LOGINSetibanya di hotel, Manajer Rey segera mengambil alih situasi dengan menghubungi dokter pribadi keluarga Valerius yang sengaja ikut dalam rombongan secara diam-diam. Arthen langsung dilarikan ke kamar presidensialnya, meninggalkan Lucia yang berdiri mematung di lorong depan pintu. Gaun kremnya yang semula tampak begitu elegan kini terlihat sedikit kusut, senada dengan raut wajahnya yang diliputi kecemasan.Tak lama pintu kamar presidensial akhirnya terbuka, menampakkan Manajer Rey dengan raut wajah yang sangat serius, seolah-olah sesuatu yang fatal baru saja terjadi."Bagaimana keadaannya, Rey?" tanya Lucia cepat, suaranya sedikit bergetar.Manajer Rey melirik ke dalam kamar, lalu berdehem pelan. "Jahitannya... yah, sebenarnya tidak terbuka, tapi Tuan Arthen bilang rasa nyerinya sangat luar biasa. Dia harus istirahat total dan sepertinya butuh perhatian khusus malam ini.""Bisa aku masuk?"Hana mencoba menahan bahu Lucia. "Kak, ini sudah hampir tengah malam. Besok jam tujuh pagi kau
Pagi itu, restoran hotel Grand Horgen hanya diisi oleh suara denting alat makan yang halus. Di meja sudut yang privat, Lucia duduk dengan postur sempurna, meski jemarinya yang memegang cangkir teh menunjukkan sedikit kegelisahan. Di hadapannya, Arthen mengabaikan kopinya yang mulai dingin. Matanya terpaku pada Lucia, seolah sedang membedah makna kalimat semalam tentang "siapa yang berhak melihat senyumnya." "Kau tidak makan," tegur Lucia pelan, matanya tetap tertuju pada pemandangan salju di luar jendela untuk menghindari tatapan intens Arthen. "Aku sedang menunggu," jawab Arthen pendek. Suaranya rendah, menciptakan getaran yang membuat Lucia merasa Horgen mendadak menjadi sangat panas. Ketegangan itu pecah saat pintu restoran terbuka dengan terburu-buru. Manajer Rey melangkah masuk bersama Hana yang mengekor di belakangnya. Wajah Rey berseri-seri, sementara Hana tampak menahan napas dengan mata yang berbinar penuh haru. Rey segera meletakkan sebuah tablet di atas meja. "Marcus T
Restoran rooftop itu memiliki pemandangan kota Horgen yang luar biasa, tapi bagi Lucia, atmosfer di sana lebih dingin daripada salju di luar. Ia duduk di antara para pria pemegang kekuasaan di Hollywood. Di sampingnya, Julian Vance terus-menerus memberikan perhatian yang terlalu intens. "Kau tidak menyentuh foie gras-mu, Lucia," bisik Julian, tubuhnya condong ke arah Lucia hingga aroma parfumnya yang kuat menyeruak. "Apa kau sedang merindukan masakan Avantia? Atau merindukan seseorang yang seharusnya tidak ada di sini?" Lucia menyesap air mineralnya, menatap Julian dengan ekspresi yang sangat tenang. "Saya hanya sedang menikmati suasana, Tuan Vance. Bukankah Anda sendiri yang bilang media di sini sangat haus darah? Saya tidak ingin terlihat terlalu rakus di depan produser." "Kau sangat berhati-hati," Julian terkekeh, tangannya bergerak hendak menyentuh punggung kursi Lucia. "Tapi di sini, tidak ada kamera. Kau bisa melepaskan topeng ' Muse' itu sebentar saja." "Ini bukan topeng,"
Suasana di dalam suite mewah Grand Horgen Hotel terasa jauh lebih hangat setelah makan malam sederhana yang mereka habiskan berdua. Lucia baru saja hendak menyesap teh hangatnya ketika Manajer Rey mengetuk pintu dengan raut wajah yang sulit diartikan. Ia membawa sebuah undangan fisik berwarna hitam elegan dengan tinta emas."Dari Marcus Thorne," ujar Rey singkat sambil menyerahkan undangan itu pada Arthen.Arthen membacanya sejenak, dan seketika itu juga, rahangnya mengeras. "Tidak. Ini tidak masuk akal."Lucia meletakkan cangkirnya. "Ada apa?""Marcus mengundangmu ke jamuan makan malam privat besok dengan para produser eksekutif dari Amerika," jawab Arthen, suaranya berat dan dingin. "Tapi ada catatan di bawahnya. 'Strictly for the talent only. No management, no agents.'"Lucia terdiam, matanya berkilat menatap undangan itu. "Dia ingin melihat bagaimana aku membawa diriku tanpa pengawasan kalian.""Itu sarang serigala, Lucia," potong Arthen cepat. Ia berdiri dan mulai berjalan mondar
Lucia begitu ia melangkah keluar dari set audisi yang pengap, napasnya masih sedikit memburu, adrenalin dari aktingnya tadi belum sepenuhnya surut. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan di lorong studio yang remang-remang, sebuah bayangan tinggi menghalangi jalannya."Penampilan yang mematikan, Muse," suara bariton Julian Vance menggema. Ia bersandar di dinding dengan gaya kasual, masih mengenakan kostum yang sama. "Aku belum pernah melihat Marcus Thorne sampai berdiri dari kursinya hanya untuk satu orang. Kau benar-benar menghancurkan egoku hari ini."Lucia berhenti, ia memasang wajah datarnya kembali. "Terima kasih, Tuan Vance. Saya hanya melakukan apa yang naskah minta.""Hanya naskah? Tatapanmu tadi terasa sangat nyata, seolah kau benar-benar menganggapku sampah," Julian terkekeh, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa satu lengan. "Bagaimana kalau kita rayakan kemenangan kecil ini? Aku tahu restoran pribadi di pusat kota yang hanya melayani tamu istimewa. Tidak a
Malam di Horgen terasa jauh lebih sunyi daripada di Avantia. Di dalam kamar hotelnya yang luas, Lucia duduk bersila di atas karpet bulu, dikelilingi oleh lembaran naskah yang ditandai dengan berbagai warna. Suara angin musim dingin yang menderu di luar jendela besar sesekali membuat fokusnya buyar. Ia merasa kecil di tengah kota asing ini, apalagi dengan bayang-bayang audisi besar besok pagi.Ketukan pelan di pintu penghubung kamarnya membuat Lucia menoleh. Tanpa menunggu jawaban, pintu itu terbuka sedikit, menampakkan Arthen. Ia sudah menanggalkan mantel formalnya, hanya mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku."Belum tidur?" suara Arthen rendah, memenuhi ruangan yang sunyi itu.Lucia mengangkat pandangannya dari naskah, menatap Arthen dengan tatapan datar yang dipaksakan. "Sedikit lagi. Aku hanya sedang mencoba memahami kenapa karakter ini harus tetap diam saat dikhianati," jawab Lucia dingin, menyisipkan rambut ke belakang telinganya.Arthen melangkah mendek
Udara di area parkir terasa membeku secara mendadak. Lucia masih terpaku di balik mobil boks, jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging menyakitkan. Kalimat Arthen di telepon tadi terus menggema di kepalanya. Wanitaku... meninggalkannya... penguntit...Arthen mem
Pagi yang tenang di sebuah halte bus yang dikelilingi pepohonan hijau. Kamera menyorot sosok wanita dewasa dengan rambut hitam lurus yang tergerai indah, tertiup angin sepoi-sepoi. Ia adalah Elena, mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan yang sedikit tersingkap, menatap kosong ke arah jalana
Malam itu, Lucia baru saja melepaskan gaun biru mudanya dan menggantinya dengan kaus kebesaran yang nyaman serta celana pendek. Ia baru saja selesai membersihkan wajah, namun bayangan pembacaan naskah tadi siang masih menari-nari di kepalanya. Tatapan Victor yang tajam, tepuk tangan Sut
Di dalam van hitam yang merayap pelan menembus kerumunan, Lucia duduk dengan jemari yang saling bertaut erat. Sesekali ia membuang napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sejak semalam tidak bisa diajak kompromi. "Jujur saja, Hana... semalaman aku sulit sekali tidur







