LOGIN"Siapa Freya?" Kalyla menatap Yasa sangat tajam.
Yasa sadar kalau ia telah ceroboh tapi ia bukan tipe pria yang gampang panikan, ia tetap terlihat tenang. "Aku nggak nyangka! Aku bener-bener nggak nyangka kalau aku ternyata bukan satu-satunya di hati kamu!" Suara Kalyla meninggi, kali ini mulai mengundang reaksi orang-orang di sekitar. "Akan aku jelaskan detailnya, sampai kamu ngerti kenapa tadi aku salah nyebut nama," tukas Yasa, benar-benar tenang. "Ya udah, silakan jelaskan!" "Tapi nggak di sini, ayo, kita langsung aja ke resort," ajak Yasa lalu hendak menarik handle koper Kalyla. Tapi serta merta Kalyla mencegahnya dan mundur dua langkah menjaga jarak. "Aku kira hubungan kita selama 2 Tahun ini istimewa! Aku kira kamu adalah pria setia yang bisa pegang komitmen! Tapi ternyata ...." "Ya! Aku salah! Tapi semuanya nggak seperti yang kamu pikirkan." "Aku tau kamu itu adalah pria yang sangat manipulatif! Udah salah, tapi bisa-bisa bersikap tenang kayak gini! Aku kecewa! Aku kecewa berat sama kamu!" Kalyla semakin emosional. Yasa sendiri tak menyangka kalau ia bisa salah sebut nama tadi. Gara-gara terus kepikiran Freya, ujungnya malah begini. Kalyla mengusap air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata. Suasana bandara yang ramai seolah lenyap, menyisakan ketegangan di antara mereka berdua. "Nama itu... Freya, kan? Siapa dia, Mas? Coba jelaskan aja di sini!" tuntut Kalyla. "Ini tempat umum, Kal. Kita perlu tempat yang lain, biar kamu bisa lebih tenang dengar penjelasanku. "Aku udah tenang! Silakan jelaskan!" Yasa membuang napas kasar, ia tak bisa membantah kalau menghadapi perempuan yang sedang ngambek memang lebih sulit ketimbang mengendalikan klien bisnisnya. "Kenapa sih, baru beberapa hari kamu di Bali, nama perempuan lain yang justru pertama kali keluar dari mulut kamu pas ketemu aku?" Kalyla mendesak, suaranya bergetar menahan amarah. Yasa pun mengalah dan pada akhirnya menjelaskan semuanya di tempat itu. "Dia bukan siapa-siapa, Kal," jawab Yasa tenang sambil melangkah mendekat perlahan. "Dia cuma gadis yang kebetulan lagi ketimpa musibah besar di sini. Toko miliknya dijual tanpa sepengetahuan dia sama kakaknya sendiri, dan kebetulan urusannya ada hubungannya denganku!" Kalyla mendengus sinis, sama sekali tidak langsung percaya. "Musibah? Terus itu jadi alasan kamu sampai salah sebut nama calon istri kamu sendiri? Kamu sadar nggak, Mas? Selama dua tahun kita pacaran, aku nggak pernah dengar kamu sekhawatir itu sama orang lain, sampai-sampai nama aku ketuker!" "Aku nggak khawatir, Kal. Aku cuma kasihan," bela Yasa, mencoba meraih tangan Kalyla, namun langsung ditepis oleh wanita itu. "Kasihan sampai segitunya?" Kalyla menatap tajam, menembus manik mata Yasa. "Kamu pikir aku nggak kenal kamu? Kamu itu tipe pria dingin yang nggak akan peduli sama urusan orang lain kalau nggak penting buat kamu. Kalau sampai kamu kepikiran dia sampai salah nyebut nama, berarti kehadiran gadis itu udah lebih dari sekadar 'kasihan' di kepala kamu." Skakmat. Kalimat Kalyla telak menghujam kesadaran Yasa. "Jangan ikuti aku! Jangan coba-coba kejar aku! Temui aku kalo kamu udah selesai merenungi semuanya!" Kalyla pergi setelah memperingatkan Yasa dengan serius. Yasa pun tak ingin memperpanjang drama, ia hanya bisa menatap kepergian Kalyla yang semakin menjauh dari jangkauan netranya. 'Gara-gara kamu, Freya!' geram Yasa dalam hati. *** Yasa pulang ke Resort dengan keadaan gusar. Ia sampai melempar kacamatanya ke sudut ruang dengan penuh emosi. "Damn!" Bahkan sampai merutuk kasar. Ponsel berdering, asistennya yang menelpon. Yasa abaikan karena sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun. Sementara itu, tepat di jam 8 malam, Freya baru saja sampai di Jakarta. Dengan sisa uang yang ia punya ia memesan taksi dan langsung meluncur ke rumah Fiona untuk menuntut penjelasan. "Awas ya Kak! Kali ini aku nggak akan tinggal diam! Kamu bener-bener keterlaluan!" Amarah berdesakan di dalam dada, tak sabar rasanya ingin segera sampai dan meluapkan semuanya. Setibanya di depan rumah Fiona, ia langsung masuk tanpa permisi melewati pagar rumah cukup besar itu, tapi saat hendak membuka pintu utama, pintunya terkunci. "Kak! Buka pintunya! Temui aku dan jelaskan semuanya!" seru Freya dengan lantang sambil menggebrak pintu itu. "Kenapa sih Kak Fiona tega banget? Tega!" seru Freya lagi, kali ini dengan air mata yang mulai mengaliri pipinya. Tak ada sahutan dari dalam rumah, tak ada yang membukakan pintu. Freya yang lelah semakin lelah saja. "Kak! Kenapa? Cepet jelasin semuanya ke aku!" Freya masih belum menyerah, ia terus mengerahkan sisa suaranya. Seorang tetangga muncul dari rumahnya dan mendekat ke sudut halaman rumahnya agar bisa bicara pada Freya. "Kamu nyari Mbak Fiona?" tanya tetangga itu. Freya menoleh lalu mengusap air matanya cepat-cepat lantas menghampiri tetangga itu. "Iya, Bu. Saya nyari Kak Fiona, saya adiknya," jawab Freya penuh harap. "Udah 2 hari rumah itu kosong. Kemaren ada dua orang debt collector gedor-gedor, tadi siang juga ada segerombol ibu-ibu arisan yang katanya ditipu sama Bu Fiona." Freya sampai bengong mendengarkan penjelasan itu. Dicari debt collector dan digeruduk oleh Ibu-ibu arisan? What the ...? "Bagus deh kamu muncul, biar kamu bisa klarifikasi sama orang-orang itu, karena jujur aja, kedatangan mereka sangat menganggu menyamanan dan keamanan di komplek ini." Freya mulai putus asa. Bukannya dapat penjelasan, sekarang ia malah ketiban sial lagi gara-gara urusan sang Kakak. "Ya ampun Kak Fiona ...." gumamnya dengan perasaan hampa. Ternyata sang Kakak lagi-lagi terlibat kasus hutang piutang, seperti yang sudah-sudah. Freya terduduk lemas di tepi teras, tulang-tulang terasa lepas dari raganya sehingga tubuhnya terasa lunglai begitu saja. Sekarang Freya bisa apa? Bagaimana nasibnya? Nasib Casa de Cake? *** Yasa mondar-mandir di tepi kolam renang pribadinya sambil berusaha menghubungi Kalyla, tapi hasilnya nihil. Sudah belasan panggilan diabaikan, belasan pesan tak dibalas oleh Kalyla. "Please, Kal ... kita harus bicara!" Kali ini Yasa usaha dengan mengirim pesan suara. Yasa duduk di atas dipan kayu mencoba mengendalikan kegusarannya. Ia menyesal karena rencana liburan romantis bersama kekasih malah berubah bencana seperti ini karena nama Freya lolos begitu saja dari mulutnya di hadapan Kalyla. Tring! Denting notifikasi memecah kesunyian di malam yang kian larut itu. Yasa sangat semangat untuk memeriksanya, berharap itu balasan dari Kalyla. Tapi ternyata, itu adalah pesan masuk dari Nathan, putra semata wayangnya. [Pa, buruan putusin pacar Papa!] Yasa mengerut kening dengan pesan itu, tapi ia masih menunggu alasan kenapa putranya tiba-tiba mengirim pesan seperti itu. Sampai akhirnya sebuah video berdurasi 15 detik muncul dan ketika Yasa memutar video itu, ternyata isinya adalah ....Rendra menunjukkan rasa tidak percaya, ia melirik ke arah area pesta lalu kembali menatap Freya dengan perasaan meragu. "Kamu jangan bercanda, Frey! Pake segala ngaku jadi calon pengantinnya Yasa Janitra, kamu halu apa gimana sih? Atau jangan-jangan kamu stress setelah cerai dari aku?" Rendra malah menuduh Freya halu dan stress. Freya tersenyum santai saja, tuduhan Rendra ia anggap radio butut saja, toh kenyataannya, dirinya memang calon istri seorang Yasa Janitra. "Eh, tuh mulut enteng bener ya ngatain Frey stress!" Tapi Mitha langsung bereaksi, jelas Mitha tak terima sahabatnya dikatai oleh Aktor hombreng itu. "Sembarangan aja bilang Frey stres setelah cerai dari kamu! Justru hidup Frey tuh sejuta kali lebih baik setelah lepas dari kamu!" lanjut Mitha dengan nada mengomel. Rendra sangat muram, ia tidak senang ditegur begitu oleh Mitha yang dianggap tidak penting. "Hey kamu! Bisa-bisanya ya, pelayan toko kue kamu bicara kenceng gitu ke saya? Kalau bukan karena kamu itu temann
Persiapan pernikahan yang mepet membuat Freya sibuk dan sejenak melupakan segala masalah yang membelitnya selama ini. Walau hanya 2 minggu saja, tapi Yasa tak asal-asalan untuk gelaran pernikahan keduanya kali ini. Gaun pengantin sudah siap, venue pernikahan sudah diset, undangan sudah disebar dan H-2, semua persiapan sudah mencapai 95%. Saat ini Freya sudah kembali menginjakkan kakinya di pulau Bali, ditemani Mitha, Ramon, Chef Daryl dan keluarga paman dari pihak Ayah, yang nantinya akan jadi wali nikahnya. Sementara Fiona? Jangankan hadir, kabarnya saja sudah tak terdengar lagi sejak buron dari orang-orang yang ditipunya. ~ Freya sedang termangu di sebuah Gazebo resort sambil memantau area halaman yang akan jadi tempat pernikahannya lusa. Acaranya digelar di luar ruangan, dengan dekorasi cantik dan view menghadap samudra langsung. "Pasti lagi mikirin, lusa malem bagusnya pake gaya apa ya?" Suara Mitha muncul bagai angin, spontan Freya menoleh. "Iih, ngagetin aj
Seorang anak remaja laki-laki berjalan di belakang Yasa, wajah remaja itu nyaris mencetak jiplakan wajah Yasa, rahang tegas, tatapan tajam, dan alis tebal. Hanya saja, aura yang terpancar jauh lebih dingin dan memberontak. Freya sudah segan duluan, ia merasa kalau jalannya bersama Yasa tak akan semulus jalan tol seperti yang awalnya ia bayangkan. Keduanya dipersilakan masuk, duduk bersama di ruang tamu kecil itu dengan suguhan menarik yang tersaji di atas meja. Freya sangat gugup tapi berusaha bersikap sebiasa mungkin. "Nath, ini Freya," perkenalkan Yasa. Remaja bernama Nathan itu hanya menatap sekilas pada Freya seterusnya ia fokus pada layar handphone di tangan. "Sementara waktu kamu bisa panggil Freya 'Kakak', tapi secepatnya kamu harus belajar panggil dia 'Mama'," tambah Yasa. Nathan nampak muak, raganya memang duduk di ruangan itu tapi jiwanya jelas menolak baur di dalam momen perkenalan itu. "Hm, hai Nath ... salam kenal ya," sapa Freya, walau segan ia mencoba bersik
"Dan imbalannya adalah ... Casa de Cake ...." Freya sekali lagi menoleh ke seberang Cafe, menatap toko itu dengan tatapan nanar."Serius?" Suara Mitha tercekat tapi sangat antusias."Emang aku keliatan lagi becanda ya?" tanya Freya kekik."Terus kamu bilang 'iya' kan?"Freya mengangguk pelan, nampak yakin tidak yakin."Bagus! Aku sih yes! Aku dukung kalian 100%!" sambut Mitha, ia benar-benar bersemangat.Dengan antusiasme Mitha, rasa percaya Freya pada Yasa meningkat beberapa persen, hanya saja masih ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatinya.'Apa ini hanya pernikahan main-main? Apakah di pernikahan kedua ini aku bakalan jadi istri pajangan lagi?' batin Freya, perasaannya bergejolak, tapi keputusan sudah diambil.***Kalyla baru saja tiba dari Bali, ia tidak langsung pulang ke rumahnya melainkan langsung mencari keberadaan Yasa di kantornya.Kalyla terlihat resah, wajahnya menunjukkan rasa penyesalan yang mendalam."Maaf, Bu. Tapi saat ini Pak Yasa sedang ada rapat penting, Anda
Freya tercekat, matanya membelalak lebar menatap pria di hadapannya. Jantungnya yang tadinya berdegup kencang karena gugup, kini seketika seolah berhenti berdetak. "Om ... barusan Om bilang apa?" tanya Freya dengan suara gemetar, memastikan pendengarannya tidak salah tangkap. "Ini semacam candaan atau apa? Kita bahkan nggak sedang dalam hubungan apa pun lho Om dan tiba-tiba Om ngajak nikah?" Yasa tetap tenang, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gestur penuh wibawa. Tatapannya tajam namun sulit dibaca. "Saya nggak pernah main-main dengan perkataan saya, Freya," jawab Yasa datar. "Kamu mau toko itu kembali jadi milik kamu dan saya butuh seorang istri secepatnya." Mitha masih memantau, ia tak bisa mendengarkan obrolan Freya dan Yasa, tapi kontras ekspresi Freya dan Yasa membuat Mitha bertanya-tanya. "Mereka lagi ngobrolin apa ya? Kok muka Frey kayak shock begitu sih? Duh ...." gumam Mitha dengan perasaan gelisah. Freya menggeleng pelan, kepalanya mendadak pusing mencerna s
"Bisa ketemu sebentar? ... saya tunggu di Cafe di seberang bekas toko kue kamu!"Yasa sangat to the point, ketika panggilannya tersambung, ia langsung mengutarakan maksudnya menghubungi Freya. Karena Yasa sangat berjasa, Freya tak memiliki alasan untuk menolak ajakan untuk bertemu itu.Setelah bersiap 15 menit dan menghabiskan waktu 15 menit perjalanan dibonceng Mitha, Freya pun sampai di Cafe yang dimaksud."Aku akan duduk di sisi lain Cafe buat memantau, sekalian mau liat wujud asli Om galak itu!" kata Mitha yang begitu bersemangat."Jangan sampai meleleh lho ya!" goda Freya sambil mematut penampilannya sekali lagi lewat kaca spion motor matic Mitha."Kayaknya spek Om-Om itu bukan my type! Mustahil aku meleleh sama seseorang yang kamu namai 'Om Galak' di kontak kamu itu!" Mitha sesumbar, begitu percaya diri mampu menahan diri untuk tidak tertarik pada sosok Yasa Janitra."We'll see," goda Freya lagi. Dan ketika ia sudah cukup pede untuk bertemu dengan Yasa, ia pun mulai melangkahka







