เข้าสู่ระบบ"Papa dari luar sebentar tadi ada pesan dari kantor jadi Papa keluar untuk telepon," jawab Fikar.Tak tega rasanya berbohong pada bocah sekecil Varo. Bocah tampan yang ternyata adalah putra kandungnya sendiri. Fikar menghampiri Varo dan tiba-tiba memeluknya erat.Airin merasa sikap Fikar jadi lebih dekat dengan Varo setelah transfusi darah."Maafin Papa ya Nak, katena tidak melindungimu selama ini," ucap Fikar. Tak terasa air matanya turun membasahi pipinya.Airin melihat itu, untuk pertama kalinya Fikar meneteskan air mata. Mungkinkah? Tidak ... Airin berusaha menepis dugaannya.Tiga hari kemudian ... Varo sudah pulih seperti biasa. Namun belum di perbolehkan berangkat sekolah oleh Fikar. Ia ingin putranya sembuh total. Airin juga tidak ngantor dulu guna merawat Varo."Sayang, pingin makan apa lagi. Biar mama masakin," tawar Airin."Varo udah kenyang Ma. Sekarang Varo mau mainan di kamar," jawab Varo."Mama temani ya."Varo mengangguk pelan, kaki kecilnya melangkah ke dalam ruang ka
Varo sudah sadar, tapi tubuhnya masih tampak lemas. Wajah kecil itu pucat, matanya terbuka setengah, seolah masih berjuang mengembalikan kesadarannya sepenuhnya. Selang infus masih menempel di punggung tangannya. Airin berdiri di sisi ranjang, mengusap lembut rambut Varo sambil menahan haru.“Sayang… Mama di sini,” bisiknya.Varo menoleh pelan. Senyum tipis muncul di bibirnya.“Mama… Papa mana?”Airin refleks menoleh ke arah pintu. Di balik kaca, Fikar berdiri terdiam. Tatapannya dalam, sulit terbaca. Beberapa jam sebelumnya, saat proses transfusi berlangsung, ia sempat memanggil perawat ke sudut ruangan.“Kalau boleh… tolong ambil sedikit sampel darah anak itu. Saya ingin tes DNA,” ucapnya lirih.Perawat sempat ragu. “Tes DNA, Pak?”“Ya. Tolong jaga kerahasiaannya. Jangan sampai siapapun tahu… termasuk istriku."Kini, Fikar melangkah masuk. Senyumnya hangat, seperti biasa. Ia tidak ingin ada yang curiga.“Papa…” panggil Varo lirih.Fikar menggenggam tangan kecil itu.“Istirahat dulu
“Maaf, Pak… golongan darah Bapak tidak cocok untuk Varo.” Azzam terdiam. “Maksudnya… tidak cocok bagaimana?” nada suaranya berubah. “Tidak bisa menjadi donor langsung, Pak.” Airin ikut diperiksa. Ia mencoba menenangkan diri, berusaha percaya semuanya akan baik-baik saja. Namun saat perawat kembali untuk kedua kalinya… “Maaf, Bu. Golongan darah Ibu juga tidak cocok.” Airin terpaku. Dunia seakan berhenti sesaat. Azzam menoleh… memandang Airin lama. Tatapan itu bukan sekadar kaget. Ada luka. Ada pertanyaan. “Tidak cocok…? Tapi… aku ayah kandungnya,” ucapnya pelan namun tegas. Airin membuka mulut, namun tak ada kata yang keluar. Perawat mencoba menenangkan, “Belum tentu berarti bukan keluarga kandung ya, Pak. Ini bisa dipengaruhi beberapa faktor medis. Tapi—” Azzam seperti tidak mendengar lagi. Pandangannya kosong. Rahangnya mengeras. Airin menunduk semakin dalam. Tangannya bergetar. Ia ingin menjelaskan tapi lidahnya kelu. Di saat suasana semakin kaku
Seperti biasa Airin dan Fikar mengantar Varo di sekolah barunya. Sebelum berpamitan Varo sempat cipika cipiki dulu pada papa dan mamanya. Airin tersenyum bahagia sambil mengusap rambut anaknya.“Hati-hati ya, Nak. Jangan lari-lari di halaman sekolah. Dengar kata Bu Guru.”“Iya, Mama.”Lalu Varo beralih pada Fikar. Ia harus sedikit berjinjit untuk mencapai pipi papanya.Fikar menunduk sambil memejam sebentar, menikmati momen kecil yang selalu ia tunggu tiap pagi.“Papa jemput sore ya?” tanya Varo memastikan.“Tentu,” jawab Fikar pelan. “Kalau Papa terlambat sedikit, tunggu di dalam gerbang. Jangan keluar sendirian.”“Siap!” jawab Varo sambil memberi hormat kecil.Airin dan Fikar saling berpandangan senyum hangat merekah di wajah mereka. Ada rasa syukur yang tidak bisa diucapkan kata-kata. Kehadiran Varo membuat rumah mereka selalu terasa hidup.“Varo masuk dulu ya…” ujar anak itu sebelum akhirnya berlari kecil menuju kelasnya.Namun sebelum benar-benar jauh, ia kembali menoleh dan mel
Rambut Airin basah, dan banyak bekaa tanda merah di area tubuhnya yang rak terlihat dari luar. Hari ini Fikar s7ngguh ganas, melampiaskan hasratnya menggebu-gebu. Sekarang dirinya berdiri di depan cermin membantu Airin mengeringkan rambutnya pakai hair dryer.Fikar memegang hair dryer, mengarahkan angin hangat ke rambut Airin. Gerakannya hati-hati, telaten, bahkan cenderung pelan seperti takut menyakiti. Wajahnya serius, namun matanya penuh kelembutan.“Biar aku lakukan sendiri, kamu ganti baju dulu," ucap Airin."Kenapa ... kamu takut aku menerkammu lagi," goda Fikar."Bu ... bukan begitu. Hanya saja apa kamu tidak lelah juga," balas Airin malu-malu.Sesekali jemari Fikar menyibakkan rambut Airin yang menutupi wajahnya. Sentuhannya ringan, penuh perhatian.“Apa aku perlu memijitmu? Aku tahu kamu pasti lelah melayaniku,” ucap Fikar sok bersalah.“Tidak usah. Yang ada nanti bukan Mas mijitin aku… tapi mijit yang lain-lain,” jawab Airin dengan pipi memerah.Fikar terkekeh pelan.“Kamu
Azzam berniat menghampiri Airin yang tengah memandangi Fikar tengah berpiday9 di podium. Rasanya dia tidak tenang kalau tidak dengar langsung dari Airin."Mas mau kemana?" tanya Lidya. Azzam tidak menjawab, langkahnya mantap menuju ke arah Airin."Rin ... aku tidak menyangka kamu meninggalkan aku karena gila harta," tuduh Azzam.Airin sempat kaget mendengar tuduhan Azzam. Namun dia tetap berusaha untuk tidak terpancing amarah."Mas ngomong apapun sekarang nggak ngaruh buat aku. Lagian sekarang aku sudah tidak ada urusannya dengan Mas," jawab Airin tegas.Azzam hendak melanjutkan kata-katanya. Tapi tiba-tiba pandangannya beralih pada seorang wanita cantik yang menyerahkan buket bunga segar pada Fikar."Kamu lihat kan, Rin. Fikar itu masih muda, tampan dan kaya raya. Kamu jangan berharap dia hanya milikmu seorang. Bisa jadi, dia juga seperti aku punya wanita lain di belakang layar," sindir Azzam.Airin menatap ke arah panggung. Wanita itu berpenampilan elegan, yang jelas dari kalangan a







