Masuk"Nyonya Muda... minum air hangat ini dulu," panggil Dokter Maria lembut seraya menyodorkan cangkir keramik beruap tipis.Stella mengangguk pelan. Tangan kirinya yang tak lagi terpasang selang infus menerima cangkir tersebut dengan gerakan perlahan. Tatapannya hangat menatap wanita yang pernah menjadi dokter pribadinya itu, sebelum mengembuskan napas lega."Jangan panggil aku Nyonya lagi, Dokter Maria," panggil Stella lembut namun penuh penekanan. "Aku bukan nyonyamu lagi. Lagipula, kamu juga penyelamat hidupku. Aku gak nyangka bisa ada di titik ini, bisa menyelamatkan anakku dari lingkungan toxic."Dokter Maria tersenyum haru, matanya sedikit berkaca-kaca mendengar ketegasan dan kepasrahan wanita di hadapannya. Ia duduk di tepi ranjang, merapikan selimut tipis yang melapisi kaki Stella."Baiklah... Stella," sahut Dokter Maria lembut. "Yang penting sekarang kamu dan bayimu sudah aman. Secara hukum, secara media, bahkan di mata keluarga Anderson, kamu dinyatakan telah meninggal dunia da
"Bagaimana situasi di dasar jurang?" tanya kasat lantas ke salah satu anggota Unit Laka Lantas yang baru saja memanjat naik dengan pakaian penuh jelaga dan tanah."Medan sulit dijangkau, Ndan." Jawabnya pelan. "Tapi tadi team masih terus mencoba turun ke bawah, Ndan, setelah bantuan datang." Iptu Satria Wardhana Danubaya mengalihkan pandangannya dari kobaran api yang mulai mereda di bawah sana, menatap anggota dengan raut wajah tenang namun tegas. "Kumpulkan semua sisa material yang bisa diidentifikasi. Pastikan tim forensik mencatat kendaraan terbakar habis bersama penumpang di dalamnya.""Siap, Ndan! Tim forensik Polres sudah bergerak menuju lokasi untuk pembuatan laporan resmi," jawab anggota tersebut sebelum kembali bergabung dengan jajaran personel yang sibuk mengamankan perimeter.Kasat Lantas berpangkat AKP yang berdiri di samping Satria menghembuskan napas berat, menggeleng-gelengkan kepala melihat kepulan asap tebal yang masih membumbung. "Laka tunggal yang parah banget, Sat
Kepanikan hebat melanda ruang kabin helikopter yang masih melayang di udara. Tubuh jangkung Sean rubuh menghantam lantai kabin, tak sadarkan diri dengan wajah sepucat mayat. Napasnya tersengal parah akibat syok berat yang menghantam mentalnya secara mendadak."Sean! Sean, bangun!" teriak Samuel histeris sambil menahan tubuh sahabat karibnya itu agar tidak bergeser dihantam angin kencang. Wajah Samuel sendiri sudah dipenuhi peluh dingin, matanya bergetar menatap lurus ke luar pintu helikopter.Di bawah sana, di balik rimbunnya pepohonan pinus, kobaran api merah kehitaman masih melahap habis kerangka SUV hitam di dasar jurang. Asap hitam pekat membumbung tinggi, mencemari langit pagi yang semula tenang."Bro! Sadar, Bro!" Samuel menepuk-nepuk pipi Sean dengan kencang, namun pria keturunan asing itu tetap tak bergeming.Samuel memutar kepalanya ke arah saluran interkom dengan napas memburu. Tim pengawal Anderson Group di bawah juga sedang dalam kondisi ketakutan setengah mati. Muka para
"Bukan mengungkit, Ste. Itu fakta," kekeh Satria ringan di tengah guncangan mobil yang makin hebat. "Kalau dulu kamu tidak nekat mengoperasi bahuku yang kena tembak di klinik kecil itu tanpa melaporkannya ke dinas, mungkin aku sudah mati kehabisan darah atau dipecat."Stella menghembuskan napas panjang, sedikit terhibur oleh kenangan masa lalu itu. Namun, keheningan singkat itu mendadak pecah ketika raungan mesin di belakang mereka terdengar makin memekakkan telinga.Di atas udara, baling-baling helikopter hitam milik Anderson Group menciptakan pusaran angin kencang yang menerbangkan dedaunan kering. Dari kabin utama yang terbuka, Sean berdiri mencengkeram erat pegangan pintu. Wajah pria keturunan asing itu pucat pasi, kemeja mewahnya kusut, dan matanya yang memerah menatap lurus ke arah SUV hitam yang meliuk-liuk di jalanan perbukitan."Jangan terlalu rapat! Tahan posisi kalian!" bentak Sean histeris melalui saluran radio interkom kepada seluruh armada pengawalnya di bawah. Suaranya
"Perutmu aman, Ste?" tatapnya sambil memainkan persneling dengan kaki lincah pada pedal gas dan rem. Tangan pria berbadan tegap itu tampak sudah terlatih pada setir kemudi."Aman, Mas. Kamu fokus saja ke jalanan, Mas. Jangan sampai fokusmu terpecah," bisik Stella yang tampak sedikit tegang sambil memegangi perutnya."Wajah kamu tampak tegang banget, apa kita coba istirahat dulu di salah satu rumah warga?""Nanti terlacak lagi, Mas.""Emang sebelumnya kita yang salah, kita mengurusi semuanya dari ponsel di lokasi kita menginap. Aku gak nyangka Sean-mu itu bakalan seliar ini. Aku pikir dia gak akan ngejar, soalnya info yang aku dapatkan ada wanita lain di rumah itu," ucap pria itu dengan mata yang waspada. Kelincahannya mengemudi mengingatkan pada aksi di film Fast & Furious."Iya, Mas. Aku juga gak nyangka dia bakalan se-effort ini nyariin aku. Aku pikir dia bakalan cuek gitu," jawab Stella sambil menatap ke arah pria itu."Makanya itu, untungnya aku juga udah siapin beberapa plan. Nah
"Suara apa itu?"Gelas teh hangat yang dipegang Stella mendadak bergetar hebat hingga cairan manis di dalamnya terpercik mengenai jemari lenturnya. Wajah cantiknya seketika pucat pasi, matanya membelalak menatap langit-langit plafon rumah sewa yang bergetar seiring gemuruh angin kencang yang menghantam atap.Pria berjas kasual di hadapan Stella langsung berdiri sigap. Sorot matanya yang tenang mendadak berubah tajam dan penuh kewaspadaan. Ia menyibak sedikit tirai jendela, mengintip ke arah langit pagi yang kini tertutup bayangan hitam helikopter berlogo Anderson Group yang sedang bersiap mendarat di lapangan terbuka tak jauh dari tempat mereka."Sialan! Bagaimana bisa pria berengsek itu menemukan tempat ini sejauh dan secepat ini?!" umpat sang penyelamat seraya berbalik cepat, mencengkeram lembut kedua bahu Stella untuk menangkas rasa paniknya. "Stella, dengarkan aku. Sean sudah ada di sini. Kita harus pergi lewat pintu belakang sekarang juga!""T-tapi... bagaimana dengan papa?" bisi







