kasar yang sedari tadi menggesek kulitnya hingga berdarah kini jatuh terputus ke lantai semen yang dingin. Dari balik keremangan cahaya darurat yang berkedip merah, sosok berpakaian taktis hitam legam membuka penutup kepalanya.Itu Jacky. Wajahnya dipenuhi coretan jelaga dan sisa keringat, namun sorot matanya setajam elang yang baru saja menemukan mangsanya. Bau mesiu dan anyir darah segar menguar dari sarung tangan kulitnya yang robek di bagian buku jari.Tanpa banyak bicara, Jacky melemparkan sebuah tas ransel kecil ke pangkuan Siska. "Pakai ini. Cepat. Penjaga lapis kedua akan berpatroli dalam lima menit."Siska menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti dipenuhi pasir basah. Dengan jemari yang masih bergetar hebat, ia membuka ritsleting tas itu. Di dalamnya terdapat satu set pakaian taktis bersih, kaus katun hitam, dan sebotol air mineral. Siska menggunak

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 125 : Rudapaksa Siska

    Bau antiseptik bercampur dengan aroma embun pagi yang menyusup dari celah ventilasi fasilitas bawah tanah Jenderal Yudha.Kelopak mata Mery perlahan bergetar, terbuka menampakkan manik matanya yang jernih namun kosong. Tidak ada kilatan memori atau sisa-sisa penderitaan masa lalu di sana ; yang ada hanya kehampaan yang asing. Ketika aku menggenggam jemarinya, dia menarik tangannya pelan, menatapku seperti menatap orang asing di jalanan."Siapa... kamu ?" bisiknya lirih, suaranya serak.Amnesia total itu merenggut segalanya. Program penghapusan memori The Eclipse telah membabat habis seluruh arsip masa lalunya, menyisakan lembaran putih tanpa nama, tanpa wajah, dan tanpa kenangan tentangku.Namun, di ruangan bernuansa putih steril itu, tidak ada rasa putus asa yang tersisa. Aku, Kenzo, Dira, dan yang lainnya bergantian menjaganya dengan kesabaran ekstra.Dira meracik formula pemulihan saraf, Kenzo memastikan keamanan perimeter, sementara aku duduk berjam-jam menceritakan hal-hal keci

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 5 : Mahkota Dari Kawat Berduri

    Hening yang tercipta setelah ledakan itu terasa lebih memekakkan telinga daripada bunyi bom itu sendiri.Asap kelabu yang berbau belerang dan plastik terbakar merayap rendah di atas lantai gudang yang retak. Aku berdiri mematung, ponsel di tanganku masih terasa panas, sementara suara tawa pria di

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 4 : Darah Yang Terkhianati

    Dunia tidak menjadi gelap. Dunia menjadi merah.Suara tembakan itu bukan dentuman, melainkan serangkaian letupan tajam yang merobek udara, seperti suara cambuk yang melecut tepat di samping telingaku.Aku tidak merasakan sakit, hanya dorongan kuat yang melempar tubuhku ke belakang.Punggungku mengh

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 32 : Asal Usul Si Badboy Bermula

    Lonceng di atas pintu cafe tua itu berdenting parau, seolah enggan menyambut kedatanganku yang membawa hawa dingin dari sisa pelarian di jembatan.Aroma kopi yang disangrai terlalu gelap dan bau kayu lapuk menyergap indra penciumanku, mencoba menutupi bau amis darah dari lengan kemejaku yang robek.

  • Bermain Api Dengan Nyonya   Bab 1 : Kamar 1202 Sang Predator & Mangsa

    Lantai marmer lobi Grand Mahakam berkilat seperti cermin, memantulkan sosokku yang sedang berlutut. Bau kafein yang hangus menyerbu indra penciumanku, bercampur dengan aroma pembersih lantai kimiawi yang tajam. Di hadapanku, sepasang sepatu hak tinggi berwarna merah menyala berdiri dengan angkuh.

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status