LOGINKehadiran bunga raksasa itu benar-benar mengganggu konsentrasi di lokasi syuting. Meski Lucia mencoba mengabaikannya, bisik-bisik dari para kru terus terdengar di belakang punggungnya. Sebagian besar mengira itu dari Victor karena chemistry mereka yang luar biasa, namun pria itu hanya menanggapi dengan senyuman misterius saat ditanya.
Arthen Valerius, sebagai investor utama yang mengawasi jalannya proyek, berdiri di depan karangan bunga itu dengan tangan bersedekap. Wajahnya tidak meKarena Arthen merasa jadwalnya kosong malam ini, ia mengajak Lucia untuk dinner bersamanya di restoran The Gilded Plate. Ada seseorang kenalannya yang merekomendasikannya ke restoran itu."Baiklah. Kebetulan malam ini tidak ada pekerjaan."Lucia menerimanya dengan senang hati, karena kebetulan ia juga memiliki waktu senggang malam ini setelah jadwal pemotretan yang padat.Arthen tersenyum puas mendengarnya. ---Di restoran suasana terasa sangat elegan dengan musik yang mengalun lembut.Namun, baru saja mereka memesan hidangan pembuka, ponsel Arthen tiba-tiba bergetar."Maaf, Lucia. Aku harus ke toilet sebentar sekalian membalas pesan mendesak dari Rey. Kau tidak apa-apa menunggu sebentar?" ucap Arthen sopan."Tentu, pergilah. Aku akan menikmati pemandangan di sini," jawab Lucia dengan senyum tenang.Begitu Arthen beranjak, Lucia memperhatikan hiruk-pikuk restoran. Di ujung ruangan, terdapat meja besar yang sangat ramai dengan sorak-sorai pria bertubuh kekar. Di tengah kerumunan itu, L
Sesi pemotretan kedua berakhir tepat saat matahari terbenam, menyisakan semburat jingga yang masuk melalui jendela tinggi gedung Heritage Grand.Lucia menghela napas lega saat Hana membantunya melepaskan aksesori yang cukup berat dari lehernya."Hasilnya luar biasa, Kak! Fotografernya bilang dia tidak perlu banyak mengedit karena ekspresimu sudah sangat kuat," seru Hana sambil menunjukkan beberapa hasil foto di layar monitor.Lucia tersenyum tipis, namun matanya tetap mencari sosok Arthen. Pria itu masih di sana, berdiri di dekat jendela sambil berbicara rendah melalui ponselnya. Seolah merasakan tatapan Lucia, Arthen menutup teleponnya dan melangkah mendekat."Sudah selesai?" tanya Arthen lembut."Sudah. Terima kasih sudah menungguku sampai akhir, Arthen," jawab Lucia tulus."Sama-sama. Oh ya, ada sesuatu yang harus kau ketahui." Arthen mengeluarkan sebuah kartu undangan berwarna hitam dengan tulisan emas timbul. "Minggu depan akan ada Gala Dinner tahunan industri hiburan. Semua peti
Hari ini adalah acara pemotretan besar untuk merek kosmetik internasional yang telah memilih Lucia sebagai ikon mereka. Lampu-lampu flash raksasa ditata sedemikian rupa, menciptakan bayangan artistik di pilar-pilar marmer yang megah. Di dalam ruang rias, Lucia duduk menatap pantulan dirinya di cermin. Hana sedang sibuk merapikan tatanan rambutnya, sementara penata rias memberikan sentuhan akhir pada bibirnya. "Kak, jangan melamun terus. Lihat, matamu terlihat sedikit lelah, tapi untungnya makeup ini bisa menutupinya dengan sempurna," bisik Hana khawatir. Lucia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir sisa-sisa kegelisahan dari pertemuannya dengan pria misterius semalam. "Aku tidak apa-apa, Hana. Hanya sedikit gugup. Ini acara besar pertama setelah penayangan film kemarin." "Ingat kata Tuan Arthen semalam, Kak. Kau adalah ratu sekarang," Hana menyemangati sambil menyerahkan sebotol air mineral. Begitu Lucia melangkah keluar menuju set pemotretan, suasana mendadak hening. Ga
Saat akan tidur, Lucia merasa kesulitan memejamkan mata. Kata-kata pria misterius itu terus terngiang, berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Lulu. Nama itu terasa seperti belati yang mencungkil kembali kenangan yang sudah ia kubur dalam-dalam.Di sisi lain kota, di dalam sebuah mobil yang terparkir di kegelapan gang tak jauh dari mobil Lucia sebelumnya, pria misterius itu sedang menghitung lembaran uang di tangannya. Namun, ia tidak menyadari bahwa di balik pilar beton di seberang jalan, sesosok pria lain dengan jaket hoodie gelap sedang memperhatikannya dengan tatapan tajam.Pria di balik pilar itu memegang ponselnya, matanya tidak lepas dari si penguntit. Ia menggumam pelan, "Kau masih saja berengsek seperti dulu, kawan. Jangan harap kau bisa menyentuhnya lagi."Pria misterius bertopi itu tampak seperti memiliki niatan buruk, namun pria yang mengawasinya seolah memiliki niat yang berbeda—sebuah perlindungan yang sunyi. Lucia tak sadar bahwa kini kenangan masa SMA yang me
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela apartemen Lucia terasa berbeda hari ini. Bukan lagi beban yang menyambutnya, melainkan perasaan bahwa dunia akhirnya berpihak padanya. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Suara bel pintu yang ditekan berkali-kali disertai ketukan tak sabar membuat Lucia terpaksa meletakkan cangkir kopinya yang baru terisi setengah. Begitu pintu terbuka, Hana merangsek masuk dengan wajah yang lebih merah dari biasanya. Di pelukannya ia membawa bertumpuk-tumpuk dokumen dan map yang tampak berat. "Kak Lucia! Kau harus lihat ini! Ponselku tidak berhenti bergetar sejak pukul lima pagi!" seru Hana sambil meletakkan tumpukan itu di atas meja makan hingga menimbulkan suara gedebuk yang cukup keras. Lucia mengernyit, mencoba mencerna tumpukan kertas itu. "Ya ampun, itu banyak sekali." Lucia kemudian menepuk bahu Hana. "tarik napas dulu dan tenanglah, Hana." "Bagaimana aku bisa tenang, Kak? Lihat ini!" Hana menarik satu map berwarna emas. "Kontrak
Aula utama Hotel The Grand Celestia malam itu ditutup untuk umum. Ruangan mewah tersebut telah dipesan khusus oleh V-ACE untuk merayakan kesuksesan film "The Criminal Family". Tidak ada media atau orang luar; acara ini murni dipersembahkan untuk para kru, sutradara, produser, investor, dan seluruh jajaran aktor yang telah menumpahkan keringat mereka selama produksi.Kegembiraan memenuhi ruangan saat layar besar di sudut aula menampilkan angka-angka terbaru: ranting film yang sempurna dan rekor penjualan tiket bioskop yang terus melonjak tajam dalam waktu singkat. Semua orang bersulang, merayakan kemenangan atas proyek yang awalnya sempat diragukan banyak orang.Lucia berdiri di antara lingkaran para kru teknis dan rekan aktornya. Ia mengenakan gaun sutra berwarna krem yang elegan. Di sampingnya, Hana sesekali menyeka air mata haru sambil menunjukkan data kesuksesan film tersebut di tabletnya."Kak Lucia, lihat grafiknya! Kita benar-benar menguasai pasar minggu ini. Semua orang membica
Udara di area parkir terasa membeku secara mendadak. Lucia masih terpaku di balik mobil boks, jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging menyakitkan. Kalimat Arthen di telepon tadi terus menggema di kepalanya. Wanitaku... meninggalkannya... penguntit...Arthen mem
Pagi yang tenang di sebuah halte bus yang dikelilingi pepohonan hijau. Kamera menyorot sosok wanita dewasa dengan rambut hitam lurus yang tergerai indah, tertiup angin sepoi-sepoi. Ia adalah Elena, mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan yang sedikit tersingkap, menatap kosong ke arah jalana
Malam itu, Lucia baru saja melepaskan gaun biru mudanya dan menggantinya dengan kaus kebesaran yang nyaman serta celana pendek. Ia baru saja selesai membersihkan wajah, namun bayangan pembacaan naskah tadi siang masih menari-nari di kepalanya. Tatapan Victor yang tajam, tepuk tangan Sut
Di dalam van hitam yang merayap pelan menembus kerumunan, Lucia duduk dengan jemari yang saling bertaut erat. Sesekali ia membuang napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sejak semalam tidak bisa diajak kompromi. "Jujur saja, Hana... semalaman aku sulit sekali tidur







