LOGINAyo, Kakak-kakak tinggalkan jejak komen yang menarik, unik. Siapa tahu nanti beruntung. Dan untuk peserta GA ( Syarat GA no 4 ) Silahkan bantu share cerita ini ke group-group FB buat ajakan membaca semenarik mungkin dan sebanyak-banyaknya jangan lupa tag akun fb Nic Arshy Akan ada hadiah menanti untuk tiga orang pembaca paling aktif dan antusias.
Sambungan telepon itu terputus seketika sebelum Clarissa sempat merespons lebih jauh. Dokter muda itu berdiri mematung di tengah koridor rumah sakit yang mulai sepi, menatap layar ponselnya dengan napas memburu. "Kebiasaan banget ni orang sekarang, ngeselin." Gerutuny lalu dia teringat sebuah namaJantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena keterkejutan atas permintaan sang kakak yang tiba-tiba."Oh, apakah ini yang sakit anak nya yang punya katering dapur mama Liam?"Clarissa menggelengkan kepalanya perlahan, berusaha menepis asumsi liar yang mulai berkecamuk. Namun, insting profesionalnya sebagai dokter mendesak untuk segera bergerak. Tanpa buang waktu lagi, ia melangkah cepat menuju ruang IGD dan berkoordinasi dengan kepala perawat serta dokter anak yang bertugas siang itu untuk menyiapkan ruang pemeriksaan khusus dan prosedur penanganan awal gangguan sumsum tulang belakang.Sementara itu, di dalam kabin sedan hitam mewah yang melaju mulus membelah jalanan aspal pesisir, sua
"Hari ini saja, Om?" tanya Liam dengan binar mata penuh harap yang menatap lurus ke wajah pria brewokan di hadapannya.Sang seniman mengangguk lembut, sebelah tangannya terulur untuk merapikan rambut ikal bocah kecil itu dengan hati-hati. "Iya, jagoan. Om sengaja ambil waktu hari ini saja karena kebetulan hari ini Om sedang libur total dari jadwal pameran."Liam tampak sedikit bimbang, jemari mungilnya meremas ujung baju kaosnya yang sedikit kedodoran. "Tapi, kalau kita pergi sekarang, nanti Bu Guru bagaimana? Liam kan harus ikut jam belajar sampai selesai."Pria itu tersenyum tipis, mencoba menenangkan kekhawatiran polos di benak anak seusia itu. "Tenang saja. Nanti Om yang akan langsung minta izin ke Bu Guru, dan setelah dari rumah sakit, Om sendiri yang akan mengantar kamu pulang ke rumah sekalian.""Emang nggak masalah, Om? Nanti kalau merepotkan gimana?" tanya Liam lagi dengan rasa penasaran yang besar."Sama sekali tidak. Om ini kebetulan juga sedang ada program survei masalah k
"Dokter Clarissa, hasil laboratorium pasien bangsal melati sudah keluar, dan sepertinya kita perlu menyesuaikan dosis obatnya sore ini," suara perawat muda terdengar di balik meja perawat, membuyarkan lamunan singkat Clarissa.Clarissa, yang berdiri di koridor Rumah Sakit Pesisir dengan memegang map rekam medis, mengangguk pelan. "Baik, Suster. Nanti saya periksa kembali sebelum jam visite sore."Setelah perawat itu berlalu, pandangan Clarissa kembali tertuju pada secarik stiker kecil yang menempel di tutup kotak katering makan siang yang baru saja ia terima dari bagian logistik rumah sakit. Tulisan Dapur Mama Liam terpampang jelas di sana..Ia tahu katering rumahan ini adalah salah satu menu yang di order seminggu sekali oleh pihak rumah sakit tempatnya mengabdi di pedalaman pesisir ini. "Dokter Clarissa melamun? Ada yang mengganggu pikiran?" sapa dr. Rama, rekan sejawatnya, yang tiba-tiba muncul sambil membawa secangkir kopi hangat.Clarissa tersenyum tipis, menyembunyikan keterke
Bus jemputan sekolah akhirnya berhenti tepat di depan halaman rumah kecil Stella. Pintu mobil terbuka, dan riuh suara anak-anak berhamburan turun. Liam melompat keluar dengan wajah berseri-seri, membawa tas ransel di punggungnya dan memeluk erat tiga buah piala kemenangan di dadanya."Mama! Mamaaa!" seru Liam kencang begitu membuka pintu pagar.Stella yang sedang membereskan sisa pesanan katering bersama Mbak Lastri langsung berlari kecil keluar rumah. Ia berlutut di teras, merentangkan tangan menyambut pelukan hangat sang buah hati."Jagoan Mama sudah pulang! Bawa piala banyak banget, selamat ya, sayang!" puji Stella penuh bangga, menciumi kedua pipi Liam secara bergantian.Liam tertawa senang, meletakkan piala-pialanya di lantai teras dengan hati-hati. "Tadi di kebun binatang seru banget, Mah! Liam menang tiga lomba sekaligus!"Mbak Lastri yang ikut keluar menghampiri bertepuk tangan kagum. "Wah, hebat banget ponakan Mbak ini! Pintar juara satu semua ya, jagoan siapa dulu dong.""T
Mata bulat Liam Alexander mengerjap beberapa kali menatap pria berambut gondrong dan berbrewok tebal di hadapannya. Tawaran tak terduga itu jelas membuat seorang bocah berusia tiga tahun kebingungan, namun rasa percaya diri yang mengalir dalam darahnya membuat Liam tidak merasa gentar sedikit pun."Dijual, Om?" tanya Liam dengan nada polos, kepalanya miring ke samping dengan gestur menggemaskan. "Tapi ini kan hasil karya Liam buat lomba tadi. Walaupun satunya sudah Liam setor ke Bu Guru, yang ini mau Liam bawa pulang buat ditunjukin ke Mama di rumah."Pria seniman jalanan itu tertawa renyah, suara baritonnya terdengar begitu hangat dan ramah di telinga Liam. Ia semakin terpesona dengan cara bicara bocah mungil di depannya yang terdengar begitu cerdas, jauh melebihi anak-anak seusianya."Iya, dijual ke Om. Om sangat suka cara kamu memadukan warna abu-abu dan hijau di kertas ini. Kelihatan hidup sekali, seperti gajah sungguhan yang punya semangat," puji pria itu tulus sambil menunjuk s
"Ste, dengar dulu. Jangan langsung emosi begitu," suara Satria terdengar dari ujung sambungan telepon, bernada lembut namun tegas, berusaha meredam kepanikan yang mendadak meledak di dada Stella.Stella masih terisak pelan, sebelah tangannya meremas erat ujung bajunya sendiri sementara air matanya terus menetes membasahi pipi. Bayangan wajah dingin Sean Anderson yang merampas segala hal dalam hidupnya kembali berputar jelas di kepala.Bagi Stella, Liam adalah satu-satunya nyawa yang ia miliki. Menyerahkan atau mempertemukan anak itu dengan keluarga Anderson sama saja dengan menyerahkan belahan jiwanya ke dalam kandang singa yang siap mencabik-cabik."Bukan aku mau ikut campur terlalu jauh urusan rumah tanggamu, Ste," lanjut Satria dengan nada sesal. "Tapi kamu juga tahu sendiri, anak sekecil Liam tidak akan bisa terus-menerus diberi jawaban bohong. Semakin besar dia, pertanyaannya akan semakin sulit kamu bendung. Kalau suatu saat dia mencari tahu sendiri dengan caranya, itu justru aka







