Home / Romansa / Bersemi di Musim Gugur / Bukan Janji Manis

Share

Bersemi di Musim Gugur
Bersemi di Musim Gugur
Author: El Nurien

Bukan Janji Manis

Author: El Nurien
last update publish date: 2026-07-03 06:05:03

Titis air di kamar mandi terdengar bagai palu yang menghantam kesunyian malam. Suara air yang biasanya begitu menyenangkan setelah seharian  bekerja, yang kesejukannya mampu membuat sekujur badan terasa segar kembali, kini kehilangan magisnya. Kali ini, bunyi rintik air itu malah memicu debaran jantung Lin Anqi yang berdetak semakin cepat, tidak beraturan, dan penuh kecemasan.

​Titik air semakin melambat, namun ritme jantung Lin Anqi justru semakin menggila. Hawa dingin di dalam kamar mandi yang biasanya terasa menenangkan, kini berubah menjadi atmosfer mencekik yang membuatnya tergesa ingin segera keluar dari ruang sempit tersebut. Tapi… kakinya terasa terpaku di lantai.

​Lin Anqi berdiri mematung tepat di depan pintu kamar mandi. Tangannya sudah menggenggam erat gagang pintu besi, namun ia terdiam cukup lama dalam keraguan. Suara tetesan air dari shower kini benar-benar berhenti sepenuhnya, digantikan oleh suara detak jantungnya sendiri yang terdengar begitu nyaring di telinganya.

​Ia mencoba menghela napas panjang dan dalam guna menenangkan gelora di dadanya. Sayangnya, aroma wangi yang asing justru memenuhi indra penciumannya, membuat debar di dadanya semakin tak terkendali. Aroma parfum sandalwood yang pekat itu, yang seharusnya memiliki efek menenangkan, justru membuatnya semakin merasa tidak karuan.

​Tok... tok...

​“Anqi, kau tidak apa-apa di dalam?” Suara berat itu terdengar di balik pintu, dibalut nada kekhawatiran yang kentara.

​“Aku tidak apa-apa,” sahut Anqi cepat. Suaranya terdengar jelas bercampur rasa gugup yang berusaha ia sembunyikan.

​Tanpa membuang waktu, ia berbalik menuju ke arah wastafel, memutar keran air, dan segera membasuh wajahnya yang memerah. Sesaat, ia mendongak dan menatap pantulan dirinya di cermin. Terlihat wajah seorang perempuan dewasa yang mandiri. Itulah dirinya. Nyaris separuh usia mudanya ia habiskan untuk fokus belajar dan bekerja keras membangun karier. Namun kini, garis takdir membawanya pada sebuah ikatan pernikahan dengan seorang pria asing, lebih tepatnya dengan sang pengusaha yang selama ini menjadi rival terbesarnya di dunia bisnis.

​Di dalam benaknya, ia sangat mudah menebak apa tujuan utama ibunya menerima lamaran tersebut. Langkah itu diambil semata-mata untuk memperkuat aliansi bisnis. Dengan pernikahan ini, tidak akan ada lagi persaingan sengit di pasar, melainkan sebuah kerja sama raksasa yang saling menguntungkan.

​Ia kembali menghela napas panjang yang terdengar nyaring di ruangan sunyi itu. Yang hingga kini masih membuatnya tidak habis pikir apa alasan di balik tindakan pria itu, mengapa Gu Chen bersikeras melamarnya? Sekuat apapun posisi Gu Chen di dunia korporat, ibunya tetaplah seorang mertua yang memiliki status kekuasaan lebih tinggi dalam lingkaran keluarga.

​Sebenarnya, apa yang sedang diinginkan oleh pria licik ini? Tidak, Ia tak pernah mendengar keburukan Gu Chen. Tidak pernah terdengar isu kecurangan atau tindakan buruk lainnya dalam bisnis. 

Sekeras apapun berpikir,  ia tetap tidak mengerti. 

​Anqi menghempaskan napasnya berat-berat, lalu merutuki kelemahan dirinya sendiri dalam hati. Tidak seharusnya ia merasa segugup ini. Jika dalam dunia negosiasi bisnis yang kejam ia selalu mampu memegang kendali penuh, mengapa ia harus ciut menghadapi pria itu? Terlebih lagi, seluruh skenario pernikahan ini terasa sangat janggal. Pasti ada maksud tersembunyi di balik senyum dan tatapan pria tersebut.

Anqi kembali membasuh wajahnya untuk terakhir kali dan bersiap melangkah keluar dengan percaya diri yang biasa ia kenakan di hadapan para investor.

​Klik.

​Pintu terbuka, namun Anqi justru tersentak kaget. Ternyata Gu Chen sudah berdiri tepat di depan pintu dengan ekspresi wajah yang teramat cemas, bahkan tangan pria itu masih terangkat di udara seolah hendak kembali mengetuk pintu.

​Tatapan mata Gu Chen saat itu... tidak pernah ia temukan sebelumnya di dunia bisnis yang penuh perhitungan dingin.

​Seketika itu juga, seluruh kalimat dan argumen tajam yang tadinya sudah tersimpan rapi di dalam kepala Anqi mendadak menguap begitu saja. Semuanya lenyap, digantikan oleh gelombang kegugupan yang luar biasa hebat.

​“Kenapa lama sekali? Kau tidak apa-apa?” tanya Gu Chen dengan nada cemas, lalu melangkah maju hingga kini berdiri tepat di hadapan Anqi.

​Anqi secara refleks melangkah mundur ke belakang.

​Nada pertanyaan itu begitu sarat akan ketulusan dan kekhawatiran yang nyata. Dan jujur saja, Anqi belum pernah sama sekali menghadapi situasi semacam itu dalam hidupnya. Ia sama sekali tidak punya amunisi mental untuk merespons tindakan manis tersebut. Otaknya mendadak kosong melompong.

​Pandangan mata Gu Chen yang penuh selidik dan rasa khawatir itu perlahan beralih ke titik lain, berniat memastikan bahwa sang istri  baik-baik saja. Namun, apa yang tertangkap oleh pandangan pria itu justru membuatnya menelan ludah mentah-mentah tanpa sempat dicegah. Napasnya mendadak tertahan. 

​Wajah Anqi tampak begitu polos tanpa pulasan riasan sedikitpun, kulit putihnya merona tipis karena uap hangat. Air tampak menetes perlahan dari ujung rambutnya yang basah, mengalir melewati tulang selangka yang jenjang, lalu menghilang begitu saja di balik kain baju tidurnya yang tipis. Kain itu sangat tipis, hingga membuat Gu Chen tanpa sengaja dapat melihat dengan jelas bagaimana debar jantung perempuan di hadapannya itu berdetak jauh dari kata normal. Cahaya lampu meja yang kekuningan menambah nilai kecantikan. Hangat dan lembut. 

Gu Chen melangkah maju dengan dorongan yang sulit dikendalikan. Kegugupan Anqi menjadi terlihat manis di matanya. Tidak seperti yang dikatakan orang-orang selama ini. Anqi yang dingin, judes, bahkan kejam. 

Perempuan ini sangat manis. Ia tidak kuasa menahan diri. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bersemi di Musim Gugur   Anggap Saja Kompensasi

    “Gu Chen... seserius ini keadaannya, kenapa dari awal kau sembunyikan dariku?!” seru Anqi nyaris berteriak, suaranya bergetar hebat menahan gelombang emosi yang kembali menghantam dadanya.Gu Chen bergegas mendekat, tetapi Anqi mundur beberapa langkah. “Kau tidak pernah diskusi atau mengeluh platfrom padaku, aku mengerti karena aku tidak tahu apa-apa di dunia digital. Developer? Aku mengerti, walau bagaimanapun kita dari dua perusahaan yang bersaing.”“Tidak, Anqi. Aku tidak pernah berpikir begitu,” seru Gu Chen sambil meraih tangan Anqi, tetapi wanita itu bergerak mundur.“Lalu Tang Tang? Kenapa kau tidak cerita padaku? Menurutmu apa aku mampu bersaing dengan anak kecil?!” teriak Anqi, dengan napas tersengal dan mata memerah. Ia berpaling demi menutupi matanya yang mulai berair. Gu Chen memeluknya dari belakang. “Aku salah. Aku minta maaf. Maafkan aku.”“Lepaskan!”“Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau memaafkanku.”“Gu Cheeen!” seru Anqi dengan napas tersengal. “Maafkan

  • Bersemi di Musim Gugur   Selalu Saja Ada Rahasia

    Gu Chen menggeleng perlahan. “Bohong jika aku mengaku tidak ingin punya anak sendiri,” lanjut Gu Chen, matanya kini menatap Anqi dengan sorot yang jauh lebih dalam. “Bagaimanapun juga, Tang Tang bukan darah dagingku. Aku pun mendambakan hadirnya seorang anak kecil yang berlari riang menyambut kita pulang ke rumah seusai lelah bekerja. Seseorang yang membawa napas serta sifat yang menyerupai kita berdua.”Gu Chen berhenti sejenak, membiarkan kalimatnya menggantung di udara. Anqi memilih tetap bergeming dalam diam, membiarkan suaminya itu menyuarakan isi hati yang paling dalam, meski pada detik yang sama hal itu justru terasa seperti mencabik-cabik perasaannya sendiri.“Tapi, aku bukan orang yang picik, Anqi. Aku sangat tahu kalau memiliki anak itu bukan sekadar urusan biologis semata. Itu sebuah perjuangan dan kesiapan mental yang luar biasa berat. Aku tidak bisa begitu saja memaksamu hanya dengan alasan status pernikahan kita, apalagi setelah aku tahu betapa besarnya trauma masa la

  • Bersemi di Musim Gugur   Sosok Seorang Anak di Kehidupan Gu Chen

    Dan ia jauh lebih marah lagi saat menyadari bahwa Gu Chen tidak pernah terbuka padanya sejak hari pertama pernikahan mereka. *** Perjalanan pulang di dalam mobil terasa begitu panjang dan menyesakkan. Keheningan yang tercipta di dalam kabin jauh lebih berisik daripada keributan di ruang rapat tadi. Bai Hao, asisten pribadi Gu Chen, berkali-kali mencuri pandang ke arah spion tengah, menangkap ketegangan yang menggantung di antara kedua majikannya. Ia tahu, ada badai yang sedang mengumpulkan kekuatannya di balik diamnya Anqi dan Gu Chen. “Tidak ada yang ingin kamu tanyakan?” pancing Gu Chen akhirnya, memecah kesunyian dengan nada suara yang sangat berhati-hati. “Diam. Perasaanku lagi buruk,” tukas Anqi dingin dengan tatapan yang masih lurus menatap ke luar jendela. Gu Chen menghela napas pasrah. Perang dingin ini sangat menyesakkan dada, tapi itu konsekuensi dari kesalahannya sendiri. Bai Hao kembali mengintip lewat kaca spion mobil, menangkap rupa tuannya yang tampak murung. Ada

  • Bersemi di Musim Gugur   Panggilan Mama

    Ternyata tidak hanya Diamond Lynk yang ditutupi Gu Chen darinya, melainkan juga seorang anak. Mungkinkah masih ada rahasia gelap lainnya yang disimpan rapat oleh seorang Gu Chen?Tang Tang menatap wajah Anqi dengan lekat, sorot matanya yang besar dan jernih seolah sedang memindai seluruh keberadaan wanita itu. Di balik tatapan polos tersebut, ada kerinduan yang terpendam begitu dalam, sebuah kebutuhan akan sosok ibu yang selama ini hanya bisa ia bayangkan lewat imajinasi semata.Gu Chen, yang sedari tadi memperhatikan dengan napas tertahan, akhirnya memecah keheningan dengan satu kalimat yang membuat waktu seakan berhenti berputar bagi Anqi.“Panggil dia Mama,” bisik Gu Chen lembut, namun bagaikan sambaran petir di siang bolong bagi Anqi.Anqi tersentak hebat. Ia merasa seolah tanah di bawah kakinya mendadak amblas. Panggilan keramat itu adalah sebuah kata yang selama hidupnya tidak pernah ia inginkan untuk disematkan padanya, apalagi oleh anak dari pria yang baru beberapa bulan ia ni

  • Bersemi di Musim Gugur   Dirinya Hanya Sebagai Orang Baru

    “Rumah sakit?” Anqi bergumam sendiri, mendongak menatap bangunan megah beraroma obat di hadapannya. “Sebenarnya siapa yang sakit?”Mobil yang ditumpangi Gu Chen berhenti di jalur drop-off utama. Gu Chen langsung turun dengan sigap, sementara mobil yang dikemudikan Bai Hao kembali melaju untuk mencari parkir. Pandangan Anqi terus terkunci pada Gu Chen yang berjalan cepat memasuki pintu lobi, sementara mobilnya sendiri perlahan menyusul ke area drop-off.Tanpa pikir panjang, ia membuka pintu dan turun. Seorang petugas parkir berseragam langsung menghampirinya dengan sigap.“Nona, mobilnya bisa saya...”“Tolong bantu parkirkan,” pinta Anqi singkat sambil melemparkan kunci mobil begitu saja, lalu bergegas berlari kecil menyusul langkah Gu Chen, sama sekali tidak peduli apakah petugas itu sempat mendengar instruksinya dengan jelas.Ia menjaga jarak aman, membuntuti punggung suaminya menyusuri koridor rumah sakit hingga sampai di depan sebuah pintu ruangan perawatan VIP yang privat. Gu Che

  • Bersemi di Musim Gugur   Diamond Lynk

    “Kapan pertama kalinya kamu mulai menggambar desain perhiasan? Apa itu ada hubungannya dengan Diamond Lynk?” desak Anqi, tak kuasa lagi menahan rasa penasaran yang teramat sangat untuk menyinggung soal Diamond Lynk. Gu Chen menghela napas berat, memorinya menerawang jauh ke masa lalu. “Aku mulai serius menggambar sketsa sejak masih duduk di bangku SMP. Lalu saat SMA, ada sebuah seminar besar dan pembicaranya adalah seorang desainer perhiasan ternama yang sudah banyak memenangkan penghargaan bergengsi.”Pria itu menghentikan sejenak kalimatnya. “Setelah melalui perjuangan yang melelahkan, akhirnya aku berhasil menemuinya secara pribadi dan dengan bangga memperlihatkan hasil karya terbaikku padanya. Dia sangat menyukainya saat itu, bahkan bilang ingin membeli sketsa desainku.”“Lalu? Kau menjualnya padanya?”“Tentu saja mendapat tawaran sejumlah uang yang begitu menggiurkan di usia muda membuatku langsung setuju tanpa pikir panjang. Tapi…”“Tapi apa?” desak Anqi. “Beberapa waktu kemud

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status