로그인Francesca's life is turned upside down when betrayal and ruin shatter her world. After waking up next to Marco, a powerful mafia don and Lycan, and her ex-fiancé Gianni’s older brother. She is pushed into a dangerous game of power, vengeance, and forbidden desire. Forced to choose between the humiliation of her past and a future bound to Marco by an unconventional marriage, Francesca must navigate family betrayal, mafia intrigue, and her growing attraction to the man who could destroy or save her. Will her alliance with the enigmatic mafia Lycan be her salvation or her undoing?
더 보기“Saya mau menyampaikan kalau beasiswa kamu sudah tidak bisa diperpanjang lagi,” ucap Bu Hermin selaku kepala tata usaha Universitas.
Deg. Jantung Nia seolah berhenti berdetak, karena itu merupakan berita buruk buatnya. “Tapi ke-”
Belum selesai Nia berkata mendadak Bu Hermin menjulurkan telapak tangannya menyuruh Nia diam dulu.
Beliau menghela napas sesaat kemudian bibirnya mulai bergerak lagi. “Keputusan dari Rektor yang baru bahwa penerima beasiswa hanya diberikan selama 2 tahun berturut-turut saja. Karena banyaknya mahasiswa yang juga ingin mendapatkan beasiswa, jadi biar pembagiannya merata,” lanjut Bu Hermin lugas.
“Saya berharap bisa mendapatkan kebijakan lain, Bu?” mohon Nia seraya mengerutkan kening. “Terus terang saya kesulitan kalau harus menanggung biaya sendiri tanpa beasiswa itu.”
Bu Hermin mengeleng, “Tidak ada, Rektor sudah bilang tidak ada kebijakan lain. Yang masih mau bertahan di kampus ini, ya harus berkorban. Tapi kalau tidak mau ya terpaksa tidak bisa melanjutkan pendidikan di sini.”
“Dasar Rektor tidak punya hati, bisa-bisanya memberikan kebijakan seperti itu,” gerutu Nia dalam hati. Mulutnya ingin merutuki kebijakan baru itu. Namun dia masih menjunjung tinggi sopan santun, ajaran dari orang tuanya di kampung.
“Lalu bagaimana saya bisa melanjutkan kuliah kalau tanpa beasiswa itu, Bu!” tanyanya retoris. Tidak ada lagi wajah yang ceria seketika semua berubah menyedihkan.
“Maaf, Ibu juga tidak bisa membantu kamu,” sesal Bu Hermin. “Semoga keputusan ini bisa kamu terima dengan lapang dada dan semoga Allah memberi kemudahan kamu dalam hal ini. Kamu masih punya waktu 3 bulan ke depan sebelum mulai pembayaran uang kuliah setiap bulannya.”
Bu Hermin yang juga merangkap sebagai Dosen nya itu hanya bisa mendoakan saja. Wanita paruh baya itu pastinya tahu betul kondisi Nia yang hanya mengandalkan beasiswanya untuk bisa kuliah di kampus ini.
Nia dengan lesu ke luar dari ruangan tata usaha tersebut, menuju ke belakang gedung kampusnya. Sebuah taman kecil tempatnya melepas semua kepenatan jika sedang mendapatkan masalah. Entah masalah kampus atau masalah pribadi.
Sampai di tempat itu, Nia mendudukan dirinya dengan hati yang tak menentu. Baru 2 tahun dia kuliah di kampus ini. Cita-cita kedua orang tuanya menginginkan dia menjadi seorang Perawat agar bisa membantu banyak orang. Makanya dia berusaha keras agar bisa mengabulkan keinginan tersebut. Selain karena pintar, beruntung Nia juga mendapatkan beasiswa.
“Ayah, Bunda, bagaimana ini? Nia tidak bisa mendapatkan beasiswa lagi!” keluhnya seraya menatap menerawang di langit yang mendung.
“Hai mendung, apa kamu turun hujan? Apa kamu juga merasakan kesedihanku?” gumamnya dengan bibir mencembik.
“Hai ... cantik!” sapa Tina yang tiba-tiba datang dan menepuk bahu Nia dari belakang.
“Hai ....” Nia menjawab dengan lemah, menoleh sebentar lalu kembali pandangannya ke awal tadi.
Tina sampai ikut melihat arah pandang Nia, demi memastikan rasa penasarannya apa yang sedang sahabatnya itu lihat. “Tidak ada apa-apa sih, kenapa dia fokus sekali ke situ!” gumamnya.
Refleks, Nia menoleh setelah mendengar gumaman Tina. “Apa?”
“Kamu lihat apa sih? Apa ada cowok cakep di sana, hah?” kekeh Tina mengulas senyum. Tina paling tidak bisa kalau melihat cowok ganteng, pasti matanya akan setia memandanginya terus.
“Lihat cowok ganteng yang nempel di pohon beringin tuh,” sahut Nia kesal seraya menunjuk pohon yang berada di pojokan, tidak jauh dari mereka duduk.
“Hah, hantu dong!” jawab Tina dengan mulut melongo.
“Pikir aja sendiri,” sahut Nia kesal, sahabatnya itu masih saja menanggapi ucapannya yang asal itu.
Tina yang penasaran sampai mendekati pohon tersebut dan berdiri lalu menatapnya dengan intens.
“Woi ... kamu ngapain?” teriak Nia yang melihat Tina menuju pohon beringin tersebut seraya celingak celinguk.
“Cari cowok ganteng,” jawab Tina sambil tersenyum lebar.
“Tin, udah dong sadar kamu ...!” teriak Nia kembali. “ Gak bakalan ada cowok ganteng di sini, yang ada malah dedemit. Sinian aku mau curhat nih.”
Tina akhirnya memutar badan dan berjalan menuju Nia. “Aku sih, sudah paham kamu ngaco cuman aku penasaran aja mungkin tiba-tiba jadi kenyataan.”
Keduanya kini duduk berhadapan dan saling menatap.
Nia menghembuskan napas panjang. “Beasiswa aku tidak diperpanjang lagi,” setelah mengatakan itu Nia langsung mengarahkan pandangan pada Tina yang masih tetap berdiri di depannya.
“Ah, koq bisa? kamu kan mahasiswa pandai. Iya kalau aku, cuman satu tahun saja mendapatkannya karena nilaiku tidak mencukupi untuk memperolehnya lagi,” papar Tina dengan wajah menyedihkan.
“Tadi aku dipanggil Bu Hermin, kata Rektor kebijakan baru beasiswa yang sudah 2 tahun tidak diperpanjang lagi.”
“Oh, coba langsung bicara dengan Rektor saja, mungkin ada cara lain untuk bisa dapat lagi?” usul Tina kemudian.
“Bu Hermin bilang sudah tidak ada kebijakan lagi, Tin!” sanggah Nia geram. Padahal Tina hanya memberikan usul.
“Oh. Apa, Rektor yang baru itu ya?”
Nia menoleh lagi hanya untuk memastikan ucapan sahabatnya itu. “Rektor baru?” ulang Nia.
Tina mengangguk. “Iya, kamu gak tahu? Rektor lama kan sudah diganti, sekarang ada Rektor baru. Beredar isu sih, orangnya masih muda dan ganteng poollll deh.”
“Kamu sudah tahu?”
Tina mengeleng, “Aku belum pernah ketemu nanti deh, aku samperin!”
“Gaya, pakai samperin memang dia sepantaran kita? Palingan orangnya sudah tua, perutnya buncit atau seumuran om-om,” sangka Nia acuh, padahal Rektor barunya itu orangnya masih muda berbeda sekali dengan perkiraannya.
“Lha itu sudah tahu kamu!”
“Tadi itu cuman perkiraan aku doang, Tin.”
“Gak koq, katanya masih muda dan ganteng,” bantah Tina kemudian. “Bisa dong kamu rayu supaya masih mendapatkan beasiswa gitu.” Tina tersenyum mengoda. Tingkah konyol Tina selalu membuat Nia mengulum senyum.
“Ah, tau lah, pusing aku mikirin beasiswa. Mungkin aku ke luar saja dari kampus ini,” terangnya lalu berdiri hendak meninggalkan tempat itu. Namun langkahnya ditahan oleh Tina. “Aku anterin ke ruangan, Rektor sekarang.”
“Hey ... hey ... kamu sudah gila ya, aku gak mau!” namun Tina tetap saja menyeret sahabatnya itu menuju ruangan Rektor. Buat Tina lebih baik dia kehilangan malu daripada kehilangan Ghania, sahabat baiknya.
Kedua gadis itu sudah berdiri di depan ruangan yang bertuliskan Ruangan Rektor. Pada saat yang bersamaan, keluar seorang pria yang mereka kenal sebagai karyawan di tata usaha.
“Kalian mau apa?” tanyanya ramah memandang ke arah kedua gadis itu.
“Ah, Pak. Mau ketemu sama Pak Rektor bisa?” tanya Tina dengan senyum manisnya.
“Oh, apa sudah ada janji? Soalnya barusan Pak Rektornya keluar,” beritahu karyawan tersebut sopan.
“Ah, harus janjian ya? Oke kalau begitu tolong di sampaikan sama Pak Rektor ya. Bahwa mahasiswa yang bernama Ghania Athari, mau bertemu dengan Pak Rektor ya.” Tina mengatakan dengan sangat lancar.
“Harusnya janjiannya langsung ke sekretarisnya saja, tapi kebetulan juga sudah keluar jadi mungkin lusa saja ya?” ungkap karyawan tersebut kemudian.
“Ah, kenapa harus lu-”
“Maaf, Pak. Ya sudah makasih atas infonya ya,” sela Nia sebelum menyeret lengan Tina supaya berhenti menyerocos.
“Ih ... kenapa aku ditarik sih!” omel Tina ketika mereka sudah menjauh dari ruangan Rektor tersebut.
Nia mengambil duduk di salah satu bangku yang ada di koridor kampus dan menarik Tina supaya ikut duduk juga.
“Kamu juga aneh, gak mungkin kan kalau Pak Rektor akan menyetujuinya hanya karena aku protes. Lagian kita juga belum tahu watak Rektor baru itu bagaimana. Kalau dia tersinggung dan marah bagaimana?” keluh Nia. “Aku gak mau deh, berurusan dengan aparat kampus. Nanti pasti ujung-ujungnya berimbas sama nilai aku. Gak kebayang deh, pas nilaiku jatuh gak dapat beasiswa lagi. Pasti aku langsung didrop out deh!”
“Aduh, sejak kapan sih kamu jadi introvert gitu?” protes Tina. “Kamu itu pinter, pastilah ada cara untuk dapat beasiswa itu. Atau nanti kita temuin lagi Rektor baru itu, aku juga penasaran sih bagaimana orangnya. Seenaknya saja bikin kebijakan, emang dia pikir orang kaya semua yang kuliah di sini.”
“Aku cuman sadar diri, Tin. Aku tidak punya biaya masuk di kampus ini jadi aku merasa menjadi orang kecil yang harus bersyukur dan harus mau menerima semua konsekuensinya,” tutur Nia pasrah.
“Aduh ... mindset kamu harus di ubah itu!” Tina berucap dengan geram pada Nia.
“Ah, gak tahu deh aku, pusing!” keluh Nia memandang Tina.
Tina prihatin dengan kondisi Nia, andai dia punya banyak uang mungkin akan membantunya tapi Tina sendiri bukan dari golongan orang kaya.
“Sekarang temenin aku makan dulu, ayo!” ajak Tina sudah berdiri dan mengulurkan tangannya pada Nia.
Nia yang binggung mengerutkan alis sambil bertanya, “Di mana?”
“Mie ayam Bang Dirja,” sahut Tina cepat.
Tiga puluh menit kedua gadis ini sampai di depot mie ayam tersebut. Ternyata depotnya sangat ramai sekali. Setelah memakirkan motornya Tina langsung menuju penjualnya untuk memesan, sedangkan Nia mencari tempat duduk. Gadis itu memilih duduk yang lesehan meski ada yang pakai kursi.
Baru saja mendudukan dirinya mendadak. Byurrrr ... segelas es teh meluncur bebas di atas kepalanya.
“Ya Allah, Al ... tanggung jawab loe,” celetuk seseorang.
Bersambung.....
Sofia glances between us, her expression serious. “I’ll handle the logistics. We’ll move rapidly, and we’ll be in frequent contact. But be ready for anything.” I nod, my gut knotted with fear. Tonight, everything might change. We’re going to step into the dark, into the lion’s den. And there’s no telling what…or who…awaits us. As we prepare to go, the weight of the decision weighs down on me like never before. The hazards are larger than they’ve ever been, but we have no other alternative. We have to act. And we have to survive. As Marco, Luca, and Francesca prepare to meet the new opponent in the warehouse, the stakes are greater than ever. With the danger drawing closer and no way of knowing what awaits them, one incorrect action may cost them everything. Will they survive the showdown, or will the new adversary strike first? The night seems darker than normal as we make our way to the building. The address Sofia’s contact gave us looms in the distance, a scary shadow in the da
I swallow hard, trying to ignore the increasing sensation of terror that seeps into my gut. “How do we even start looking for them?” I inquire, my voice barely above a whisper. “We don’t have any leads.” “We’ll get one,” Marco adds, his tone leaving no space for dispute. “Sofia’s contact is working on it. We simply need to be patient.” But patience is the last thing I have right now. Every second that goes by seems like another second closer to disaster. Closer to the adversary we still can’t see. As the minutes turn into hours, my anxiousness only intensifies. Marco and Luca are deep in discourse, contemplating various strategies and methods to gain the upper hand. But all I can think about is how everything appears to spiral out of control. I sat beside the window, staring blankly at the night sky, my heart heavy with terror. The more I watch Marco and Luca prepare for what seems like another battle, the more my imagination races with worst-case possibilities. “What if this nev
Sofia arrives at the hospital two days later with a determined expression on her face despite her pallor. She enters the room and declares, "I've reached out to someone." "A former underworld contact." He may know the identity of this new adversary.I look at Marco, and I can see the discomfort in his eyes. "Are you certain we can rely on him?" Marco asks in a doubtful tone. "Sofia, we are in dangerous territory.""I understand," Sofia responds steadily. But there is nothing we can do. It's no longer just about us. We're all in trouble if this person is as dangerous as I've heard. We require every available assistance.Feeling conflicted, I bite my lip. Sofia is correct; if her contact can provide us with the answers we need, it may be our only option. However, I'm terrified of the idea of delving even further into the criminal underworld. We've already lost a great deal. How much more are we willing to risk?At last, Marco declares in a determined tone, "We'll meet him." However, we
Her remarks were like a kick to the stomach. One more adversary. One more danger. It sounds worse than Gianni, this one."Are you sure, Sofia?" My voice is hardly steady as I inquire.With an agitated tone, she responds, "I'm sure." "You must use caution, Francesca. You're not secure. None of us is.As I hang up, my head is racing from the weight of Sofia's warning, and my heart is pounding. With my hands shaking and my face pallid, I turn to face Luca.I mumble, my voice cracking, "Luca." "There's another person. It was not only Gianni.As the truth sinks in, Luca's face hardens and his eyes widen. "Who?" he asks in a low, menacing voice."I'm not sure," I answer, my throat constricted. Sofia, however, believes that he is much more dangerous than Gianni.Tension permeates the air as the room becomes quiet. The fear is beginning to step in and envelop me like a thick mist.A fresh adversary appeared out of the shadows just as I believed that the situation was fully resolved. I'm not s
My voice cracks as I whisper, "I'm not losing you." Marco, can you hear me? I won't lose you.His head lolls to the side and his eyelids flutter close without a response."Marco!" I yell and give him a light shake in an attempt to encourage him to open his eyes and stay with me. He doesn't, however
A horrible revelation dawns on me as I lie there, caught between the people I love. No matter what choice I make, there’s no escaping the fallout. Sofia’s secret plan might stop the war, but at what cost to Marco? And if I stay loyal to Marco, will we lose everything anyway?I’m trapped between two
My mind is racing with inquiries. What plans does she have behind Marco's back? Why hasn't she told me, too? I feel a wave of panic and the overwhelming impulse to storm into the room and demand answers. However, I make myself remain motionless and listen until Sofia ends the call.With my heart th
I get a wave of uneasiness as soon as the message is sent. My chest is filled with a profound sensation of fear, and my heart is pounding. We've started a risky strategy, and I can't get rid of the sensation that we've made a grave error.Marco looks at me with an unreadable expression. "It's finis






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.