Share

Sensasi itu

Author: El Nurien
last update publish date: 2026-07-03 06:23:44

Gu Chen melangkah maju dengan dorongan yang sulit dikendalikan. Kegugupan Anqi justru terlihat begitu manis di matanya, sangat kontras dengan reputasi yang melekat pada perempuan itu selama ini ia dengar. Dingin, judes, kaku, bahkan dikenal kejam.

​Namun, perempuan di hadapannya ini begitu rapuh. Ia tidak kuasa menahan diri. Ia tak kuasa menahan tangannya yang bergerak. Perempuan terlalu manis. 

​“Anqi.” 

Suara serak dan pelan itu malah membuat alarm dalam diri Anqi berdering nyaring. Ia menampik tangan Gu Chen, menyamping, lalu melangkah tegas, seolah pria itu tak berbeda dari monster-monster lain yang harus dihindari.

​“Katakan saja, apa yang kau inginkan dari pernikahan ini?” tanya Anqi tajam sambil merapatkan piyama sutra yang ia kenakan.

​“Apa yang kuinginkan?” Tiba-tiba saja darah Gu Chen mendidih mendengar pertanyaan itu. Mungkin maksud Anqi tidak seperti yang ia pikirkan, tapi nada itu menohok harga dirinya. Secepat kilat ia menarik lengan Anqi dan mendorongnya ke dinding. Emosi itu terlalu pekat hingga tubuh Anqi terdorong cukup keras, beruntung ia sempat menjadikan telapak tangannya sebagai alas pelindung. Sesaat, matanya terpejam menahan nyeri yang mendera pergelangan tangannya.

​“Gu Chen, lepaskan!” Anqi berontak, tapi tenaganya tentu tak sebanding dengan pria yang terlanjur diselimuti amarah itu. 

​Anqi menelan ludah dengan gugup. Sepasang mata di depannya berubah merah menyala. Di sana, ia menangkap kilat kekecewaan yang telak. 

Anqi menguatkan tatapannya. “Kenapa harus kecewa? Bukankah tidak salah jika ia menebak ada udang di balik batu atas lamaran Gu Chen?” batin Anqi. 

​“Kenapa kau kelihatan marah, bukankah….” Anqi mengernyit. Sebelah tangan Gu Chen yang tadinya menahan tubuhnya di dinding kini bergerak menyentuh rambutnya yang basah, menyapu helaian yang menempel di pipinya yang memanas.

​Anqi memejamkan mata, kembali mencoba membangun benteng pertahanan. Ia tak boleh lemah malam ini. Statusnya istri sama sekali tak seharusnya menyeretnya ke dalam pernikahan penuh intrik ini.

​Ia menarik napas dalam-dalam, lalu membuka mata untuk melawan. Namun, situasi bergerak di luar dugaan. Matanya terbelalak. Ia kalah cepat. Belum sempat melayangkan protes, bibir pria itu sudah merengkuh dan memagutnya.

​Napasnya seketika terhenti. Tubuhnya membeku. Secepat kilat, lorong waktu melesat kembali ke altar perkawinan, hari di mana janji manis itu diikrarkan.

​Orang-orang bersorak riuh melihat Gu Chen mencium bibirnya. Setengah mati ia menahan diri untuk tidak menampar wajah itu. Perutnya mual nyaris tak tertahankan. Ciuman itu terasa begitu menjijikkan baginya. 

​Itu bukan janji manis. Itu klaim kepemilikan. Ciuman itu seolah menjeratnya menjadi tawanan berkedok kerjasama dibungkus dalam sebuah perkawinan. 

​Ia mengangkat tangan hendak mendorong dada pria itu. Sialnya, Gu Chen justru bergerak lebih cepat mengunci pergelangan tangannya.

​Pria itu melumat bibirnya dengan desakan menuntut yang membuat pasokan udara tertahan di tenggorokan. Ia merasa dunianya oleng. Ia merasakan gairah  diri Gu Chen, tetapi  justru memicu sirine darurat di kepalanya.

​Bunyi itu terlalu nyaring. Ini jebakan.

​Panik merambat cepat, dingin dan tajam, menusuk tulang punggungnya. Bayangan masa lalu berkelebat ganas. Tentang bapaknya yang membawa perempuan lain ke rumah, ibunya yang menangis di sudut ruangan, iparnya yang gemar bermain di kelab malam sebelum berujung melakukan kekerasan pada sang kakak. Slide demi slide itu berputar cepat, menciptakan dorongan bertenaga hingga pagutan itu akhirnya terlepas.

​“Pernikahan bukan berarti membuat kita layaknya sepasang kekasih,” ketus Anqi sambil mengusap bibirnya dengan napas yang masih memburu. “Katakan saja, apa yang sebenarnya kau inginkan dari pernikahan ini!”

​Gu Chen tersenyum getir. “Apa yang kuinginkan? Kau masih belum mengerti maksudku? Aku tahu di matamu aku hanya sainganmu. Tapi aku tak sepicik itu.”

​“Tapi….”

​Gu Chen kembali memagut bibirnya, kali ini dengan cengkeraman kokoh di pinggangnya, menyeret tubuh ramping itu hingga jatuh ke atas ranjang berbalut sprei merah bertabur bunga.

​Di atas ranjang ini, auranya kian pekat, seakan ikut menyedot sisa tenaga yang tersisa. Ia tak berdaya. Pengkhianatan biologis dari tubuhnya sendiri menjadi andil terbesar atas semua kekacauan ini.

​Ada bagian dari dirinya yang masih menjerit menolak, tapi… ia tak berdaya melepaskan sensasi candu yang terus menyeretnya. Anqi sadar, ia telah kehilangan akal sehat. Pria ini telah mereduksi kesadarannya. 

​Sesaat bibirnya terbebas. Oksigen seakan baru saja masuk ke paru-parunya.  Ia membuka mata. Pandangannya berkabut, namun ia masih bisa merasakan kelembutan tatapan itu. Hening. Hingga ia dapat merasakan detak jantung Gu Chen cepat tak beraturan. 

​Sialnya, wajahnya malah menghangat. Ia tak dapat mengalihkan pandangan dari wajah tampan dan tatapan teduh itu. 

Ia telah lama mendengar rumor tentang Gu Chen yang menjadi dambaan banyak wanita. Ia bukan bagian dari mereka. Tapi malam ini, ia mungkin akan berakhir sama seperti mereka. Ia benar-benar tak berdaya melawan sensasi yang menguasai sekujur tubuhnya, menjalar dan melumpuhkan sarafnya. Berkali-kali ia merutuki diri, namun rasa aneh itu tak kunjung pergi.

​Dengan sisa kesadaran yang ada, ia memalingkan wajah. Ia tak ingin terjebak. Cukup ibunya yang menangis di masa lalu. Cukup kakaknya yang tertawan dalam penjara berkedok pernikahan, cukup adiknya yang didera kemiskinan karena cinta buta.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bersemi di Musim Gugur   Sebuah Janji

    Suara itu terdengar sangat keras di tengah heningnya ruang makan. Ibu tercengang, sendok di tangannya nyaris terlepas. Ia menatap Anqi dengan mata melebar, tidak menyangka akan mendengar kalimat sesingkat dan seberani itu keluar dari mulut menantu kesayangannya.​“Aku tidak ingin punya anak.”​Ibu mertua masih saja dibekap keterkejutan.​Gu Chen memberi isyarat dengan tatapan memohon agar berhenti, tetapi ia sudah berada di titik puncaknya. Ia tahu persis, kondisi kesehatan ibu mertuanya itu belum sepenuhnya pulih. Karena itulah, Gu Chen sejak tadi memintanya untuk menahan diri. Tapi ia merasa dirinya sudah seperti bom waktu yang akhirnya meledak tanpa bisa dicegah.​“Sekarang atau besok rasanya akan sama saja,” lanjut Anqi dengan suara bergetar namun tetap terdengar tegas. “Aku tidak ingin punya anak. Jika memang Ibu sangat menginginkan cucu dari keluarga ini, aku siap melepaskan Gu Chen.”​Sesaat, keheningan yang pekat menyergap ruang m

  • Bersemi di Musim Gugur   Membungkam Harapan

    Anqi hanya terdiam seribu bahasa. Menyaksikan kehangatan interaksi antara ibu dan anak di hadapannya itu, mendadak ada bagian di dalam dadanya yang terasa begitu ngilu dan sakit. Sekelebat memori kelam melintas liar di kepalanya. Tiba-tiba saja ia merasa pipinya kembali terasa perih, dibarengi gema suara tamparan keras yang berputar nyaring di dalam benaknya. Itu hanya salah satu kenangan menyakitkan  dari pertemuan terakhirnya dengan sang ibu kandung.Ia mencoba memakluminya tindakan ibu yang sebagai single parent. Membesarkan tiga anak perempuan tidaklah mudah. Ketegasan seakan menjadi sebuah keharusan. Hanya saja melihat kelembutan sikap ibunya Gu Chen tiba-tiba saja ia ingin menangis.“Dengar itu, Anqi? Ibu sangat menyukaimu sejak pertama kali melihat fotomu. Beliau bahkan tidak sabar ingin segera menemuimu secara langsung, sampai-sampai dokter yang merawatnya di rumah sakit akhirnya menyerah dan pasrah mengizinkannya pergi,” timpal Gu Chen lagi

  • Bersemi di Musim Gugur   Kehangatan dari Orang Lain

    “Anqi, kenapa kau bisa bertindak senekat dan sebodoh itu semalam? Memalukan sekali!” gerutunya merutuki diri sendiri di balik selimut.Tiba-tiba terdengar suara daun pintu kamar terbuka pelan. Spontan ia memejamkan matanya erat-erat sambil menajamkan pendengaran. Dari derap langkah kaki dan gerakan ranjang, ia tahu persis bahwa Gu Chen kini duduk di tepi ranjang, menghadapnya. Gu Chen bahkan menyingkap selimut yang menutupi wajahnya.“Pura-pura tidur? Aku tadi sempat dengar suaramu dari luar,” goda Gu Chen. Ia masih setia memejamkan mata di balik persembunyian selimutnya. Ia benar-benar tidak memiliki keberanian secuil pun untuk menatap wajah pria itu pagi ini.“Anqi, sekarang kau baru sadar kan kenapa dulu Ibu selalu melarangmu minum alkohol? Semua pertahanan diri dan kesombongan yang kau bangun selama 28 tahun ini hancur lebur hanya dalam waktu satu malam saja,” ratap Anqi putus asa di dalam hati.​“Baiklah, kalau b

  • Bersemi di Musim Gugur   Hutang Berlanjut

    “Aku akan memberitahumu... karena kamu istriku,” sahut Gu Chen dengan nada suara yang berubah serius.Anqi terdiam seribu bahasa. Bola matanya melemparkan kilatan kebingungan yang nyata. Di satu sisi, rasa penasarannya yang teramat besar membuat ia tidak sabar ingin segera mendengar jawabannya. Namun di sisi lain, ada sensasi asing yang menggelitik tatkala kata “istriku” itu meluncur begitu mulus tanpa beban dari bibir Gu Chen.Tidak. Itu bukan sekadar status kosong di atas kertas belaka. Karena di dalam balutan kata sederhana itu, terselip sebuah bentuk kepercayaan.“Kelemahanku... itu kau.”“Hah?” Kening Anqi mengerut tajam. Ia merasa kesulitan mencerna arti dari apa yang baru saja diucapkan Gu Chen. Sesaat ia bertanya-tanya di dalam hati, apakah saraf otaknya saat ini masih terpengaruh oleh sisa-sisa minuman beralkohol tadi?Tidak. Nyatanya ia merasa masih memiliki kesadaran penuh, meskipun terkadang fokusnya sempat melayang entah ke mana.“Kau pasti sering dengar rumor di luar sa

  • Bersemi di Musim Gugur   Penagihan Janji

     “Aku mau ini.”Anqi seketika tersentak hebat. Sekujur tubuhnya langsung membeku kaku di atas tempat duduknya. Ia mengerjap-ngerjapkan mata berulang kali, dengan napas yang masih tertahan di kerongkongan.“Aku mau ini, bolehkah?” bisik Gu Chen seraya memajukan wajahnya, namun terpaksa mundur ketika Anqi spontan mendorong dadanya. “Kenapa menolak? Kau sendiri kan yang tadi sudah berjanji pada-ku.”“Tapi bukan bentuk balasan ini maksudku,” elak Anqi salah tingkah.“Aku tahu betul kau tidak akan pernah memberikannya meski sebenarnya itu hakku sebagai seorang suami. Jadi, sekarang aku menagihnya sebagai pelunasan janji yang kau buat sendiri,” sahut Gu Chen dengan senyum tipis, kembali mendekatkan wajahnya.“Tunggu sebentar!” Anqi kembali mendorong kuat bahu Gu Chen menjauh. “Aku benar-benar tidak mengerti dengan cara kerja otakmu. Bukankah hal semacam ini seharusnya dilakukan secara natural oleh dua orang yang saling menyukai? Tapi kenapa kau

  • Bersemi di Musim Gugur   Arti Sebuah Hubungan

    “Kejujuran?” gumamnya. Anqi kembali terdiam, kemudian mengalihkan pandangannya ke depan. Sanggupkah ia jujur pada Gu Chen? Setelah jujur apa yang akan terjadi? Pertimbangan baik buruk di dunia bisnis sebuah keharusan untuk menghindari kerugian fatal dan mengeruk keuntungan semaksimal mungkin. Tapi dalam asmara, ia bahkan tak ingin memikirkannya, meski ada bagian lain dari dirinya yang tak mau diam. “Apa untungnya bagiku?” tanyanya lirih seakan bertanya pada diri sendiri. Gu Chen tertawa kecil mendengarnya. Ia tahu betul, beginilah resiko  jika seorang pria menikahi wanita yang murni hidup dan bernapas di dalam dunia korporasi. Segala hal di dunia ini selalu dihitung berdasarkan kalkulasi untung dan rugi.“Setidaknya kita sekarang tinggal di bawah satu atap yang sama. Hari-hari kita ke depan akan menjadi sangat melelahkan dan sulit dilalui jika tidak dilandasi kejujuran, kita akan mudah terjebak dalam salah paham yang tidak perlu,” jaw

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status