Share

Bermain Api dengan Adik Iparku
Bermain Api dengan Adik Iparku
Author: Nando

Bab 1

Author: Nando
"Kak Marco, ini pertama kalinya bagiku. Lembut dikit ...."

Pada larut malam, gadis yang hanya mengenakan kaus kaki berlutut di hadapanku. Wajahnya merona merah dan dia menatapku dengan mata berkaca-kaca.

"Jangan bicara. Kulum saja ...."

Aku memasukkan jariku ke mulut gadis itu. Dia segera mengulum dan menjilatnya dengan patuh. Lidah kecilnya berputar-putar dengan rakus, sedangkan mulutnya mengeluarkan desahan tertahan yang lembut. Itu benar-benar adalah suara paling seksi yang bisa dikeluarkan seorang gadis ....

Namaku Marco. Aku adalah seorang pria yang baru saja menikah. Beberapa waktu lalu, adik iparku yang masih SMA datang berlibur dan menginap di rumahku.

Saat ini adalah puncak musim panas. Setiap hari, gadis yang sudah dewasa ini selalu mengenakan tank top yang dipadukan dengan celana pendek. Dia bahkan tidak mengenakan bra.

Saat berjalan atau duduk, payudaranya selalu terlihat kencang. Dia memiliki pinggang ramping, juga bokong yang bulat nan montok. Pria mana pun pasti tertarik padanya.

Terutama bagi seorang kakak ipar yang sangat bernafsu dan juga berani sepertiku, kata "adik ipar" sangatlah menggoda.

Sesekali, aku akan menggoda dan bercanda dengannya. Itu tentu saja demi mencuri kesempatan untuk menyentuhnya. Kadang, aku akan "tidak sengaja" menyentuh payudaranya, meremas pantatnya, mencubit pinggangnya. Aku juga tidak akan melewatkan kakinya yang panjang dan putih.

Sejak saat itu, aku menemukan bahwa adik iparku memiliki kelemahan fatal. Ketika ditindas, dia tidak berani melawan, melainkan hanya akan menerimanya secara pasif.

Suatu kali, aku pergi ke kamar mandi untuk mandi dan melihat bahwa adik iparku lupa menyimpan celana dalam yang dilepasnya. Baru saja aku mengambil celana dalam kecil itu dan mengaguminya, dia merebutnya dariku dan melindunginya di dadanya. Aku berpura-pura ingin merebutnya, tetapi malah meremas payudaranya yang lembut dan halus.

Di rumah, dia hanya mengenakan tank top dan tanpa bra. Jadi, sentuhan itu terasa sama persis dengan menyentuh kulitnya secara langsung. Aku tidak rela melepaskannya dan meremasnya beberapa kali lagi.

Adik iparku tertegun selama beberapa detik. Saat menyadari ereksiku, dia baru menyerukan "duh" dengan wajah merona merah dan berlari pergi.

Setelah itu, aku merasa sangat terangsang. Aku mandi dengan cepat dan bergegas kembali ke kamar tidur dengan keadaan sangat ereksi. Melihat istriku yang sudah tertidur dalam posisi miring, aku langsung naik ke ranjang tanpa mengatakan apa-apa.

Dengan posisi doggy style, aku menekan pinggang ramping istriku dari belakang, lalu menarik celana dalamnya hingga ke lutut dan menggulungnya menjadi bola.

"Emm .... Sayang ... ada apa .... Siapa yang kasih kamu minum obat perangsang?" Gerakanku membuat istriku terbangun dengan linglung. Butuh beberapa saat baginya untuk bereaksi. Tanpa berbalik, dia mengangkat bokongnya lebih tinggi dan bergumam, "Pe ... pelan dikit .... Belum basah ...."

"Aku cuma ingin bercinta denganmu. Nggak boleh?"

Tubuh istriku sangat sensitif dan dia cukup ekspresif. Biasanya, aku melakukan banyak foreplay sebelum masuk ke tahap berikutnya. Namun, malam ini, dia tahu ada orang lain di rumah. Jadi, dia tidak mendesah seperti biasanya.

Saat teringat adik iparku berada di luar, aku ingin membuat banyak suara agar dia mendengarnya. Jadi, aku sengaja menggunakan kata-kata nakal untuk merangsang istriku. Aku menghantamkan pinggulku ke bokongnya yang mulus sambil bertanya, "Enak? Enak nggak bercinta seperti ini?"

Istriku secara refleks mengerang panjang. Bokongnya terangkat tinggi dan erangan yang manis tidak berhenti keluar dari mulutnya. Keseksiannya sudah sepenuhnya keluar.

"Emm ... ah .... Ini namanya pemerkosaan. Enak banget ...."

Tepat saat itu, aku tiba-tiba menyadari bahwa entah sejak kapan, pintu kamar tidur sudah terbuka sedikit dan ada bayangan yang bergerak di luar. Adik iparku sedang mengintip kami?

Aku meliriknya dari sudut mataku. Sesuai dugaan, adik iparku yang hanya mengenakan celana dalam sedang setengah berjongkok di balik pintu. Mulutnya sedikit terbuka, dadanya naik turun dengan hebat. Dia menatap gerakanku dengan wajah memerah.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bermain Api dengan Adik Iparku   Bab 7 

    Bagaimana istriku bisa menarikku ke samping barusan? Dia sangat kurus. Bagaimana mungkin dia mampu melakukannya? Yang seharusnya meninggal adalah aku ....Tidak, dia belum meninggal. Istriku belum meninggal ....Ada rumah sakit di dekat hotel. Ambulans tiba dalam waktu sepuluh menit.Setelah paramedis tiba, Tania menarikku ke samping. Dia menangis dan berkata dengan tidak jelas, "Nggak apa-apa. Kakak akan baik-baik saja. Dokter pasti bisa selamatkan dia. Jangan khawatir ... jangan khawatir ...."Dia jelas sedang menghiburku untuk menenangkan dirinya sendiri. Tubuhnya gemetar lebih hebat daripada aku, sedangkan tangannya yang mencengkeramku terasa sangat dingin."Dia tewas di tempat. Detak jantung dan napasnya sudah berhenti ...."Aku mendengar seorang dokter berbisik kepada dokter lain.Aku merasa seperti disambar petir dan hampir tidak bisa berdiri."Hubungi polisi lalu lintas yang bertugas atau dinas pengelola lalu lintas kepolisian. Di sini nggak perlu serah terima lagi."Tania juga

  • Bermain Api dengan Adik Iparku   Bab 6

    Melihat ini, aku menoleh ke arahnya dan bertanya, "Siapa yang ganti celana dalamku? Kamu?"Begitu melontarkan pertanyaan itu, aku samar-samar ingat bahwa semalam, aku sepertinya ... telah berhubungan intim? Apakah itu hanya mimpi basah?Tania terbangun karena seruanku. Aku menatap mereka berdua dan bertanya langsung, "Apa kalian taruh sesuatu di minumanku semalam? Aku belum pernah mabuk secepat ini sebelumnya."Istriku menjawab, "Nggak kok .... Aku yang ganti celanamu. Habis mandi, kami melihatmu tidur begitu nyenyak. Jadi, aku cuma bantu kamu mengelap tubuhmu."Aku menatap Tania. Dia membalas tatapanku dengan mata mengantuk, jadi aku tidak tahu apakah dia sedang berpura-pura.Aku membuka mulutku dan menghela napas kesal, tetapi tidak menanyakannya. Aku masih punya rencana untuk hari ini. Akhirnya, aku memutuskan untuk menganggap tidak ada yang terjadi.Aku berkata, "Nggak apa-apa .... Kalau sudah bangun, siap-siap saja dulu. Habis itu, kita turun untuk sarapan." Selama sarapan, Tania

  • Bermain Api dengan Adik Iparku   Bab 5

    Setelah makan malam, suhunya mulai turun. Jadi, kami kembali ke hotel yang telah kami pesan.Saat melihat kartu remi dan dadu di atas meja, Tania berkata dengan bersemangat, "Ayo kita main permainan minum-minum!"Aku menyahut, "Mau main, ya main saja. Kenapa harus minum-minum?"Mendengar jawabanku, Tania mengerutkan bibirnya. Istriku berujar, "Tania juga sudah dewasa. Kalau dia pengen, biarkan saja dia minum. Ini kesempatan bagus untuk menguji toleransi alkoholnya. Mabuk di depan keluarga lebih baik daripada mabuk di luar."Aku melihat kode QR berisi menu alkohol di meja dan memindainya. Melihat ada koktail rendah alkohol, aku pun setuju.Istriku mencondongkan badan untuk melihat menu, lalu memesan tiga kaleng arak putih berkadar alkohol tinggi. Dia terkekeh dan berkata, "Jarang sekali kita bisa bersenang-senang. Dinikmati saja. Lagian, bukannya kita sudah sepakat untuk menguji toleransi alkohol Tania? Kadar alkohol dari koktail mungkin nggak akan cukup. Bahkan aku juga nggak akan mabu

  • Bermain Api dengan Adik Iparku   Bab 4 

    Tepat pada saat ini, terdengar suara gedebuk dari kamar sebelah yang diikuti oleh jeritan kesakitan istriku. Aku pun terkejut dan segera berpakaian sebelum bergegas ke kamar tidur utama.Istriku terbaring di lantai sambil memegangi perutnya. Wajahnya dipenuhi keringat dingin. "Sayang ... perutku sakit banget."Saat aku mengantarnya ke rumah sakit, hari sudah subuh.Dua hari kemudian, hasil pemeriksaan keluar. Istriku didiagnosis mengidap kanker rahim. Seminggu kemudian, aku membawanya ke rumah sakit kota untuk melakukan operasi. Dia selamat, tetapi rahimnya harus diangkat.Tahun pertama setelah operasi adalah masa yang terberat karena emosinya sangat tidak stabil. Dia tahu temperamennya telah berubah dan terkadang memintaku untuk memakluminya. Aku sangat perhatian padanya dan berinisiatif untuk melakukan lebih banyak pekerjaan rumah tangga.Namun, karena sudah kehilangan rahim, istriku mengalami depresi karena merasa dia tidak mampu memberiku seorang anak. Akhirnya, istriku tidak taha

  • Bermain Api dengan Adik Iparku   Bab 3 

    Aku pergi ke kamar tidur adik iparku, lalu membuka laci lemarinya dan melihat deretan rapi celana dalam yang imut. Aku mengambil celana dalam bermotif stroberi sebelum kembali ke depan pintu kamar mandi. Setelah mengetuk, aku menyerahkannya.Adik iparku membuka pintu sedikit, lalu buru-buru mengambil celana dalam itu dan memakainya. Kemudian, uap dari kamar mandi menyebar keluar. Adik iparku muncul di hadapanku dengan hanya mengenakan tank top dan celana dalam.Kulitnya yang baru saja selesai dibasuh air panas terlihat mengilap. Berhubung dia tidak mengenakan bra dan tank top-nya terbuat dari katun tipis, bentuk payudara dan putingnya terlihat jelas.Celana dalam bermotif stroberi itu terlihat agak kecil dan hampir tidak mampu menampung bokongnya yang montok. Area kemaluannya juga tercetak jelas.Melihatku menghalangi pintu, adik iparku sangat malu. Kulitnya yang putih langsung memerah dan itu terlihat sangat menggoda."Ka ... Kak Marco, silakan masuk ...." Mencium aroma tubuhnya yang

  • Bermain Api dengan Adik Iparku   Bab 2

    Gairahku langsung meningkat. Aku tidak menyangka adik iparku yang terlihat begitu polos akan mengintip kakak dan kakak iparnya yang sedang bercinta. Untuk memastikan dia melihat semuanya dengan jelas dan meninggalkan pelajaran pendidikan seks pertama yang berkesan baginya, aku tidak peduli apakah istriku menyadari adiknya sedang mengintip. Aku menariknya bangun, lalu memaksanya mencondongkan pinggulnya ke belakang dan menegakkan tubuh bagian atasnya. Aku membuatnya menghadap ke arah ruang tamu di luar.Selain itu, aku juga menanggalkan gaun tidurnya agar tubuh telanjangnya terpampang. Kemudian, aku mulai bergerak dengan lebih kasar lagi, seperti banteng yang sedang mengamuk."Ah ... Sayang .... Aku bisa mati ...." Payudara istriku bergoyang hebat. Dia sama sekali tidak dapat menahan erangannya. Berhubung kedua tangannya kucengkeram erat-erat, dia tidak bisa menutup mulutnya. Jadi, dia ingin bersuara, tetapi juga tidak berani. "Ah ... aku nggak tahan lagi .... Ampunilah aku ...." Su

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status