Mag-log inSinar matahari pagi menyelinap melalui celah gorden, namun tidak memberikan rasa hangat yang biasanya bagi Lucia.
Ia terbangun dengan jas hitam Arthen yang masih menyelimuti tubuhnya, memberikan rasa aman yang semu di tengah kekacauan mentalnya.Ia menoleh dan mendapati Arthen sedang berdiri di balkon, membelakanginya sambil berbicara rendah di telepon. Tak lama, Arthen menutup telepon dan masuk kembali ke ruang tengah dengan wajah yang tampak lelah namun tetap waspada.Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah gorden, namun tidak memberikan rasa hangat yang biasanya bagi Lucia. Ia terbangun dengan jas hitam Arthen yang masih menyelimuti tubuhnya, memberikan rasa aman yang semu di tengah kekacauan mentalnya. Ia menoleh dan mendapati Arthen sedang berdiri di balkon, membelakanginya sambil berbicara rendah di telepon. Tak lama, Arthen menutup telepon dan masuk kembali ke ruang tengah dengan wajah yang tampak lelah namun tetap waspada."Kau sudah bangun," ucap Arthen datar, namun matanya langsung tertuju pada wajah Lucia, memeriksa apakah wanita itu masih terlihat terguncang."Kau tidak tidur sama sekali?" tanya Lucia sambil membenahi posisinya di sofa.Arthen tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Ia justru menyodorkan secangkir kopi panas yang aromanya sangat kuat. "Aku sudah mengganti semua kode akses apartemen ini. Jangan gunakan kode lama. Aku juga sudah memasang sensor tambahan di setiap
Kehadiran bunga raksasa itu benar-benar mengganggu konsentrasi di lokasi syuting. Meski Lucia mencoba mengabaikannya, bisik-bisik dari para kru terus terdengar di belakang punggungnya. Sebagian besar mengira itu dari Victor karena chemistry mereka yang luar biasa, namun pria itu hanya menanggapi dengan senyuman misterius saat ditanya.Arthen Valerius, sebagai investor utama yang mengawasi jalannya proyek, berdiri di depan karangan bunga itu dengan tangan bersedekap. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, namun tatapannya sangat dingin."Singkirkan ini," perintah Arthen singkat pada stafnya."Kenapa, Tuan? Ini bunga yang sangat mahal dan indah," tanya salah satu asisten kru dengan ragu."Lokasi syuting harus bersih dari benda asing yang tidak jelas pengirimnya. Ini soal keamanan," sahut Arthen tanpa menoleh. Suaranya datar, namun tegas. Sebagai investor, ia punya hak untuk mengatur segalanya demi kelancaran proyek yang ia biayai.Luc
Lantai kayu rumah tua itu berderit saat Lucia, yang kini sepenuhnya menjadi Elena, melangkah masuk. Suasana set dibuat menyesakkan; debu beterbangan di bawah sorot lampu yang suram. Ini adalah adegan inti di mana Elena harus melindungi adiknya, Eren, dari amukan sang ayah."Calvin, kau siap?" tanya Lucia lembut.Calvin, aktor remaja itu, mengangguk dengan wajah tegang. "Siap, Kak.""Kamera... rolling... ACTION!"Suasana mendadak berubah. Lucia tidak lagi terlihat seperti aktris ramah yang tadi meminum kopi. Bahunya merosot, matanya menyiratkan kelelahan menahun yang mendalam. Saat aktor senior pemeran ayahnya mulai berteriak, Lucia langsung menarik Calvin ke belakang tubuhnya.Dalam satu gerakan yang sangat intens, sang aktor senior harus membanting sebuah kursi tepat di samping Lucia. Namun, karena terlalu mendalami peran, ayunan kursi itu sedikit meleset dan menghantam lengan atas Lucia sebelum hancur ke lantai.Braakk!
Setelah menyelesaikan adegan masa remaja di sekolah, Lucia segera dibawa Hana menuju lokasi pemotretan poster. Di dalam mobil, Hana memberikan tablet berisi draf konsep poster hari ini. "Kau hebat tadi, Kak. Sutradara Bram sampai tak berkedip melihatmu jadi anak SMA lagi. Kau masih sangat cocok memerankan peran remaja," puji Hana sambil menyerahkan segelas kopi dingin. "Tapi bersiaplah, pemotretan poster ini akan lebih ramai. Seluruh jajaran pemain utama The Criminal Family akan ada di sana." "Aku tahu. Itu mengapa aku harus menjaga energiku," jawab Lucia sambil menyandarkan kepalanya, mencoba mengumpulkan fokus. Lucia melanjutkan perkataannya dengan bergumam, "karena aku juga harus bisa memposisikan diri di antara mereka." Sesampainya di studio, suasana terasa sangat hidup. Lucia segera membaur dengan para pemeran lainnya. Di area katering, ia bertemu dengan Aktris Senior Sarah, yang memerankan ibu tirinya yang licik di film.
Pagi yang tenang di sebuah halte bus yang dikelilingi pepohonan hijau. Kamera menyorot sosok wanita dewasa dengan rambut hitam lurus yang tergerai indah, tertiup angin sepoi-sepoi. Ia adalah Elena, mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan yang sedikit tersingkap, menatap kosong ke arah jalanan yang lengang."Waktu ternyata bisa menjawab semuanya ya," bisik Elena, suaranya terdengar parau namun tenang. "Setelah semua itu, kehidupan normal yang kukira hanya mimpi ternyata sekarang bisa kurasakan. Menghirup udara tanpa rasa takut, melangkah tanpa perlu menoleh ke belakang... kebebasan ini terasa begitu asing, sekaligus begitu manis."Ia menarik napas panjang, seolah berusaha memenuhi paru-parunya dengan udara yang tidak lagi menyesakkan."Namun, seandainya apa yang terjadi lima tahun lalu itu hanya mimpi burukku. Bertahan di keluarga dengan kekerasan cara mereka bicara, berharap pada satu pria salah yang kupikir dialah tempatku pulang, dan... Eren, adikku
Malam itu, Lucia baru saja melepaskan gaun biru mudanya dan menggantinya dengan kaus kebesaran yang nyaman serta celana pendek. Ia baru saja selesai membersihkan wajah, namun bayangan pembacaan naskah tadi siang masih menari-nari di kepalanya. Tatapan Victor yang tajam, tepuk tangan Sutradara Bram, dan bagaimana ia hampir kehilangan dirinya sendiri saat masuk ke dalam jiwa Elena.Tepat saat ia hendak menyeduh teh hangatnya, bel apartemennya berbunyi. Tiga ketukan pendek yang terdengar sangat menuntut, bergema di ruang tamu apartemen mewahnya yang luas.Lucia mengerutkan kening. "Hana? Apa ada yang tertinggal?" gumamnya sambil melangkah menuju pintu.Ia mengintip lewat lubang kecil. Jantungnya mencelos. Di sana berdiri seorang pria dengan jaket hoodie hitam dan topi yang ditarik rendah. Meski wajahnya tertutup masker, Lucia mengenali sepasang mata elang itu.Lucia membuka pintu hanya sedikit, menahan daun pintu dengan tubuhnya. "Arthen? K







