LOGIN“Biar pengacaraku saja yang urus semuanya,” sela Nyonya Zou tiba-tiba, mencoba menawarkan bantuan.Anqi terdiam sejenak, kemudian menggeleng perlahan.“Kenapa, Anqi?” tanya Nyonya Zou defensif, nada suaranya menyiratkan rasa bersalah yang tertusuk.“Karena aku tak ingin hal itu nantinya menjadi utang budi bagi Kak Yun,” tukas Anqi dingin.Nyonya Zou tersentak. “Anqi... haruskah kamu berkata seketus itu pada Mama?”“Aku cuma mengantisipasi, supaya kebaikan ini tidak berubah menjadi rantai belenggu baru buat Kak Yun.”“Anqi... aku ibu kandungnya,” sahut Nyonya Zou dengan suara bergetar, terluka.“Itu juga persis kalimat yang Mama katakan saat memaksa Kak Yun menikah dengan Hao Tian, pria bajingan itu,” cecar Anqi telak.Nyonya Zou mengerjap, air matanya mendesak hendak keluar. “Anqi... Mama tahu Mama telah berbuat banyak kesalahan fatal. Beri Mama satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya,” pintanya put
“Mikirin apa, Anqi?” tanya Su Wenning lembut sambil duduk merapat di samping Anqi yang tampak melamun menatap kosong ke luar jendela.Anqi menggeleng pelan. “Entahlah, Bu... Kepergian Tang Tang yang begitu tiba-tiba membuatku merasa separuh jiwaku ikut mati. Aku mendadak tidak punya gairah untuk melakukan apa pun. Tumpukan pekerjaan di kantor seolah lenyap dari ingatanku, sama sekali belum mampu memanggil kembali akal sehatku.”“Mungkin karena selama ini kehadiran Tang Tang begitu berarti, dan saat ia pergi begitu cepat, duniamu terasa berhenti berputar. Tidak apa-apa, Anqi. Istirahatlah sejenak. Mumpung kamu sedang mengambil cuti, manfaatkan untuk menenangkan dirim jalan-jalan keluar, berbelanja, atau sekadar memanjakan dirimu sendiri,” hibur Su Wenning penuh kasih.Anqi tersenyum tipis. “Jalan-jalan pun rasanya aku malas, Bu.”Su Wenning tertawa renyah, menciptakan suasana hangat di ruangan yang sejak tadi diselimuti kesedihan. “Baiklah kalau begitu. Kalau kamu malas ke mana-ma
“Nyonya... buang jauh-jauh semua obsesi gila itu. Berdamailah dengan takdir dan masa lalu. Nyonya sudah terlalu tua untuk meneruskan kebencian ini, jangan sampai Nyonya menghabiskan sisa hidup di masa tua dalam kesendirian yang membunuh. Rangkullah anak-anakmu... Semoga semuanya belum terlambat. Putri angkat Gu Chen baru saja berpulang ke pangkuan Tuhan, dan ini satu-satunya kesempatan emas bagi Nyonya untuk merengkuh kembali hati Nona Anqi.”**”Lonceng kematian baru saja berhenti berdentang, namun duka di dalam dada Anqi masih menganga begitu lebar. Di tengah suasana rumah duka yang hening dan dipenuhi aroma dupa serta taburan bunga kamboja, Anqi sedikit terkejut saat melihat sosok yang paling tidak disangkanya melangkah masuk melewati pintu depan, ibunya, Nyonya Zou.Seperti para pelayat lainnya, wanita paruh baya itu datang mengenakan setelan pakaian serba hitam, menampakkan ekspresi berduka. Namun, bagi Anqi yang paling mengenal wanita itu, ada garis-garis kelelahan dan kehan
“Iya, Sayang... Mama di sini. Mama ada di sini bersama Tang Tang,” racaunya di sela isak tangis yang begitu memilukan, jemarinya menggenggam erat tangan mungil itu seolah bisa menahan waktu agar tidak berjalan.Tang Tang tersenyum tipis. Wajah pucat itu mencoba menampilkan seulas senyuman paling tulus, seolah ingin meyakinkan ibunya bahwa ia tidak merasakan sakit lagi.“Jangan... jangan menangis, Ma... Wajah Mama jadi jelek kalau nangis terus...” ucap Tang Tang yang kini suaranya tak lebih dari sekadar bisikan angin.Napasnya kian memburu dan pendek, naik-turun dengan ritme yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Ia kemudian mengalihkan tatapannya yang sayu pada Gu Chen yang berdiri terpaku di sisi lain ranjang, sekujur tubuhnya bergetar hebat. Tang Tang tak mampu lagi merangkai kata, hanya genangan air mata di sudut matanya yang mewakili seluruh rasa terima kasihnya.Gu Chen langsung menjatuhkan lututnya ke lantai dengan lemas, ikut menggenggam tangan kecil Tang Tang yan
Anqi menatap suaminya dalam-dalam, lalu menarik napas panjang. “Satu hal lagi... Aku juga sudah mengajukan pengunduran diri dari perusahaan developer.”Gu Chen sontak terperanjat kaget. Ia menatap istrinya dengan sorot tak percaya, mengingat bahwa pekerjaan itu batu loncatan awal dan kebanggaan terbesar dalam karir mandiri Anqi. “Kenapa...?”“Kau tidak suka?” tanya Anqi balik.“Bukan begitu. Bahkan jika kau ingin di rumah saja sepanjang waktu, aku tidak masalah. Aku masih sanggup memanjakan dan menafkahimu seumur hidup. Tapi... kau sudah bekerja keras mati-matian membangun karier itu sampai ke titik ini.”“Kau benar. Dan sekarang, seluruh penghasilan dari situ juga ikut habis. Aku seperti terhempas kembali ke titik nol.”Gu Chen meraih tangan Anqi, menggenggamnya erat dengan tatapan penuh empati.“Tapi, jika perkebunan itu pada akhirnya benar-benar bisa pulih, aku tidak akan pernah menyesalinya. Lagipula... aku ingin membe
Anqi menyerahkan dua buah kunci logam ke atas meja kerja.“Ming Yue, tolong bantu aku mengurus proses penjualan seluruh aset pribadiku. Apartemen lamaku, seluruh koleksi perhiasan berharga yang kumiliki, dan juga mobil yang biasa kupakai sekarang. Jual semuanya dalam waktu secepat mungkin, habiskan tanpa sisa.”Ming Yue terkesiap kaget luar biasa, matanya membelalak tak percaya menatap kunci-kunci tersebut. “Apa?! Bos... Anda serius mau menjual semua aset pribadi itu? Anda benar-benar yakin dengan keputusan sebesar ini?”Anqi mengangguk pasti tanpa keraguan. “Sebelum itu, tolong atur juga jadwal meeting secepatnya dengan pihak perwakilan distributor.”“Baik, Bos...” sahut Ming Yue lemas, lalu bergegas keluar ruangan.Selepas kepergian asistennya, Anqi terduduk lemas di kursi kerjanya. Sesaat, ia merenung, menghitung kembali seluruh hasil keringat dan kerja keras yang ia bangun selama bertahun-tahun. Yang paling menyesakkan







