แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Nando
Gairahku langsung meningkat. Aku tidak menyangka adik iparku yang terlihat begitu polos akan mengintip kakak dan kakak iparnya yang sedang bercinta.

Untuk memastikan dia melihat semuanya dengan jelas dan meninggalkan pelajaran pendidikan seks pertama yang berkesan baginya, aku tidak peduli apakah istriku menyadari adiknya sedang mengintip. Aku menariknya bangun, lalu memaksanya mencondongkan pinggulnya ke belakang dan menegakkan tubuh bagian atasnya. Aku membuatnya menghadap ke arah ruang tamu di luar.

Selain itu, aku juga menanggalkan gaun tidurnya agar tubuh telanjangnya terpampang. Kemudian, aku mulai bergerak dengan lebih kasar lagi, seperti banteng yang sedang mengamuk.

"Ah ... Sayang .... Aku bisa mati ...."

Payudara istriku bergoyang hebat. Dia sama sekali tidak dapat menahan erangannya. Berhubung kedua tangannya kucengkeram erat-erat, dia tidak bisa menutup mulutnya. Jadi, dia ingin bersuara, tetapi juga tidak berani.

"Ah ... aku nggak tahan lagi .... Ampunilah aku ...."

Suaranya terdengar bergetar seperti menahan tangis, lalu tubuhnya terkulai lemas di atas ranjang. Hanya bokong montoknya yang tetap terangkat tinggi karena kupegang.

Setelah itu, aku mengenakan celana dalamku. Aku pergi ke ruang tamu dan berpura-pura ingin mengambil air. Pintu kamar adik iparku tertutup rapat, tetapi cahaya masih terpancar dari celah pintu. Begitu suara langkah kakiku menggema, lampu di kamarnya langsung padam.

Keesokan paginya, aku merasa seperti memiliki aura yang kuat. Ke mana pun aku pergi, adik iparku menghindariku dan hanya menempel erat pada istriku.

Dia sepertinya sedikit ketakutan. Aku dan kakaknya jelas-jelas adalah pasangan yang saling mencintai. Namun, aku ternyata sangat kasar di ranjang dan "menyiksa" kakaknya habis-habisan. Selain itu, kakaknya sepertinya sangat menikmatinya dan dengan rela membiarkanku memperlakukannya seperti itu.

Dunia orang dewasa ini membuat adik iparku takut.

Awalnya, meskipun tertarik padanya, aku juga tidak akan memiliki kesempatan untuk tidur dengannya karena dia menghindariku seperti ini. Tak disangka, sepertinya takdir juga menciptakan peluang bagiku.

Malam itu, aku baru pulang dini hari. Istriku sudah tidur, tetapi lampu kamar mandi masih menyala. Adik iparku mungkin sedang mandi. Melalui kaca buram pintu kamar mandi, aku samar-samar bisa melihat sosoknya yang seksi. Dia sepertinya sedang mengeringkan badan.

Sebuah pikiran terlintas di benakku. Aku berpura-pura mengira yang berada di dalam adalah istriku dan langsung memutar gagang pintu kamar mandi.

"Sayang, aku mau buang air kecil. Sudah nggak tahan nih ...."

Sesuai dugaan, adik iparku tidak mengunci pintu. Setelah berseru terkejut, dia bersembunyi di balik pintu dan menahannya dengan pelan.

"Kak Marco ... ini aku ...."

Pada saat ini, sebagian besar tubuhku sudah menyelinap masuk. Tubuh muda dan memikat itu sepenuhnya terpampang di hadapanku. Kulit putihnya yang sedikit kemerahan dan mulus masih agak basah. Dipadukan dengan wajahnya yang cantik dan polos, aku langsung bergairah hampir dalam seketika.

Aku pura-pura terkejut dan berbisik, "Tania, kenapa kamu belum tidur?"

"Aku nggak bisa tidur ...."

Adik iparku telanjang dan hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian depan tubuhnya. Handuk itu hampir tidak dapat menutupi dada dan bagian bawah tubuhnya. Dia menunduk karena tidak berani menatapku. Suaranya terdengar lembut saat berujar, "Ka ... Kak Marco, jangan masuk dulu. Aku mau berpakaian ...."

"Oh, oke." Aku pura-pura tersadar, lalu mundur dengan enggan. "Cepat, ya. Aku sudah kebelet ...."

Sebenarnya, aku sama sekali tidak ingin buang air kecil. Aku menunggu di luar hanya untuk melihat ekspresi malu adik iparku. Melalui kaca, aku bisa melihatnya tiba-tiba berdiri tak bergeming dan memanggil dengan pelan, "Kak ... Kak Marco ...."

"Sudah selesai? Aku masuk, ya?" Aku terus berpura-pura bodoh.

"Be ... belum. Jangan masuk dulu ...." Adik iparku jelas merasa panik dan menjawab dengan tergagap, "Aku nggak sengaja jatuhkan celana dalamku ke lantai dan itu sudah kotor. Bisa nggak kamu ambilkan yang bersih untukku?"

Suaranya sangat kecil hingga hampir tidak terdengar. "Ada di laci pertama lemari."
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bermain Api dengan Adik Iparku   Bab 7 

    Bagaimana istriku bisa menarikku ke samping barusan? Dia sangat kurus. Bagaimana mungkin dia mampu melakukannya? Yang seharusnya meninggal adalah aku ....Tidak, dia belum meninggal. Istriku belum meninggal ....Ada rumah sakit di dekat hotel. Ambulans tiba dalam waktu sepuluh menit.Setelah paramedis tiba, Tania menarikku ke samping. Dia menangis dan berkata dengan tidak jelas, "Nggak apa-apa. Kakak akan baik-baik saja. Dokter pasti bisa selamatkan dia. Jangan khawatir ... jangan khawatir ...."Dia jelas sedang menghiburku untuk menenangkan dirinya sendiri. Tubuhnya gemetar lebih hebat daripada aku, sedangkan tangannya yang mencengkeramku terasa sangat dingin."Dia tewas di tempat. Detak jantung dan napasnya sudah berhenti ...."Aku mendengar seorang dokter berbisik kepada dokter lain.Aku merasa seperti disambar petir dan hampir tidak bisa berdiri."Hubungi polisi lalu lintas yang bertugas atau dinas pengelola lalu lintas kepolisian. Di sini nggak perlu serah terima lagi."Tania juga

  • Bermain Api dengan Adik Iparku   Bab 6

    Melihat ini, aku menoleh ke arahnya dan bertanya, "Siapa yang ganti celana dalamku? Kamu?"Begitu melontarkan pertanyaan itu, aku samar-samar ingat bahwa semalam, aku sepertinya ... telah berhubungan intim? Apakah itu hanya mimpi basah?Tania terbangun karena seruanku. Aku menatap mereka berdua dan bertanya langsung, "Apa kalian taruh sesuatu di minumanku semalam? Aku belum pernah mabuk secepat ini sebelumnya."Istriku menjawab, "Nggak kok .... Aku yang ganti celanamu. Habis mandi, kami melihatmu tidur begitu nyenyak. Jadi, aku cuma bantu kamu mengelap tubuhmu."Aku menatap Tania. Dia membalas tatapanku dengan mata mengantuk, jadi aku tidak tahu apakah dia sedang berpura-pura.Aku membuka mulutku dan menghela napas kesal, tetapi tidak menanyakannya. Aku masih punya rencana untuk hari ini. Akhirnya, aku memutuskan untuk menganggap tidak ada yang terjadi.Aku berkata, "Nggak apa-apa .... Kalau sudah bangun, siap-siap saja dulu. Habis itu, kita turun untuk sarapan." Selama sarapan, Tania

  • Bermain Api dengan Adik Iparku   Bab 5

    Setelah makan malam, suhunya mulai turun. Jadi, kami kembali ke hotel yang telah kami pesan.Saat melihat kartu remi dan dadu di atas meja, Tania berkata dengan bersemangat, "Ayo kita main permainan minum-minum!"Aku menyahut, "Mau main, ya main saja. Kenapa harus minum-minum?"Mendengar jawabanku, Tania mengerutkan bibirnya. Istriku berujar, "Tania juga sudah dewasa. Kalau dia pengen, biarkan saja dia minum. Ini kesempatan bagus untuk menguji toleransi alkoholnya. Mabuk di depan keluarga lebih baik daripada mabuk di luar."Aku melihat kode QR berisi menu alkohol di meja dan memindainya. Melihat ada koktail rendah alkohol, aku pun setuju.Istriku mencondongkan badan untuk melihat menu, lalu memesan tiga kaleng arak putih berkadar alkohol tinggi. Dia terkekeh dan berkata, "Jarang sekali kita bisa bersenang-senang. Dinikmati saja. Lagian, bukannya kita sudah sepakat untuk menguji toleransi alkohol Tania? Kadar alkohol dari koktail mungkin nggak akan cukup. Bahkan aku juga nggak akan mabu

  • Bermain Api dengan Adik Iparku   Bab 4 

    Tepat pada saat ini, terdengar suara gedebuk dari kamar sebelah yang diikuti oleh jeritan kesakitan istriku. Aku pun terkejut dan segera berpakaian sebelum bergegas ke kamar tidur utama.Istriku terbaring di lantai sambil memegangi perutnya. Wajahnya dipenuhi keringat dingin. "Sayang ... perutku sakit banget."Saat aku mengantarnya ke rumah sakit, hari sudah subuh.Dua hari kemudian, hasil pemeriksaan keluar. Istriku didiagnosis mengidap kanker rahim. Seminggu kemudian, aku membawanya ke rumah sakit kota untuk melakukan operasi. Dia selamat, tetapi rahimnya harus diangkat.Tahun pertama setelah operasi adalah masa yang terberat karena emosinya sangat tidak stabil. Dia tahu temperamennya telah berubah dan terkadang memintaku untuk memakluminya. Aku sangat perhatian padanya dan berinisiatif untuk melakukan lebih banyak pekerjaan rumah tangga.Namun, karena sudah kehilangan rahim, istriku mengalami depresi karena merasa dia tidak mampu memberiku seorang anak. Akhirnya, istriku tidak taha

  • Bermain Api dengan Adik Iparku   Bab 3 

    Aku pergi ke kamar tidur adik iparku, lalu membuka laci lemarinya dan melihat deretan rapi celana dalam yang imut. Aku mengambil celana dalam bermotif stroberi sebelum kembali ke depan pintu kamar mandi. Setelah mengetuk, aku menyerahkannya.Adik iparku membuka pintu sedikit, lalu buru-buru mengambil celana dalam itu dan memakainya. Kemudian, uap dari kamar mandi menyebar keluar. Adik iparku muncul di hadapanku dengan hanya mengenakan tank top dan celana dalam.Kulitnya yang baru saja selesai dibasuh air panas terlihat mengilap. Berhubung dia tidak mengenakan bra dan tank top-nya terbuat dari katun tipis, bentuk payudara dan putingnya terlihat jelas.Celana dalam bermotif stroberi itu terlihat agak kecil dan hampir tidak mampu menampung bokongnya yang montok. Area kemaluannya juga tercetak jelas.Melihatku menghalangi pintu, adik iparku sangat malu. Kulitnya yang putih langsung memerah dan itu terlihat sangat menggoda."Ka ... Kak Marco, silakan masuk ...." Mencium aroma tubuhnya yang

  • Bermain Api dengan Adik Iparku   Bab 2

    Gairahku langsung meningkat. Aku tidak menyangka adik iparku yang terlihat begitu polos akan mengintip kakak dan kakak iparnya yang sedang bercinta. Untuk memastikan dia melihat semuanya dengan jelas dan meninggalkan pelajaran pendidikan seks pertama yang berkesan baginya, aku tidak peduli apakah istriku menyadari adiknya sedang mengintip. Aku menariknya bangun, lalu memaksanya mencondongkan pinggulnya ke belakang dan menegakkan tubuh bagian atasnya. Aku membuatnya menghadap ke arah ruang tamu di luar.Selain itu, aku juga menanggalkan gaun tidurnya agar tubuh telanjangnya terpampang. Kemudian, aku mulai bergerak dengan lebih kasar lagi, seperti banteng yang sedang mengamuk."Ah ... Sayang .... Aku bisa mati ...." Payudara istriku bergoyang hebat. Dia sama sekali tidak dapat menahan erangannya. Berhubung kedua tangannya kucengkeram erat-erat, dia tidak bisa menutup mulutnya. Jadi, dia ingin bersuara, tetapi juga tidak berani. "Ah ... aku nggak tahan lagi .... Ampunilah aku ...." Su

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status