Home / Romansa / Bersemi di Musim Gugur / Panggilan Rumah Sakit

Share

Panggilan Rumah Sakit

Author: El Nurien
last update publish date: 2026-07-03 08:39:45

Dengan sisa kesadaran yang ada, ia memalingkan wajah. Ia tak ingin terjebak. Cukup ibunya yang menangis di masa lalu. Cukup kakaknya yang tertawan dalam penjara berkedok pernikahan. Cukup adiknya yang didera kemiskinan karena cinta buta.

Berbeda dengan Gu Chen. Ia sangat tahu maksud dari berpalingnya wajah Anqi, tapi ia tak ingin melemparkan kesempatan yang telah terbentang di depan mata. Pria mana di dunia ini yang sanggup menahan diri di hadapan leher jenjang nan memikat itu? Ia menurunkan wajahnya perlahan hingga nyaris tanpa jarak.

“Aku tak ingin punya anak.”

Gerakan Gu Chen terhenti seketika. Detik berikutnya ia menarik wajah dan langsung menopang tubuhnya dengan kedua tangan di sisi ranjang supaya tidak menindih Anqi. 

Anqi pun meluruskan wajahnya, menatap lurus tanpa secercah keraguan. Beberapa saat lamanya, mereka hanya saling mengunci pandangan dalam keheningan yang tegang.

Gu Chen terdiam, mencoba menembus dinding berlapis baja di sepasang mata indah itu. Ia telah mendengar banyak rumor tentang Anqi. Seorang wanita karier yang pekerja keras, berani, tegas, dan terkenal dingin. Ia sangat percaya di balik dinding kokoh itu tersimpan sosok perempuan yang rapuh sekaligus butuh kehangatan. Sesaat, ia merutuki dirinya sendiri, mengapa tidak bisa menahan diri lebih lama lagi dan membiarkan dinding itu terbuka selapis demi selapis secara alami? Tapi... siapa yang tahan melawan pesona seindah ini?

“Aku tidak memintamu menjadi ibu dari anak-anakku sekarang juga. Tapi... sebagai pasangan sah, sudah seharusnya aku diberitahu bukan?”

Anqi menyunggingkan senyum sumbang. “Pasangan sah? Ini hanyalah sebuah bentuk kepemilikan, bukan?”

Gu Chen tersentak telak. Kepemilikan? Memiliki seseorang yang diam-diam disukai dengan cara yang legal dan terhormat, di mana letak kesalahannya? Namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahas tentang cinta.

“Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan. Katakan saja, kenapa kau begitu enggan mempunyai anak?”

Anqi kembali menatap lekat kedua mata Gu Chen, seorang pengusaha rival yang tadinya tidak pernah mau berurusan dengannya, tidak pernah saling menyapa, bahkan nyaris tidak pernah bertatap muka. Baginya, Gu Chen selamanya  saingan bisnis. Namun ketika pria itu kini mendadak berstatus sebagai suaminya, segalanya berubah menjadi jauh lebih merepotkan dari perkiraannya. Tiba-tiba saja, rasa lelah yang teramat sangat kembali menyelimuti tubuhnya.

Ia menghela napas panjang dan pelan. Namun tepat ketika ia membuka bibirnya hendak menjawab, suara dering ponsel di atas meja nakas tiba-tiba memecah keheningan kamar. Spontan, kepala Anqi menoleh cepat ke arah sumber suara.

Layar ponsel itu tampak berkedip terang di bawah temaramnya lampu tidur. Tanpa membuang waktu, Anqi bergegas bangkit, mendorong dada Gu Chen hingga pria itu menyingkir dari hadapannya.

“Halo?” ucap Anqi begitu ia membaca nama penelepon di layar dan langsung mengangkatnya.

“Nona Anqi, Nona Yun....” suara tercekat di seberang sana.

Gu Chen ikut terkejut melihat perubahan drastis pada gestur tubuh Anqi yang mendadak menegang. “Sekarang bagaimana keadaannya di sana?” tanya Anqi dengan nada suara yang mulai dibayangi kepanikan.

Wajah cantik itu seketika memerah, sementara rahangnya mengeras. Gu Chen dapat menangkap dengan sangat jelas bahwa ekspresi Anqi kini telah berubah dipenuhi amarah yang membara, bahkan sebelah tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

“Aku akan segera ke sana, Bi,” ucap Anqi, lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak dan bergegas melompat turun dari ranjang.

“Apa yang sedang terjadi?” tanya Gu Chen dengan kening berkerut.

“Kak Yun masuk rumah sakit,” jawab Anqi cepat sambil menyambar piyamanya, melepasnya, lalu mengambil pakaian acak dari dalam lemari tanpa sedikit pun merasa risih dengan keberadaan seorang pria di dalam kamar pribadinya. 

Gu Chen sangat yakin, jika bukan karena dilanda kepanikan, Anqi tidak mungkin sudi memperlihatkan lekuk tubuhnya yang nyaris tanpa penutup itu di hadapannya.

“Bukannya siang tadi kondisinya baik-baik saja sewaktu  di pernikahan kita?”

Anqi tersenyum getir penuh luka sambil memasang deretan kancing kemejanya dengan gerakan tergesa-gesa. Ia sangat ingat betul bagaimana penampilan kakak tertuanya yang tampak begitu sempurna siang tadi, bahkan sempat mendengar rentetan pujian dari para tamu undangan sosialita. Namun, tidak ada satupun orang yang tahu bahwa di balik polesan tata rias wajah yang sempurna itu, tersimpan rapat lebam-lebam mengerikan akibat ulah buruk suaminya sendiri.

“Aku harus pergi sekarang,” ujar Anqi sambil menyambar tas tangannya.

“Tunggu sebentar.” Gu Chen bergerak sigap meraih pergelangan tangan Anqi. “Aku akan minta Bai Hao menyiapkan mobil sekarang juga.”

“Tidak perlu,” sahut Anqi ketus.

Namun, Gu Chen memilih untuk abai. Tangannya bahkan sudah lincah menyentuh layar ponsel. “Bai Hao, siapkan mobil di halaman depan sekarang. Kami mau keluar.”

“Sudah kubilang tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri,” sela Anqi sengit.

“Baik, Tuan,” balas suara sang asisten pria dari seberang telepon, sebelum akhirnya sambungan itu terputus.

Anqi menghempas kedua tangannya. “Gu Chen, aku benar-benar bisa pergi sendiri.”

“Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan istriku pergi keluar rumah sendirian di tengah malam buta seperti ini?”

“Gu Chen!” Suara Anqi spontan meninggi. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bersemi di Musim Gugur   Anggap Saja Kompensasi

    “Gu Chen... seserius ini keadaannya, kenapa dari awal kau sembunyikan dariku?!” seru Anqi nyaris berteriak, suaranya bergetar hebat menahan gelombang emosi yang kembali menghantam dadanya.Gu Chen bergegas mendekat, tetapi Anqi mundur beberapa langkah. “Kau tidak pernah diskusi atau mengeluh platfrom padaku, aku mengerti karena aku tidak tahu apa-apa di dunia digital. Developer? Aku mengerti, walau bagaimanapun kita dari dua perusahaan yang bersaing.”“Tidak, Anqi. Aku tidak pernah berpikir begitu,” seru Gu Chen sambil meraih tangan Anqi, tetapi wanita itu bergerak mundur.“Lalu Tang Tang? Kenapa kau tidak cerita padaku? Menurutmu apa aku mampu bersaing dengan anak kecil?!” teriak Anqi, dengan napas tersengal dan mata memerah. Ia berpaling demi menutupi matanya yang mulai berair. Gu Chen memeluknya dari belakang. “Aku salah. Aku minta maaf. Maafkan aku.”“Lepaskan!”“Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau memaafkanku.”“Gu Cheeen!” seru Anqi dengan napas tersengal. “Maafkan

  • Bersemi di Musim Gugur   Selalu Saja Ada Rahasia

    Gu Chen menggeleng perlahan. “Bohong jika aku mengaku tidak ingin punya anak sendiri,” lanjut Gu Chen, matanya kini menatap Anqi dengan sorot yang jauh lebih dalam. “Bagaimanapun juga, Tang Tang bukan darah dagingku. Aku pun mendambakan hadirnya seorang anak kecil yang berlari riang menyambut kita pulang ke rumah seusai lelah bekerja. Seseorang yang membawa napas serta sifat yang menyerupai kita berdua.”Gu Chen berhenti sejenak, membiarkan kalimatnya menggantung di udara. Anqi memilih tetap bergeming dalam diam, membiarkan suaminya itu menyuarakan isi hati yang paling dalam, meski pada detik yang sama hal itu justru terasa seperti mencabik-cabik perasaannya sendiri.“Tapi, aku bukan orang yang picik, Anqi. Aku sangat tahu kalau memiliki anak itu bukan sekadar urusan biologis semata. Itu sebuah perjuangan dan kesiapan mental yang luar biasa berat. Aku tidak bisa begitu saja memaksamu hanya dengan alasan status pernikahan kita, apalagi setelah aku tahu betapa besarnya trauma masa la

  • Bersemi di Musim Gugur   Sosok Seorang Anak di Kehidupan Gu Chen

    Dan ia jauh lebih marah lagi saat menyadari bahwa Gu Chen tidak pernah terbuka padanya sejak hari pertama pernikahan mereka. *** Perjalanan pulang di dalam mobil terasa begitu panjang dan menyesakkan. Keheningan yang tercipta di dalam kabin jauh lebih berisik daripada keributan di ruang rapat tadi. Bai Hao, asisten pribadi Gu Chen, berkali-kali mencuri pandang ke arah spion tengah, menangkap ketegangan yang menggantung di antara kedua majikannya. Ia tahu, ada badai yang sedang mengumpulkan kekuatannya di balik diamnya Anqi dan Gu Chen. “Tidak ada yang ingin kamu tanyakan?” pancing Gu Chen akhirnya, memecah kesunyian dengan nada suara yang sangat berhati-hati. “Diam. Perasaanku lagi buruk,” tukas Anqi dingin dengan tatapan yang masih lurus menatap ke luar jendela. Gu Chen menghela napas pasrah. Perang dingin ini sangat menyesakkan dada, tapi itu konsekuensi dari kesalahannya sendiri. Bai Hao kembali mengintip lewat kaca spion mobil, menangkap rupa tuannya yang tampak murung. Ada

  • Bersemi di Musim Gugur   Panggilan Mama

    Ternyata tidak hanya Diamond Lynk yang ditutupi Gu Chen darinya, melainkan juga seorang anak. Mungkinkah masih ada rahasia gelap lainnya yang disimpan rapat oleh seorang Gu Chen?Tang Tang menatap wajah Anqi dengan lekat, sorot matanya yang besar dan jernih seolah sedang memindai seluruh keberadaan wanita itu. Di balik tatapan polos tersebut, ada kerinduan yang terpendam begitu dalam, sebuah kebutuhan akan sosok ibu yang selama ini hanya bisa ia bayangkan lewat imajinasi semata.Gu Chen, yang sedari tadi memperhatikan dengan napas tertahan, akhirnya memecah keheningan dengan satu kalimat yang membuat waktu seakan berhenti berputar bagi Anqi.“Panggil dia Mama,” bisik Gu Chen lembut, namun bagaikan sambaran petir di siang bolong bagi Anqi.Anqi tersentak hebat. Ia merasa seolah tanah di bawah kakinya mendadak amblas. Panggilan keramat itu adalah sebuah kata yang selama hidupnya tidak pernah ia inginkan untuk disematkan padanya, apalagi oleh anak dari pria yang baru beberapa bulan ia ni

  • Bersemi di Musim Gugur   Dirinya Hanya Sebagai Orang Baru

    “Rumah sakit?” Anqi bergumam sendiri, mendongak menatap bangunan megah beraroma obat di hadapannya. “Sebenarnya siapa yang sakit?”Mobil yang ditumpangi Gu Chen berhenti di jalur drop-off utama. Gu Chen langsung turun dengan sigap, sementara mobil yang dikemudikan Bai Hao kembali melaju untuk mencari parkir. Pandangan Anqi terus terkunci pada Gu Chen yang berjalan cepat memasuki pintu lobi, sementara mobilnya sendiri perlahan menyusul ke area drop-off.Tanpa pikir panjang, ia membuka pintu dan turun. Seorang petugas parkir berseragam langsung menghampirinya dengan sigap.“Nona, mobilnya bisa saya...”“Tolong bantu parkirkan,” pinta Anqi singkat sambil melemparkan kunci mobil begitu saja, lalu bergegas berlari kecil menyusul langkah Gu Chen, sama sekali tidak peduli apakah petugas itu sempat mendengar instruksinya dengan jelas.Ia menjaga jarak aman, membuntuti punggung suaminya menyusuri koridor rumah sakit hingga sampai di depan sebuah pintu ruangan perawatan VIP yang privat. Gu Che

  • Bersemi di Musim Gugur   Diamond Lynk

    “Kapan pertama kalinya kamu mulai menggambar desain perhiasan? Apa itu ada hubungannya dengan Diamond Lynk?” desak Anqi, tak kuasa lagi menahan rasa penasaran yang teramat sangat untuk menyinggung soal Diamond Lynk. Gu Chen menghela napas berat, memorinya menerawang jauh ke masa lalu. “Aku mulai serius menggambar sketsa sejak masih duduk di bangku SMP. Lalu saat SMA, ada sebuah seminar besar dan pembicaranya adalah seorang desainer perhiasan ternama yang sudah banyak memenangkan penghargaan bergengsi.”Pria itu menghentikan sejenak kalimatnya. “Setelah melalui perjuangan yang melelahkan, akhirnya aku berhasil menemuinya secara pribadi dan dengan bangga memperlihatkan hasil karya terbaikku padanya. Dia sangat menyukainya saat itu, bahkan bilang ingin membeli sketsa desainku.”“Lalu? Kau menjualnya padanya?”“Tentu saja mendapat tawaran sejumlah uang yang begitu menggiurkan di usia muda membuatku langsung setuju tanpa pikir panjang. Tapi…”“Tapi apa?” desak Anqi. “Beberapa waktu kemud

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status