LOGINSuasana di gedung pusat V-ACE terasa berbeda sejak kehadiran Julian Vance. Aktor internasional itu memutuskan datang lebih awal ke Avantia, bukan untuk urusan kontrak semata, melainkan untuk melihat langsung kemampuan aktris yang dijuluki Fearless Muse. Julian merasa perlu membuktikan sendiri apakah Lucia memang sehebat itu, hingga berhasil menarik perhatian Marcus Thorne—sutradara Hollywood yang dikenal sangat pemilih itu.Pagi itu, Julian berdiri di balkon lantai latihan, mengawasi Lucia yang sedang melakukan latihan fisik berat. Di sampingnya, Arthen Valerius berdiri dengan ekspresi datar, meski sorot matanya menunjukkan kewaspadaan tinggi."Jadi, gadis itu yang membuat Marcus Thorne rela terbang jauh-jauh ke Avantia?" gumam Julian sambil menyipitkan mata, memperhatikan setiap gerakan Lucia. "Dia terlihat berbakat, tapi panggung internasional membutuhkan lebih dari sekadar teknik yang rapi, Tuan Valerius."Arthen melirik Julian sekilas. "Lucia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki
Hingar-bingar di Bandara Internasional Avantia pagi itu menandakan kedatangan sosok yang telah dinantikan publik. Julian Vance, aktor yang namanya telah menghiasi papan iklan digital di seluruh dunia, akhirnya menginjakkan kaki di tanah Avantia. Dengan kacamata hitam dan senyum yang tampak begitu terlatih di depan kamera, ia menyapa kerumunan penggemar sebelum melesat menuju gedung pusat V-ACE.Di ruang latihan utama, Lucia baru saja menyelesaikan pemanasannya. Ia masih memegang pedang ganda latihannya saat pintu otomatis terbuka."Ah, jadi ini sang Fearless Muse yang dibicarakan semua orang di seberang samudra?"Suara bariton yang berat dengan aksen asing itu membuat Lucia menoleh. Julian Vance melangkah masuk dengan kepercayaan diri yang memukau. Tanpa ragu, ia mendekati Lucia, mengabaikan jarak profesional yang biasanya dijunjung tinggi di Avantia.Julian meraih jemari Lucia yang masih sedikit kasar karena latihan. Dengan gerakan yang sangat luwes dan dramatis, ia membungkuk sedik
Lantai dansa yang biasanya digunakan untuk latihan koreografi kini berubah menjadi medan perang mini. Di sudut ruangan, tumpukan referensi sejarah tentang kekaisaran kuno dan teknik pedang ganda berserakan di atas meja. Lucia tidak hanya ingin menghafal dialog, ia ingin jiwanya menyatu dengan karakter Raya, sang panglima perang dalam film The Silent Sword.Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, Lucia sudah berada di ruang latihan. Ia menukar sepatu hak tingginya dengan sepatu bot latihan yang kokoh. Berat sepasang pedang ganda di tangannya—yang awalnya terasa mustahil untuk diayunkan—kini mulai terasa seperti perpanjangan dari lengannya sendiri. Ia harus menguasai ritme katana yang mematikan sekaligus keanggunan gerakan bela diri kolosal. Memar di lengannya dan lecet di telapak tangannya adalah saksi bisu ambisinya untuk membuktikan bahwa julukan The Fearless Muse bukan sekadar pemberian cuma-cuma dari netizen.Malam itu, jarum jam sudah melewati angka sepuluh. Bunyi dentinga
Gedung kantor pusat Blue-Ocean Agency tampak tegang malam itu. Di dalam ruang rapat tertutup, tim hukum dan PR bekerja ekstra keras. Keputusan sudah bulat: Navy dilepaskan, namun David harus diselamatkan."Dengar, David. Agensi telah mengeluarkan pernyataan resmi," ujar sang Manajer Utama sambil membanting tablet ke meja. "Kita membantah adanya hubungan spesial antara kau dan Navy. Publik hanya tahu kalian rekan kerja yang dipasangkan oleh stasiun TV untuk variety show. Masalah hukum Navy adalah masalah pribadinya, dan agensi tidak bertanggung jawab atas tindakan kriminalnya."David, yang duduk di sudut ruangan dengan wajah kuyu, hanya menatap kosong. "Lalu bagaimana denganku?""Kau akan hiatus. Kami akan mengumumkan bahwa kau butuh istirahat karena masalah kesehatan yang memburuk. Dengan begitu, publik akan merasa simpati padamu. Kau adalah korban dari situasi ini, David. Itu narasi yang kita bangun."David hanya bisa mengangguk pelan. Ia merasa seperti pengecut, namun ia tidak punya
Gedung pusat V-ACE pagi itu tampak megah di bawah langit biru yang bersih. Lantai rooftop yang disulap menjadi taman asri menjadi lokasi terakhir syuting iklan Summer Breeze. Lucia berdiri di sana, mengenakan setelan blazer kasual berwarna putih tulang yang memberikan kesan profesional sekaligus segar."Oke, Lucia! Ini adegan terakhir. Kau sedang memberikan laporan cuaca, lalu tiba-tiba cuaca berubah sangat panas, dan kau meminum Summer Breeze untuk mengembalikan fokusmu. Kita akan menggunakan crane kamera untuk sweeping shot dari atas," instruksi Sutradara Rio.Lucia mengangguk, namun matanya tidak tenang. Ia terus melirik ke arah teknisi yang sedang mengatur lampu-lampu besar di atas rangka besi (truss). Kata-kata Alexander tentang menjadi "pedang" terus terngiang, membuatnya jauh lebih waspada terhadap sekelilingnya.Di ruang tunggu VIP satu lantai di bawah, Arthen duduk dengan gelisah. Luka di pinggangnya berdenyut setiap kali ia bernapas panjang."Tuan Arthen, tim keamanan sudah
Apartemen mewah Navy yang biasanya tertata rapi kini tampak seperti medan perang. Botol-botol kosmetik mahal berserakan di lantai marmer, dan aroma menyengat dari cat kuku memenuhi ruangan yang tertutup rapat. Navy duduk di sofa beludrunya, napasnya memburu, sementara tangannya gemetar hebat saat mencoba memulas warna merah darah ke kuku jarinya.Brak!Pintu depan dihantam terbuka dengan kasar. David melangkah masuk dengan wajah merah padam. Matanya yang biasanya terlihat tenang kini memancarkan amarah yang tidak lagi bisa dibendung."Kau puas sekarang, Navy?!" teriak David, suaranya menggema di seluruh ruangan. "Lihat rating kita! Lihat komentar netizen! Citraku hancur karena perilaku kekanak-kanakanmu di depan kamera!"Navy tidak langsung menoleh. Ia meniup kukunya dengan tenang yang dipaksakan, lalu perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang sembab menunjukkan bahwa ia baru saja menangis, namun ego yang tinggi segera menutupi kerapuhan itu dengan tatapan sinis."Jangan berteriak
Udara di area parkir terasa membeku secara mendadak. Lucia masih terpaku di balik mobil boks, jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging menyakitkan. Kalimat Arthen di telepon tadi terus menggema di kepalanya. Wanitaku... meninggalkannya... penguntit...Arthen mem
Pagi yang tenang di sebuah halte bus yang dikelilingi pepohonan hijau. Kamera menyorot sosok wanita dewasa dengan rambut hitam lurus yang tergerai indah, tertiup angin sepoi-sepoi. Ia adalah Elena, mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan yang sedikit tersingkap, menatap kosong ke arah jalana
Malam itu, Lucia baru saja melepaskan gaun biru mudanya dan menggantinya dengan kaus kebesaran yang nyaman serta celana pendek. Ia baru saja selesai membersihkan wajah, namun bayangan pembacaan naskah tadi siang masih menari-nari di kepalanya. Tatapan Victor yang tajam, tepuk tangan Sut
Di dalam van hitam yang merayap pelan menembus kerumunan, Lucia duduk dengan jemari yang saling bertaut erat. Sesekali ia membuang napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sejak semalam tidak bisa diajak kompromi. "Jujur saja, Hana... semalaman aku sulit sekali tidur







