Compartilhar

Sembilan

Autor: Nic Arhsy
last update Data de publicação: 2026-10-24 11:56:00

Langkah kaki Sean terasa begitu mantap saat ia menyusuri kembali jalan setapak paving block menuju rumah kecil berplang Dapur Mama Liam.

Angin pesisir sore itu berhembus lembut, seolah memberi restu atas keberanian yang baru saja ia kumpulkan. Namun, begitu ia mendorong pelan pintu pagar kayu dan melangkah masuk ke halaman kecil yang dipenuhi deretan tanaman hias, tubuhnya tiba-tiba membeku.

Alih-alih langsung mengetuk pintu utama seperti niat awalnya, Sean mendadak terpaku di tempat. Kakinya
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (5)
goodnovel comment avatar
Nic Arhsy
Itu dia kak, Sean harusnya kan ketuk pintu malah menjiwai jadi objek lukisan
goodnovel comment avatar
Nic Arhsy
Pegangin kak, sean jadi minderan apa karena belum cukuran yak?
goodnovel comment avatar
Yoan Sondakh
maju Sean,,
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Bingkai Plastik Kayu Ikat Karet

    Sean menatap selembar foto berbingkai plastik dan kayu dengan ikat karet yang disodorkan oleh tangan mungil putranya. Di dalam bingkai kayu itu, terpotret sosok dirinya beberapa tahun lalu pria berwajah tampan bersih, berbalut setelan jas necis kelas atas, dengan senyum tipis penuh percaya diri. Sebuah potret masa lalu yang kini terasa begitu jauh, bagaikan bayangan dari kehidupan orang lain.Sean menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya tercekat hebat. Ia menatap bergantian foto tersebut, lalu wajah polos Liam yang menatapnya penuh tanya, dan terakhir manik mata Stella yang berkaca-kaca menahan ribuan emosi."Liam..." bisik Sean parau. Dengan tangan bergetar, ia menerima bingkai foto itu dari tangan putranya, seolah memegang benda paling berharga di dunia. “Maafkan Papa, Nak. Waktu itu... Papa memang berpenampilan seperti di foto ini. Tapi Papa harus pergi jauh, berkelana menyeberangi banyak kota, melewati hari-hari yang berat untuk mencari inspirasi. Dan selama perjalanan

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Anak dan Ayah

    "Ste, ini aku Sean suamimu. Maaf baru menemukanmu," ucap Sean dengan derai air mata yang tumpah ruah membasahi janggut lebatnya. Suaranya terdengar begitu parau, sarat akan penyesalan mendalam dan kerinduan yang selama tiga tahun terakhir menyiksa batinnya.Mendengar pengakuan itu, Stella tidak serta-merta berteriak atau bersikap kekanakan. Sebagai wanita dewasa yang telah ditempa oleh kerasnya kehidupan pesisir dan perjuangan membesarkan anak seorang diri, ditambah dia juga tak mau Liam puternaya mendnegar keributan itu, kini Stella justru tertegun dalam keheningan yang panjang. Jantungnya berdegup kencang, menghantam dinding dadanya dengan rasa sakit dan kejut yang luar biasa. Matanya membelalak menatap sosok pria berantakan di hadapannya, mencoba menyatukan kepingan ingatan masa lalu dengan realitas di depan mata.Meski penampilan pria itu kini jauh berbeda dari Sean Anderson yang ia kenal pria necis berwajah bersih dari keluarga konglomerat sorot mata sendu dan getar suara itu t

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Ini, Aku.

    Angin pesisir sore itu berhembus semakin kencang, menerbangkan helai rambut gondrong Sean dan mengibarkan ujung jaketnya. Setelah bergelut cukup lama dengan badai emosinya sendiri di halaman depan, Sean akhirnya menarik napas dalam-dalam. Sisa-sisa keraguan yang sempat melumpuhkan kakaknya perlahan ia singkirkan. Dengan tekad baja yang disulut oleh kerinduan mendalam, pria itu melangkah pasti melewati jalan setapak kecil menuju teras rumah.Tangannya yang mengepal longgar terangkat. Dengan ritme yang pelan namun pasti, ia mendaratkan tiga ketukan ringan pada daun pintu kayu utama berplang Dapur Mama Liam.Tok... tok... tok...Suara ketukan itu menggema tipis di tengah kesunyian sore perkampungan nelayan. Di dalam rumah, suara langkah kaki terdengar mendekat, bergesekan pelan dengan lantai keramik. Tak lama kemudian, gagang pintu berputar ke bawah dengan bunyi klik yang tegas.Daun pintu pun terbuka lebar.Sosok wanita berpenampilan sederhana dengan apron tersampir di tubuhnya muncul

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Sembilan

    Langkah kaki Sean terasa begitu mantap saat ia menyusuri kembali jalan setapak paving block menuju rumah kecil berplang Dapur Mama Liam. Angin pesisir sore itu berhembus lembut, seolah memberi restu atas keberanian yang baru saja ia kumpulkan. Namun, begitu ia mendorong pelan pintu pagar kayu dan melangkah masuk ke halaman kecil yang dipenuhi deretan tanaman hias, tubuhnya tiba-tiba membeku.Alih-alih langsung mengetuk pintu utama seperti niat awalnya, Sean mendadak terpaku di tempat. Kakinya tertahan di atas tanah berpasir halaman, dan seluruh otot di tubuhnya mendadak kaku. Pendengarannya menangkap suara lembut bercampur tawa renyah dari balik pintu kayu yang terbuka separuh, suara yang selama tiga tahun terakhir menjadi bayangan paling suci dalam hidupnya.Dari dalam rumah, suara Stella terdengar sedang membimbing putranya dengan penuh kelembutan."Liam sayang, lukisan perahu kertas ini bagus sekali. Tapi kenapa warna layarnya kamu beri gradasi ungu tua dan jingga? Bukankah laut

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Kembali Melangkah

    Begitu sampai di dekat mobil sedan hitam yang terparkir di ujung gang, Clarissa langsung mencekal lengan Sean sebelum pria itu sempat membuka pintu mobil. Napas Clarissa terengah-engah, menatap kakaknya dengan sorot mata jengkel dan tidak percaya."Kakak kenapa sih udah di depan rumah Kak Stella kenapa malah mundur?!" protes Clarissa dengan nada tinggi tertahan, meluapkan seluruh kebingungannya setelah harus berlari mengejar langkah lebar sang kakak.Sean bersandar pada badan mobil, kedua tangannya mencengkeram tepi pintu dengan buku-buku jari yang memutih. Dadanya naik turun dengan cepat, keringat dingin bercampur angin laut dingin membasahi pelipisnya."Ca, kasih aku napas dulu. Tidak mudah rasanya kakiku melangkah ke sana," ucap Sean dengan suara bergetar parau, mencoba menahan kepanikan yang mendadak melumpuhkan akal sehatnya.Clarissa mendengus keras, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap penampilan kakaknya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kak Sean, tiga tah

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Jalan Kaki

    Deru mesin sedan hitam mewah yang dikemudikan pengemudi pribadi Clarissa membelah jalanan pesisir, lalu berhenti di ujung jalan kawasan perkampungan nelayan yang padat. Karena Sean tak ingin kehadirannya yang memang menggunakan mobil yang berbeda di antara penduduk kampung akan menarik perhatian warga. Untuk itu dia memarkirkan mobil sedikit lebih jauh dari posisi rumah, Sean dan Clarissa memutuskan untuk turun dan melanjutkan sisa perjalanan dengan berjalan kaki.Sean berdiri terpaku sejenak di tepi jalan setapak yang beraroma khas asin laut. Jemarinya secara refleks meraba janggut lebat dan rambut gondrong yang menutupi sebagian wajahnya. Tiba-tiba rasa gugup yang luar biasa mencengkeram dadanya. Pria itu menoleh ke arah sang adik dengan keraguan yang kentara di matanya."Apa aku harus ke barbershop dulu? Aku harus merapikan rambutku," tanya Sean ragu-ragu.Clarissa melirik kakaknya dari atas hingga bawah, lalu mendengus pelan sambil menggelengkan kepala. "Mana ada di sini barbers

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status