MasukKRAAAKK !Jalur retakan berbentuk jaring laba-laba merayap cepat di sepanjang dinding kaca tebal koridor bawah laut.Di luar sana, kegelapan Sektor Utara yang pekat bergolak hebat, ditekan oleh hantaman tubuh monster klon Alfa raksasa berwajah diriku yang terus menghantamkan tinju bajunya. Air laut sedingin es mulai menyembur keluar dari celah-celah mikro, membawa aroma asin garam dan ganggang busuk yang seketika merusak hangatnya uap nitrogen di dalam ruangan."Mery, merunduk!" raungku.Aku melompat, menyambar pinggang Mery Sumitro tepat saat satu hantaman masif dari luar menghancurkan panel kaca bagian atas. PYARRR ! Serpihan kristal tajam beterbangan laksana badai pisau, menggores punggung jaket kulitku hingga robek.Air laut yang membekukan saraf langsung menumpahi lantai beton, merendam sepatu taktis kami hingga setinggi mata kaki. Di sela kepanikan itu, aroma manis Black Opium dari ceruk leher Mery yang basah kuyup terasa kian benderang, menjadi satu-satunya kompas waras di
Uap dingin nitrogen yang mengalir dari lorong fasilitas bawah tanah menyapu dermaga tua, membawa aroma tajam amonia dan zat pengawet organik yang mencekik tenggorokan. Di bawah langit Sektor Utara yang kelabu, raga Mery Bramantyo—atau yang kini harus kuingat kembali sebagai Mery Sumitro—membeku seketika.Aroma manis Black Opium dari tubuh Mery yang hangat mendadak menguap, kalah oleh wewangian klasik lavender kering yang sangat pekat dari arah wanita bergaun sutra ungu di depan kami. Nyonya Merlin Sumitro."Ibu..." bisik Mery, suaranya bergetar halus, sebilah rasa perih yang terpendam belasan tahun mendadak retak di dalam bola matanya yang berkaca-kaca.Merlin Sumitro menghentikan langkahnya di atas beton dermaga yang basah. Jemari lentiknya yang dihiasi cincin berlian hitam mengetuk pipa rokok perak, mengembuskan asap tipis yang berbau tembakau mentol mahal. Wajah paruh bayanya yang masih kencang menatap Mery tanpa riak emosi, sedingin dinding baja laboratorium di belakangnya."Kau
KREEEAAAK !Suara besi kabin yang melesak ke dalam terdengar begitu memilukan di tengah deru mesin helikopter yang kian sekarat.Melalui kaca kokpit yang mulai retak seribu dan berembun oleh uap laut, aku bisa melihat dengan jelas sosok yang berdiri tegak menantang angin di atas sana. Pria itu bertubuh kekar, mengenakan celana taktis robek-robek tanpa atasan, membiarkan kulit dadanya yang sewarna perunggu diterpa gerimis dingin Sektor Utara.Tato angka 08 di lehernya berdenyut merah seiring otot-otot lengannya yang mengeras bagai beton, menahan laju putaran bilah baja baling-baling hanya dengan cengkeraman tangan kosong. Namun, yang membuat jantungku berdesir bukanlah kekuatan monster itu, melainkan rahang tegas dan struktur wajahnya."Jacky..." desis Kenzo asli di sampingku.Suara Kenzo mendadak tercekat, kehilangan bariton taktisnya. Sepasang mata Kenzo melebar, menatap nanar pada sosok di balik kaca. Itu Sersan Jacky. Mantan rekan satu tim Kenzo di unit elit komando militer, pri
Deru baling-baling helikopter taktis Jenderal Yudha bergetar parah, memotong pekatnya kabut kelabu di atas perairan Sektor Utara. Di dalam kabin yang pengap dan berbau tajam solar bocor, atmosfer terasa membeku. Udara dingin laut merembes masuk melalui celah pintu baja yang penyok, membawa aroma garam dan karat yang menusuk lubang hidung. Di sudut kabin, Kenzo asli duduk bersandar pada dinding kompartemen senjata. Sepasang mata hitamnya menatap kosong ke arah lantai besi yang bergetar. Jemari kekarnya yang dipenuhi kapalan latihan mendadak mencengkeram erat laras senapan taktis di pangkuannya. Buku-buku jarinya memutih, dan keringat dingin mulai membasahi dahi tegapnya, bukan karena takut pada puluhan drone The Eclipse yang mengejar di belakang, melainkan karena hantaman memori kelam yang mendadak bangkit dari dasar otaknya setelah mendengar nama organisasi itu. "Kenzo," panggilku, suaraku parau di sela bising mesin. Aku bisa merasakan ketegangan yang tidak biasa dari rag
UHUK !Darah hitam kental yang dilepaskan dari tenggorokan Abah Usman menetes berat, menembus beceknya lumpur fajar dan langsung berbau belerang yang menyengat. Sisa-sisa kehangatan dari teknik Self-Healing beliau menguap, digantikan oleh hawa sedingin es yang merayap di bawah kulit sepuhnya. Di atas kami, deru mesin dari puluhan drone tempur siluman milik The Eclipse menciptakan dengung frekuensi rendah yang membuat gendang telingaku serasa hendak pecah."Kendi... bawa... Mery pergi..." bisik Abah Usman, suaranya kini parau, tipis, dan bergetar hebat menahan rasa sakit yang memeras saraf jantungnya.Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Amarah di dadaku telah membeku menjadi kalkulasi taktis yang dingin. Aku menyeka sisa cairan biru dari wajahku, lalu memeluk pinggang Mery Bramantyo dengan satu tangan kekarku, mengangkat tubuh indahnya yang gemetar keluar dari garis bidik lampu laser merah drone di langit. Aroma Black Opium dari ceruk leher Mery menguar tajam di antara bau hangus
00:15... 00:14…Pendar jingga matahari fajar menyembur dari balik puncak Gunung Gede, menyiram hamparan lumpur kaki bukit yang berlumuran darah, oli, dan cairan sintetis. Angka digital di dada puluhan klon zirah hitam berwajah Mery dan Dira berkedip gila.Bau belerang yang mencekik beradu dengan aroma manis Black Opium dari tubuh Mery yang asli di pelukanku—sebuah aroma yang kini terasa amat berharga di ujung helat napas dunia."Kendi... lakukan," bisik Mery asli, suaranya terputus-putus, sepasang matanya yang sayu menatapku tanpa ketakutan. "Jangan biarkan kota ini hancur.""Tidak akan ada yang mati hari ini, Mery," desisku, napasku memburu, menyeka darah anyir yang mengalir dari pelipisku.Aku menoleh ke arah Kenzo dan Dira. Melalui sisa daya komunikasi mikro, sebuah rencana tanpa kata telah terajut di antara kami, anak-anak didik Padepokan Bambu.Abah Usman yang bersandar di lambung helikopter mengangguk perlahan, pendar putih keperakan di matanya memberi restu spiritual yang mutl