Home / Romansa / Berondong Kesayanganku / Diamnya Vino dan Rencana Reymond

Share

Diamnya Vino dan Rencana Reymond

Author: Suci Komala
last update publish date: 2026-09-26 21:15:00

Vino sudah sampai di bengkel. Ia bergegas mengganti pakaiannya. Tak seperti hari-hari sebelumnya. Siang itu, selain kerja tanpa bicara, Vino bekerja lebih serius bahkan mencari kesibukan sendiri.

Saking seriusnya ia tidak menyadari jika namanya disebut-sebut.

"Vin?" panggil Bagas.

"Apa, Gas?"

"Itu daritadi Bang Ken manggil."

Vino yang sedang memasang baut menoleh. Rupanya Kenan datang bersama Rania dan mereka duduk di kursi tunggu.

Vino bangkit, lalu melangkah mendekat. Saat bersamaan Kanay
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Berondong Kesayanganku   Reuni (1) - Malah Ditembak

    Hari yang ditunggu-tunggu Rania akhirnya datang juga. Reuni. Pagi-pagi sekali Rania sudah bagun menyiapkan sarapan. Tidak ada yang istimewa, hanya omelet saja. Baju tidur pun masih melekat, ditambah gulungan handuk di atas kepala yang menutupi rambutnya yang masih basah. Sesekali ia menguap. Maklum saja, malam itu Kenan benar-benar tidak membiarkannya tidur nyenyak. Omelet sudah ditata cantik di atas piring. Rania segera menyimpannya di meja makan. Sendok, garpu, serta dua gelas turut ia siapkan. Rania segera kembali ke kamar untuk menyiapkan pakaian Kenan dan mempercantik diri.Tiba di kamar, Rania tidak menemukan sosok Kenan. Aroma parfum yang menguar dari arah walk-in closet membuat Rania melangkah ke sana. Kenan di sana. "Wah, sudah siap ternyata.""Tentu saja. Seorang Kenan tidak akan ingkar."Rania tersenyum miring. Semalam, pria itu berjanji, jika saja Rania bisa melayaninya beberapa ronde, maka dirinya tidak akan sulit dibangunkan. Bahkan Kenan berkata, dirinya akan

  • Berondong Kesayanganku   Rencana Yang Mulai Bergerak

    Malam harinya, Kenan sudah menerima kabar jikalau test akan dilaksanakan senin depan. Lim tidak mengatakan bagaimana test akan diberikan karena ia yakin Rania bisa melaluinya."Ken, ayo, jawab!""Apa?""Yang tadi siang aku tanya."Kenan mengacak pucuk kepala Rania. "Sudah aku bilang, aku akan pertahanan kamu. Aku tidak peduli Arkana hancur, Sayang.""Arkana hancur, papimu juga hancur. Nah, kalau mami dan papi yang meminta. Kamu mau apa?"Tuk! Kenan menyentil dahi Rania. "Jangan pikirkan apa yang belum terjadi. Dan aku pastikan tidak akan pernah terjadi!""Aku hanya takut, Ay.""Sekali lagi, jangan pikirkan hal-hal yang membuatmu takut!""Haaaah!" Rania mengembuskan napas kasar. "Baiklah"Hening sesaat. "Belum apa-apa aku sudah merasa stres, Ay," kata Rania memecah keheningan."Tentang?""Test nanti.""Jangan dipikirin, Sayang.""Ya wajar, dong. Ini baru pertama kali aku masuk dunia kerja kantoran.""Ya, wajar. Tapi, jangan dijadikan beban juga, Sayang."Rania terkekeh-kekeh."Ngomo

  • Berondong Kesayanganku   Kandidat Sekretaris Kenan

    Lim mengajak putra dan menantunya duduk bersama. "Kebetulan kamu ke sini, Nak," kata Lim sambil menatap Rania. "Ada hal penting yang ingin Papi sampaikan."Rania menatap Kenan, lalu kembali menatap Lim. Wanita itu tersenyum canggung. "Kok, aku jadi deg-deg'an, ya, Pi." Ia lalu terkekeh-kekeh. Lim mengutarakan keinginannya. Ia benar-benar menginginkan Rania menjadi sekretaris Kenan. Bukan sekadar membantu pekerjaan Kenan, tetapi Lim juga mengungkapkan kecurigaannya terhadap Reymond. Rania kembali menatap Kenan. "Maksud Papi, curiga bagaimana?" tanya Kenan. "Papi khawatir ada pihak yang yang mencoba memanfaatkan keadaan di Arkana untuk mendapatkan pengaruh lebih besar." Lim menarik napas dalam-dalam. Lim melanjutkan. "Sebetulnya, Papi tidak ingin berprasangka buruk kepada pamanmu. Tapi, Papi juga tidak mau mengabaikan kemungkinan bahwa suatu hari nanti dia mencari jalan untuk memperkuat posisinya di perusahaan. Apalagi ada Jiawen."Rania semakin tidak mengerti. "Memangnya kenapa

  • Berondong Kesayanganku   Diamnya Vino dan Rencana Reymond

    Vino sudah sampai di bengkel. Ia bergegas mengganti pakaiannya. Tak seperti hari-hari sebelumnya. Siang itu, selain kerja tanpa bicara, Vino bekerja lebih serius bahkan mencari kesibukan sendiri. Saking seriusnya ia tidak menyadari jika namanya disebut-sebut. "Vin?" panggil Bagas. "Apa, Gas?""Itu daritadi Bang Ken manggil."Vino yang sedang memasang baut menoleh. Rupanya Kenan datang bersama Rania dan mereka duduk di kursi tunggu. Vino bangkit, lalu melangkah mendekat. Saat bersamaan Kanaya datang membawa dus kecil. Kanaya yang merasa canggung diam terpaku menatap Vino. Lain halnya dengan pemuda itu, ia melewati Kanaya begitu saja dengan acuh rak acuh. Sikap Vino tentu saja tak luput dari perhatian Rania juga Kenan. "Ada apa?" tanya Vino sambil menatap Rania dan Kenan sekilas. "Boleh Mbak bicara sebentar?""Silakan!"Rania menepuk Kursi kosong di sampingnya. Vino yang paham, langsung duduk."Mbak khawatir, dari tadi kamu gak angkat panggilan dari Mbak.""Gak bawa ponsel!" ka

  • Berondong Kesayanganku   Vino - Gara-gara Uler Keket

    Keluarga Reymond memutuskan untuk kembali ke apartemen lamanya. Sebelum benar-benar pergi, Jiawen meminta agar Rania mengantarnya menemui Vino. "Dek?"Rania memanggil sambil mengetuk pintu kamar Vino.Tak perlu menunggu lama, pintu kamar terbuka. "Apa, Mbak?""Jiawen mau pamit katanya."Vino berdecak lidah. "Ck! Ngapain pake pamit sama aku, sih?""Bilang aja aku udah tidur, Mbak!" lanjutnya, lalu melengos pergi. "Dek, tunggu, ih. Mbak udah tanggung bilang kamu belum tidur."Vino menoleh. "Ya bilang aja Mbak salah ngomong."Rania mengangguk. "Oke!"Vino menutup pintu bersamaan dengan dering ponselnya yang berbunyi. Bibirnya melengkungkan senyum saat melihat nama yang mengisi layarnya. Kanaya. Baru saja menerima panggilan dan saling sapa, pintu kembali diketuk. Vino kembali membuka pintu sambil berbicara dengan Kanaya. Namun, mulutnya berhenti berbicara karena yang datang adalah Jiawen. "Vino, Sayang, aku pulang dulu, ya?" kata Jiawen sumringah. Vino memutar matanya malas. Baru

  • Berondong Kesayanganku   Kembalinya Reymond Lim

    Rania dan Kenan sudah sampai di penthouse. Wanita itu menyimpan kantong belanjaannya di dalam lemari. Enggan baginya untuk membongkar isinya karena merasa percuma menurutnya. "Aku dulu," kata Rania saat melihat Kenan hendak masuk ke kamar mandi. Kenan menoleh. "Oke""Sayang, tunggu!" cegah Kenan sambil mencekal lengan Rania saat hendak masuk kamar mandi. Rania menoleh. "Apa?""Kamu marah?""Kalau marahku bisa merubah keputusanmu, maka akan aku lakukan."Kenan menarik tangannya dan mempersilakan Rania masuk. Dua puluh menit berselang, Rania menyudahi mandinya. Giliran Kenan. *Tepat jam delapan malam, keduanya sudah duduk bersandar di kasur. Keduanya saling diam. Rania yang masih sedikit kesal dan Kenan yang malah merasa canggung. "Besok aku izin ke rumah bunda," kata Rania akhirnya. Kenan menoleh. "Untuk?""Jelasin masalah Vino. Aku ingin Bunda tahu.""Yakin?""Harus. Biar Bunda yang nasehatin Vino.""Ya, boleh. Jam berapa ke sana?""Sebelum ke restoran.""Kenapa harus pagi?

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status